
POV Abhi
Perlahan ku buka mataku, selang infus menempel di lengan kiriku. Kepalaku masih terasa pusing, sudah lama aku tidak merasakan ini. Ku pejamkan kembali mataku, ku tarik napasku dan kuhembuskan perlahan. Ku buka lagi mataku dan samar terlihat seseorang duduk di sampingku.
"Gimana rasanya? Udah mendingan?" suara lembut Arunika yang membuatku heran, apakah aku berhalusinasi?
"Aku di mana?Sandy mana?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaannya tadi.
"Kamu di rumah sakit. Sandy baru keluar sebentar," kata Arunika sambil bergegas membantuku untuk duduk.
"Kenapa kamu di sini?" tanyaku lagi.
"Tadi aku menyusul kalian, saat aku datang kamu pingsan, mimisan keluar darah banyak. Sandy sama aku yang bawa ke sini," jelasnya lalu duduk di kursi tepat di depanku.
Aku hanya diam sambil menatap ke pintu. Sudah lama aku tidak mimisan sampai pingsan seperti ini. Tidak lama kemudian, Sandyakala masuk disusul oleh ibu.
Ternyata Arunika yang menghubungi ibu. Ibu memintaku untuk pulang saja dan dirawat di rumah oleh dokter pribadi keluarga kami. Tapi aku menolak, aku hanya butuh istirahat sebentar dan semua akan baik-baik saja seperti biasanya. Tapi entah kenapa Arunika bersikeras membantah keinginanku.
"Kalau kamu kesepian di rumah, nanti biar aku yang nemenin," kata Arunika.
"Janganlah, nanti kamu malah kerepotan," aku berusaha menolak halus.
"Nggak mungkin, Bhi. Nika sekarang sering ke rumah orang tuamu. Nika betah di situ," tambah Sandyakala memberi dukungan.
"Kan beda cerita, Sand." kataku masih keberatan.
"Udah, sekali-kali kamu nurut sama kita-kita. Aku urus administrasi dulu biar kamu bisa keluar," kata Sandyakala sambil berlalu pergi.
...****************...
Sudah dua hari ini Arunika merawatku. Pagi-pagi dia datang dan pulang saat Sandyakala menjemputnya di sore hari. Aku semakin merasa tidak nyaman dengan pandangan ibu yang berharap besar pada Arunika.
"Kamu kalau capek istirahat aja, Nika." kataku kepada Arunika yang duduk di sampingku sambil membaca buku yang dibawanya dari perpustakaan bapak.
"Nggak capek, kan cuma duduk dan membaca. Aku hampir tidak berbuat apa-apa," katanya sambil tersenyum memandangku.
"Kamu nggak bosan?" tanyaku berusaha mengusir ketidaknyamanan yang aku rasakan.
"Seseorang itu bosan kalau pikiran dan jiwanya tidak menyatu dengan raganya. Aku suka suasana seperti ini, sepi dan hanya ada aku dan beberapa orang yang membuatku nyaman. Beda sama kamu atau Sandy yang lebih suka tampil di luar dan mempelajari hal baru. Itu jiwa kalian yang tidak cocok terkekang di sini," kata Arunika sangat bijak.
__ADS_1
"Kata-katamu bikin pusing," balasku sambil tertawa dan disambut oleh senyum manisnya lagi.
Arunika memang introvert, tapi dia sangat menyenangkan untuk dijadikan teman berbicara. Mungkin karena dia suka membaca sehingga wawasannya sangat luas. Dia seperti hanya berada di satu tempat namun tahu berbagai hal yang ada di bumi ini. Dia juga sangat perhatian, tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain. Pembawaannya memang tenang, dan selalu tersenyum di setiap akhir kalimatnya. Pantas saja Sandyakala sangat menyukai dan menyayangi Arunika.
"Aku iri sama Sandy," tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja.
"Kenapa?" tanyanya sambil menatapku serius.
