
"Apa lagi sih pak Anggara yang terhormat?" ujar Ajeng malas.
"Kamu pulang bareng saya saja," ujar Anggara kemudian.
"oh... tidak terima kasih saya bawa motor sendiri pak," ujar Ajeng cepat dan sesopan mungkin.
"Oh ya sudah," ujar-nya kelewat santai.
Ajeng mendengus kesal ia membuka pintu dan menutup-nya secara perlahan kalau secara kasar nanti dibilang ia sangat tidak sopan lagi. Ajeng berjalan menuju parkiran kesal-nya sudah mulai mereda bahkan ia bersenandung kecil dengan riang.
setelah sampai parkiran ia hendak melewati parkiran dosen namun naas ia terpeleset dan jatoh-nya sungguh tidak epik. dengan kaki yang terangkat satu dan tubuh-nya yang hampir tiduran sedangkan tangan-nya sudah memegang bokong-nya yang merasa sangat menyakitkan, miris sekali kamu Jeng.
"Aduhh," rintih Ajeng menahan sakit.
belum Ajeng bangkit ia sudah mendengar suara gelakkan tawa yang amat senang dan bahagia, ia melihat kebelakang dan mata-nya membulat mengetahui siapa yang menertawai-nya dengan susah payah ia bangun karena sakit di bokong-nya belum lagi menahan malu yang teramat ini.
"Hahahahaha... maka-nya kalau jalan lihat-lihat mata di pakai," ujar orang itu sambil terus tertawa terbahak-bahak.
cukup sudah Ajeng sangat malu berada di sini, ia menatap horor Anggara dan bersiap meninggalkan laki-laki itu namun sayang, kaki-nya ke seloa saat terjatuh tadi alhasil ia kembali jatuh.
Anggara yang melihat itu semakin di buat tertawa sedangkan Ajeng sudah menahan sakit dan mata-nya pun sudah mulai berkaca-kaca ia hendak menangis namun masih ia tahan karena ada dosen sialan itu.
Ajeng tidak tahan menahan sakit di kaki-nya alhasil Isak kan kecil keluar dari bibir manis-nya, sedangkan Anggara yang mendengar Isak kan itu memberhentikan tawa-nya dan menghampiri Ajeng, saat sudah sampai ia sangat terkejut melihat Ajeng yang menangis tanpa suara meski Isak kan kecil masih terdengar.
"Hiks...mama sakit,"
"Coba biar saya lihat dulu, yang mana yang sakit?" tanya Anggara sambil meluruskan kedua kaki Ajeng.
Ajeng menunjuk kaki sebelah kiri-nya yang keseleo ia ia semakin menjerit ketika Anggara memijat-nya, Anggara yang tidak tahan melihat tangisan Ajeng yang semakin menjadi akhirnya ia memutuskan menggendong Ajeng ala bridal stayle dan membawa-nya ke mobil milik-nya.
dengan susah paya ia membuka pintu mobil sebelah kemudi dan mendudukkan Ajeng dengan hari-hati, terlihat sangat jelas jika ia sangat khawatir dengan keadaan Ajeng. Tanpa pikir panjang Anggara berlari ke pintu pengemudi dan melajukan mobil-nya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Ajeng masih terus menangis menahan sakit di kaki-nya tanpa ia sadari Anggara memegang tangan-nya untuk memenangi diri-nya. setelah sampai di rumah sakit Anggara memanggil suster setelah itu Ajeng di bawa ke UGD dengan kursi roda.
Anggara menunggu di luar sambil mengambil handphone Ajeng biarlah ia di bilang tidak sopan karena mengambil barang orang tanpa izin tapi ini darurat mau bagaimana lagi.
Anggara mencari kontak keluarga Ajeng, dia menemukan kontak dengan username mamah tanpa pikir panjang ia langsung menelepon mamah Ajeng setelah telepon tersambung Anggara menjelaskan jika Ajeng di bawa ke rumah sakit.
"halo, ini mamah-nya Ajeng?"
"Iya ini saya sendiri, anda siapa kenapa handphone anak saya bisa ada di anda?" tanya Lucy tidak sabar.
