
Anggara menghembuskan nafas berkali-kali ia menenangkan diri sebelum mengetyk pintu yang ada di hadapan-nya.
"huftt... ayolah lo cuma mau ngajak dia jalan bukan mau minta restu buat nikahin. eh, " monolog Anggara.
setelah itu ia memberanikan diri mengetuk pintu kayu itu dan tidak lama dari itu seorang wanita paruh baya membuka pintu dan langsung berhadapan dengan Anggara.
"Mas cari siapa ya? " tanya bi Surti kepada Anggara sopan.
"Oh i-itu bi ada Ajeng-nya? " tanya Anggara balik.
"Oh... Neng Ajeng ada... masuk dulu mas biar bibi panggilkan neng Ajeng-nya, " ujar bibi mempersilahkan Anggara masuk.
Anggara masuk mengikuti bi Surti dan menyuruh-nya duduk di sofa ruang tamu, bi Surti pergi meninggalkan Anggara untuk memanggil Ajeng.
Anggara melihat sekeliling ruang tamu ini ia masih kagum dengan interior rumah Ajeng padahal ia sudah pernah kesini sekali.
tidak lama dari itu seorang gadis menuruni tangga sambil mengobrol dengan bi Surti yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ajeng.
Ajeng menggunakan hoodie biru soft over size dan di padukan dengan celana jeans hitam dan juga sepatu snikers putih dan sling bag senanda dengan warna hoodie-nya.
Anggara sempat terpaku melihat kecantikan Ajeng meski ia hanya mengenakan pakaian seperti itu ia tetap cantik. Anggara sadar dari lamunan-nya ketika Ajeng sudah berada di hadapan Anggara.
"Ayok pak kenapa melamun?, " ujar Ajeng membuyarkan lamunan Anggara.
"O-oh iya ayok, " ucap Anggara sedikit kikuk karena ketahuan melamun.
"Ya udah ayok, " ajak Ajeng dan berjalan lbih dulu ke luar rumah.
sebelum ia benar-benar keluar rumah ia teriak cukup kencang membuat Anggara harus menutup kuping-nga saking kencang-nya teriakan Ajeng.
"BIBI AJENG BERANG YAA!, " teriak Ajeng.
"IYA NON, " dan si balas dengan teriakan dari bibi karena ia berada di dapur sedang mencuci piring.
Anggara dan Ajeng berjalan menuju mobil Anggara yang berada di depan pagar rumah Ajeng. kenapa gk masuk aja? athor juga gk tau kenapa dia gk masukin aja mobil-nya heheh😁.
Anggara memutari mobil dan membukakan pintu sebalah kemudi dan mempersilahkan Ajeng masuk. Ajeng sempat salting sebentar karena di bukakan pintu oleh dosen yang terkenal anti dengan namanya perempuan.
__ADS_1
setelah benar benar Ajeng masuk Anggara memutari mobil-nya dan menuju ke pintu kemudi. setelah ia duduk dengan nyaman baru ia menyalakan mobil-nya dan melajukan-nya meninggalkan pekarangan rumah Ajeng.
hening terjadi di dalam mobil Ajeng yang tidak mau membuka suara karena ia masih agak terkejut di perlakukan oleh Anggara. boleh kalian anggap Ajeng lebay tapi... siapa sih yang gk baper di gituin? sama cogan lagi.
sedangkan Anggara fokus menyetir ia melirik ke arah Ajeng yang menghadap jendela menatap keluar mobil. suasana menjadi sangat canggung Anggara tidak tahu harus memulai dari mana mana dari itu ia memilih untuk diam.
"*kenapa jadi canggung banget sih, " grutu Anggara dalam hati.
"njir plis lah kan gk mungkin kalau pak gara demen sama gue, gk mungkin.. gk mungkin, " batin Ajeng tersenyum miris*.
Ajeng mencubit pipi-nya sendiri bisa-bisa-nya ia baper sama dosen yang sangat menyebalkan ini tapi sayang-nya ganteng.
keheningan masih berlanjut namun... Ajeng teringat jika ia tidak tahu mau di bawa kemana oleh dosen idola ini...
