
Anggara membuka kotak itu secara perlahan dan terlihat isi-nya namun saat kotak itu di buka bau-nya sangat menyengat membuat Ajeng hampir muntah dan membelalakan mata saat tahu apa isi dari kotak itu.
"Astaghfirullah itu apan mas!!? " pekik Ajeng kaget.
ia melihat kedalam kotak yang berisi cairan merah yang teramat bau amis dan secarik kertas yang sudah ternoda oleh cairan merah itu dan di ambil oleh Anggara.
"mas juga gk tau, mending baca dulu isi surat-nya, " ujar Anggara tenang lebih tepat-nya terlihat tenang.
lipat demi lipatan di buka oleh Anggara secara perlahan. sejujur-nya ia tidak sanggup dengan bau amis yang menyeruak tapi ia tetap melanjutkan untuk membuka surat itu dan berharap bau-nya tidak sampai kekamar kedua orang tua Ajeng.
setelah terbuka ada tulisan yang cukup besar, Ajeng dan Anggara membaca-nya secara perlahan dan memahami apa maksud dari isi surat itu.
isi surat itu, Ajeng mengepalkan tangan-nya ini benar-benar sudah keterlaluan, ia menatap Anggara yang juga tengah menatap-nya.
"ini gk bisa di biarin, mereka udah keterlaluan kita lapor polisi aja mas, " ucap Ajeng menatap Anggara serius.
"jangan, " ujar Anggara dan kembali menatap kertas yang ada di genggaman-nya.
Ajeng menatap Anggara bingung ia tidak mengerti jalan fikiran Anggara baru saja Ajeng ingin membuka suara lagi tapi Anggara sudah lebih dahulu mengucapkan sesuatu.
"sebaiknya kita lihat... sejauh apa mereka melakukan dan... kamu belum menjelaskan tentang ini semua, " ucap Anggara menatap Ajeng tajam.
membuat keberanian Ajeng kembali menciut setelah melihat tatapan tajam dari Anggara. sebelum itu ia menyuruh untuk Anggara menutup kotak itu dan mencuci tangan-nya.
setelah Anggara mencuci tangan-nya ia kembali duduk di hadapan Ajeng yang masih setia duduk lesehan beralaskan karpet bulu..
"jadi... bi-
" eh ada nak Anggara, udah lama dateng-nya? " ucapan Anggara terpotong oleh pertanyaan dari mamah Ajeng.
membuat Anggara mengalihkan potensi-nya dari Ajeng ke arah mamah-nya Ajeng alis camer (calon mertua) dan bangkit untuk menyalimi tangan mamah. seraya menjawab.
"udah sekitar dua jam tante, " ucap Anggara sopan.
dan mereka ngobrol sebentar membuat Ajeng menghela nafas lega karena teralihkan oleh mamah-nya yang datang setidak-nya ia bisa mengulur waktu sedikit untuk menceritakan tentang peneror itu.
__ADS_1
dan setelah Anggara dan mamah-nya selesai bicara. Anggara kembali duduk di tempat-nya dan mamah yang kembali masuk kamar setelah dari dapur.
suasana menjadi sedikit tegang karena tatapan yang mengintimidasi dari Anggara membuat Ajeng tersenyum kikuk dan mengambil nafas dalam-dalam seakan udara akan habis seketika.
"jadi kamu bisa jelaskan tentang ini? " tanya Anggara tiba-tiba setelah lama diam.
"emm... gimana kalau besok aja hehe udah malem soal-nya mas, " tolak Ajeng secara halus.
"gk ada besok-besok yang ada nanti kamu malah lupa dan gk jadi ngejelasin, " tolak Anggara memaksa Ajeng untuk bercerita.
"iss mas besok aja aku janji gk bakal lupa, ini juga udah malem banget mending kamu pulang hehe... " cengengesan Ajeng.
semoga saja cara ini dapat berhasil dan Anggara mau pulang dan ia bisa lega ia juga sebenar-nya belum siap untuk menceritakan-nya kepada Anggara.
"Ajeng! " tekan Anggara.
dan akhirnya Ajeng mengangguk pasrah dan mengiyakan kemauan Anggara dari pada nanti Anggara tidak mau pulang kan bahaya, nanti kalau kebablasan gimana? -eh.
Ajeng mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan-nya secara perlahan ia menatap Anggara yang juga menatap-nya dengan wajah datar-nya. jujur Ajeng sangat tidak suka melihat wajah datar calon-nya ini.
