
matahari mulai terbenam di arah barat, senja pun datang hanya untuk sebentar dan di gantikan oleh malam yang gelap. dua orang berbeda jenis itu tengah menatap senja yang sebentar lagi di gantikan oleh gelap-nya malam.
Gadis itu tersenyum bahagia sambil menyenderkan kepala-nya kepada sang laki-laki, memeluk erat dan berharap tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
namun semua itu hanya kenangan, kenangan indah bagi Ajeng ketika bersama Kevin laki-laki yang dulu amat ia cintai, ia tersenyum miris meratapi nasib-nya dengan memandang langit yang mulai menggelap dari balkon kamar-nya.
Ajeng menghela nafas gusar dan berjalan masuk kedalam kamar-nya, ia jadi mengingat masa lalu-nya lagi kenapa? kenapa dia datang di saat Ajeng sudah mulai melupakan-nya? apa rencana-nya?
entahlah Ajeng tidak tahu, yang ia tahu laki-laki itu datang kembali dan mengingatkan Ajeng tentang luka itu bahkan luka itu belum benar-benar mengering tapi sumber dari luka itu malah datang lagi.
Ajeng beranjak dari atas kasur dan berjalan menuju kamar mandi, ia berencana untuk membasuh muka-nya agar pikiran-nya tenang kembali.
Ajeng berjalan menuju lemari setelah selesai membasuh muka-nya, ia mencari kardigan-nya, ia akan pergi keluar sebentar untuk mencari makanan dan juga menyegarkan pikiran-nya agar terbebas dari kenangan itu.
setelah menemukan-nya Ajeng keluar kamar dan berjalan menuruni anak tangga, setelah sampai di ruang keluarga ia melihat keluarga-nya tengah berkumpul, Ajeng menghampiri mereka dan duduk di sampai sang mamah.
"Kok pada kumpul gk ngajak-ngajak," ujar Ajeng cemberut.
Semua yang ada di rungan itu menggelangkan kepala dan tersenyum simpul sudah biasa dengan sifat Ajeng yang sedikit manja.
"Ini loh sayang, kaka kamu kan sebentar lagi mau tunangan maka-nya kami obrolin di sini, kenapa gk ngajak kamu? karna kamu jomblo jadi nanti malah cemburu lagi," ujar Ayah Ajeng sambil tersenyum hangat menatap putri bungsu-nya.
"Ayah denger ya, aku bukan jomblo tapi... singel," ujar Ajeng tidak terima dengan ucapan sang ayah.
semua yang ada di ruangan keluarga tertawa mendengar penuturan Ajeng bahkan Naya sampai memegangi perut-nya karena sakit terlalu kencang tertawa bahkan calon kaka ipar-nya pun ikut tertawa dan menggelangkan kepala.
"Sama aja kali dek, maka-nya cepet move on terus cari yang baru," ujar Naya mengakhiri tawa-nya.
Ajeng melotot melihat ke arah sang kaka, ia sudah move on dari sang mantan hanya saja masih merindukan-nya sedikit jangan lupa di garis bawahi hanya sedikit.
__ADS_1
"Aku udah move on ya ka, cuma buat nyari yang baru susah apa lagi jaman sekarang cowo kalau nyari cewe harus yang good loking lah aku udah kaya kulit buah kiwi grenjel grenjel hitam lagi," ujar Ajeng panjang lebar.
semua-nya kembali tertawa akan tingkah absurd Ajeng, bisa-bisa-nya ia menyamakan diri-nya sendiri seperti kulit buah kiwi memang ada ada saja.
padahal kulit-nya bersih hanya saja warna kulit-nya agak sedikit gelap tapi tidak mengurangi kecantikan-nya sedikit pun. Ajeng semakin di buat cemberut karena kaka-nya malah semakin mengejek-nya.
"Hahah, siapa sih yang bilang kamu jelek? toh kamu tuh cantik hanya saja warna kulitmu agak kecoklatan," ujar Naya diakhiri tawa yang mengelegar.
