
"ENGGAK!!! " teriak Ajeng dari bangun-nya.
Ajeng langsung terduduk dengan keadaan wajah yang sembab sehabis menangis, sedangkan mamah yang sedang mengobrol dengan bunda Anggara yang mendengar teriakan Ajeng langsung masuk ke ruang rawat Ajeng.
"kenapa sayang? " tanya mamah khawatir ketika sudah berada di hadapan Ajeng.
"Anggara mana mah? Anggara gk ninggalin Ajeng kan? mah jawab hiks! " tanya Ajeng dan kembali menangis.
sedangkan bunda dan mamah hanya tersenyum maklum, bunda mengelus pelan pucuk kepala Ajeng.
"Anggara baik-baik saja sayang... sekarang dia juga sudah sadar kok! " ucap bunda.
Ajeng bernafas lega kala mendengar ucapan dari sang calon mertua, namun tiba-tiba ia kembali terkejut kala melihat ruangan yang ia tempati sekarang.
"i-ini dimana?! " tanya Ajeng kembali mulai panik.
Ajeng sempat pingsan saat sampai di rumah sakit, makanya ia di bawa kesalah satu ruang rawat dan terbukti Ajeng pingsan karena shok dan juga lelah menangis.
"tadi kamu sempat pingsan sayang... makanya di bawa ke sini, " jelas mamah.
"aku mau liat Anggara boleh? " tanya Ajeng.
mamah dan bunda tersenyum, mereka tahu akan perasaan Ajeng yang sangat khawatir kepada Anggara dan tidak mau kehilangannya.
"ada di ruang rawat-nya... kalau mau kesana mamah anter yah, " ucap mamah.
Ajeng mengangguk, lalu Ajeng turun dari atas brankar di bantu oleh bunda dan mamah. mamah mengantar Ajeng keruang rawat inap Anggara sedangkan bunda izin untuk ke kantin.
"kamu masuk aja... mamah mau ke kantin dulu! " ucap mamah.
"iya mah, " jawab Ajeng.
dengan perasaan campur aduk, Ajeng dengan perlahan membuka pintu kamar inap Anggara dan yang pertama ia lihat adalah Anggara yang sedang duduk sambil mengobrol dengan kedua sahabat-nya.
sedangkan Anggara yang menyadari kehadiran seseorang langsung menoleh kearah pintu dan ia melihat Ajeng yang tengah menatap-nya khawatir dan juga... marah?
Anggara tersenyum dan menyuruh Ajeng masuk, sedangkan kedua sahabat Anggara yang mengerti kondisi segera berpamitan untuk undur diri.
setelah kedua sahabat Anggara benar-benar pergi, Ajeng langsung berlari dan memeluk Anggara dengan erat. Ajeng menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan hangat Anggara.
sedangkan Anggara menjadi merasa bersalah dan ia hanya bisa mengelus pucuk kepala Ajeng dan sesekali mengecup-nya dengan sayang.
"kamu jahat hiks, " ucap Ajeng dalam pelukan-nya.
"maaf, " jawab Anggara menyesal.
"kamu jahat hiks... kenapa gk ngabarin aku semalem hiks? " tanya Ajeng masih terisak.
__ADS_1
Ajeng masih betah di dalam pelukan Anggara dan masih terus menangis sedangkan Anggara benar-benar tidak tega sudah membuat Ajeng menangis karena khawatir pada-nya.
"maaf yah... awalnya aku sengaja cuma karena gk merhatiin jalanan jadi-nya gini deh, " ucap Anggara lirih sambil mengelus pucuk kepala Ajeng.
"jangan kayak gitu lagi, aku khawatir tau gk? hiks" ucap Ajeng sambil melerai pelukan mereka.
"maaf, udah jangan nangis lagi ya... cup cup cup, " ucap Anggara sambil menghapus air mata Ajeng yang terus mengalir membasahi pipi Ajeng.
"kenapa kamu gk mau ngangkat telpon dari aku? " tanya Ajeng ketika tangisan-nya sudah reda.
Anggara menghela nafas, ia ingin menjelaskan namun melihat wajah Ajeng yang kelelahan jadi tidak mau menjelaskan-nya untuk sementara itu.
"nanti aku cerita yah ka-
" aku maunya kamu jelasin sekarang! " potong Ajeng dengan kesal.
"serius mau denger? mending kamu istirahat dulu yah?" pinta Anggara lembut.
"iya aku mau denger, sekarang! " ucap ajeng sambil menekan kata sekarang.
Anggara hanya bisa menghela nafa kala sifat Ajeng yang keras kepala mulai keluar, akhirnya ia mengangguk mengiyakan dari pada Ajeng semakin ngambek. sebelum menceritakan Anggara mengambil nafas dalam-dalam dan mengembuskan-nya secara perlahan.
"jadi gini...
Flashback on
setelah mengambil barang-nya Anggara kembali ke mobil dan menancapkan gas menuju rumah Ajeng. tak henti-henti nya Anggara tersenyum selama perjalanan menuju rumah Ajeng.
ia terus memperhatikan barang yang berada di kotak itu dengan rasa yang bahagia dan membayangkan wajah terkejut serta bahagia dari Ajeng.
