BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
TERIMA KASIH KAK WIDURA


__ADS_3

POV Sandyakala


Pagi-pagi saat aku akan ke rumah sebelah untuk menjemput Abi dan mengajaknya olahraga di taman, Om Alden datang dengan wajah yang kusut. dan mata yang sembab. Sepertinya Om Alden membawa kabar duka ke rumah. Aku mempersilahkan Om Alden untuk masuk dan membuatkan secangkir teh untuknya. Berkali-kali Om Alden tampak mengatur napas dan berusaha menahan air matanya.


"Sand, Kanaya.. ... ...," kata-kata Om Alden menggantung dan seolah berat untuk Om Alden meneruskannya.


"Kanaya kenapa?" tanyaku dan berbagai perkiraan muncul di kepalaku.


"Semalam dia... ... ...," lagi-lagi Om Alden seolah tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Om Alden ambil waktu biar bisa tenang," kataku walaupun sebenarnya aku sendiri tidak sabar untuk mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Om Alden.


"Kanaya bunuh diri lagi, dia kritis di ICU," kata Om Alden setelah berhasil mengendalikan emosinya.


Hal ini sangat mengagetkanku, baru saja semalam aku membahasnya dengan mama. Ternyata Kanaya belum berubah, selalu gegabah dalam mengambil keputusan, sumbu pendek. Menurut Om Alden, semalam Kanaya di tempat Kak Widura. Setelah menelepon seseorang Kanaya lalu kehilangan kendali dan terjadilah peristiwa itu. Kak Widuralah yang membawa Kanaya ke rumah sakit dan sekarang sedang menjaganya.


"Semalam Kanaya menelpon mama," kata mama yang ikut bergabung dengan kami.


Mama lalu menceritakan isi pembicaraan mereka. Dan aku hanya bisa memegangi kepalaku. Sudah ku duga, semua ini berhubungan denganku. Lalu apa yang harus aku pertanggung jawabkan kali ini? Segera ku ambil ponselku dan menelepon Kak Widura untuk menanyakan keadaan Kanaya.


"Kamu nggak perlu menjenguk Kanaya dan akan lebih baik lagi kalau kalian tidak bertemu sama sekali," kata Kak Widura sangat tegas.


"Kakak jangan marah, aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti Kanaya," kataku pelan dan penuh rasa bersalah.


"Nggak Sand, ini untuk kebaikan Kanaya juga. Kalau kamu bertemu Kanaya dia akan terus berharap padamu dan itu tidak baik untuknya," kata Kak Widura


"Aku harus apa, kak?" tanyaku berharap bisa menebus kesalahanku.


"Ini bukan salahmu. Baiklah, begini saja, kamu boleh ke sini untuk menemui Kanaya tapi kamu harus menikahinya setelah dia sembuh. Tapi, jangan pernah menemui Kanaya kalau di hatimu tidak ada cinta untuknya," kata Kak Widura seolah memaksaku mengambil keputusan saat ini juga.

__ADS_1


Aku lalu memberitahu Om Alden isi percakapanku dengan Kak Widura. Sepertinya Om Alden keberatan dengan apa yang menjadi keinginan Kak Widura. Apalagi saat aku memilih untuk tidak bertemu dengan Kanaya. Mama juga protes keras dengan keinginanku. Menurut mereka aku sama sekali tidak berperasaan.


"Oh, bagaimana kalau Sandy yang bunuh diri karena kalian terus mendesakku untuk menerima Kanaya?" teriakku sudah tidak sabar lagi.


Papa yang entah dari mana datang dengan wajah panik pasti karena mendengar teriakanku. Mama malah terduduk dan menangis. Seumur hidupku aku sering membantah mama tapi baru kali ini aku sampai membuat mama menangis. Dan yang membuat aku tidak terima karena tangisan mama hanya untuk membela Kanaya tanpa memikirkan perasaan anaknya sendiri.


"Sandy berhak atas masa depan Sandy, Sandy berhak memutuskan apa yang ingin dan tidak ingin Sandy lakukan. Bukan berarti Sandy durhaka sama mama, tapi Sandy ingin menjalani hidup sesuai keinginan Sandy, ma." kataku sambil berlutut dan menggenggam tangan mama.


Mungkin Om Alden merasa tidak enak atau menganggap ini sudah urusan internal keluarga dan Om Alden pamit pulang. Mungkin tadi Om Alden datang dengan harapan aku segera menyusul Kanaya ke rumah sakit dan merawatnya seperti yang pernah aku lakukan dulu.


