
Ajeng keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian tidur-nya. ia berjalan santai menuju ranjang-nya.
Ajeng duduk di pinggir ranjang dan mengambil handphone-nya yang terletak di atas nakas. perasaan-nya sekarang lega karena ayah dan mamah serta kaka-nya mendukung hubungan-nya dengan Anggara.
ia merebahkan diri di atas kasur dan mulai menjelajahi sosial media-nya dari whatsapp, Instagram dan juga Tweeter.
setelah cukup lama berselancar di media sosial-nya Ajeng menaruh handphone-nya kembali dan bersiap untuk tidur.
belum juga Ajeng memasuki alam mimpi ada yang mengetuk pintu kamar-nya, Ajeng yang hendak tidur tidak jadi dan memilih membuka pintu kamar melihat siapa yang mengetuk pintu kamar-nya malam-malam seperti ini.
setelah ia membuka pintu kamar ia melihat Naya yang berdiri di hadapan-nya sambil memegangi satu kotak yang entah apa isi-nya.
Naya menyodorkan kotak itu kepada Ajeng membuat Ajeng mengambil kotak itu dengan raut wajah bingung dan ia bertanya.
"paket siapa nih? " tanya Ajeng sambil menatap Naya.
"paket kamu, tadi abang kurir-nya bilang atas nama kamu, " ucap Naya.
belum juga Ajeng ingin perotes namun Naya sudah terlebih dahulu melenggang pergi menuju kamar-nya dan menutup pintu kamar cukup keras.
Ajeng mengelus dada melihat tingkah Naya yang membuat ia cukup jantungan. Ajeng menghela nafas dan masuk sambil membawa kotak yang ia pegang.
entah apa isi-nya tapi firasat Ajeng kali ini benar-benar tidak bagus, ia duduk di single sofa yang ada di kamar-nya.
ia benar-benar tidak memesan pake apa pun karna ia lebih suka berbelanja langsung. ia sangat ragu untuk membuka kotak itu.
namun sekelbat suara Anggara mengingatkan-nya jika ada hal yang tidak beres segera membagi tahu-nya. Ajeng beranjak dari duduk-nya dan langsung menelpon Anggara.
setelah selesai menelpon Anggara Ajeng kembali duduk dan menunggu kedatangan Anggara agar Anggara saja nanti yang membuka-nya.
...****************...
Anggara tengah meminum coffe-nya di balkon hingga handphone-nya berbunyi mengintrupsi-nya untuk segera mengangkat-nya.
setelah melihat siapa penelepon ia tidak berfikir untuk kedua kali-nya dan langsung menekan tombol hijau.
saat ingin mengucapkan salam ucapan-nya terputus oleh suara Ajeng yang terdengar panik di sana.
"As- loh kenapa? "
__ADS_1
".... "
"Ya udah mas ke sana, jangan di buka dulu sebelum mas dateng, " setelah itu Anggara langsung mematikan telepon-nya dan bersiap menuju rumah Ajeng.
setelah keluar dari kamar ia menuju halaman rumah untuk mengambil mobil-nya dan langsung menancapkan gas menuju rumah Ajeng.
saat di tengah jalan ia berfikir jika pasti ada orang yang akan berjaga memperhatikan rumah Ajeng.
akhir-nya ia membeli makanan agar terlihat ia memberikan kejutan saat sampai di rumah Ajeng. ia lebih memilih membelikan martabak telur dua bungkus dan setelah itu ia kembali menancapkan gas menuju ke tujuan utama.
setelah beberapa meter dari gerbang rumah Ajeng sudah ia duga jika ada seseorang yang mencintai, ia tidak melihat jelas namun ia yakin jika ada yang tidak beres.
setelah memarkirkan mobil-nya ia turun dan berjalan menuju pintu depan rumah Ajeng dan mengetuk-nya tiga kali.
dan tidak lama Ajeng membuka pintu dan langsung memeluk-nya. Anggara tersenyum ia membalas pelukan Ajeng. Ajeng sempat bergumam sebelum mengajak Anggara masuk.
"aku takut, " gumam Ajeng pelan.
"udah gk papa udah ada aku, " ujar Anggara menenangkan.
