
POV Kanaya
Sepertinya Arunika dan Sandyakala melihatku. Seandainya mereka berhasil memergoki aku, alasan apa yang harus aku berikan? Aku segera menuju ke parkiran dan harus pergi dari sini sebelum mereka bisa menemukanku. Sebenarnya tadi mereka tampak serasi, layaknya sepasang suami istri yang sangat bahagia. Aku harus mencari cara lain agar bisa perlahan masuk ke kehidupan Sandyakala. Aku putuskan untuk pulang saja, otakku mulai buntu dan belum bisa berpikir jernih. Aku perlu minum obat dan tidur, jangan sampai aku stress sehingga semua menjadi berantakan. Aku harus berusaha menggunakan cara terhalus.
Saat sampai di rumah, aku melihat Om Alden yang sepertinya sedang asyik di depan laptop.
"Om kerja terus?" tanyaku sembari duduk di samping Om Alden.
"Mau ngapain lagi? Biar nggak sepi,"' katanya sambil tersenyum.
"Nggak kepikiran mau menikah lagi?" tanyaku.
"Belum sih Kanaya, Tantemu memang tidak ada penggantinya," kata Om Alden sambil tersenyum padaku
"Dulu gimana sih Om pedekate sama Tante Dhira?" tanyaku mencoba mencari tips.
"Tante Dhira memang sulit didekati, jadi Om dekati dulu orangtuanya dan orang-orang terdekatnya. Istilahnya pakai orang dalam, lama-lama luluh juga," cerita Om Alden.
Aku lalu seperti mendapat inspirasi, mengapa aku tidak seperti Om Alden yang memulai dengan mendekati keluarganya dulu? Lagi pula aku punya hubungan yang baik dengan Tante Naomi, jadi lebih mudah bagiku untuk menjalankan rencana. Besok aku juga sudah bisa mulai bekerja di cafe, mungkin dengan alasan bertanya tentang urusan cafe terlebih dahulu.
...****************...
POV Sandyakala
Pagi sekali ada telepon dari cafe mengabari kalau Kanaya sudah di sana. Segera ku susul padahal aku bahkan belum sarapan dan masih belum bersemangat bekerja. Takut kalau-kalau Kanaya berulah. Sebenarnya aku belum bisa sepenuhnya percaya pada Kanaya. Soal kemampuan kerja memang tidak perlu diragukan lagi, tapi mengenai kestabilan emosinya yang membuat aku tidak yakin padanya. Apa lagi semalam dia terlihat berada di klinik ibu dan anak, untuk apa dia di sana.
Saat aku tiba di sana terlihat Kanaya sudah berada di ruang kerja dan mulai membuka beberapa dokumen. Tidak seperti biasanya dia seolah mengabaikan ku dan fokus pada penjelasan karyawan yang ada di sana.
"Hai, Sand. Kamu nggak bilang ke mereka kalau aku kerja di sini?" tanya Kanaya saat aku sudah mendekatinya.
__ADS_1
"Belum sih, kan kita deal baru semalam," kataku tegas.
"Maaf ya Sand, aku jadi lancang, aku terlalu bersemangat untuk bekerja," kata Kanaya dengan senyum cerianya.
"Ya nggak papa sih. Oh ya, semalam selesai dari rumahku kamu ke mana?" tanyaku menyelidiki.
"Pulang, cerita sebentar sama Om Alden, minum obat terus tidur," katanya terdengar jujur.
"Nggak ke klinik ibu dan anak? Semalam sepertinya aku lihat kamu di sana," kataku berterus terang.
"Ngapain aku di sana? Aku ke klinik khusus untuk mental illness, terus kamu ngapain ke sana? Kamu hamil?" kata Kanaya sambil tertawa.
"Nggak, nemeni Nika, anaknya sakit," kataku apa adanya.
"Oh ya? Padahal aku kemarin ke rumahnya juga, tapi nggak ketemu anaknya," kata Kanaya dan sepertinya dari awal dia nggak bohong.
Ah, mungkin saja semalam aku salah lihat. Benar juga, untuk apa Kanaya pergi ke klinik ibu dan anak? Aku mencoba menghubungi Om Alden untuk memastikan, ternyata memang cocok dengan cerita Kanaya.
"Nanti Nika juga pulang untuk makan?" tanya Kanaya saat kami sampai di rumah sebelah.
"Dia jarang di sini," kataku.
