
sekarang jam 19.00 malam acara resepsi Naya di selenggarakan di salah satu hotel bintang 5 dan resepsi Naya di wajibkan untuk membawa pasangan.
kedua sahabat Ajeng, tidak lebih tepat-nya Adeva bingung harus datang mengajak siapa dan akhirnya ia memilih untuk tidak datang alasan-nya simpel.
'gue gk enak badan tiba-tiba, sory ya gk bisa dateng ke resepsi kak Naya, '
sekiranya seperti itu sedangkan Ajeng dan Reina yang mendengar alasan Adeva yang tidak masuk akal hanya menggeleng.
mereka berdua tahu Adeva tidak datang karena tidak memiliki pasangan, makanya ia membuat seribu alasan untuk tidak datang.
"udahlah percuma jeng, gk bakal mau dateng tuh anak, " ucap Reina kepada Ajeng.
"ya udah deh, kita balik kedalam aja, " jawab Ajeng.
Reina mengangguk dan mereka berdua kembali masuk kedalam hotel. Ajeng menghampiri Anggara yang sedang ber teleponan Ajeng melihat Anggara mengangkat telepon itu dengan sangat senang.
entah siapa yang menelepon Anggara sampai ia sesenang ini, Ajeng menepuk pundak Anggara dan memanggil nama Anggara.
Anggara memutar tubuh-nya menatap Ajeng yang tersenyum dengan tatapan tidak terbaca. tiba-tiba wajah Anggara menjadi datar dan ia menatap Ajeng dingin.
setelah itu tanpa pamit Anggara meninggalkan Ajeng yang kebingungan dengan sikap Anggara, Ajeng tersenyum kecut melihat tingkah Anggara yang tiba-tiba saja berubah.
ia memilih ber teleponan dengan orang yang tidak Ajeng kenal dari pada menikmati acara bersama Ajeng.
Ajeng memilih untuk pergi dari tempat itu dan menuju ke stand makanan, jika ia sudah tidak mood ya pelarian-nya adalah makan.
"kenapa Anggara berubah? gue buat salah apa?, " batin Ajeng berbicara.
Ajeng memikirkan perubahan sikap Anggara sambil terus memakan sajian di atas meja, ia hanya duduk sendiri keluarga-nya sedang bersama keluarga Anggara. sedangkan Anggara entah pergi kemana.
tidak lama dari itu Anggara menghampiri Ajeng yang hanya duduk sendiri sambil melamun, sungguh ia menyesal sudah meninggalkan Ajeng sendiri tanpa pamit dan menatap tajam kepada Ajeng.
"sayang hey, " ucap Anggara sambil memegang pundak Ajeng.
namun langsung di tepis oleh Ajeng, Ajeng menatap Anggara tidak suka entahlah akhir-akhir ini mood Ajeng sering naik turun dan perasaan yang mengganjal sellau singgah di hati-nya.
__ADS_1
Anggara yang melihat respon Ajeng menjadi terdiam, ini memang salah-nya karena meninggalkan Ajeng begitu saja dan lebih mementingkan ber teleponan dengan partnert-nya.
bukan partner ran***g tapi partnert mengajar di universitas. ia masih berusaha untuk memegang pundak Ajeng tapi tetap saja Ajeng terus menepis tangan Anggara.
"sayang... aku bermaksud ninggalin kamu tadi, " jelas Anggara.
"gk apa-apa!, " jawab Ajeng singkat.
Anggara menghela nafas gusar ia tidak pernah melihat Ajeng se kecewa ini, sungguh ia benar-benar tidak bermaksud melakukan hal itu.
"sebenernya... apa yang lo sembunyiin dari gue mas, gua tau lo sembunyiin sesuatu dari gue apa jangan-jangan pertanyaan yang lo maksud.... gk gak Ajeng jangan mikir gitu, " batin Ajeng.
ia terus bertengkar dengan pikiran dan hati-nya, pikiran-nya bilang untuk tidak berfikir negatif tapi berbeda dengan hati-nya sungguh ini benar-benar mengganjal di dalam benak Ajeng.
