BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
KANAYA MASIH MENCOBA


__ADS_3

POV Kanaya


Ku kumpulkan semua kekuatanku dan berusaha berlapang dada untuk mengakui semua kekalahanku. Namun ada hikmah yang bisa ku ambil dari semua peristiwa ini. Arunika kini duduk di depanku dan sepertinya bersiap untuk mendengarkanku.


"Kalau boleh tahu, mengapa kamu menikahi Abhi?" tanyaku


"Mengapa? Tentu saja karena dia baik dan aku menyayanginya," jawaban Arunika terdengar tegas dan tanpa ragu-ragu.


"Bagaimana perasaanmu pada Sandy?" tanyaku mulai menggali ke inti permasalahan.


"Aku selalu mencintainya, dari dulu selalu mencintainya, namun ada satu keadaan dimana cinta harus mengalah dan dia akan mengerti meski butuh waktu," kata Arunika terdengar sangat bijak.


Aku terdiam, merenung. Mungkin kedewasaan seperti inilah yang membuat Sandyakala lebih memilih Arunika. Dia tampak sangat tenang, Tidak ada kebencian ataupun dendam terhadapku padahal aku jahat padanya.


"Apa kamu membenciku?" tanyaku lagi karena sebenarnya aku merasa sangat bersalah pada Arunika.


"Untuk apa?" dia malah kembali bertanya sambil tertawa kecil seolah semua ini menggelikan.


Aku merasa punya banyak kesalahan padanya. Aku juga berprasangka buruk bahkan memfitnah Arunika. Lalu dengan tersipu malu, aku bertanya tentang Abhi yang katanya mencintaiku. Padahal Abhi selalu ketus dan kasar padaku. Ternyata ada alasan yang membuat aku trenyuh, hanya karena dia tidak ingin aku membalas cintanya karena dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi.


"Menikahlah dengan Sandy, Nika. Jangan kamu sia-siakan lelaki yang tulus padamu," kataku yang disambut Arunika dengan muka kaget.


...****************...


POV Arunika


Aku seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Kanaya. Mana mungkin aku pantas menyanding Sandyakala. Lihatlah betapa sempurnanya Sandyakala, dan aku? Seperti yang pernah diutarakan Kanaya, wwwsuamiku baru meninggal, tinggal di rumah mertua tapi menikahi perjaka sehebat Sandyakala. Aku berusaha tersenyum pada Kanaya, dia mungkin belum mengerti situasi yang sedang ku hadapi.


"Itu nggak mungkin Kanaya, tidak semudah itu untukku bersatu dengan Sandyakala," kataku penuh keputusasaan.


"Kalau ada wanita lain yang menikahi Sandyakala, apa kamu ikhlas?" tanya Kanaya dengan tatapan penuh harapan.


"Kalau Sandyakala bahagia, aku nggak masalah," jawabku tegar walau entah mengapa hatiku terasa sangat perih.


Inikah yang dirasakan Sandyakala saat aku mengatakan aku ingin menikahi Aslan waktu itu? Di bibir tersenyum turut berbahagia, namun dihati mambangun benteng untuk  bertahan agar tetap kokoh.


"Nika, kamu mau bantu untuk meyakinkan Sandy supaya mau menerima cintaku?" pertanyaan Kanaya yang lagi-lagi menambah perih hati ini.


"Ini soal hati, semua terserah Sandy," hanya itu yang mampu ku katakan.


Terdengar suara Abi menangis, aku izin ke Kanaya untuk melihat Abi sebentar namun Kanaya malah pamit pulang.

__ADS_1


...****************...


POV Kanaya


Entah mengapa aku berubah pikiran setelah tahu kalau Arunika benar-benar tidak akan mengganggu hubunganku dengan Sandyakala. Cukup tahu diri juga dia karena menolak menjadi pendamping hidupnya Sandyakala. Kenapa aku harus mundur kalau Arunika saja tidak peduli. Aku harus menggunakan cara yang halus supaya Sandyakala mau membuka hatinya untukku. Segera kuarahkan mobilku ke rumah Sandyakala dan berharap dia ada di rumah.


Tante Naomi dan Om Bram menyambutku dengan ceria. Tidak mengapa kalau belum bisa bertemu dengan Sandyakala, aku juga harus bisa mengambil hati orang tuanya supaya tidak terhalang restu nantinya. Ku sampaikan keinginanku untuk membantu Sandyakala mengurus cafe. Ya, kali ini aku harus bersungguh-sungguh dan lebih banyak mengalah dan bersabar. Tidak lama Sandy keluar dari kamar memakai kaos dan celana pendek terlihat sangat santai, masih terlihat tetes air di ujung rambutnya, sepertinya dia baru selesai mandi. Om Bram dan Tante Naomi lalu meninggalkan kami berdua saja di ruang tamu.


"Ada apa, Kan? tanya Sandyakala sambil duduk di depanku.


