
semingu sudah berlalu, Kevin sudah tidak menganggu-nya lagi ia sangat bersyukur karna mantan kekasih-nya itu sudah tidak datang.
Pagi ini seperti biasa Ajeng dan kedua sahabat-nya sedang berada di kantin untuk menunggu bel masuk, mereka asik tertawa sambil memakan pesanan mereka.
"Eh iya, Jeng minggu kemarin gue ngeliat lo sama pak Anggara di cafe hijau, itu beneran lo kan?" tanya Reina yang sekarang sudah tidak sabaran.
sedangkan Adeva entahlah, ia seperti tidak mau masuk dalam obrolan ini. Ajeng yang di tanyai itu menjadi salah tingkah bukti-nya sekarang ia tengah memegang tengku belakang-nya yang tidak gatal.
"Emm... gue emang sama pak Gara tapi... tapi ada alasan-nya kok," ujar Ajeng gugup.
"Ya udah jelasin!" sarkastis Adeva.
Renia yang menyadari perubahan sahabat-nya menatap-nya dengan tatapan bingung, sebenar-nya Adeva kenapa? pikir Reina.
"i-iya, jadi gini..."
Ajeng menjelaskan kejadian satu minggu yang lalu dari Kevin yang datang untuk meminta kembali bersama-nya dan sampai ia dan Anggara berada di cafe hijau.
"Anjir lah, lo di gangguin lagi sama tuh brengsek?" tanya Adeva ngegas.
Reina memandang Adeva aneh, seperti-nya ada yang ia sembunyikan? atau hanya kesal karna Ajeng baru menjelaskan-nya sekarang, poin kedua lebih pas sih pikir Reina.
"Iya, tapi sekarang udah enggak kok," ujar Ajeng menenangkan sahabat-nya.
"Maksud-nya enggak, apaan?" sekarang Reina ikut menimpali.
Ajeng mengangguk dan meminum es teh manis-nya hingga tandas lalu menatap kedua sahabat-nya, ia agak aneh ketika melihat ke arah Adeva karna saat Reina mulai menanyai tentang-nya dengan Anggara ia mulai tidak ikut campur.
"Huftt, semoga aja sih dia gk ganggu gue lagi Re," ujar Ajeng dengan lesu.
"Semoga aja deh," ujar Adeva malas.
tring...tring...tring
"Udah bel, masuk yuk," ujar Ajeng lalu bangkit dan di ikuti kedua sahabat-nya.
mereka berjalan meninggalkan kantin dan menuju kelas mereka karna sekarang jam pelajaran sang dosen idola Anggara yang terbilang dingin tapi tampan.
__ADS_1
setelah mereka sampai di kelas, mereka langsung menuju tempat duduk mereka masing-masing, tidak lama kemudian datanglah Seoarng dosen muda, dosen idola kampus ini.
pelajaran pun di mulai semuanya hening memperhatikan Anggara yang ada di depan yang tengah menjelaskan.
tidak dengan Reina ia tidak fokus dalam pembelajaran kali ini, ia menoleh ke arah kiri di mana Adeva berada, ia memperhatikan dengan seksama.
Adeva memperhatikan dosen idola itu dengan tersenyum dan tatapan mata-nya... Reina melihat itu dengan jelas tapi apa benar? ia menggelengkan kepala-nya dan berfikir positif banyak yang mengangumi dosen itu alhasil pasti sahabat-nya juga mengangumi.
Ajeng yang sedari tadi memperhatikan penjelasan di depan tampang menoleh ke sebelah-nya di mana ada Reina yang masih terus memperhatikan Adeva, ia tidak ambil pusing dan tetap fokus kedepan.
Dosen itu memberikan tugas dan alhasil semua-nya menjadi hening karena fokus kepada pekerjaan mereka.
...****************...
"Hua akhir-nya gue bisa keluar," ujar Adeva sambil merentangkan tangan-nya.
"Eh, Dev, Jeng gue balik duluan ya udah di jemput doi," ujar Reina setelah memasukan handphone-nya kedalam tas.
"Yoi good luck," ujar Adeva.
