BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
SOLUSI KANAYA


__ADS_3

POV Arunika


Ternyata Sandyakala mengajakku menjenguk Kanaya. Kami ke rumah sakit dan Kanaya ternyata sudah pulang beberapa jam yang lalu. Segera kami susul ke rumah Om Alden. Om Alden langsung menyambut kami dengan senyum ramahnya dan mengatakan bahwa Kanaya masih istirahat di kamarnya dan mempersilahkan kami ke kamar Kanaya. Kanaya sedang tiduran sambil sibuk dengan ponselnya.


"Hai Kanaya," sapa Jeevan dan dibalas Kanaya dengan senyum tipis.


Kanaya lalu duduk bersandar bantal. Sepertinya, dia tidak suka dengan kedatanganku dan Jeevan. Namun, bergitu Sandyakala muncul bersama Om Alden, Kanaya langsung berlari dan memeluknya namun tampak Sandyakala tidak membalas pelukannya dan wajahnya terlihat tidak nyaman.


"Kenapa kamu perginya lama, aku kangen," kata Kanaya manja.


"Aku ada urusan," kata Sandyakala sambil perlahan melepaskan pelukan Kanaya.


Sandyakala lalu membimbing Kanaya ke tempat tidurnya dan mendudukkan Kanaya seperti posisi awal saat Sandyakala masuk ke kamar ini.


"Kamu harus tetap istirahat," kata Sandyakala.


"Tapi kamu yang jagain aku, merawat aku." pinta Kanaya namun Sandyakala hanya diam. Hatiku senang mengetahui kalau Sandyakala seolah membatasi diri terhadap Kanaya. Sandyakala lalu memintaku untuk membantunya menjaga dan merawat Kanaya dengan alasan kami sesama jenis sehingga bisa lebih leluasa. Kanaya tampak tidak suka dengan keputusan Sandyakala namun aku akan melakukan dengan senang hati asalkan Sandyakala tidak terlalu dekat dengan Kanaya. Entah mengapa aku merasa perlu bersaing dengan Kanaya hanya untuk mendapatkan perhatian dan bisa dekat dengan Sandyakala.


Terdengar suara ketukan di pintu dan masuklah Abhi ke dalam kamar.


"Sand, mumpung kamu di sini. Ikut aku yuk,ada urusan sangat penting," kata Abhi sambil menarik tangan Sandyakala.


"Abhi, kamu kebiasaan mengganggu. Sandy baru aja datang, aku masih kangen," kata Kanaya dengan nada merengek dan manja.


"Ah, kamu tuh nggak tau urusan orang nggak perlu komentar," kata Abhi ke Kanaya yang membuat Kanaya cemberut. "Nika, aku pinjam Sandy sebentar ya." kata Abhi kepadaku dan mereka berdua berlalu pergi.


Untung saja Abhi mengajak Sandyakala pergi, kalau tidak aku pasti makan hati sepanjang waktu karena harus melihat tingkah manja Kanaya ke Sandyakala.

__ADS_1


...****************...


POV Sandyakala.


Abhi meminta mengemudi si holden karena katanya harus menjemput seseorang sehingga tidak mungkin untuk kami menaiki Vespa. Abhi mengajakku menemui seseorang yang menurutnya bisa membantu Kanaya. Dia mengingatkanku tentang pembicaraan kami di kost cafe saat malam sebelum tragedi Kanaya.


"Mengenai apa?" kataku penasaran.


"Mamanya Kanaya sama kakak-kakaknya." kata Abhi berusaha mengingatkanku.


"Oo..lalu?" kataku sambil menunggu Abhi melanjutkan ceritanya.


"Aku ketemu kakaknya Kanaya yang kedua. Namanya Kak Widura. Dia akan menjemput Kanaya dan membawa Kanaya tinggal bersama mereka," kata Abhi.


"Kok bisa? Gimana ceritanya, Bhi?" tanyaku bersemangat.


Abhi pun mulai bercerita bahwa pada saat malam setelah Kanaya masuk ke rumah sakit, Abhi langsung menghubungi keluarga Kanaya untuk mengetahui tentang keberadaan mama dan kedua kakak Kanaya yang konon berada di luar negeri. Ada seorang sepupu Kanaya yang memberi IG Kak Widura dan segera Abhi mengirimkan DM dan mereka sepakat bertemu. Kak Widura bekerja sebagai fotografer dan pada saat itu mengikuti pameran fotografi yang bergengsi di kota ini. Beberapa bulan sebelumnya, Kak Widura sempat mencari Kanaya ke rumah lama namun ternyata rumah itu sudah terjual dan hanya kabar kematian ayahnya dan kepergian ibu tirinya yang didapatkan. Dia juga sempat mencari ke rumah Om Alden namun Om Alden dan Kanaya sudah pindah ke rumah baru sejak Tante Dhira meninggal dan Kak Widura kehilangan jejak.


