
POV Sandyakala
Selesai makan, kami lalu berkumpul di perpustakaan. Pantas saja Arunika sangat betah di tinggal di sini. Pasti inilah tepat di mana dia menghabiskan waktu. Ada juga beberapa buku yang seingatku itu milik Arunika ikut tertata rapi di rak. Aku tersenyum mengingat impian Arunika untuk tinggal di rumah dengan buku yang banyak.
Kami lalu duduk di kursi yang disediakan, Bu Wening terlihat sudah menunggu kedatangan kami. Dia tersenyum meminta aku dan Arunika untuk duduk.
"Nika, memangnya kenapa kalau Abi sama Sandy?" tanya Bu Wening dengan tatapan yang sangat teduh pada Arunika.
"Nggak apa-apa sih, Bu. Takut Sandy kerepotan aja," jawab Arunika aku tau itu bukan alasan yang tepat.
"Sandy, kamu kerepotan?" tanya Bu Wening padaku.
"Nggak dong, kalau saya ngajak Abi berarti saya sedang senggang," jawabku mematahkan alasan Arunika.
Lama Bu Wening diam, mengaduk teh di cangkirnya, lali menyeruputnya. Setelah menghela nafas yang lumayan panjang, akhirnya Bu Wening menyampaikan tujuannya. Dia ingin supaya aku dan Arunika bersama-sama membesarkan Abimanyu. Supaya Abi tidak wira-wiri dan kecapekan, Bu Wening menyarankan kami untuk tinggal dalam satu rumah, dan itu mendapat penolakan dari Arunika karena menurutnya itu tidak mungkin.
"Kalian menikah saja supaya semua menjadi mungkin," kata Bu Wening memberi saran yang memacu detak jantungku. Ingin rasanya aku memeluk dan mencium Bu Wening atas sarannya yang hebat. Dia ibu yang luar biasa
...****************...
__ADS_1
POV Wening
Harus aku akui, benar yang pernah diucapkan Aslan bahwa Arunika dan Sandyakala adalah cinta yang sejati. Sesulit apapun itu, walaupun tubuh mereka terpisah namun cinta mereka tetap utuh. Semua salahku karena buta tidak bisa memandang inti cinta yang dibalut indahnya persahabatan di antara mereka. Saat itu aku hanya melihat bungkus luarnya saja, yakni persahabatan tanpa mau masuk lebih dalam dan menemukan cinta yang tulus.
Cinta mereka teruji saat aku dengan egoisnya meminta Arunika untuk memenuhi hasrat dan ambisiku. Akulah yang menjadi pengkhianat dan penghancur kisah cinta mereka, bukan Aslan. Semua menjadi tanggung jawab ku saat Arunika saat ini berstatus janda beranak satu dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Aku tahu hidup Aslan tidak akan lama tapi mengapa aku dengan teganya meminta anak baik itu untuk menikah dengan Aslan dan menghancurkan masa depannya lalu membebankan semua tanggungjawab keluarga ini di pundaknya. Sedangkan Arunika dengan entengnya menolak tugas dan tanggung jawab di perusahaan keluarga malah harus bersusah payah memikirkan kemajuan perusahaan keluarga ini.
Tapi, akhir-akhir ini barulah aku menyadari betapa tidak ada artinya harta kekayaan yang bersusah payah aku kumpulkan jika akhirnya aku harus terpuruk dalam kesepian tanpa siapapun. Hal inilah yang ingin Aslan tunjukkan padaku saat dia memutuskan untuk keluar dari rumah ini dan hidup berpetualang, bergaul dan berteman dengan siapapun. Aslan bahkan memilih hidup sederhana hanya untuk bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang disekitarnha. Aslan bahkan membagikan harta miliknya tanpa memandang status sosial dan dari mana mereka berasal, memberikan pekerjaan dan mata pencaharian untuk sebagian dari mereka.Sampai Aslan mempunyai sahabat seperti Sandyakala yang luar biasa memberi nyawa di hidup Aslan dan aku telah menghancurkan persahabatan mereka dengan egoku yang besar. Lihatlah sekarang, saat kematian memanggil Aslan, persahabatan yang dia miliki nilainya jauh lebih berarti dibanding semua harta yang dimilikinya.