"Oh iya Jeng, gue duluan ya ada urusan soal-nya," ujar Adeva dan meninggalkan Ajeng seorang diri di kelas.
sedangkan Ajeng mengangguk dan tersenyum ke arah Adeva yang sudah mulai menjauh. di ruangan itu masih terdapat Anggar yang masih membereskan barang-barang-nya juga.
ketika ia melihat Ajeng yang sudah selesai dan beranjak dari duduk-nya menahan-nya.
"Ajeng, kamu pulang naik apa?" tanya Anggara yang membuat Ajeng sedikit terkejut, ia melihat keterkejutan Ajeng rasa-nya ia ingin mencubit pipi chaby Ajeng di saat itu juga.
"Saya pulang naik ojek pak," ujar Ajeng sesantai mungkin.
"kamu pulang bareng saya," ujar Anggara mutlak.
deg
"anjir jantung gue kenapa? kayak-nya nanti pulang kampus haru periksa deh, eh bentar tuh dosen ngajak pulang bareng apa merintah si? au ah" batin ajeng
"Saya pulang naik ojek pak, lagian saya gk enak sama istri bapak," ujar Ajeng menolak.
__ADS_1
"Saya tidak punya istri atau kekasih, ataupun tunangan jadi kamu pulang bareng saya," ujar-nya tidak memperdulikan raut wajah Ajeng yang sudah berubah memerah.
"Dih pak, bapak siapa saya? kok maksa si?" ujar Ajeng yang mulai jengkel.
"Udah pulang sama saya," ujar Anggara datar.
"Nanti kalau di liat sama anak kampus gimana pak? saya gk mau jadi omongan," ujar Ajeng kesal.
"Kampus sudah sepi tidak akan ada yang melihat," ujar Anggara santai.
"tapi kalau di pikir-pikir boleh juga sekalian ngirit ongkos, haha," batin Ajeng tertawa.
tanpa persetujuan Ajeng dosen-nya itu menarik lengan-nya membawa Ajeng menuju parkiran, Ajeng yang masih shok hanya diam mengikuti langkah Anggara.
sedangkan Anggara sudah tersenyum puas karna gadis-nya mau pulang bersama-nya. tunggu gadis-nya? mungkin nanti.
setelah sampai di parkiran para dosen Anggara membuka pintu samping kemudi dan mempersilahkan Ajeng masuk, ia sedikit berlari kecil menuju pintu sebelah-nya dan menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil-nya keluar dari pekarangan kampus.
Ajeng yang masih shok dengan perlakuan sang dosen kepada diri-nya membuat otak kecil-nya ngebleng dan kondisi di dalam pun menjadi awkward tidak ada yang berbicara sama sekali dengan Anggara yang fokus dengan menyetir sedangkan Ajeng terbenam dalam fikiran-nya sendiri.
15 menit kemudian mereka sampai di depan rumah Ajeng, Ajeng masih belum sadar jika mereka sudah sampai. Anggara melihat ke arah Ajeng dan tersenyum tipis.
"Masih betah di mobil saya?" ujar Anggara.
sedangkan Ajeng tersentak kaget karena dosen-nya berbicara tiba-tiba, Ajeng melihat ke seliling ternyata mereka sudah sampai di depan rumah-nya, Ajeng tersenyum kikuk.
"Hehe, makasih ya pak," ucap Ajeng aga sedikit gugup.
"Iya sama-sama,"
setelah mengatakan trima kasih Ajeng langsung keluar mobil tidak lupa menutup pintu-nya lagi, bisa gawat kalau ia terus menerus ada di dalam sana. Ajeng melihat dosen-nya membuka kaca jendela dan tersenyum, lagi-lagi senyum-nya memabukan sampai Ajeng terhipnotis beberapa saat.
"Saya pulang dulu," ujar Anggara dan membunyikan klakson mobil-nya.
setelah mobil Anggara mulai tidak terlihat Ajeng bisa bernafas dengan lega, ia memegang dada-nya jantung-nya berdetak dua kali lebih cepat dari biasa-nya. ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan-nya dengan perlahan itu terus ia lakukan sampai jantung-nya kembali normal.
"Apa gue sakit jantung ya? tapi gk mungkin ah gue sehat-sehat aja," ujar Ajeng pada diri-nya sendiri bingung.
__ADS_1