Abhi sempat juga mengajak Kak Widura bertemu dengan psikiater yang selama ini menangani Kanaya. Menurut psikiater itu, sama seperti kasus sebelumnya yaitu dengan memisahkan Kanaya dari ayah dan adiknya, solusi yang terbaik saat ini adalah pelan-pelan memisahkan Kanaya dari Sandyakala tanpa membuat Kanaya merasa terpaksa dan membuat Kanaya merasa bisa tanpa Sandyakala. Dan itulah yang Abhi dan Kak Widura sedang usahakan sekarang.


"Dulu Kanaya butuh figur seorang ayah dan diisi oleh Om Alden, berarti sekarang Kanaya harus dicariin pacar? Kan dia butuh pacar," katanya menyela cerita Abhi.


"Nggak gitu konsepnya, Juragan Wiro! Intinya perhatian Kanaya harus dialihkan ke hal yang lain selain mikirin kamu." kata Abhi sambil telunjuknya mendorong keningku.


"Lalu?" tanyaku benar-benar tidak tahu.


"Intinya begini, ada kesalahan dengan pola asuh Tante Dhira yang ingin melindungi dan menjaga Kanaya namun malah seolah mengisolasi Kanaya dari dunia luar sehingga pergaulannya terbatas. Kita akan membuat Kanaya bergaul dengan banyak orang berbeda dan merasakan punya banyak teman dan tentunya di lingkungan yang baru," jelas Abhi yang masih mengundang tanya.

__ADS_1


"Kenapa harus di lingkungan baru?" tanyaku heran.


"Supaya lebih cepat beradaptasi. Kalau masih di lingkungan lama, pola pikirnya masih terfokus di masalah yang sama. Kenapa, kamu keberatan jauh dari Kanaya?" tanya Abhi yang membuat aku tersenyum.


"Justru aku malah seneng," jawabku semangat


"Jadi kamu nggak suka dekat-dekat Kanaya? Kamu anggap dia ganggu?" tanya Abhi seolah menantang.


"Nggak gitu. Kalau dia bisa jadi lebih baik, aku juga seneng. Aku juga nggak merasa terbebani," jelasku menimpal tuduhan Abhi.


"Oo..jadi kamu anggap Kanaya beban." kata Abhi sambil mengangguk kecil dan tersenyum tipis.


"Iya beban yang dalam akuntansi berarti penurunan nilai ekonomi yang berupa pengeluaran atau penyusutan nilai aktiva" jawabku setelah sadar ternyata Abhi mempermainkanku dengan kata-katanya.


"Apa tuh bedanya sama biaya?" tanya Abhi lagi


"Kalau biaya itu sumber ekonomi yang harus dikeluarkan demi kelangsungan bisnis yang sedang dijalankan." jawabku dan menurutku sangat cerdas.


"Sok ahli ekonomi kamu padahal cuma hafalan. Biaya itu istrinya Paman Aya" ledek Abhi sambil tertawa.


Kami sampai di pelataran sebuah apartemen dan masuk ke area parkir. Tapi kami tidak turun dari mobil. Abhi lalu menelpon seseorang dan memberitahunya bahwa kami sudah menunggunya di area parkir.


Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki bertubuh agak tambun. Abhi lalu keluar dari mobil dan menyambutnya. Aku bergegas mengikuti langkah Abhi. Setelah berjabat tangan dengan Abhi, dia lalu mengulurkan tangannya ke arah ku.


"Hai, aku Widura," katanya memperkenalkan diri.


"Sandy, Sandyakala," jawabku sambil tersenyum.

__ADS_1


Kak Widura ini mempunyai kulit yang putih bersih seperti Kanaya. Sorot mata dan bentuk bibirnya juga seperti Kanaya. Namun, sikapnya sangat santun walaupun usianya jauh di atas kami.


"Pantesan Kanaya sampai tergila-gila. Wajah ganteng, senyum menawan, pesonamu ke mana-mana," kata Kak Widura sambil menepuk bahuku.


__ADS_2