
hari ini tepat seminggu Ajeng lulusdari universitas-nya. ia akan mulai bekerja di perusahaan ayah-nya untuk membantu mengelols usaha sang ayah.
Ajeng mengenakan blouse warna biru tua dan menggunakan rok span di bawah lutut, ia tengah mematut diri-nya di cermin dan memutar-mutar tubuh-nya.
"perfect! " ucap Ajeng sambil terus memutar tubuh-nya.
tok... tok... tok
"udah siap? " tanya Anggara.
Anggara berdiri di depan pintu kamar Ajeng, Ajeng menoleh dan mengangguk setelah itu ia menghampiri Anggara yang sudah menyodorkan lengan-nya untuk di gandeng oleh Ajeng.
Ajeng menggandeng lengan Anggara. lalu mereka turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama, karena hari ini adalah hari pertama Ajeng bekerja jadi Anggara lah yang mengantar Ajeng untuk ke kantor.
mereka berjalan menuruni satu persatu anak tangga layak-nya sepasang suami-istri. hal itu membuat senyum. orang rumah terbit melihat keharmonisan hubungan mereka sekarang.
"pagi semuanya! " sapa Ajeng ketika sudah berada di ruang makan.
"pagi sayang! " balas kedua orang tua Ajeng.
hari ini Naya tidak datang, karena tidak mungkin bukan seorang istri terus menerus meninggalkan pekerjaan-nya di rumah dan mengurus sang suami.
"pagi yah, mah! " sapa Anggara.
"pagi Gar! ' sapa mamah balik, sedangkan ayah sudah kembali melanjutkan sarapan-nya.
setelah itu mereka berdua ikut bergabung untuk sarapan. seperti biasa Ajeng mengambilkan sarapan untuk Anggara terlebih dahulu baru untuk diri-nya.
setelah itu mereka sarapan dengan hidmat, tidak ada dari mereka mengeluarkan suara hingga sarapan habis. setelah sarapan Ajeng dan Anggara habis mereka berdua pamit untuk berangkat.
setelah berada di dalam mobil, Ajeng menyalakan radio mobil agar tidak terlalu gugup saat bekerja nanti-nya. sedangkan Anggara yang melihat itu hanya tersenyum.
Anggara meraih tangan Ajeng yang mengangguk untuk ia genggam dan sesekali ia cium, sedangkan Ajeng yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum.
"udah gk usah gerogi... jalanin dulu! " ucap Anggara setelah lama diam.
__ADS_1
"aku takut, " jawab Ajeng lirih.
"takut kenapa? " tanya Anggara sambil menoleh kepada Ajeng.
Ajeng menggigit bibir-nya sendiri, ia menatap lurus kepadan lalu menghela nafas penjang. sedangkan Anggara yang menyaksikan Ajeng yang seperti itu hanya bisa terkekeh pelan.
"aku takut nanti gagal, " ucap Ajeng sendu.
Anggara yang melihat itu menghela nafas, ia menggenggam erat tangan Ajeng memberikan kekuatan untuk Ajeng. ia kembali menatap jalanan yang lenggang lalu berucap.
"gk usah takut untuk gagal... karena sukses tanpa kegagalan itu mustahil! kamu ingat prpatah ini? hasil tidak mengkhianati usaha? " tanya Anggara sambil melirik Ajeng.
Ajeng hanya menjawab dengan anggukan dan tidak ada niatan untuk membuka suara ia lebih memilih mendengar kan Anggara.
"kamu harus usaha terlebih dahulu... jika gagal bangkit dan usaha lagi dan jika gagal lagi kamu bangkit lagi... jangan ada kata takut untuk mencoba oke?! " tegas Anggara memberikan pengertian.
"okeee! " ucap Ajeng sambil mengangguk.
ia tersenyum memandang Anggara yang sesekali melihat kearah-nya. Ajeng menatap tangan-nya yang berada di genggaman tangan Anggara yang erat.
sedangkan Anggara yang mendengar pertanyaan konyol yang terlontar dari Ajeng tidak bisa menahan tawa-nya. sepersekian detik tawa Anggara pecah hal itu malah membuat Ajeng bingung.
