
1 minggu kemudian
"sayang bangun yuk... kamu udah seminggu loh tidurnya kamu gk kangen sama mas? hmm," lirih Anggara.
tanpa ia mau sebulir air mata mengalir dari kelopak matanya dan turun kepipi-nya. Anggara menghapus jejak air matanya ia menatap teduh sang tunangan yang masih setia menutup mata-nya.
'hari ini, aku akan bawa pelaku itu ke kantor polisi sayang, biar dia dapat hukuman yang setimpal, " ujar Anggara lagi.
ia masih terus menatap wajah Ajeng yang masih pucat dan semakin kurus karena tidak mendapat asupan makanan.
Anggara menggenggam erat tangan Ajeng, sesekali ia mengecup jari-jari itu dan mengelus-nya. Anggara beranjak dari duduk-nya dan menelpon seseorang untuk datang kerumah sakit untuk menemani Ajeng.
30 menit kemudian Naya kaka Ajeng yang di telepon oleh Anggara datang, Anggara menyambut hangat calon kaka iparnya itu dan meminta tolong untuk menjaga Ajeng selagi ia pergi.
"ka titip Ajeng yah, gue mau pergi dulu, " ucap Anggara.
Naya mengangguk dan tersenyum.
"iya tenang aja udah jadi tugas gue buat jaga dia, karna gue kaka-nya, " jawab Naya.
Anggara mengangguk dan melangkah meninggalkan ruang rawat yang sudah seminggu ini di tempati oleh Ajeng.
belum sempat Anggara keluar Naya sudah berucap lagi menghentikan langkah Anggara, Anggara membalikan tubuhnya menghadap Naya.
"lo udah tau siapa pelakunya? " tanya Naya.
Anggara mengangguk menanggapi pertanyaan dari Naya.
"udah, hari ini gue bakal bawa dia ke kantor polisi, " jawab Anggara dan tatapan-nya berubah menjadi dingin.
"oke goodluck, " ucap Naya dan di balas anggukan dari Anggara.
Anggara kembali melanjutkan langkah kaki nya untuk menemui seseorang yang sudah sangat ia curigai. tidak lupa ia menyuruh kedua sahabat-nya untuk menunggu di kantor polisi.
...****************...
"hay... kita mau kemana? " tanya gadis itu.
Anggara tersenyum penuh arti menatap gadis yang berada di hadapan-nya.
__ADS_1
"ikut aja nanti juga tau, " jawab Anggara dingin.
ia kembali merubah mimik wajahnya menjadi datar tanpa ekspresi seperti biasa hal itu membuat gadis itu sedikit takut, namun tak ayal jika ia menolak ajakan Anggara ia akan rugi bukan? setidaknya ia bisa sedekat dulu lagi dan bisa mendapatkan Anggara sebagai milik-nya.
setelah kedua orang itu masuk kedalam mobil Anggara, Anggara meninggalkan rumah megang itu dan memasuki jalan raya yang sangat padat.
di saat jalanan sangat padat Anggara berucap membuat gadis yang berada di samping-nya menegang mendemgar penuturan Anggara.
"Gue udah pernah bilang sama lo, untuk jangan main-main sama gue, " ucap Anggara tiba-tiba.
"apaan sih aku gk ngerti tau, " ucap gadis itu tidak mengerti lebih tepatnya pura-pura tidak mengerti.
hal itu malah membuat Anggara tertawa sinis membuat gadis itu semakin menciut mendengar tawa jahat yang di keluarkan oleh Anggara.
"gk usah pura-pura bodoh, lo yang ngelupain Ajeng kan? dan yang selalu neror dia? " ucap Anggara dan di akhiri pertanyaan.
gadis itu kembali menegang mendengar itu, wajahnya mulai pucat dan genggaman pada steal beat semakin kencang hal itu malah membuat Anggara senang.
tiba-tiba Anggara membelokan mobilnya ke kapolsek di pusat kota, gadis itu sudah panik saat ia tahu ia di bawa kemana ia berteriak dan bahkan memukul Anggara.
"KENAPA KAMU BAWA AKU KESINI? SALAH AKU APA? " teriak gadis itu sambil terus memukul Anggara dengan tas tangannya.
