
POV Sandyakala
Akhirnya aku bisa menyempatkan waktu untuk duduk berdua dengan papa. Sengaja aku ajak papa jalan-jalan dan menikmati senja di rooftop sebuah hotel ternama dengan sajian live music lagu-lagu favoritku dan papa serta ditemani dua cangkir decaf. Seperti dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu, aku dan papa sangat menikmati sore ini.
"Ada apa nih jagoan papa?" tanya papa sambil menyeruput kopinya.
"Kangen aja pa," kataku sambil tersenyum dan sesekali membenahi kerah kemejaku.
"Ah, nggak perlu gombalin papa, apa nih yang harus dirahasiakan dari mama," kata papa yang membuat aku tertawa sekaligus salah tingkah karena papa tahu tujuanku.
"Menurut papa, Nika gimana?" tanyaku sambil menyembunyikan mukaku yang sedikit tersipu dengan menundukkan kepala.
"Nika itu selalu jadi kesayangan papa, kesayangan Sandy juga kan?" kata papa menggodaku yang membuat mukaku semakin memerah.
Ku kumpulkan segenap tenagaku untuk mengutarakan niatku melamar Arunika. Papa bertepuk tangan sangat senang yang menandakan bahwa papa setuju dengan keputusanku. Papa bahkan menceritakan rahasia yang selama ini dia simpan sendiri. Ternyata papa sudah tahu kalau aku sangat mencintai Arunika sejak pertengkaran ku dengan Jeevan bertahun-tahun yang lalu dan bahkan papa tahu jika aku dan Arunika bermesraan di halaman belakang rumah sebelah bahkan sampai berciuman. Aku hanya tertunduk malu dan menahan tawa saat papa terus-menerus menggodaku.
"Kalau mama nggak setuju gimana, pa?" tanyaku ragu
"Sandy laki-laki, harus tegas! Kalau itu keputusan Sandy dan selama itu baik ya lakukan saja," kata papa sambil menepuk bahuku.
"Nanti papa temenin Sandy bilang ke ayah bunda ya," kayaku memohon.
"Bilang aja sendiri, gampang kok kayak kalau Sandy minta makan ke bunda," kata papa sambil terkekeh
"Udah dong pa, jangan becandain Sandy terus. Sandy bener-bener tegang nih. Bantuin Sandy dong pa," kataku merengek seperti saat aku meminta papa memberikanku sepatu basket saat SMA dulu.
"Iya, tenang saja nanti papa atur. Apa sih yang nggak buat jagoan papa," kata papa sambil mengacak-acak rambutku. "Tapi, Nika mau nggak sama Sandy?" lanjut papa bertanya.
__ADS_1
"Ya mau dong, Sandy gagah ganteng kayak gini masak disia-siakan?" jawabku sedikit congkak dan membuat ayah semakin tertawa.
...****************...
Hari ini ulangtahun Abimanyu yang kedua. Aku sudah menyiapkan kado sepeda mungil untuknya. Dan Abimanyu pasti sangat senang. Aku sudah bisa membayangkan Abi duduk di sepeda dan aku mendorongnya keliling kompleks sampai ke taman. Sepeda itu sudah kuberi pita sehingga tampak menarik dan benar-benar seperti kado.
Saat aku tiba di rumah sebelah, Abimanyu sudah mandi dan sedang menikmati sarapannya dengan lahap. Arunika tampak menyuapi Abimanyu dengan telaten. Seperti biasa aku juga sarapan di rumah sebelah. Bunda memasak spaghetti dan pasta bolognese.
"Nika, masak nggak ada party untuk ulang tahun Abi?" kataku setelah meludeskan sepiring spaghetti.
"Kata papa nggak perlu, Abi juga belum punya banyak teman. Nanti malam kita makan malam jam.7, pokoknya kita ngikut aja sama papa, papa yang nraktir," kata Arunika dengan senyum mengembang.