"Au ah, mending Ajeng keluar cari cemilan, papay," ujar Ajeng sambil meninggalkan ruang keluarga.
sebelum keluar Ajeng meminta izin terlebih dahulu kepada sang ayah dan mamah setelah mendapat izin Ajeng melenggang pergi begitu saja. sedangkan semua yang ada di ruang keluarga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Ajeng yang sungguh absurd.
...****************...
Di sinilah Ajeng sekarang, di pinggir jalan yang banyak di tempati oleh pedagang kaki lima, yang makanan-nya tidak kalah enak sama yang ada di restoran ataupun cafe.
Ajeng melihat-lihat sebelum untuk memutuskan membeli apa, setelah melihat-lihat Ajeng menjatuhkan pandangan-nya kepada pedagang telur gulung.
setelah pesanan Ajeng jadi, Ajeng berjalan menuju tampan dekat situ dan duduk di salah satu kursi panjang yang berada di taman. Ajeng sangat menikmati telur gulung dan juga arum manis-nya.
tanpa sadar sejak tadi ada yang memperhatikan-nya dari sejak keluar rumah sampai ia berada di taman sekarang.
perut Ajeng sudah kenyang, ia belum minum sama sekali karena tadi ia tidak membeli minum karena terlalu fokus kepada telur gulung adan arum manis-nya.
Ajeng kewarung yang ada di sebrang taman, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Ajeng memutuskan untuk pulang, mood-nya sudah kembali baik karena makanan tadi.
Ajeng berjalan menuju rumah karena ia tidak membawa motor saat keluar tadi, Ajeng sedikit bersenandung ria sambil terus berjalan, terkadang ia menyapa orang-orang yang ia kenal dan tersenyum manis.
setelah sampai di rumah ia masuk dan melihat keluarga-nya masih berbincang tentang acara tunangan sang kaka, Ajang tidak mau mengganggu Ajeng melihat ke arah sang kaka dan mengisyaratkan kalau ia sudah pulang.
__ADS_1
sedangkan Naya mengangguk dan kembali menyelami keseriusan dalam membahas acara tunangan-nya.
setelah mendapatkan anggukan dari sang kaka Ajeng kembali berjalan menuju kamar-nya yang berada di lantai dua.
Ajeng memasuki kamar masih dengan hati yang berbunga-bunga entah apa yang sedang ia bayangkan sampai-sampai sebahagia ini.
Ajeng melepaskan kardigan-nya dan menggantung-nya setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki serta mencuci muka fan gosok gigi.
setelah selesai dengan ritual membersihkan diri walau ia tidak mandi karena tadi sore dia sudah mandi, Ajeng berjalan menuju kasur-nya ia merebahkan diri-nya di sana.
Ajeng menatap langit-langit kamar-nya dan entah apa yang ia pikirkan sampai tersenyum dan terlihat sedikit rona merah yang berada di pipi-nya.
Ajeng menutup muka-nya dengan bantal dan menggigit bantal itu. Ajeng membayangkan sang dosen yang selalu menganggu pikiran-nya akhir-akhir ini. sedang asik-asik-nya berkhayal suara notifikasi dari handphone Ajeng terdengar.
Ting
mau tidak mau Ajeng harus mengambil handphone-nya yang sedari tadi ia tinggal di rumah. Ajeng membuka handphone-nya dan melihat ada pesan dari sang sahabat dan... nomer yang tidak di kenal.
pertama Ajeng membuka grup chat yang berisi ia sendiri Adeva dan Reina, setelah membalas pesan dari grup itu Ajeng beralih kepada pesan yang membuat-nya penasaran entah siapa yang mengirimkan pesan itu.
setelah membaca pesan itu Ajeng membulatkan mata-nya, Ajeng tak menyangka jika ada orang yang ingin menghancurkan hidup-nya, namun yang ia bingung kenapa harus dosen-nya.
+6289xxxxxxxx
[ Jauhi Anggara atau lo akan tanggung akibat-nya]
sekira-nya seperti itu isi pesan dari orang yang tidak Ajeng kenal.
💕💕💕💕💕💕💕💕
__ADS_1
hola guyss kembali lagi dengan aku, maaf baru up lagi soalnya aku terkena writers block maaf ya.