Hari ini lagi-lagi bunda memasak semur ayam kesukaanku. Aku makan dengan lahap. Tak ku sangka Kanaya bisa secepat itu akrab dengan bunda, selain memuji masakan bunda, Kanaya bahkan meminta bunda untuk mengajarinya. Dia ingin seperti bunda yang bisa membuat orang kangen pulang ke rumah, salah satunya dengan masakan. Dia juga menyampaikan keinginannya bahwa saat sudah menikah dia ingin menghabiskan waktu menjadi ibu rumah tangga yang baik.
"Kanaya sudah punya calon suami?" tanya bunda.
"Belum bund, tapi boleh kan punya impian," kata Kanaya sambil tersenyum.
Karena menurutnya cukup untuk urusan pekerjaan hari ini, Kanaya izin padaku untuk tetap tinggal bersama bunda. Dia nyaman karena dia juga merindukan sosok ibu di hidupnya. Akhirnya aku tinggalkan Kanaya di rumah sebelah dan aku kembali bekerja.
__ADS_1
...****************...
POV Kanaya
Sebaiknya aku mulai mendekati bunda Mikha karena sepertinya Sandyakala lebih dekat dengannya dibandingkan dengan Tante Naomi. Karena tadi bunda sempat cerita kalau dialah yang mengasuh Sandyakala dan Arunika sedari kecil karena Tante Naomi selalu sibuk dengan cateringnya. Bahkan hampir setiap hari Sandyakala makan di rumah ini.
Kami duduk di halaman belakang yang sangat nyaman dan asri. Bunda mulai bercerita tentang Arunika dan Sandyakala semasa kecil, betapa jahilnya Sandyakala pada Arunika namun Sandykala selalu menjaga dan menolong Arunika dalam situasi apapun. Bunda juga bercerita tentang kebiasaan mereka, makanan kesukaan mereka, apa yang tidak mereka sukai, mengenai perjanjian mereka untuk tidak masuk ke kamar tidur masing-masing. Betapa Arunika dan Sandyakala yang sepertinya sulit terpisahkan sampai saat Arunika menikah dan terlihat Sandyakala memutuskan hubungan dengan Arunika. Tidak sedetikpun Sandyakala menanyakan tentang kabar Arunika atau pun mencoba menghubungi Arunika. Namun lucunya, bunda sepertinya sama sekali tidak tahu kalau kedua anak itu saling mencintai.
Tidak salah aku memutuskan untuk menemani bunda, banyak informasi yang aku dapatkan mengenai kebiasaan Sandyakala dan itu bisa membuatku semakin mudah memasuki kehidupannya. Bunda lalu berjanji untuk mengajariku memasak semur ayam yang ternyata kesukaan Sandyakala. Hari Minggu aku akan ke sini lagi untuk belajar memasak bersama bunda.
Aku lalu pamit untuk kembali ke cafe, Aku tahu Sandyakala mungkin tidak berasa di sana tapi aku harus menunjukkan kesungguhan ku untuk bekerja. Aku harus pintar menutupi tujuan utamaku untuk mendekati Sandyakala karena sepertinya butuh proses dan waktu untuk meraih cintanya.
Saat aku baru saja keluar dari rumah Bunda, aku bertemu dengan Tante Naomi.
"Kanaya di sini? Lagi sama Nika?" tanya Tante Naomi setelah cipika cipiki denganku.
"Nggak Tante, sama bunda. Tadi diajak Sandy makan siang di sini, masakan bunda enak," kataku bersikap manis pada Tante Naomi.
"Terus Sandy mana?" tanya Tante Naomi sambil celingukan seperti mencari sesuatu
"Sudah pergi duluan tan, tadi aku minta ditinggal soalnya pingin ngobrol sama bunda, minta diajarin masak," kataku.
"Terus ini mau ke mana?" tanya Tante Naomi peduli padaku.
"Kembali ke cafe, Tante." jawabku.
"Sama siapa?" tanya Tante Naomi lagi
"Sendiri Tante," kataku.
__ADS_1
"Lho? Kok sendiri? Sebentar biar Tante telepon. Sandy supaya menjemputmu. Nggak ada tanggungjawabnya dia, ngajak anak orang terus dibiarin pulang sendiri," kata Tante Naomi.
Sepertinya rencanaku mendekati mulai dari keluarganya menampakkan hasil, lihatlah bagaimana mamanya Sandyakala yang meminta anaknya menjemputku. Semua sesuai dengan yang aku bayangkan. The power of Orang Dalam.