Aku lalu membawa Abimanyu berjalan-jalan dengan sepeda barunya. Abi tentu saja sangat senang dan malah tidak mau berhenti sampai aku harus berkeliling kompleks sampai tiga kali. Setelah Abimanyu terlihat lelah, aku mengajaknya pulang yang kemudian aku bersiap-siap berangkat kerja saat matahari sudah meninggi.
"Lain kali jangan gitu, kamu main terus sama Abi sampai-sampai kerjaanmu terabaikan," omel Arunika ketika mengetahui aku baru akan berangkat kerja.
"Yes, mommy. " kataku sambil berlalu dari depan Arunika yang cerewetnya sudah seperti mama.
...****************...
"Aku dan Rendra sudah berteman sejak lama menjalani hidup bersama, semua milik ku adalah miliknya kecuali istri tentu saja," kata papa yang membuat semua tertawa.
"Dan luar biasanya kami menikah di hari yang sama dan sangat ajaib anak kami lahir hanya berjarak satu malam saja, sangat ajaib," kata papa sambil bertepuk tangan.
Mata ayah tampak berkaca-kaca karena terharu, mama dan bunda tampak berpelukan sedang Arunika menyimak dengan antusias.
"Dan malam ini aku ingin mengikat persaudaraan dengan Rendra. Bagaimana kalau kita menikahkan anak bersamaan dan memiliki cucu yang sama?" tanya papa yang membuat semua terdiam dan fokus pada papa.
__ADS_1
"Maksudnya cucu yang sama gimana, Bram?" tanya ayah sedikit bingung
"Ah si bodoh ini, tidak paham kiasan," kata papa meremehkan ayah.
"Nggak usah kode-kodean gitu lah, langsung aja. Maumu apa?" tanya ayah seperti menantang papa
Papa melihatku dan Nika secara bergantian, kemudian pandangan papa menatap satu per satu wajah semua yang datang di sini. Suasana menjadi hening dan semua menunggu papa berbicara lagi.
"Aku mau melamar Nika untuk Sandy," kata papa yang membuat semua tersenyum senang.
Aku tidak menyangka kalau semua akan bahagia dengan berita ini dan yang sangat di luar ekspektasi, mama paling antusias di antara semua, ku kira mama yang paling lantang menantang.
"Jangan senang dulu, Nika sayang mau nggak?" tanya papa pada Arunika.
Lagi-lagi keheningan terjadi, bungkamnya Arunika membuat hatiku berdetak kencang, ada kekhawatiran kalau Arunika akan menolakku entah dengan alasan apa. Arunika hanya melirikku sekilas dan dia berdiri mendekati papa dan kemudian memeluk manja papa dari belakang.
"Kalau Sandy benar-benar tulus dan menginginkan pernikahan ini, Nika akan terima pa. Siapa yang mau menolak kalau yang meminta papa sehebat ini," kata Nika sambil mencium pipi papa.
Aku menghembus napas lega dan semua bertepuk tangan. Kebahagiaan jelas terpancar di wajahku, mataku terus menatap Arunika yang juga memandangku sangat dalam dengan senyum terbaiknya. Dalam hatiku mengatakan kalau aku sangat menyayanginya, mungkin sejak awal aku menarik napas di dunia ini sampai nanti ku hembuskan napas terakhirku. Aku lalu menggendong Abimanyu yang ikut bertepuk tangan dan bersorak gembira walaupun sebenarnya dia belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
"Maaf Bu Wening, Nika kita tarik kembali," kata mama sambil tertawa.
"Udah, yang penting mereka bahagia," kata Bu Wening sangat tulus.
"Sebenarnya semua berawal dari pembicaraan kita di ruang perpustakaan itu, Bu Wening." kataku sangat berterima kasih padanya.
"Ah, sayakan cuma ngasih masukan aja. Yang penting saya dilibatkan dong dalam setiap acaranya," kata Bu Wening.
__ADS_1
"Pasti dong jeng. Kata Mas Bram kita ini Tiga Srikandi," kata bunda dan suasana sangat ceria.
Tinggal tunggu tanggal mainnya.