Sarah ya gadis itu Sarah, sahabat masa kecil Anggara yang beberapa bulan lalu menyatakan cinta namun di tolak oleh Anggara karena Anggara sudah mencintai orang lain.
dan memutuskan untuk meneror bahkan melakukan hal nekat menabrak Ajeng hingga koma.
Sarah hanya bisa menangis pasrah karena mau melawan pun tidak bisa, pasti Anggara sudah mempunyai bukti sampai-sampai Anggara menjebloskan-nya kedalam penjara.
setelah tepat di depan pintu kantor polisi, Anggara dan saat itulah sarah mencoba untuk kabu namun naas sudah ada Zaki dan juga Satria yang berjaga.
dan bisa mencegah sarah untuk melarikan diri, sarah terus metonta dalam cekalan Zaki dan Satria yang cukup kuat.
Anggara menatap dingin kepada sarah yang mencoba untuk kabur dan ia menyuruh kedua sahabat-nya untuk membawa wanita itu masuk.
"bawa dia masuk, "
setelah di bawa masuk pintu langsung di tutup untuk menghindari sarah kabur lagi, bunda Anggara yang melihat siapa yang sudah mencelakai calon menantu-nya adalah sahabat kecil Anggara.
menatap kecewa kepada gadis itu, ia menangis sedih karena tingkah dan perbuatan yang bahkan tidak pernah mereka pikirkan kalau itu akan terjadi.
__ADS_1
saat tepat berhenti di hadapan bunda, bunda menampar wajah Sarah sedangkan sarah Sarah sudah menangis tersedu-sedu.
"kamu harus menanggung kesalahan mu, " ucap bunda dan Sarah dibawa masuk.
Anggara melihat kearah Sarah dan menatap kebencian kelada gadis itu, awalnya ia ragu namun saat sudah di selidiki semuanya benar bukti terarah padanya.
"trima kasih, karna udah ngasih tahu sifat asli lo dan cukup sampai sini lo bukan sahabat kecil gue lagi, " ujar Anggara dengan penuh kekecewaan.
setelah itu Anggara pergi meninggalkan Sarah yang terus meneriakkan nama-nya namun ia tidak menggubris-nya.
Zaki dan Satria menyusul Anggara sebelum itu zaki mengucapkan sesuatu membuat tangis gadis itu semakin pecah.
"jangan kayak gitu lagi ya, udah kena batu-nya kan? jadi lo rasain ini semua, " ucap zaki dan melenggang pergi dari hadapan Sarah.
nasib Sarah selanjutnya akan berlanjut di dalam jeruji besi menerima balasan yang setimpal oleh apa yang ia lakukan.
Sarah akan di hukum penjara selama 5 tahun maksimal. jangan pernah bangunkan macan yang sedang tidur. kalau tidak mau terkena akibatnya.
...****************...
Anggara sudah kembali kerumah sakit bersama kedua orang tuanya, sehabis dari kantor polisi menjebloskan gadis itu.
Anggara terkejut dan juga senang serta bahagia intinya perasaannya campur aduk saat melihat Ajeng yang sudah bangun dari tidur panjangnya.
Anggara langsung berjalan kearah Ajeng dan memeluk Ajeng erat, jujur ia sangat merindukan sang tunangan ya g sudah tidur cukup lama.
Ajeng membelas pelukan Anggara tak kalah erat namun ia masih sangat lemah, Anggara mengurai pelukan-nya dan menatap lekat kepada Ajeng dan kembali memeluk-nya.
hingga deheman seseorang membuat mereka melepaskan pelukan mereka dan menatap kikuk kepada orang yang ada di ruang rawat inap Ajeng.
"ehem... di sini masih ada kita loh, " dehem Reina dan tertawa.
"ya udah deh yang kangen-kangenan kita keluar dulu deh bai, " timpal Adeva dan melenggang pergi.
dan di ikuti oleh keluarga Ajeng dan juga Anggara yang ikut keluar sambil tersenyum menggoda kepada mereka berdua.
setelah benar-benar semuanya keluar Anggara dan Ajeng saling bertatap kembali, mereka saling melempar senyum bahagia dan kembali berpelukan melepas rasa rindu yang teramat di tahan walau setiap hari berjumpa namun berbeda.
karena kemarin-kemarin Ajeng tidur pulas sedangkan Anggara terjaga makan dari itu mereka tidak mensia-sia kan waktu berdua mereka.
__ADS_1