"Sandy punya kamu yang selalu menemaninya sejak lahir sampai sekarang. Aku juga ingin punya satu teman seumur hidupku," kataku sambil menatap ke langit-langit rumah.
"Kan sekarang kamu juga temanku," kata Arunika sambil menutup bukunya.
"Jalan-jalan yuk," ajakku spontan.
"Janganlah! Kamu harus istirahat biar cepat sembuh," tolak Arunika dengan tegas.
"Aku sudah sembuh, sekalian tes fisik, udah beneran pulih belum," kataku lalu berdiri dan tanpa banyak kata Arunika mengikuti langkahku.
Arunika tidak banyak bicara namun kekhawatiran tampak di wajahnya. Dia seperti menjaga seorang bayi yang sedang belajar berjalan dan memastikan bayi itu tidak terjatuh dan tidak terluka. Aku tertawa geli melihat tingkahnya yang menurutku sangat lucu.
Aku mengajaknya ke bagian belakang rumah. Di sanalah kebun bunga ibu dengan berbagai jenis anggrek dan mawar. Aku baru sadar ternyata sekarang juga ada bunga matahari yang tampak cerah berjejer rapi di depan pagar, ada juga beberapa jenis bunga lainnya yang belum pernah aku lihat. Kebun bunga ini sudah banyak berubah, mungkin karena aku sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki ke sini. Biasanya di sinilah aku selalu menenangkan diri, entah mengapa rasanya tenang dikelilingi bunga-bunga yang indah dan wanginya yang semerbak.
Seperti pada perempuan pada umumnya, Arunika tampak sangat senang dengan bunga-bunga yang bermekaran indah. Ada beberapa ekor kupu-kupu yang terbang dan sesekali hinggap di antara kuntum bunga.
"Oh, bagus ya bunganya?" tanyaku sambil jongkok di samping Arunika.
"Bentuknya seperti mawar, tapi dia kecil-kecil," jelas Arunika sambil menyentuh kuncup bunga itu.
"Ya udah,besok aku lihat deh," kataku karena aku juga penasaran. Ada bunga yang mekar dijam-jam tertentu seperti itu.
Lumayan lama kami berada di sini. Arunika tampak sangat heran dengan sejenis anggrek yang memiliki bentuk seperti wajah monyet. Dia kadang tertawa sambil menutup mulutnya saat melihat ke arah bunga itu karena bentuknya yang lucu.
Aku melihat jam di tanganku, hampir jam lima sore, sebentar lagi Sandyakala pasti datang menjemputnya. Aku mengajak Arunika kembali ke rumah dengan alasan aku ingin mandi. Kalau aku bilang sudah waktunya untuk Arunika pulang, terkesan aku tergesa-gesa mengusirnya.
...****************...
"Lihatlah nak, Arunika merawatmu dengan sangat baik," kata ibu sambil melihat kepergian Arunika dari jendela.
"Lihatlah Bu, betapa Nika mencintai Sandy," kataku saat melihat bagaimana nyamannya Arunika dalam rangkulan Sandyakala.
__ADS_1
"Nika dan Sandy merawatku karena aku sahabat mereka, tidak lebih dari itu, Bu." tambahku menjelaskan.
Aku merasa sudah lebih baik. Aku harus kuat dan segera pulih supaya tidak merepotkan mereka lagi. Selesai makan malam aku meninggalkan rumah orang tuaku dan memilih tinggal di rumah kecilku serta menjalani hidup seperti biasanya. Aku harus bisa menikmati hidup selagi bisa.
...****************...