Ku kira semua masalah akan selesai saat anak Aslan, Abimanyu lahir ke dunia tapi nyatanya aku malah memberikan penderitaan pada cucu ku itu. Betapa dia harus tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah yang akan selalu menjadi panutannya. Lihatlah, betapa sekarang Abimanyu sangat merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Dia bahkan merasa sangat nyaman bila berada di dekat Sandyakala yang tulus menyayanginya dan sangat mencintai ibunya. Aku lagi-lagi memaksa Abimanyu untuk tetap tinggal di sini padahal dia punya keluarga yang sangat menyayanginya dengan alasan Abimanyu adalah satu-satunya pewaris di keluarga ini.
Aku harus berhenti dengan sifat egoisku yang nyatanya malah perlahan menghancurkan hidup orang di sekelilingku dan menuruti keinginan terakhir Aslan sebelum kepergiannya. Aslan memintaku untuk mengupayakan pernikahan antara Arunika dan Sandyakala. Arunika harus menikah hanya dengan Sandyakala supaya tidak ada lagi yang dikorbankan untuk memenuhi ambisi keluarga ini. Arunika berhak atas kebahagiaan atas cintanya, demikian juga Abimanyu yang berhak mendapatkan kasih sayang dari orang di sekitarnya. Aslan selalu meyakinkanku bahwa Sandyakala adalah ayah terbaik untuk Abimanyu dan semua itu terbukti jelas di depan mataku sendiri.
Saatnya mengembalikan kebahagiaan yang sudah ku rampas dari Sandyakala dan Arunika
...****************...
POV Arunika
"Bu, Nika menantu di keluarga ini. Kalau ibu membiarkan aku menikah dengan Sandy, sama saja ibu membiarkan aku mengkhianati Aslan," kataku menolak.
__ADS_1
"Nika, Aslan sudah tiada. Dia juga pasti sangat bahagia kalau kamu menikahnya sama Sandy," jawab ibu yang membuatku sulit menentukan kata yang tepat untuk membantah.
"Kamu jujur, selama ini Abi lebih dekat dengan kamu atau dengan Aslan?" tanya ibu lagi yang membuatku semakin bingung.
"Dia lebih dekat sama Aslan karena sehari-hari Abi selalu bersama Aslan, aku cenderung lebih sibuk kerja," jawabku jujur.
"Abi butuh sosok ayah dan saat ini Abi mendapatkan itu dari Sandyakala. Jangan sampai kamu menyesal seperti ibu, demi menuruti sudut pandang sebagai orang tua, akhirnya tanpa sadar mengorbankan anak," kata ibu yang membuat hatiku kian luluh.
"Tapi, nanti ibu bagaimana?" tanyaku.
"Apanya yang bagaimana? Ibu akan jauh lebih baik. Mengenai perusahaan, serahkan saja semua sama Alden. Kalau kamu mau, ya kamu ikut memantau, tapi kalau tidak ya sudah. Semua tetap milikmu dan Abi. Kasihan kamu terlihat stress karena mengurus pekerjaan. Nanti ASI mu seret, kasihan Abi juga kan?" kata ibu yang lagi-lagi membungkam ku.
Pintu terbuka dan Mbak Asih masuk sambil menggendong Abi yang tampak masih mengantuk. Abi mengulurkan tangannya pada Sandyakala dan dengan cekatan Sandyakala langsung menggendong Abi dan mohon izin untuk keluar bersama Abi.
"Lihat, Abi pingin bobo dipeluk Sandy," kata ibu sambil tersenyum dengan pancaran mata yang sangat senang.
"Iya, sepertinya Abi bobo lagi. Seperti dulu, saat terbangun, kemudian Aslan menggendongnya, Abi langsung bobo lagi," kataku sambil tersenyum
"Ya sudah, nggak usah nunggu Abi bangun, bawa aja ke rumah Sandyakala sekarang. Kamu menginap di rumah ayahbunda aja. Bukan ibu ngusir, kapanpun kamu mau kamu boleh ke sini. Ini juga rumahmu dan Abi. Kamu nggak usah terlalu mikirin ibu, ibu udah cocok sama Asih," kata ibu
__ADS_1
Lama aku menatap ibu, hari ini ibu terlihat ceria. Aura bahagia terasa dari dirinya.