
1 bulan kemudian.
hari ini hari di mana Ajeng selesai berkuliah, selama 1 bulan lebih Ajeng terus fokus kepada skripsinya hingga menghasilkan hasil yang memuaskan dan selama 1 bulan lebih Anggara membuktikan jika ia benar-benar jika ia serius kepada Ajeng.
bahkan Anggara juga sudah meminta maaf kepada Ajeng dan juga meminta restu serta mencoba meyakinkan kedua orang tua Ajeng untuk percaya kepada-nya seperti dulu lagi.
sekarang Ajeng dan kedua sahabat-nya tengah berfoto ria bersama teman kelas mereka, sedangkan kedua orang tua mereka sedang mengobrol bersama orang tua lain-nya.
setelah selesai berfoto ria sekarang waktu-nya menikmati harus wisuda bersama kedua orang tua dan para dosen tentu-nya. Anggara yang berada di barisan para dosen tersenyum melihat tingkah Ajeng.
dan jangan lupakan kecantikan Ajeng yang bertambah karena Make-up dan jubah Toga yang ia kenakan semakin menambah kecantikan-nya.
"sekian lama kita kuliah dan sekarang kita lulus dengan nilai yang lumayan! " ucap Adeva senang.
"iya... seneng banget gue dan di kampus ini gue mendapatkan banyak pelajaran entah dari akademi maupun soal perasaan, " timpal Ajeng.
mereka bertiga berada di lapangan setelah acara menyatakan mereka lulus, mereka menikmati kelulusan ini dengan rasa yang sangat bahagia mereka bercanda.
dan mereka tertawa bersama-sama. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri mereka bertiga. sepertinya bukan satu fakultas sama mereka karena mereka tidak pernah melihat laki-laki itu.
"hay... ini ada bunga untuk kalian, " ucap laki-laki itu sambil menyodorkan bunga itu.
Adeva, Ajeng dan juga Reina mengambil bunga itu dengan senang hati dan berterima kasih.
"ini hanya kami yang dapat? " tanya Ajeng ketika bunga itu sudah berada di tangan-nya.
"tidak... aku memberikan kepada semuanya eh-tidak semua hanya beberapa saja karena aku cukup banyak membawa bunga, " ucap laki-laki itu.
"ah kalau begitu trima kasih! " ucap Ajeng.
laki-laki itu mengangguk dan permisi untuk pergi, mereka bertiga mencium aroma bunga mawar itu yang sangat harum setelah itu mereka bertiga kembali bercengkrama dan sesekali tertawa.
saat mereka bertiga tengah mengobrol Anggara datang menghampiri mereka, bukan lebih tepat-nya menghampiri Ajeng ia tersenyum menatap Ajeng yang juga di balas senyum.
sedangkan kedua sahabat Ajeng yang sudah tahu hanya bisa tersenyum dan terus berdoa jika Anggara dan Ajeng tidak akan terkena masalah lagi dan selalu bersama.
__ADS_1
"boleh pinjam Ajeng sebentar? " tanya Anggara ketika ia sudah sampai tepat di hadapan ketiga gadis itu.
"boleh kok pak, " ucap Reina sambil menaik turunkan alis-nya.
"tapi jangan lama-lama kita masih buktu waktu nih buat ngerayain kelulusan! " tegas Adeva ikut menimpali.
"ho'oh... jangan lama-lama, " timpal Reina.
Anggara mengangguk mengiyakan permintaan kedua sahabat Ajeng. sedangkan Ajeng yang melihat tingkah kedua sahabat Ajeng hanya bisa menggeleng dan tertawa kecil.
setelah mendapatkan izin dari kedua sahabat Ajeng. Anggara mengajak Ajeng untuk pergi meninggalkan kedua sahabat Ajeng yang sudah berbaur dengan yang lain.
Anggara menggandeng tangan Ajeng yang dengan senang hati Ajeng menerima-nya. sedangkan Floryn yang menatap mereka dengan kesal, semakin hari Ajeng dan anggara semakin dekat dan ia kehilangan kesempatan untuk mendekati Anggara lagi.
"kita mau kemana? " tanya Ajeng setelah lama diam.
ia hanya terus mengikuti Anggara yang terus berjalan di Koridor kelas yang cukup sepi, karena semuanya berada di lapangan utama kampus.
Anggara menoleh menghadap Ajeng ia tersenyum. sedangkan Ajeng bingung kenapa Anggara tersenyum seperti itu dan persekian detik Ajeng bergidik sendiri melihat senyum Anggara.
sedangkan Ajeng yang mendengar kalimat frontal itu otomatis langsung memukul lengan Anggara cukup keras hingga Anggara mengandung kesakitan.
