BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
KETURUNAN TERAKHIR


__ADS_3

POV Abhi


Jam sudah menunjukkan angka sepuluh lebih seperempat saat aku membuka mata. Terlalu nyaman tidur di rumah ini sampai aku lupa waktu. Aku rasa sudah lama aku tidak pulang ke rumah ini yang selalu siap menyambut kehadiranku. Perut yang mulai keroncongan tapi aku harus mandi terlebih dahulu supaya badan terasa segar. Sudahlah, aku gabung saja sarapan dengan makan siang. Berjalan malas menuruni tangga, akhirnya aku sampai di meja makan. Namun tidak tersedia satupun makanan untukku. Ku ayunkan langkah kakiku ke dapur dan melihat koki masih sibuk memasak.


"Saya lapar," kataku begitu koki yang tidak ku kenal itu melihatku berdiri di depan pintu.


"Maaf Mas Aslan, saya belum selesai," katanya gugup.


"Sarapan tadi pagi saja dihangatkan, saya tunggu di meja makan ya," perintahku sambil berlalu pergi.


Seperti biasa rumah sangat sepi, bapak pasti bertapa di perpustakaannya dan ibu pasti sedang berkeliling memantau perkembangan perusahaan. Makanan dihidangkan kurang lebih 15 menit kemudian, segera ku isi perutku yang sudah menjerit dari tadi. Aku akan pergi saja setelah selesai makan, rasa bosan dan sepi di sini tidak bisa menahanku untuk berlama-lama di sini. Ibu datang saat aku sudah selesai makan dan mendekatiku sambil membelai rambutku.


"Tinggallah di sini agak lama, nak. Ada hal penting yang harus kita bicarakan" Pinta ibu sambil memegang lenganku.


Aku tidak mampu untuk menolak permintaan ibu. Aku lalu beranjak ke perpustakaan, tempat di mana kami sekeluarga selalu bertukar pikiran. Bapak sudah di sana, tenggelam dalam buku tebal yang entah apa isinya. Bapak mendongakkan kepala dan melemparkan senyum saat melihat kedatanganku. Aku mengambil buku secara acak dan membukanya asal-asalan. Tidak lama kemudian, ibu datang diikuti seorang pelayan yang mambawa nampan berisi tiga cangkir teh dan sepiring brownies kukus yang tampak lezat. Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja lalu pergi. Ibu duduk di sampingku sambil mengelus-elus punggungku dan memulai pembicaraan mengenai penerus keluarga ini. Iya, jelas akulah keturunan terakhir di sini yang bertanggung jawab atas semua ini.


"Ibu punya calon buat kamu yang sesuai kriteria keluarga kita" kata ibu sambil melirik ke bapak.


Bapak mengangguk dan tersenyum, sepertinya mereka sudah mempunyai kesepakatan dalam hal ini. Kriteria yang menurutku terlalu sempurna. Haruslah perempuan baik-baik, dari keluarga baik-baik, berpendidikan baik, penampilan menarik, sehat jasmani dan rohani, cerdas dan berkelakuan baik.


"Bapak suka kalau Arunika yang menjadi ibu dari anak-anakmu," kata bapak yang membuatku terkejut.


"Nggak mungkin," tolakku dengan tegas.


"Ibu akan bicara dengan Pak Rendra dan Bu Mikha segera mengenai hal ini." kata ibu bersemangat.


"Memangnya Nika mau?" tanyaku berusaha mencari celah untuk menolak.


"Nanti ibu bisa bicara dengan orang tuanya," jawab ibu sambil menatapku teduh.


"Bu, ini bukan hanya mengenai keluarga kita. Tidak cukup dengan orang tuanya saja. Kita juga juga harus memikirkan dari sisi Arunika. Dia juga punya cita-cita, dia juga punya keinginan sendiri mengenai masa depannya. Dia juga punya cinta yang bukan untukku. Jangan dipaksa orang lain untuk memenuhi kemauan kita," kataku berusaha menolak halus.

__ADS_1


"Dia hanya bercita-cita kuliah filsafat, kita bisa penuhi itu, bisa kan sudah menikah bahkan hamil namun tetap kuliah? Lagipula Arunika lebih cenderung suka di rumah, bukan gadis yang suka foya-foya dan berhura-hura," kata ibu berusaha menjelaskan.