POV Sandyakala
Kami selesai makan malam, masakan bunda memang yang terbaik sedunia. Arunika terlihat lelah, sudah dua hari ini dia bersusah payah menjaga Abhi. Anehnya, menurut Arunika, Abhi memang dari kecil sudah sering mimisan dan pingsan. aku sepertinya mengenal Abhi, namun banyak mengenai Abhi yang belum aku ketahui dengan pasti. Setelah ku ingat baik-baik. Sejak awal bertemu, Abhi memang jarang bercerita mengenai dirinya, dia sangat baik membantu semuanya tanpa aku tahu bagaimana latar belakangnya padahal dia tahu semuanya tentang aku. Mengenai orang tuaku, sekolahku, kegiatanku bahkan mengenai rahasiaku tentang perasaanku ke Arunika.
"Kenapa Sandy jadi bengong?" tanya Nika sambil menghidangkan susu coklat panas di depanku.
"Jadi kepikiran Abhi," jawabku apa adanya. "Bahkan aku yang hampir setiap hari bersamanya ternyata aku tidak benar-benar mengenalnya," kataku sambil mataku menerawang jauh.
"Mungkin belum belum saatnya" kata Arunika sambil tersenyum kepadaku.
"Tapi kenapa ya rasanya Abhi tidak suka menceritakan tentang dirinya? Padahal setiap detail hidupku ku ceritakan kepadanya," kataku.
"Bedalah, kamu itu cenderung narsis jadi suka menceritakan diri sendiri. Kalau Abhi cenderung hidup untuk orang lain. Dirinya sendiri tidak terlalu penting. Jadi, kalau nggak ada hubungannya ya nggak mungkin dia cerita," kata Arunika.
"Iya sih, aku tahu dia sedikit banyak gara-gara Kanaya. Kalau nggak mungkin yang aku tahu hanya dia suka berkeliling naik Vespa dan ngomel kalau kehabisan oli samping," kataku sambil menepuk pipi Arunika.
Aku lalu pamit pulang, Arunika harus tidur dan istirahat malam ini. Dia pasti lelah seharian. Sambil berjalan pulang, ku periksa ponselku dan ternyata ada WA dari Abhi yang memintaku untuk menemaninya di rumahnya yang berada di pinggiran kota. Tanpa banyak bertanya aku langsung menuruti permintaannya dan meluncur ke rumahnya. Aneh, apa dia sudah benar-benar sembuh sehingga memutuskan pergi dari rumah orang tuanya. Dan kenapa tidak ke rumah mewahnya saja? Setidak-tidaknya di sana ada Pak Oman yang akan mengurusnya.
...****************...
Abhi tampak santai di teras rumah dengan rokok yang terselip di jarinya. Dia memang terlihat sudah sehat. Diangkat kepalanya saat aku sudah di depannya. Aku lalu duduk di sampingnya dan meminum kopi yang ada di depannya.
"Aku mau pergi," katanya sambil menepuk bahuku.
"Ke mana? Ngapain pamit?" tanyaku.
"Maksudnya aku sudah bosan kerja di cafe. aku mau cari hal baru, di tempat yang mungkin juga baru," katanya dengan nada sangat serius.
"Kita ni istilahnya baru di puncak lho, masak kamu nggak mau menikmati dulu?" kataku berusaha menolak.
"Ayolah, kan kamu tahu tujuan awal aku di cafe. Sekarang Kanaya sudah bahagia. Kamu sama Nika juga sudah bisa jalanin cafe dengan baik, lalu aku merasa sudah cukup," katanya sambil tersenyum.
"Lalu kamu mau ngapain?" tanyaku peduli.
__ADS_1
"Setelah beberapa hari di rumah orang tuaku, aku putuskan untuk kembali ke mereka. Ayahku sering sakit sekarang, mereka lebih membutuhkanku saat ini, ada kewajiban yang harus aku penuhi," katanya sambil sesekali menghela napas seperti ada beban berat yang dia tanggung.
"Kalau untuk itu, aku nggak mungkin mencegahmu. Tapi kamu masih bisa kan main-main ke cafe atau kita tetap pergi-pergi bareng," kataku yang dijawabnya dengan anggukan dan senyum.