"mas senyum dong... kalau gk senyum Ajeng gk mau cerita, " ujar Ajeng manja.
Ajeng juga ikut tersenyum dan mulai menceritakan semua-nya dengan sangat-sangat detail sedangkan Anggara tersenyum dan kadang mengerutkan dahi-nya.
setelah selesai bercerita Anggara pamit untuk pulang terlebih sekarang sudah menunjukan pukul satu dini hari.
Ajeng mengangguk dan mengantarkan Anggara sampai di samping mobil Anggara. ia tersenyum dan menyalimi tangan Anggara layak-nya suami istri.
"jangan lupa kotak-nya di buang -eh jangan di bakar aja biar gk ada yang tahu ya? " ucap Anggara. dan langsung di anggukan oleh Ajeng.
"iya ya udah kanu hati-hati, " ucap Ajeng.
Anggara mengangguk dan tersenyum setelah itu ia masuk kedalam mobil-nya ia membuka sedikit kaca mobil-nya dan mengucapkan salam.
Ajeng menjawab salam Anggara dan menunggu sampai Anggara pergi dari halaman rumah-nya. setelah mobil Anggara meninggalkan pekarangan rumah-nya ia menutup pager yang terbuka.
dan kembali masuk kedalam kamar, sebelum masuk kamar ia membereskan ruang tamu dan membawa kotak itu kedalam kamar besok pagi baru ia bakar bersama sampah kering dari dapur lain-nya.
__ADS_1
setelah itu ia merebahkan diri dan menutup mata tidak lupa sebelum tidur ia membaca doa terlebih dahulu. tidak lama dari itu terdengar dengkuran halus menandakan jika Ajeng sudah memasuki alam mimpi dan semoga saja mimpi indah - aamiinπ
...****************...
"Awas aja kalau ini gagal lagi, " ujar laki-laki itu.
"tenang aja ini bakal berhasil, " ucap seseorang dari sebrang telpon.
"eh Anggara dateng, apa Ajeng nelpon Anggara ya? "
"enggak mungkin dia gk bakal berani toh dia kan anak-nya lebih suka memilih menyimpan masalah-nya sendiri, "
"ia juga sih, soalnya gue liat dia bawa bingkisan dan mungkin aja dia dateng mendadak, "
"mungkin, "
"tapi kalau beneran Anggara tau gimana!? "
"ck... lo tenang aja kalau Anggara biarin kita liat apa yang mereka akan lakukan, lapor polisi? bukti-nya apa? gk ada sidik jari juga dan nomer yang biasa gue pake udah gue buang, "
"oke kali ini harus berhasil... kalau gk berhasil gue nyerah dan memilih mundur biarin dia bahagia, "
"ck mereka bahagia lo pasrah lah gue gimana hah? kalau tuh cewe gk ada mungkin Anggara bakal tetep di peluk an gue! "
"sttt udah ah berisik lo, gue mau ngawasin dulu bay, "
sambungan telepon di matikan sepihak laki-laki itu terus memantau pergerakan yang ada di dalam rumah itu dari jauh meski dari sini tidak terlihat apapun di dalam sana.
ia tetap memperhatikan sampai Anggara pulang. dimana saat Ajeng tersenyum kepada Anggara dan juga Anggara yang bersikap membuat kepada Ajeng membuat-nya sakit.
cemburu? itu yang ia rasakan meski perbuatan-nya di masa lalu kepada Ajeng membuat-nya menyesali perbuatan itu yang mengakibatkan Ajeng peri meninggalkan-nya.
setelah Anggara pergi ia tidak langsung beranjak untuk pergi ia masih menatap rumah yang dulu pernah ia kunjungi dan selalu di smabut dengan hangat tapi itu dulu... bukan sekarang.
akhir-nya ia pergi meninggalkan tempat persembunyian-nya dan kembali ke mobil-nya yang ia parkiran cukup jauh dan pergi melesat untuk kembali pulang ke rumah-nya.
hari ini sudah selesai tugas-nya tapi tidak tahu tugas apa lagi yang harus ia kerjakan esok.
__ADS_1
ππππππππ
hola maaf yah baru update awal-nya kemarin mau up tapi abis vaksin kepala pusing banget nyut-nyutan jadi baru bisa update deh maaf yah guyss