BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
PERTEMUAN KEMBALI


__ADS_3

POV Author


Keadaan yang memaksa Sandyakala kuat. Belajar ikhlas itu mudah walau terkadang berat merelakan. Sandyakala adalah seseorang yang menenangkan rindunya yang dia sendiri paham bahwa Arunika sudah terlarang untuk dia rindukan. Sementara di sisi lain Arunika yang dia rindukan seperti memahami bahwa ada Sandyakala sedang sangat merindukannya dari kejauhan, namun Sandyakala tidak bisa berbuat banyak sebab keadaannya sudah berbeda, ada orang lain yang memiliki Arunika saat ini. Bukankah tahu diri seperti ini yang rasa perihnya luar biasa dahsyat?


Tiba-tiba mata Sandyakala basah. Ada sisa masa lalu yang memaksa masuk kembali menuju pikirannya. Sisa masa lalu itu berisi Arunika yang pernah membuatnya bahagia, tapi harus dia lepas dengan terpaksa karena berbagai ketidakmungkinan. 


Sandyakala membiarkan matanya basah, air mata tidak diusapnya. Sandyakala memberikan air matanya waktu untuk menggenang, mengalir lamban,  hangat melewati pelipisnya, lalu menetes di bantalnya.


Namun Sandyakala harus tetap percaya bahwa keadaannya sekarang sedang baik-baik saja. Hanya saja saat ini pikirannya sedang ingin merayakan apa yang tak mungkin lagi bisa terulang.


Bagaimanapun juga Arunika yang pernah membuatnya bahagia itu masih hidup di sana, di pikiran dan batinnya. Dengan cara apapun Sandyakala coba meringkusnya, membunuhnya, percuma saja. Justru Arunika akan membuatnya mengerti bahwa selalu ada yang berharga dari masa lalu. Bukankah semua orang berhak bahagia dengan segala keputusannya? Meskipun pada akhirnya keputusan itu tidak jatuh pada Sandyakala. Sandyakala menikmati sambil terpejam hingga dia pulas tertidur. 


Dengan begitu setidaknya Sandyakala telah memberi waktu pada hatinya agar perih luka yang harus dia tanggung bisa reda begitu saja dengan cara yang sungguh sederhana, terpejam lalu merelakan. Seperti nafas yang dia tarik dalam-dalam lalu dia hembuskan pelan-pelan. Sandyakala tidak memaksa lukanya untuk sembuh. Sesekali lukanya juga perlu diperlakukan layaknya sisa air hujan. biarkan ia mengering dengan sendirinya.


Sandyakala bertemu banyak manusia baru, tetapi tidak ada satupun yang bisa dia cintai sebesar Sandyakala mencintai Arunika. Namun bagi Sandyakala ada fase dimana harus bertahan karena cinta tapi ada juga fase dimana harus meninggalkan itupun karena cinta. Karena yang tulus mencintai akan melakukan apapun agar yang dia cintai bahagia. Mesti harus melepasnya.


...****************...


POV Sandyakala


Aku terbangun dan kepalaku sedikit pusing. Ku lihat di cermin, sial mataku tampak sembab. Aku lalu mandi dan menggosok mukaku berulang kali dengan punggung tanganku, siapa tahu dengan cara ini, mata sembab ku bisa tersamarkan. Sudahlah waktu terus berjalan dan semua harus aku lalui.


Setelah membaca buku harian Abhi semalam, aku putuskan untuk pulang saja. Entah mengapa rasanya aku tidak punya hak dan tidak layak berada di sana. Pelan-pelan akan aku akan mengurus hak warisnya supaya menjadi milik anaknya. Sebenarnya kasihan Pak Oman yang sudah bersusah payah mempersiapkan tempat untukku. Mungkin lain kali aku menginap di sana.


Selesai mandi aku memilih memakai kaos dan celana jeans saja. Rasanya malas ke kantor hari ini. Aku ingin bersantai sejenak, nanti agak siangan kalau suasana hatiku membaik kemungkinan aku akan ke cafe sebentar. Lumayan lama aku bersiap-siap sampai saat aku melangkah keluar kamar. Ah, perutku sudah berteriak-teriak minta diisi, aku lalu mengayunkan langkah kakiku ke rumah sebelah. Aroma nasi goreng sosis menggoda seleraku. Kupercepat langkah kakiku karena sudah tidak tahan lagi. Langkahku tertahan dan pandangan mataku terhenti pada sosok perempuan manis yang aku sayangi. Arunika, akhirnya kami bertemu. Luka itu terbuka kembali setelah semalam aku menenangkan hati.


"Mau susu coklat?" katanya menawari ku sambil meletakkan piring yang berisi nasi goreng di tempat yang biasa aku duduki.


"Boleh," kataku sambil duduk.


Setelah menyiapkan susu coklatku, Arunika lantas duduk di sampingku, sama seperti dulu. Tapi aku hanya diam, entah apa yang ingin ku katakan. Rasanya sangat canggung, setelah sekian lama berpisah dan dengan status yang kini berbeda.


"Sandy kenapa diam aja?" tanya Arunika tiba-tiba.

__ADS_1


"Nggak baik makan sambil bicara, bisa tersedak sendok," jawabku asal-asalan dan disambut tawa oleh semuanya.


"Anak  Nika mana?" tanyaku berusaha tenang mengajak Arunika berbicara.


"Ada, baru di kamar Nika sama Mbak," jawab Nika terlihat tenang


"Mbak Asih?" tanyaku memperjelas.


"Kok Sandy kenal Mbak Asih?" tanya Nika heran.