"Saya dosen Ajeng dan sekarang Ajeng ada di rumah sakit pelita,"
"APA!! baik saya ke sana sekarang,"
belum Anggara menjelaskan kenapa Ajeng bisa berada di sini telepon sudah di matikan secara sepihak, alhasil ia menunggu orang tua Ajeng.
tidak lama dokter keluar dan bilang jika Ajeng tidak apa-apa hanya kaki-nya yang keseleo untuk itu Ajeng harus istirahat beberapa hari untuk memulihkan kaki-nya.
setelah mendengar penjelasan dari sang dokter Anggara merasa lega karena Ajeng tidak apa-apa setelah dokter pergi datang lah Lucy dengan wajah khawatir.
"Ajeng tidak apa-apa bu, hanya keseleo dan butuh istirahat serta jangan terlalu sering berjalan," ujar Anggara menjelaskan dan tersenyum hangat.
"Syukurlah, terima kasih ya nak, nama kamu siapa?"
"Nama saya anggara, kalau gitu saya permisi oh ya tadi adminstrasi belum saya urus," ujar Anggara.
"Tidak apa-apa nak, terima kasih soal administrasi biar saya aja," ujar lucy tersenyum hangat.
Anggara mengangguk dan meninggalkan Lucy sendiri di depan pintu UGD, Lucy masuk kedalam ruangan UGD dan melihat putri-nya dengan khawatir, ia mengelus lembut kepala Ajeng dan bertanya.
"Kenapa bisa sampai keseleo sayang?" tanya Lucy dengan suara keibuan-nya.
__ADS_1
"Nanti aku ceritain mah, aku mau pulang," rengek Ajeng dan di angguki Lucy.
setelah menyelesaikan administrasi Ajeng dan Lucy pulang dengan di antar sopir pribadi Lucy,dengan perlahan Lucy membopong sang putri untuk masuk kedalam mobil.
...****************...
"HAHAHAHHAHAHA, astaga ngakak banget sumpah," ujar Naya sambil memegangi perut-nya.
begitupun dengan yang lain mereka tertawa mendengar cerita dari Ajeng jika ia tadi terjatuh karena kulit pisang.
Naya masih belum bisa menghentikan tawa-nya saking lucu-nya ia sampai sakit perut karena tertawa terus sejak tadi, Ajeng memanyunkan bibir-nya ia kesal sejak tadi selalu di ter tawakan oleh mereka semua bahkan mamah dan ayah-nya pun ikut menertawai-nya.
"Sudah-sudah, maka-nya sayang kalau jalan tuh hati-hati," ujar ayah Ajeng setelah menghentikan tawa-nya dan mengelus sayang pucuk kepala sang putri.
"Aku tuh udah hati-hati ayah tapi... aku gk tau kalau ada kulit pisang," ujar Ajeng lirih.
"Ututu kasian banget sih adikku ini, untuk beberapa hari kamu izin gk usah ngampus gk mungkin kan kamu ngampus di keadaan kaki kayak gitu," ujar Naya.
sebelum Ajeng mengeluarkan suara Lucy mamah Ajeng sudah terlebih dahulu bersuara.
"Bener kata kaka kamu, kamu istirahat dulu kalau sudah benar-benar sembuh baru kuliah lagi," ujar Lucy dengan lembut agar puri-nya mengerti.
Ajeng mengangguk ia lebih naik menurut dari pada uang jajan-nya yang terkena imbas, ia melirik kearah Naya dengan sinis yang masih saja menertawakan-nya. Ajeng mendengus kesal andai saja jika Naya bukan kaka-nya sudah pasti ia buang ke jurang.
"Ya udah mending sekarang kita makan ya," ujar Ayah ajeng akhir-nya.
mereka makan dengan hidmat, kesunyian lah yang ada hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, sampai mamah Ajeng mengucapkan sesuatu yang membuat semua-nya tersenyum menggoda kearah Ajeng sedangkan Ajeng sudah menahan kesal plus malu.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
hay aku up sekarang aja deh hehe.
__ADS_1
mumpung kuota belum habis.
jangan lupa vote-nya ya