"Kita sama-sama tahu, waktu bapak dan waktumu terbatas. Sekarang ada calon yang sangat baik. Sayang kalau disia-siakan," kata bapak berusaha merayuku.


"Tapi bukan berarti kita bebas melakukan apapun tanpa memikirkan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, pak!" jawabku.


"Ibu selalu ngobrol dengan Arunika, dia tidak punya laki-laki lain yang dicintai, nak" kata ibu tetap dengan nada yang lembut.


"Bu, saya kenal baik dengan Sandy dan Nika. Hampir setiap hari saya melihat pasangan ini kasmaran, ada ketulusan yang luar biasa bisa saya rasakan. Saya nggak bisa, Bu." jawabku dengan nada yang mulai tenang.


"Tapi, Nika pernah bilang kalau Sandy hanya sahabatnya, sahabat sejak lahir dan sudah seperti kakaknya," kata ibu sambil memegang lenganku dan menatap lembut mataku.


"Itu karena Nika belum mau mengakuinya," kataku.


Aku lalu mencium pipi ibu, berdiri dan pergi meninggalkan kedua orang tuaku. Walk Out adalah cara aku protes menunjukkan ketidaksetujuan kepada keputusan mereka. Kepalaku terasa penuh, bagaimana mungkin aku menikahi Arunika saat aku tahu betapa besar cinta dan sayang Sandyakala kepadanya. Sandyakala satu-satunya sahabat terbaik yang aku miliki saat ini. Sangat jahat merampas kebahagiaannya hanya untuk kepentingan keluargaku.


...****************...


"Iya," jawabku singkat.


Entah apa yang harus aku katakan ke Sandyakala mengenai rencana keluargaku. Andai bukan Arunika, pasti aku akur saja dengan semua yang menjadi keputusan orang tuaku. Nika memang kandidat terbaik, tapi tidak tepat untukku saat ini. Kepalaku rasanya sangat penuh, dan terasa sangat sakit,


"Hei!," kata Sandyakala sambil menyenggol bahuku dan membuyarkan lamunanku.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Sandyakala dengan wajah panik.


"Baik? Kenapa?" tanyaku menghindar.


"Oh, tadi aku bicara apa?" tanyanya menyelidiki.


"Soft opening di rest area, kan?" aku berusaha menjawab.

__ADS_1


"Setelah itu?" tanyanya lagi.


"Sorry, nggak nyimak." kataku hanya mampu tersenyum atau tepatnya meringis.


Sandyakala hanya menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak


"Ya udah, nggak penting juga," jawabnya.


"Tentang?" kataku berusaha memancing pembicaraan.


"Nika," jawabnya sambil tersenyum.


"Lalu?" tanyaku lagi dengan hati yang nggak karuan mendengar nama itu disebut.


"Nggak ada siaran ulang," jawab Sandyakala santai.


"Ku kira ada siaran tunda," jawabku bercanda menutupi keresahanku dan disambut tawa Sandyakala. "Kamu sudah bilang ke Nika tentang perasaanmu?" aku lanjut bertanya.


"Aku selalu bilang kalau aku sayang dia, tapi aku nggak pernah meminta kepastiannya. Aku nggak mau maksa Nika, cukup dia tahu kalau aku sayang dia," jawab Sandyakala sambil pandangannya menerawang memandang lampu.


"Menurutku kurang mengikat," selalu.


"Aku yang nggak mau, aku bebasin dia asal dia senang." jawab Sandyakala tersenyum.


"Seandainya ada Nika dengan laki-laki lain?" tanyaku lagi.


"Ya kalau itu memang maunya Nika sendiri tanpa paksaan dan tanpa tekanan, ya nggak ada masalah, asalkan Nika bahagia dan aku tidak menyakitinya. Yang penting dianya happy, kalau luka hatiku pasti bisa aku atur sendiri," jawab Sandyakala tampak yakin.


"Mulia sekali hatiku kisanak," jawabku namun perasaanku semakin kacau balau.


Aku tahu orang tuaku, mereka pasti akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan. Apalagi ibu dekat dengan Arunika, pasti berbagai cara akan ibu lakukan sampai Arunika menyetujuinya. Dan kata-kata ibu yang selalu seperti mengandung hipnotis membuat siapapun akan dengan sukarela menuruti kemauan ibu. Kepalaku terasa sakit lagi dan dunia menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2