Ajeng mengajak Anggara masuk dan duduk di ruang tamu, keadaan rumah sudah sepi karena penghuni rumah sudah tidur apa lagi sekarang sekitar pukul 10 malam.
"huftt... kotak-nya dari Naya kata ka Naya ada kurir yang ngirim paket atas nama aku namun gk ada nama pengirim-nya. dan aku gk pernah merasa belanja online makanya aku langsung telpon kamu, " jelas Ajeng yang langsung di pahamin oleh Anggara.
" ya udah kanu ambil kotak-nya... oh iya sama ini kamu taruh piring martabak-nya, " ucap Anggara.
Ajeng mengangguk menurut dan langsung membawa martabak telur itu ke dapur dan menaruh-nya di atas piring.
setelah ia menaruh piring yang berisi martabak itu di hadapan Anggara. Ajeng melangkahkan kaki menuju kamar-nya dan mengambil kotak itu.
setelah itu ia kembali kebawah sambil membawa kotak itu dan duduk di hadapan Anggara, ia tidak duduk di bawah lesehan bahasa gaul-nya.
"nih kotak-nya, " ujar Anggara dan menaruh kotak itu di atas meja di hadapan Anggara.
setelah itu ia mencomot salah satu martabak telur dan mencocolkan-nya di saus khusus martabak telur dan memakan-nya dengan lahap.
Anggara yang melihat itu menggeleng-geleng dan ikut mencomot martabak telur itu. ia menikmati martabak sambil memainkan handphone-nya.
"mas kira-kira siapa yang ngirim paket ini? " tanya Ajeng di sela-sela makan-nya.
__ADS_1
Anggara tertawa mendengar ucapan Ajeng yang menurut-nya lucu karena ia berbicara sambil makan membuat pipi-nya bergoyang-goyang.
"hahah... gemes banget sih, " ucap Anggara dan mencubit pipi Ajeng.
Ajeng cemberut kesal karena pipi-nya si cubit oleh Anggara. ia kembali mengambil potongan martabak dengan wajah kesal.
Anggara benar-benar terbahak sekarang melihat kelakuan Ajeng yang-akhhhh sangat menggemaskan.
"hahah... mas juga gk tau tapi yang jelas ada yang memperhatikan sejak tadi, mas rasa yang ngirim paket belum pergi, " ujar Anggara setelah meredakan tawa-nya.
"kok mas bisa tau? " tanya Ajeng menatap Anggara dengan tatapan kebingungan.
"tadi pas sebelum masuk ke gerbang ada yang mantau dari jauh, " ujar Anggara menjelaskan
Ajeng melotot tidak percaya namun ia semakin penasaran siap ayang sudah sengsara mengirim kotak itu dan juga yang sering meneror-nya.
"mas ngeliat gk... wajah orang-nya? " tanya Ajeng penasaran.
tapi hanya celengan yang ia dapat membuat-nya menelan kekecewaan karna tidak bisa mengetahui siapa dalang di balik ini semua.
"tapi dia seperti-nya kaki-laki, karna dari tubuh-nya jelas kaki-laki, " ujar Anggara kemudian.
"siapa ya? aku dah kepo banget siapa dalang si balik teror ini, " ucap Ajeng tanpa sadar.
Anggara yang mendengar itu langsung menatap Ajeng dengan intens dan menuntut meminta penjelasan. sedangkan Ajeng yang sadar dengan ucapan-nya hanya cengengesan karena di tatap seperti itu.
"nanti aku jelasin sehabis buka kotak itu, " ucap Ajeng sambil menampilkan senyum pepsodent-nya.
Anggara menghela nafas dan mengangguk dari pada di perpanjang yang ada Ajeng tidak mau membuka suara sama sekali.
dan mereka melanjut kan makan martabak-nya setelah martabak habis tidak tersisa Ajeng menyuruh Anggara untuk membuka kotak itu.
"mas aja ya yang buka kotak-nya, " ucap Ajeng.
"kenapa? " tanya Anggara bingung.
"aku takut, " cicit Ajeng dan mendapat anggukan dari Anggara.
Anggara membuka kotak itu secara perlahan dan terlihat isi-nya namun saat kotak itu di buka bau-nya sangat menyengat membuat Ajeng hampir muntah dan membelalakkan mata saat tahu apa isi dari kotak itu.
__ADS_1