"aku akan tepati janji aku Ajeng! " ucap Anggara mantap pada diri-nya sendiri.
"tunggu aku di rumah Ajeng! " gumam-nya lagi.
ia terus memperhatikan benda itu, karena sedang di lampu merah ia jadi leluasa melihat kearah benda yang berada di genggaman-nya sejak tadi.
setelah lampu merah berubah menjadi hijau, Anggara kembali melakukan mobil-nya dengan kecepatan sedang. karena ia terus memperhatikan benda yang berada di genggaman-nya.
tanpa ia sadari ada sebuah mobil yang melaju berlawanan arah dengan kecepatan di atas rata-rata. banyak orang yang meneriaki mobil Anggara namun karena tidak mendengar dan akhirnya.
brak
kecelakaan tidak dapat di elakkan, banyak warga yang mengerumuni mobil Anggara dan menghentikan mobil yang sudah menabrak Anggara yang hendak melajukan mobil-nya lagi.
flashback off
"oh jadi gitu, tapi bisa gk sih kabarin aku? kamu tahu aku sampai pingsan dan mimpi kalau kamu pergi ninggalin aku! " ucap Ajeng kesal ketika Anggara sudah menyelesaikan cerita-nya.
__ADS_1
"maaf sayang... " hanya kata-kata itu yang dapat Anggara katakan.
Ajeng menghela nafas dan tersenyum ia menatap khawatir dan sayang yang tulus kepada Anggara, Anggara juga membalas senyum Ajeng yang tulus.
"Ba**y the way... kamu emang beli barang apa sih? sampai-sampai gk merhatiin jalan? " tanya Ajeng yang mulai penasaran.
Anggara tersenyum ini kesempatan bagus untuk-nya dan lagi pula kedua orang tua mereka sedang makan. Anggara mengambil sesuatu di atas nakas.
Ajeng terus memperhatikan apa yang di lakukan Anggara, saat Ajeng melihat Anggara mengambil sebuah kotak yang benar-benar mirip saat di mimpi-nya.
Anggara membuka kotak itu dan terpampang lah dengan jelas cincin yang sangat indah bahkan lebih indah dari yang kemarin Anggara berikan kepada-nya.
Ajeng hanya diam menatap bingung kepada Anggara. Ajeng menunggu apa yang akan Anggara ucapkan. Anggara menatap lekat kepada Ajeng dengan serius.
Anggara mengambil salah satu tangan Ajeng dan menggenggam-nya dengan sangat erat lalu ia mengecup punggung tangan Ajeng membuat Ajeng kembali meneteskan air mata karena terharu dengan sikap Anggara.
"aku minta maaf sudah membuat mu khawatir... aku sudah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari dan... mungkin ini tepat untuk ucapkan, dari dalam hati aku yang paling dalam! aku benar-benar menyesal dan tulus mencintai mu tanpa dorongan dari siapapun! " ucap Anggara.
Anggara mengambil nafas sebelum kembali melanjutkan ucapan-nya, sedangkan Ajeng menunggu kelanjutan ucapan dari Anggara.
"aku Anggara Pria Pambudi, menyatakan akan meminang Adinda Ajeng Kusumaningrum untuk menjadi istriku dan belahan jiwaku selama-nya... apakah kamu mau menjadi istri ku? " lanjut Anggara dengan lantang.
tanpa mereka sadari kedua orang tua masing-masing dari mereka mendengarkan dari balik pintu. Ajeng kembali menitikan air mata tak kala mendengar penuturan Anggara yang tulus, dengan mantap Ajeng mengangguk.
"iya aku mau! " ucap Ajeng sambil menghapus air mata-nya.
Anggara sudah harap-harap cemas takut ia di tolak namun ketika mendengar ucapan Ajeng dengan sangat senang dan bahagia Anggara langsung memeluk Ajeng dengan erat.
Ajeng membalas pelukan Anggara tidak kalah erat. setelah itu mereka melepaskan pelukan mereka. Anggara mengambil tangan kanan Ajeng dan melepaskan cincin yang waktu itu ia berikan dan memasangkan cincin yang baru ke jari manis Ajeng.
setelah terpasang mereka kembali berpelukan dan tepat saat itu kedua orang tua belah pihak masuk dan mengucapkan selamat kepada mereka.
"selamat yah sayang, " ucap mamah dan bunda bebarengan.
"selamat yah nak, " kali ini ayah dari Anggara dan juga Ajeng.
"makasih! " jawab mereka berdua serentak.
"nah jangan lama-lama buat ngesahin-nya, " ucap ayah Anggara.
"betul tuh, " timpal ayah Ajeng.
"semuanya tenang aja udah Anggara siapkan kok, " ucap Anggara lantang.
dan setelah itu mereka tertawa bahagia karena mendengar kabar ini dan lagi Anggara dan Ajeng kembali berpelukan melepaskan rasa bahagia yang teramat di dalam hati mereka.
__ADS_1