"ada yang salah dengan pertanyaan ku? " tanya Ajeng kebingungan.
"haha... enggak, gk ada yang salah dari pertanyaan kamu, cuma tangan kamu memang mungil sayang apalagi kalau aku pegang yang jelas-jelas ukuran tangan laki-laki bisa 2 kali lipat besar-nya dari tangan perempuan! " jelas Anggara sambil terkekeh.
"oooh, tapi tangan kedua sahabat ku tidak begitu kecil seperti aku? " ungkap Ajeng.
dan laki-laki Anggara tertawa mendengar itu, ia hanya menggelengkan kepala dan tidak lama dari itu mobil Anggara memasuki kawasan perusahaan ayah Ajeng, setelah memberhentikan mobil-nya tepat di depan pintu perusahan.
"udah... gk usah nanya yang aneh-aneh mending sekarang masuk, " ucap Anggara.
lalu Anggara keluar dari mobil lebih dulu dan memutari setengah mobil menuju pintu penumpang yang di tempati Ajeng. Anggara membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan yang di Terima dengan sangat baik oleh Ajeng.
"makasih! " ucap Ajeng ketika sudah berdiri tegak.
__ADS_1
Anggara mengangguk ia menggandeng tangan Ajeng dan membawa Ajeng sampai di depan pintu perusahan, lalu ia mengecup singkat kening Ajeng dan berpamitan untuk kekampus dan juga memberikan nasihat kepada Ajeng.
"ya udah aku kekampus dulu... kamu jangan deket-deket sama laki-laki lain oke!? " ucap Anggara.
Ajeng mengangguk, setelah melihat anggukan dari Ajeng Anggara sekali lagi mengecup singkat kening Ajeng dan berjalan kembali menuju mobil-nya. setelah itu mobil melaju meninggalkan kawasan perusahan.
Ajeng yang melihat mobil Anggara yang sudah menjauh segera masuk kedalam gedung, sebelum itu ia bertanya kepada resepsionis untuk menanyakan di mana ruang kerja ayah-nya.
setelah tahu Ajeng langsung meninggalkaj tempat resepsionis dan langsung berjalan menuju lift yang akan mengantarkan-nya menuju ruang kerja sang ayah yang memungkinkan sudah menunggu-nya.
...****************...
"bagaimana pekerjaan mu hari ini? " tanya ayah kepada Ajeng sambil berjalan beriringan menuju loby.
"huhftt... lumayan melelahkan namun aku senang! " ucap Ajeng kepada sang ayah.
"baguslah kalau begitu... oh ya apa Anggara akan menjemputmu ? " tanya ayah kembali.
"enggak, tadi dia sempat mengabariku jika ada urusan yang tidak bisa ia tinggalkan, " jawab Ajeng.
"apa aku boleh numpang di mobil ayah hehe? " tanya Ajeng cengengesan.
sedangkan ayah ikut tertawa dan tentu saja mengangguk membolehkan sang anak untuk pulang bersama-nya, semenjak ada Anggara Ajeng jadi jarang bersama ayah-nya mungkin itulah yang membuat ayah sangat senang saat Ajeng ingin menumpang.
"tentu boleh... semenjak bersama Anggara kamu jarang sama ayah, " ucap ayah sedikit merajuk.
"ayah mah! " ucap Ajeng sambil cemberut.
dan mereka tertawa, ayah dan anak itu memasuki mobil dan meninggalkan kawasan perusahaan yang sudah mulai sepi karena karyawan mulai pada pulang.
saat sudah sampai di rumah Ajeng langsung melenggang menuju kamar-nya untuk membersihkan diri dan menunggu kabar dari Anggara yang belum mengabari-nya lagi.
setelah selesai membersihkan diri Ajeng menuju ke kasur-nya dan mengambil handphone-nya, ada rasa tidak enak saat melihat handphone-nya yang belum ada notifikasi dari Anggara.
"mungkin ini hanya perasaanku saya! " gumam Ajeng.
__ADS_1
lalu ia menelepon Anggara namun tidak ada jawaban sama sekali. bahkan hinggal panggilan kelima pun tidak di jawab, sekarang perasaan Ajeng semakin tidak enak. ia takut jika Anggara kenapa-kenapa.