
sudah tiga jati Ajeng berdiam diri di rumah dengan banyak istirahat dan sekarang Ajeng boleh kuliah lagi oleh keluarganya.
meski masih ada perban di kepala-nya tidak membuat Ajeng untuk tidak masuk kuliah lagi, sudah cukup lama juga ia tidak kuliah ia sudah sangat merindukan kampusnya.
"udah siapa sayang? " tanya mamah saat memasuki kamar Ajeng.
Ajeng mengangguk dan berlari menuju mamah-nya ia memeluk mamah-nya manja, sedangkan mamah mengelus pucuk kepala putri bungsu-nya.
"ya udah sekarang turun udah di jemput sama Anggara tuh di bawah, " ucap mamah melerai pelukan mereka.
"oke mah, " jawab Ajeng dan mengikuti mamah-nya yang berjalan terlebih dahulu.
setelah sampai di ruang tamu ia melihat Anggara dan juga ayah-nya sedang mengobrol, ayah yang melihat kedatangan putri bungsu-nya menyuruh Ajeng mendekat.
"sini sayang, " ucap ayah.
Ajeng mengangguk dan menghampiri ayah dan duduk tepat di samping ayah-nya, ayah tersenyum dan mengelus pucuk kepala Ajeng.
"ya sudah kalian berangkat nanti telat, oh ya jaga Ajeng ya nak, " ucap ayah sambil menitipkan Ajeng kepada Anggara layaknya anak kecil.
"aku bukan anak kecil kali yah, " gerutu Ajeng sambil menyalami tangan ayah-nya.
"memang kamu sudah besar tapi menurut ayah kamu putri kecil ayah, " ucap ayah.
Ajeng yang mendengar itu pun terharu ia menghamburkan diri kepelukan ayah-nya sedangkan Anggara yang melihat itu tersenyum.
"ya udah sana berangkat nanti tekat, " ucap ayah setelah melerai pelukan mereka.
Ajeng mengangguk namun belum juga melangkah Naya datang, dan meminta tolong kepada Ajeng.
"dek kamu pulangnya jangan sore-sore yah, " ucap Naya.
"kenapa? " tanya Ajeng bingung.
"bantuin kaka pilih disign buat dekor rumah, " jawab Naya.
Ajeng mengkerut kan kening-nya bingung, perasaan tidak ada acara spesial deh kenapa harus mendekor rumah.
"emang akan ada acara apa? " tanya Ajeng penasaran.
"kan mau lamaran kaka kamu sayang, " ucap mamah menjawab pertanyaan Ajeng.
"ouh... ya udah kalau gitu aku sama mas Anggara berangkat dulu. Assalamu'alaikum, " salam Ajeng sebagai perpisahan pagi ini.
Anggara mencium punggung tangan kedua orang tua Ajeng dan menyusul Ajeng yang sudah keluar terlebih dahulu.
Ajeng menunggu Anggara di depan mobil laki-laki itu, Anggara yang melihat itu tersenyum dan menghampiri Ajeng. ia mengacak pelan pucuk kepala Ajeng yang membuat Ajeng kesal.
setelah itu Anggara membukakan pintu untuk Ajeng setelah Ajeng masuk ia memutari setengah mobil-nya dan masuk ke tempat kemudi. setelah itu ia menyalakan mobil dan menjalankan-nya, meninggalkan karangan rumah Ajeng.
__ADS_1
...****************...
seperti biasa Ajeng di turunkan di depan kampus agar anak-anak kampus tidak ada yang melihat awalnya Anggara tidak menyetujui melihat keadaan Ajeng yang beruntung sembuh.
namun bukan Ajeng jika tidak bisa membujuk Anggara, dan dengan bujukan itu Anggara mengalah dari pada snag kekasih akan marah pada-nya.
Ajeng berjalan menyusuti koridor yang masih cukup ramai, ia melihat sekeliling kampus masih sama tidak ada yang berubah sama sekali.
setelah sampai di kelas Ajeng masuk dan langsung di sambut dengan bahagia oleh teman-teman kelas-nya terlebih kedua sahabat Ajeng yang paling heboh.
"huaaa... Ajeng akhirnya lo masuk juga gue kangen banget, " teriak Adeva dan langsung memeluk Ajeng.
"tau lama banget sih di rumah sakitnya, gue kan jadi kangen, " timpal Reina mendramitskan.
"hehe, sekarang kan gue udah di sini so gk usah sedih lagi kali, " ucap Ajeng sambil terkekeh.
