
Anggara membawa mobil dengan ugal-ugalan bahkan banyak yang mengumpati dirinya karena membawa mobil ugal-ugalan. pikiran Anggara benar-benar kacau sekarang. ia memilih untuk kembali ke apartemen.
dengan keadaan emosi Anggara memasuki unit apartemen. ia membanting pintu apartemen dengan sangat keras, Anggara melempar barang yang berada di dekat-nya hingga unit apartemen-nya benar-benar hancur.
Anggara tidak bisa berfikir jernih hanya ada tentang penyesalan dan juga cemburu di hati-nya. ia benar-benar salah memilih kali ini.
Anggara terus menerus melempari barang-barang bahkan sampai tangannya terluka terkena pecahan kaca dari vas bunga pun ia abaikan, ia terus melempar barang yang bisa ia lempar.
"AKHHHHHH BANGSAT... " teriak Anggara frustasi.
Anggara terus mengacak rambut-nya dengan frustasi dan menjambak-nya. ia tidak rela jika Ajeng di miliki orang lain, ia berjalan menuju kedalam kamar-nya ia menatap diri-nya sendiri di depan cermin.
penampilan Anggara benar-benar berantakan. kemeja yang sudah keluar dari celana dan kacing kemeja yang terbuka, dasi yang mengendur dan juga rambut yang acak-acakan.
seketika Anggara menangis saat mematut diri-nya di depan cermin. sungguh ia benar-benar menyesal telah memilih Floryn dari pada Ajeng kekasih-nya sendiri.
bugh
crak
Anggara menonjok kaca dan tembok bergantian bahkan darah yang terus mengalir dari tangan-nya benar-benar ia hiraukan yang sekarang ia fikirkan bagaimana cara-nya agar Ajeng kembali bersama-nya lagi.
ia tidak mau jika Ajeng di miliki dari salah satu sahabat-nya yang memang ia ketahui masih jomblo. dan tiba-tiba anggara teringat jika satria sudah memiliki tunangan.
dengan cepat ia tersenyum namun denyum-nya hanya sebentar lalu kembali pudar kala mengingat berapa kecewa-nya Ajeng kepada-nya dan kedua orang tua Ajeng yang pasti-nya sudah tahu mengenai kandas-nya hubungan mereka berdua.
"apa Ajeng mau balik lagi sama gue? apa Ajeng bakal maafin gue? apa mamah dan ayah bakal nerima gue lagi? apa ka Naya bakal ngizinin gue sama Ajeng lagi? " tanya Anggara pada diri-nya sendiri.
ia terduduk dan menyendrr kepada dinding, sungguh tidak ada dari satu pertanyaan pun yang terjawab. ia benar-benar menyesal andai ia tidak berselingkuh dan tetap bersama emng ini semua tidak akan terjadi.
Anggara menengadahkan wajah-nya menatap langit-langit kamar, ia tersenyum hambar kala mengingat kenangan indah-nya bersama Ajeng. tawa ceria Ajeng yang membuat-nya ikut bahagia.
__ADS_1
dan sekarang hanya tinggal kenangan. Anggara menangis dengan tersedu-sedu kala mengingat itu semua, mengingat wajahnya kecewa Ajeng saat mereka tengah berpapasan saat di kampus.
"maafin aku Ajeng maafin aku! hiks" ucap Anggara terus menerus.
Anggara bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan menuju ke balkon kamar tidak lupa ia mengambil satu bungkus rokok, sejujurnya Anggara sudah tidak pernah menyentuh rokok semenjak bersama Ajeng.
namun sekarang ia kembali merokok demi menghilangkan stres-nya. satu batang rokok di selipkan di antara bibir Anggara lalu ia menyalakan rokok itu dengan korek gas.
kepulan demi kepulan asap di keluarkan oleh Anggara, ia terus mengihisap rokok itu tak kala mengingat berapa bahagia-nya Ajeng saat di pasar malam. Ajeng tertawa lepas bukan dengan-nya tapi dengan orang lain.
dan ia terus merokok bahkan sampai satu bungkus rokok ia habiskan namun fikiran-nya tetap kacau memikirkan berapa bodoh-nya ia dan betapa sakit hati-nya ia ketika melihat orang yang tersayang tertawa lepas dengan orang lain.
Anggara memilih untuk kembali masuk kedalam kamar, saat di dalam kamar betapa terkejut-nya ia ketika melihat kedua sahabat-nya sudah duduk anteng di atas kasur-nya dan tersenyum mengejek ke arah-nya.