"Pak kita mau kemana? " tanya Ajeng sambil menatap Anggara.
Anggara menoleh kearah Ajeng sebentar dan kembali fokus dengan jalanan, ia menjawab.
"Nanti juga kamu akan tahu, " jawab-nya kelewat santai.
"ck.. awas aja lo ya pak kalau sampai lo ngapa-ngapain gue ... gue potong punya lo, " batin Ajeng kesal teramat kesal.
30 menit mereka di dalam mobil namun tidak sampai-smapai membuat Ajeng jengah karna terlalu lama di perjalanan dan lagi ia amat tidak menyukai keheningan. akhir-nya ia kembali bertanya kepada Anggara.
"Pak kita sebener-nya mau kemana sih?!! " ngegas Ajeng.
Anggara tidak bergeming ia hanya fokus kedepan sedangkan Ajeng yang si diami menggerutu kesal, nasib punya dosen kayak kertas baru beli 'kaku' akhir-nya Ajeng kembali diam. sampai-sampai membuat-nya mati kebosanan dan akhir-nya ia tertidur.
Anggara yang melihat Ajeng tertidur menoleh dan tersenyum lalu ia kembali menyetir dengan khusyu alias fokus.
...****************...
Ajeng terbangun dari tidur-nya, ia melihat ke arah samping kanan-nya dan terdapat seorang laki-laki yang juga balas menatap-nya.
"Sudah bangun hem?, " pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Anggara membuat Ajeng berdecak kesal.
"Belom pak saya masih di Mekkah... aamiin, " ucap Ajeng dan mengamini dengan suara teramat pelan.
__ADS_1
Anggara mendi kikuk betapa bodoh-nya ia malah bertanya soal itu. Ajeng melihat keseling-ling, ia nampak bingung namun seketika ia menjadi teramat senang karena sekarang mereka di hadiahi pantai di hadapan mereka langsung.
pantai salah satu tempat kesukaan Ajeng. bukan hanya karena indah pantai juga bisa membuat pikiran-nya menjadi lebih tenang dan rileks dan juga tempat wisata yang paling seru menurut Ajeng.
Anggara keluar dari mobil dan memutari setengah mobil untuk membukakan pintu untuk Ajeng, lalu ia mengulurkan tangan-nya untuk Ajeng genggam tidak lupa senyum khas diri-nya.
Ajeng agak sedikit ragu tapi ia tetap menggapai genggaman tangan Anggara dan keluar dari mobil. setelah keluar dari mobil Anggara mengajak Ajeng kekuatan tempat yang sudah ia siapkan.
" Semoga saja berhasil, ya Allah, " batin Anggara berdoa.
sampai lah mereka ditempat tujuan, Ajeng yang melihat itu terpaku dengan apa yang ia lihat sekarang. apakah Anggara menyiapkan ini semua untuk diri-nya? pikir Ajeng.
"pak-
"Ayok duduk, " ajak Anggara memotong ucapan Ajeng.
Ajeng menurut dan duduk di tempat yang sudah Anggara siapkan, tempat diner dengan duduk lesehan dan langsung di hadapkan dengan pemandangan pantai membuat Ajeng sangat takjub dan terus memandangi sekitar.
Anggara yang melihat itu menghela nafas lega, semua rencana-nya berhasil Ajeng suka dengan apa yang sudah ia disign.
tidak lama dari itu seorang witers datang dan memberikan dua gelas lemon tea dan makanan seafood dan tidak lupa jagung dan sosis bakar.
mereka menikmati makanan mereka sesekali mengobrol dan bercanda terkadang Ajeng melontarkan pertanyaan yang konyol namun tetap di jawab oleh Anggara.
entah apa yang membuat Ajeng menjadi seperti ini, jadi lebih dekat dengan sang dosen. tapi yang ia harapkan andai saja waktu bisa di berhentikan Ajeng akan memberhentikan momen ini untuk sebentar saja.
__ADS_1