"say-
"diem aku lagi gk mood!, " potong Ajeng ketus.
akhirnya Anggara memilih diam sambil terus memperhatikan Ajeng yang melamun entah apa yang sedang ia pikirkan. Anggara seperti-nya sudah mulai salah langkah.
namun bagaimanapun itu rekan kerja-nya bertanya tidak mungkin bukan jika ia malah mendiankan saja? sungguh tidak sopan. itulah yang di pikirkan Anggara.
sedangkan Ajeng masih tetap diam dengan pandangan kosong, Anggara terus mencoba menggenggam tangan Ajeng meski terus di tolak ia tetap menggenggam dengan erat.
...****************...
di dalam mobil hanya ada keheningan saja tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka suara, Ajeng yang menatap kosong jalanan dan Anggara yang fokus menyetir dengan wajah datar-nya.
acara sudah selesai dan Anggara berniat meminta maaf sambil mengantar Ajeng pulang, Ajeng sudah memaafkan Anggara namun sampai sekarang Ajeng tetap bungkam.
"perasaan apa ini mas?! " tanya Ajeng tiba-tiba.
Anggara menoleh sebentar namun ia tidak mengerti apa yang di maksud ucapan Ajeng, jika Ajeng tengah melantut itu tidak mungkin karena Ajeng masih sadar.
"maksud kamu? " tanya Anggara.
__ADS_1
Ajeng tiba-tiba tertawa membuat Anggara sedikit terkejut namun ia mengatur raut wajah-nya untuk tidak terlihat jika ia sedang cemas dan terkejut.
"kamu kenapa sayang? " tanya Anggara lagi.
"ada yang kamu sembunyikan dari aku mas? " tanya Ajeng sambil tersenyum dan menatap Anggara lekat.
"maksud kamu apa sih aku gk ngerti?, " ucap Anggara tidak mengerti apa yang di maksud Ajeng.
Ajeng menghela nafas ia kembali menatap jalanan kota yang mulai renggang karena waktu yang juga sudah menunjukan pukul 22.00 malam.
"ada yang aneh mas!, " ucangkap Ajeng.
Anggara yang mendengar itu semakin dibuat bingung, apa yang terjadi sebenar-nya? Ajeng kenapa? pikir Anggara dalam benak-nya.
"aneh? aneh apa-nya?, " tanya Anggara.
"ada yang mengganjal tapi... sudah lah tidak usah di bahas, " ucap Ajeng cepat.
"kamu gk apa-apa kan sayang? " tanya Anggara khawatir.
Ajeng menggeleng sambil tersenyum, Anggara yang melihat senyum manis Ajeng kembali tenang setidak-nya Ajeng tidak kenapa-kenapa untuk saat ini.
mobil Anggara memasuki halaman rumah Ajeng, lalu ia keluar dan hendak membuka kan pintu untuk Ajeng namun belum sempat ia sampai di pintu penumpang samping kemudi.
Ajeng sudah turun terlebih dahulu lalu menutup pintu mobil Anggara, Anggara yang merasa aneh pun hanya diam ia tidak mau membuat mood Ajeng semakin anjlok.
"ya sudah kamu masuk dan langsung tidur yah, mas pulang dulu, " ucap Anggara.
Ajeng mengangguk lalu masuk kedalam rumah sedangkan Anggara kembali masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil untuk pulang.
saat di perjalanan ia masih memikirkan Ajeng ia sangat khawatir takut-takut Ajeng kenapa-kenapa. ia memang salah dan ia sudah meminta maaf dan sudah di maafkan juga.
tiba-tiba handphone Anggara berbunyi, Anggara mengambil handphone sambil meraba-raba karena ia sedang menyetir..
saat ia tahu siapa yang menelepo ia langsung tersenyum dengan senang tanpa basa-basi ia langsung mengangkat telepon itu dengan wajah yang sumringah.
__ADS_1
entah siapa yang menelepon namun Anggara sangat menikmati suara indah yang mengalun dari sebrang telepon-nya.
semoga saja kamu tidak salah ambil pilihan Anggara, jangan sampai kamu melakukan hal yang sama seperti Kevin dan menyelas kemudian hari.