"aduh... sakit tahu apakah aku salah bicara? " tanya Anggara sambil mengelus bekas pukulan Ajeng.
"kamu fikir aja sendiri mas! " ucap Ajeng sinis.
"hehe... aku hanya bercanda tadi, jangan marah, " ucap Anggara cengengesan.
Ajeng tidak menjawab ia hanya terus berjalan mengikuti langkah Anggara. setelah itu mereka mulai memasuki taman belakang kampus, ya Anggara membawa Ajeng ke belakang.
karena tempat ini yang cukup indah dan asri tempat ini juga cukup sepi karna jarang di datangi, Anggara memilih tempat ini karena ini tempat yang cocok untuk mengungkapkan.
setelah sampai di taman belakang, Ajeng melihat ke sekitar yang sepi hanya ada mereka berdua hal itu membuat-nya merinding. Anggara mengajak Ajeng duduk di bangku taman.
setelah Ajeng duduk tanpa di sangka-sangka Anggara berjongkok di hadapan Ajeng dan mengeluarkan sebuah kotak cincin. Ajeng yang melihat itu sempat terkejut namun dengan cepat ia menormalkan ekspresi-nya.
__ADS_1
Anggara membuka kotak itu yang berisi cincin, cincin yang pernah ia kasih ke Ajeng dan di kembalikan saat semuanya terungkap. Anggara menatap Ajeng lekat lalu ia mengambil cincin itu.
setelah itu ia mengambil salah satu tangan Ajeng, ia memasukan cincin itu ke dalam jari manis Ajeng setelah cincin itu melingkat dengan indah di jari Ajeng. Anggara mencium punggung tangan Ajeng lembut. Ajeng hanya menatap Anggara dalam diam.
"jangan pernah di lepas lagi... sampai di gantikan oleh cincin pernikahan kita, " ucap Anggara dalam dan mencium punggung tangan Ajeng kembali.
"tapi sampai kapan?! " tanya Ajeng.
Anggara tersenyum, ia tahu jika Ajeng membutuhkan kepastian dari-nya. Anggara berdiri dan mengajak Ajeng berdiri juga, Anggara melingkarkan tangan-nya di pinggang ramping Ajeng.
"Sampai persiapan-nya selesai, " ucap Anggara sambil tersenyum.
sedangkan Ajeng tidak mengerti apa yang di maksud dengan persiapan oleh Anggara. Ajeng hanya menatap bingung kepada Anggara meski ia sangat senang saat Anggara mengucapkan kata-kata itu tadi.
setidaknya jangan membuat Ajeng kepo seperti ini, Anggara yang mengerti dengan tatapan kebingungan Ajeng hanya tersenyum. ia mengelus pucuk kepala Ajeng pelan.
lalu dengan pelan ia mengcup kening Ajeng lama, sedangkan Ajeng memejamkan mata saat Anggara mencium kening-nya menikmati sentuhan dari Anggara.
setelah memberikan ciuman lembut di kening Ajeng yang cukup lama, Anggara membawa Ajeng kedalam dekapan hangat-nya. Ajeng membalas pelukan Anggara tidak kalah erat-nya.
ia tersenyum di balik pelukan Anggara, bahagia, sedih bercampur aduk yang ia rasakan saat ini. setelah cukup lama berpelukan Ajeng dan Anggara mengurai pelukan mereka dan saling tatap.
mereka saling melempar senyum dan saling tatap dengan hangat, tanpa mereka sadari kedua sahabat Ajeng dan kedua Ajeng diam-diam mengintip dari ujung dekat gedung.
mereka mengintip dengan perasaan bahagia juga penasaran apa saja yang mereka ucapkan. Ajeng kembali memeluk Anggara erat kali ini pelukan-nya tidak lama, Ajeng kembali mengurai pelukan itu lalu mengambil tangan Anggara.
"aku akan menunggu kamu... sampai siap melamar ku ke hadapan orang tua ku! " ucap Ajeng lembut.
"ya... secepatnya aku akan lamar kamu ke kedua orang tua kamu! " ucap Anggara mantap.
dan mereka kembali saling berpelukan, sedangkan mereka berempat yang berada di pojok juga ikut berpelukan karena terharu melihat Ajeng bahagia kembali.
meski ada rasa takut di hati mereka ketika Ajeng memilih untuk kembali bersama, sama Anggara namun melihat kesungguhan Anggara mereka menjadi luluh lagi. tidak mau ketahuan kedua orang itu.
mereka berempat meninggalkan taman, sedangkan Anggara dan juga Ajeng masih asik berpelukan dengan mesra.
__ADS_1