Setelah Om Alden pergi, aku menceritakan apa yang baru saja terjadi pada papa yang masih tampak kebingungan. Papa lalu duduk dan terus menatap mama dengan tatapan yang serius, tidak seperti papa yang biasanya santai dan cuek dengan apapun omelan mama.


"Semalam kan kamu bilang Sandy ada rencana melamar, terus kenapa segampang itu berubah pikiran?" kata papa sangat berwibawa sampai-sampai aku tidak berani menyela seperti biasa yang aku lakukan.


"Pa, kasian Kanaya," kata mama dengan sisa Isak tangisnya.


"Yang dilakukan Widura dan Sandy itu sudah betul ma. Jangan memberi harapan ke Kanaya kalau itu hanya akan menyakiti dia," kata papa sangat tegas.


Itu artinya papa sangat marah dan apa yang menjadi keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


...****************...


Sudah hampir sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Otomatis Kanaya sudah tidak lagi bekerja di cafe dan mama sudah tidak pernah lagi membahas tentang pernikahanku. Arunika dengan senang hati menggantikan pekerjaan Kanaya karena dia sudah tidak lagi mengurus perusahaan Bu Wening sehingga aku bisa fokus mengurus PT. Sahabat Sejati.


Tiba-tiba Kak Widura mengajakku untuk bertemu, hanya aku dan Kak Widura. Segera aku meluncur ke tempat yang sudah ditentukan.


"Sorry Sand, merepotkan,' kata Kak Widura menyambut kedatanganku.


"Biasa aja kak, aku juga baru longgar," kataku tersenyum.

__ADS_1


Kak Widura tentu saja ingin membahas tentang Kanaya. Besok Kanaya akan dibawa kembali ke luar negeri dan kemungkinan tidak akan kembali lagi ke sini sampai dia bisa melupakan semua impian dan harapannya tentangku. Aku juga meminta maaf karena selamanya tidak mungkin bisa menerima Kanaya lebih dari sekedar berteman dan Kak Widura bisa sangat memaklumi itu. Kami berpisah dan berharap suatu saat bisa bertemu lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik.


Setelah menemui Kak Widura aku lalu memutuskan untuk bertemu dengan Arunika. Jam segini biasanya dia berada di cafe dan ke sanalah aku akan menemuinya.


"Kak Nika istirahat di kamar atas, Pak." jawab karyawan yang aku tanyai.


Enak saja dia manggil Arunika dengan sebutan 'kak' sedang aku dipanggil 'pak' padahal usia kami hanya terpaut semalam saja. Tapi sudahlah, kalau Arunika berada di atas pasti Abi juga ada di sini. Aku sangat bersemangat menaiki tangga sambil memanggil nama Abi.


"Abi pergi sama tiga nenek," kata Arunika sambil membereskan mainan Abi yang bertaburan di balkon.


"Tiga nenek?" tanyaku bingung


" Bunda, ibu sama mama," kata Arunika.


Aku lalu membantu Arunika memasukkan semua mainan Abi di dalam kotak sampai balkon terlihat rapi kembali. Saat Arunika berdiri aku lalu memeluknya dari belakang. menghirup.wangi aroma parfumnya.


"Kenapa sih mesti peluk-peluk?" tanya Arunika namun tidak menolak pelukanku.


"Nika, aku kangen." bisikku pelan di telinganya.


Ku balikkan badan Arunika sampai kami berhadap-hadapan lalu ku lingkarkan tanganku di pinggangnya. Lama ku tatap wajahnya dan tersenyum. Wajah manis yang selalu ku pandang sejak aku lahir dan sampai saat ini tidak pernah bosan aku memandang wajah ini.


"Kita nikah yuk, supaya aku nggak kangen terus. Capek tau!" kataku yang di balas Nika dengan senyuman.


"Kalau Nika nggak mau gimana?" kata Arunika sambil melingkarkan lengannya di leherku.


"Masa cowok ganteng gini ditolak? Nggak kasihan?" kataku dan disambut oleh tawa Arunika.


Perlahan ku dekatkan bibirku ke bibir Arunika, bibir lembutnya menyambut bibirku.Ku pejamkan mata menikmati ciuman penuh cinta ini. Dengan ciuman ini kami saling mengungkapkan rindu dan cinta dalam hening tanpa suara.

__ADS_1


Aku akan mengatur rencana untuk membicarakan rencana pernikahan kami dengan keluarga. Aku sangat tidak sabar.


__ADS_2