"Ya tahulah," kataku sok sombong.


Sebenarnya aku juga nggak tahu harus bilang apa. Apa perlu aku cerita ke Arunika tentang buku harian Abhi yang sekarang ada padaku? Atau mungkin bahkan Arunika tidak tahu mengenai buku itu? Atau sebaiknya aku diam saja. Rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas mengenai Abhi.


Untung saja saat itu muncul seorang berumur kisah 30 menjelang 40 an menggendong seorang bayi. Mungkin dialah Mbak Asih. Bayi itu sangat lucu, dia mempunyai tatapan mata Abhi dan senyum yang mirip dengan Abhi. Tanpa sadar, air mataku jatuh antara terharu dan sedih bercampur aduk. Makhluk mungil itu menggugah kenanganku dengan Abhi. Dia merangkak dengan cepat sambil tertawa riang menuju ke meja makan. Anak itu berhenti tepat di sampingku, lalu berdiri dengan berpegang pada pahaku. Naluriku menuntutku untuk menyentuhnya


"Hai Abi, makhluk lucu dari perut Nika," sapaku sambil mengangkat dan menggendongnya.


"Sandy, Abi mau sama Sandy?" tanya Arunika masih dengan tatapan seolah tidak percaya.


"Mau dong, aku ganteng dan mempesona gini," kataku berusaha bercanda.


"Abi nggak segampang itu dekat dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya." kata Nika lagi.


Aku hanya diam tidak menjawab. Aku bahkan baru pertama kali menggendong seorang bayi. Aku juga heran mengapa aku tergerak untuk menggendongnya. Dia bahkan tampak tenang di pelukanku. Aku lalu menatap matanya dan sepertinya ada tatapan teduh dan tenang di sana. Tanpa izin ke Arunika, aku lalu membawa Abi pulang ke rumah sambil mengajaknya berbicara. Abi tampak menanggapi ku dengan ocehannya yang tidak aku mengerti sama sekali. Arunika bergegas mengikutiku dari belakang.


"Sandy, tunggu! Mau ke mana?" tanya Arunika sambil berlari mengejarku.


"Main dong, ini urusan anak cowok! Nika yang emak-emak di rumah aja cuci piring," kataku berusaha bercanda.


Aku lalu berhenti untuk menunggu Arunika menyamai langkahku. Namun, Arunika malah mencoba mengambil Abi dari tanganku. Sepertinya Arunika tidak rela aku membawa Abi. Tapi, saat aku menyerahkan Abi ke Arunika, Abi malah menangis dan berpegangan erat pada kerah kemejaku. Aku lalu mengurungkan niatku untuk memberikan Abi ke Arunika.


"Mungkin dia bosan, bagaimana kalau kita ajak ke taman saja?" usulku

__ADS_1


"Tapi ini waktunya untuk Abi makan," kata Arunika.


"Ya Nika ambilin makannya Abi, nanti nyusul ke taman," usulku lagi yang disetujui Arunika.


"Masih ingat jalan ke taman kan?" tanyaku ke Arunika.


"Masihlah!" jawab Arunika dengan muka sedikit cemberut.


"Kirain kelamaan di negeri orang jadi lupa ingatan," kataku sambil berjalan meninggalkan Arunika.


...****************...


POV Arunika


Aku bergegas mengambil nasi tim semur ayam tahu untuk Abi dan juga botol minumnya. Aku pamit ke bunda dan Mbak Asih. Hatiku masih bertanya-tanya bagaimana bisa Abi langsung akrab dengan Sandyakala? Tidak biasanya Abi seperti ini dengan orang yang masih asing baginya. Apa benar yang dikatakan Aslan padaku, saat aku ketahuan merindukan Sandyakala ketika aku hamil Abi? 


"Kamu kangen Sandy? Nanti anakku jadi nempel sama Sandy lho" kata Aslan yang terngiang di telingaku.


Atau mungkin Abi merindukan sosok lelaki seperti ayahnya? Tidak bisa aku pungkiri, Abi memang sangat dekat dengan Aslan karena Abi lebih sering bersama Aslan daripada bersamaku yang selalu sibuk mengurus rumah dan pekerjaan. Pada dasarnya Aslan dan Sandyakala mempunyai sifat yang hampir sama, hanya saja Aslan cenderung sedikit lebih tenang dibandingkan Abhi. Mungkin karena postur tubuh mereka yang juga mirip membuat Abi merasa nyaman bersama Sandyakala. Teringat percakapanku dengan Aslan di suatu malam setelah sukses menidurkan Abi yang rewel seharian karena selesai imunisasi.


"Kamu dan Sandy itu bukan Radha Krishna," katanya kala itu.


"Lalu?" tanyaku sambil mengernyitkan kening.


"Tapi kalian ini Rama dan Sinta, akulah Rahwana yang memisahkan Sinta dari Ramanya." kata Aslan sambil tersenyum padaku. "Abi juga pasti senang bersama Sandyakala, seperti Gunawan Wibisana yang memihak Rama," lanjut Aslan


"Lama-lama kamu jadi dalang" timpalku saat itu sambil tertawa.


"Ya kamu siaran terus aku jadi tahu semua cerita wayang," jawabnya sambil tersenyum


Tapi semua sudah jadi kenangan, walaupun kami menikah tanpa cinta nyatanya Aslan adalah sahabat yang sangat baik.


Dari kejauhan aku melihat Abi yang belajar berjalan sambil berpegangan pada Sandyakala dan Abi tertawa sangat ceria.

__ADS_1


__ADS_2