"Aku mau kerja di cafe, di mana aja aku mau asalkan aku bisa kerja," kataku walaupun sebenarnya tidak sesuai dengan keinginanku.


"Kenapa berubah pikiran?" tanya Sandyakala sedikit ragu.


"Biar hidupku ada manfaatnya aja, kasihan Om Alden yang pusing karena ulahku," kataku beralasan.


"Ok, kamu mau mulai kapan? Tapi mungkin awal-awal semingguan masih aku dampingi, tapi setelah itu aku fokus yang lainnya," kata Sandyakala yang membuat aku sumringah.


"Kok didampingi? Kamu nggak percaya sama aku?" kataku berpura-pura menolak.


"Ya, siapa tahu kamu butuh adaptasi ulang," katanya sambil tersenyum.


Setelah sedikit basa basi dan kesepakatan, aku pamit pulang. Pelan tapi pasti, kamu akan memelukku Sandyakala, dan sulit bagimu untuk melepasku.


...****************...


Mungkin sebaiknya aku memberikan kesempatan untuk Kanaya, siapa tahu dengan disibukkan oleh pekerjaan dia jadi tidak punya waktu untuk berbuat aneh. Aku kembali ke kamar tidurku, dan melihat buku harian Abhi tergeletak di atas meja. Segera aku keluar dan mencari mama yang sedari tadi menonton TV bersama papa.


"Kok ini ada di meja kamar Sandy?" tanyaku sambil menunjukkan buku harian Abhi kepada mama


"Tadi Nika yang ngembaliin," kata mama sambil fokus menonton TV


"Nika masuk kamar Sandy?" tanyaku. Entah mengapa semacam perjanjian tak tertulis antara aku dan Arunika masih berlaku sampai saat ini.


"Mama yang taro," kata mama lagi dengan muka sedikit sebel.


"Ma," aku memanggilnya


"Sandy jangan ganggu mama nonton TV ya," kata mama mulai galak karena ternyata mama sedang menonton sinetron favoritnya.


Ku ambil ponselku lalu ku telepon Arunika. Aku menanyakan padanya mengapa bukunya dikembalikan padaku.

__ADS_1


"Kan di depan ada tertulis nama Sandyakala Jingga," jawab Arunika diiringi tangis Abi.


"Abi kenapa?" tanyaku sedikit panik.


"Badannya panas, ini mau dibawa ke klinik," kata Arunika kemudian menutup teleponnya.


Terkejar atau tidak, segera aku ke rumah Bu Wening untuk melihat keadaan Abi. Biasanya jam segini jalanan ke arah sana terjebak macet sehingga aku memilih melewati jalur alternatif, walaupun sedikit lebih jauh tapi setidaknya bisa menghindar macet. Sampai di sana, Arunika tampak masih menggendong Abi yang menangis tidak nyaman.


"Kenapa masih di sini?" tanyaku sambil berlari kecil mendekatinya.


"Nunggu sopir, kejebak macet katanya," jawab Arunika dengan wajah panik.


"Ya udah, sama aku aja," jawabku sambil membawa tas yang berisi perlengkapan Abi.


...****************...


"Abi nggak apa-apa, mam. Cuma tumbuh gigi," kata dokter spesialis anak sambil tertawa.


"Syukurlah," kataku lega.


"Biasa kalau anak pertama ya seperti itu, papanya kelihatan panik sampai berkeringat," kata dokter meledekku.


Aku ingin menyangkal pernyataan dokter itu tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya juga. Karena sudah selesai aku lalu mengambil Abi dari pengakuan Arunika dan menggendongnya keluar. Kami masih harus ke apotek untuk mengambil obat. Abi sedikit rewel karena mengantuk, aku berusaha menidurkan sampai dia terlelap.


"Enak ya punya suami siaga," kata seorang ibu kepada Arunika.


"Dia bukan… … ….," kata Arunika yang segera ku potong.


"Kasihan kalau harus mengurus anak sendiri, saya hanya sesekali saja bantuin," kataku kepadanya memotong kalimat Arunika dan Arunika terus memandangiku.


Aku lalu duduk di samping Arunika dan menceritakan tentang kedatangan Kanaya ke rumah. Arunika juga menceritakan kalau tadi sore Kanaya ke rumahnya.


"Untuk apa?" tanya ku sangat penasaran


"Ngobrol ringan aja," kata Arunika sambil membelai rambut Abi.


"Tentang?" aku masih berusaha mendesaknya.


"Tentang Pernikahan Nika dan Aslan," jawab Arunika sambil menatapku. Entah mengapa masih ada bekas luka yang sedikit teriris saat mendengarkan itu.


"Lho, itu kan Kanaya? Sedang apa dia di klinik ibu dan anak?" kata Arunika sambil menunjuk ke satu sudut.

__ADS_1


Memang benar itu Kanaya, masih memakai baju yang sama dengan tadi saat ke rumah. Sedang apa dia di sini?.


__ADS_2