"ngapain lo berdua ke sini?! " tanya Anggara tidak suka.
"mau melihat seseorang menyesal karena salah memilih! " jawab Zaki lalu tertawa.
"kan gue udah bilang jangan nyesel! " ucap Satria dingin.
"sebenernya lo cinta gk sih sama Floryn?! " tanya Zaki setelah menghentikan tawa-nya.
"mending lo mandi dulu baru jawab... penampilan lo udah kayak orang gila tau! " sarkas Satria.
tanpa banyak basa basi anggara segera melenggang menuju kekamar mandi untuk mandi dan menenangkan fikiran-nya. sedangkan Zaki dan Satria saling tatap dan menggelengkan kepala mereka.
...****************...
"perasaan gue ke Floryn beda seperti perasaan gue ke Ajeng! " ucap Anggara setelah mengepul kan asap rokok.
sedangkan Zaki dan Satria terus menyimak apa yang di ucapkan oleh Anggara dan memahami ucapan Anggara ya meski kadang ada yang tidak mereka pahami.
__ADS_1
"dan sekarang apa perasaan lo saat mengetahui jika Floryn suka main itu sama banyak laki-laki? dan apa perasaan lo saat gue jalan sama Ajeng? " tanya Satria dengan nada dingin-nya.
Anggara menatap Satria sengit, ia kembali mengingat berapa bahagia-nya Ajeng ketika jalan bersama Satria. ia mengepul kan asap rokok ke udara.
"gue kecewa sama Floryn yang udah gue anggap dia lebih hebat dari Ajeng, dan sakit rasa-nya melihat Ajeng tertawa lepas bukan sama gue melainkan sama orang lain! " ucap Anggara sambil menatap langit-langit kamar dan kembali mengepul kan asap rokok lagi.
"lo bingung, " ucap Zaki tiba-tiba, yang sedari tadi hanya menyimak sambil memakan cemilan.
"maksud? " tanya Anggara tidak mengerti.
ia menaikan salah satu alis-nya menatap Zaki yang terus asik dengan cemilan-nya sedang kan Satria yang mengerti hanya diam membiarkan Zaki yang melanjutkan ucapan-nya sendiri.
"lo bimbang sama perasaan lo sendiri... di satu sisi lo mulai jatuh sama Floryn dan mau memiliki dia dan di sisi lain lo gk bisa ngebiarin Ajeng bahagia sama yang lain tapi lo sadar gk bisa milikin kedua-nya, perasaan lo bimbang ke kedua gadis itu, " jelas Zaki yang wajah-nya berubah menjadi serius.
"andai gue gk punya tunangan... udah gue lamar depan orang tua-nya langsung Ajeng! " celetuk Satria.
dan hal itu langsung membangkitkan emosi Anggara, Anggara bangkit dan menarik kerah kemeja Satria sedangkan Satria hanya tersenyum mengejek menatap sahabat-nya yang gampang terpancing.
"lo pikirin baik-baik... lo yakinin perasaan lo sama Ajeng gimana? masih ada kesempatan dan gue liat dari mata Ajeng kalau dia masih mencintai lo. jangan buang-buang waktu sebelum Ajeng di ambil orang lain! " ucap Satria lalu melepaskan cengkraman pada kerah kemejanya.
"mending lo pake baju gih. gue takut khilaf! " ucap Zaki yang tidak tahu diri.
"gue bakal fikirin itu dan mendingan kalian pergi dari apartemen gue! " usir Anggara.
"dih udah di kasih pencerahan malah ngusir lagi... ya udah bai hati-hati ada mbak kunti, " ucap Zaki lalu langsung lari sebelum. terkena amukan Anggara.
Satria menepuk pundak Anggara dan setelah itu ia menusul Zaki yang sudah keluar dari unit apartemen Anggara. Anggara kembali duduk dan memikirkan ucapan Satria tadi, ia tersenyum dan kembali mengepul kan asap rokok ke udara.
"gue bakal berjuang biar Ajeng bisa balik lagi ke gue dan mau memaafkan gue lagi dan soal Floryn besok gue urus!" tekad Anggara pada dirinya.
dan setelah itu Anggara melihat keseluruhan apartemen-nya yang sangat berantakan mungkin ia akan mengambil cuti untuk membereskan apartemen-nya dan juga memikirkan tentang perasaan-nya yang bimbang.
__ADS_1