Reina dan Adeva ikut terkekh dan mereka kembali berpelukan setelah itu mereka duduk ke bangku mereka masing-masing, kasihan jika Ajeng terus berdiri terlebih ia baru sembuh.
"oh ya nanti bantuin gue ya, " ajak Ajeng.
Adeva dan Reina langsung menengok mereka berdua menatap Ajeng bingung dan juga penasaran.
"bantuin apaan? " tanya Adeva kepo.
"nanti sore pilih dekor, " jawab Ajeng sambil membuka novel-nya.
"siapa yang ulang tahun? " kini Reina yang bertanya.
"bisa agk lo kalau bicara jangan setengah-setengah? " ketus Adeva.
"hehe... buat lamarannya ka Naya, " jawab Ajeng cengengesan.
"ouh bilang kek, ya udah nanti sore kita kerumah, " ucap Reina mengakhiri obrolan mereka.
karena seorang dosen datang dan langsung memulai pelajaran. FYI tugas Ajeng di kurangi karena kecelakaan itu pihak kampus sudah setuju untuk mengurangi tugas Ajeng jadi Ajeng tidak begitu pusing dengan tugas yang menumpuk.
...****************...
bel kampus sudah berbunyi dari tahun menit yang lalu namun Ajeng dan kedua sahabat-nya enggan untuk pulang karena asik mengobrol.
"sumpah kemarin gue liat cogan, " ucap Adeva memberi tahu.
"ck... giliran cogan aja lo semangat, " sinis Ajeng.
"tau lo, makanya jangan jomblo mulu, " timpak Reina.
"nyes.. nyeri oy jangan bilang gitu napa, " ucap Adeva dramatis.
Ajeng dan Reina menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Adeva jika sudah berurusan dengan yang namanya cogan cowok ganteng).
__ADS_1
"udah selesai ngobrolnya? " tanya ke-dua laki-laki itu.
mereka bertiga yang sedang fokus mengobrol berjengkit kaget karena ucapan laki-laki itu yang mengagetkan mereka.
"lah sejak kapan kamu di sini? " tanya Reina dan Ajeng barengan.
"lima menit yang lalu, " jawab anggara dingin.
"baru, " jawab Dava.
sedangkan Ajeng dan Reina cengengesan tidak jelas..
"ya udah yuk pulang, gue duluan yah, " ucap Ajeng dan langsung menarik Anggara pergi.
"gue duluan ya Dev bay, " ujar Reina kemudian lari sambil menarik tangan Dava sedangkan Adeva.
sudah meberengut kesal karena di tinggal sendirian di dalam kelas. namun tiba-tiba ada angin semilir membuat Adeva merinding dan langsung lari meninggalkan kelas.
"ADA SETAN! " teriak Adeva ketakutan.
sedangkan Ajeng dan Anggara yang sudah berada di dalam mobil Anggara pun langsung pulang menuju rumahnya.
"kamu udah lama nungguin kenapa gk langsung ngomong, " ucap Ajeng membuka percakapan.
" gk enak aja kamu lagi ngobrol sama sahabat kamu asik banget, " jawab Anggara sesekali melirik Ajeng.
"ya tapi kan gk gitu juga kali, " ucap Ajeng lagi.
"udah sekarang mending kita makan aku laper, " ucap Anggara menyudahi.
Ajeng mengangguk dan mobil Anggara pun menepi di pinggir jalan tempat penjual pecel lele, Ajeng ikut turun dan memilih tempat yang akan mereka duduki setelah itu memesan makanan mereka.
"emm disign-nya kayak apa ya buat lamaran? " tanya Ajeng kepada Anggara.
"kalau formal aja emang gk bisa? " usul Anggara.
"masa formal sih kan mau lamaran bukan buat rapat, " ucap Ajeng kesal.
"kan aku cuma kasih saran heheh, " cengenges Anggara.
"yang soft aja gimana?" usul Anggara lagi.
" kayaknya cocok sih, nanti coba deh, " ucap Ajeng.
dan setelah itu percakapan mereka terhenti karena makanan yang mereka pesan datang, Ajeng mencuci tangan dulu dengan kobokan yang di siapkan.
"selamat makan, " ucap Ajeng.
setelah itu ia berdoa dan memakan makanannya, Anggara juga sama memakan makanannya. mereka hanya fokus pada makanan mereka hingga habis.
__ADS_1
setelah selesai makan dan membayar makanan mereka Anggara dan juga Ajeng langsunv pulang menuju kediaman Ajeng.