
setelah selesai mandi Anggara mengenakan pakaian tidur-nya dan berjalan menuju kasur-nya, ia merebahkan diri di kasur empuk-nya dan bersiap untuk tidur.
namun belum juga ia benar-benar tertidur ia teringat paket yang datang dan belum ia buka. lalu Anggara bangkit dan mengambil paket yang ia taruh di atas nakas.
setelah mengambil paket itu ia tidak lupa mengambil cuter untuk membuka-nya dan ia membuka-nya kebaikan kamar-nya. ia membuka pintu balkon dan berjalan menuju bangku yang berada di balkon kamar-nya.
ia terus memutar-mutar paket itu namun tetap tidak ada nama pengantar-nya. setelah ia duduk di bangku ada rasa ragu untuk membuka paket itu. takut-takut ia juga nanti terkena teror seperti Ajeng.
ngomong-ngomong tentang Ajeng, Anggara belum. membalas pesan terakhir dari Ajeng bahkan membacanya pun belum dan sampai sekarang Ajeng belum juga mengirimkan pesan untuk-nya.
karena Anggara sudah terlanjur kepo dengan isi-nya, Anggara membuka lem yang menempel dengan cuter lalu membuka-nya dengan perlahan.
setelah benar-benar terbuka isi dari paket itu terdapat kotak perhiasan dan juga sepucuk surat di dalam-nya. Anggara mengerutkan kening-nga lalu tanpa pikir panjang Anggara membuka kota perhiasan itu.
ia sempat terkejut saat melihat isi kotak perhiasan itu. cincin yang ia berikan kepada Ajeng saat ia melamar Ajeng secara mendadak di puncak di kembalikan? tapi kenapa?
pertanyaan demi pertnyaan terus berkumpul di benak Anggara. ia beralih melihat sepucuk surat yang belum ia sentuh, dengan ragu Anggara membuka lipatan demi lipatan surat itu dan membaca-nya.
ia membaca surat itu dengan pelan dan sangat teliti. terlihat raut tidak percaya dan kecewa dari wajah Anggara namun apa boleh buat? semuanya sudah ketahuan?
...***untuk mas Anggara...
hay mas, ini aku Ajeng... dengan aku mengembalikan cincin ini, hubungan kita cukup sampai di sini. kenapa aku memutuskan hubungan sepihak? karena aku sudah tahu semuanya dan semakin lama kamu semakin terlihat sudah bosan dengan ku... dan aku juga udah gk mau di bohongi lagi sama kamu.
aku harap kamu bahagia yah sama dia.. dan setelah ini anggap aku sebagai mahasiswi seperti tidak pernah ada hubungan sepesial.
dan Terima kasih untuk kebahagian sesaat ini mas, semoga kamu bahagia dengan yang baru. I LOVE YOU*** :)
sekiranya seperti itu isi surat dari Ajeng.
Anggara tidak Terima dengan semua ini, ia sangat menyayangi Ajeng ia tidak mau berpisah dengan cara seperti ini. dengan cepat Anggara mengambil handphone-nya yang berada di atas nakas.
setelah mendapatkan handphone-nya Anggara segera mencari nama Ajeng dan langsung menelepon-nya. sambungan telepon tersambung namun Ajeng enggan untuk menjawab.
__ADS_1
berulang kali Anggara menelepon Ajeng namun hasil-nya tetap nihil tidak di angkat sama sekali. banyak pesan yang sudah Anggara kirim kan juga namun hasil-nya sama Ajeng tidak membaca bahkan membalas-nya.
Anggara masih terus mencoba menelepon Ajeng ia terus mondar mandir di balkon kamar-nya sambil terus berdoa agar Ajeng mengangkat telepon-nya.
namun masih sama tidak ada jawaban sama sekali dari sebrang sana. Anggara mengacak rambut-nya frustasi bukan-bukan ini yang ia inginkan.
karena telepon dan pesan-nya tidak di jawab Anggara beralih menanyakan keberadaan Ajeng sekarang kepada kedua sahabat-nya, namun sama kedua sahabat Ajeng tidak membalas pesan Anggara hanya di baca saja.
apa boleh buat? jika semuanya tidak mebalas bahkan memberi tahu di mana Ajeng berada. dengan cepat Anggara mengganti pakaian-nya serta kunci mobil-nya dan langsung pergi menuju rumah Ajeng.
selama perjalanan menuju rumah Ajeng, Anggara terus menghubungi nomor handphone Ajeng meski tidak mendapat jawaban sama sekali Anggara tetap mencoba menelepon Ajeng.
15 menit kemudian Anggara sampai di kediaman Ajeng, dengan cepat ia turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Ajeng. Anggara terus mengetuk pintu rumah Ajeng namun tidak ada yang membuka.
Anggara benar-benar gusar memikirkan keadaan Ajeng sekarang. entahlah Anggara yakin jika Ajeng sekarang tengah hancur.
ia terus mengucapkan kata maaf meski Ajeng tidak bisa mendengar, sampai di ketukan terakhir Anggara tidak ada yang membuka pintu rumah.
Anggara yang melihat Naya yang membuka pintu bukan Ajeng merasa kecewa. lalu ia kembali ketempat-nua dan langsung bertanya kepada Naya.
"ka Ajeng-nya ada? " tanya Anggara to the point.
Naya yang mendengar pertanyaan dari Anggara tersenyum sinis, ia tidak manyangka jika Anggara datang malam-malam seperti ini dan mengganggu waktu tidur mereka.
"ada udah tidur!" bukan Naya yang menjawab melainkan Leon suami Naya.
"ouh udah tidur yah, ya udah kalau gitu gue pulang... bilang sama Ajeng besok gue jemput kayak biasa, " ucap Anggara.
"gk perlu... Ajeng gue sama suami gue yang nganter, "
"gue rasa udah jelaskan? semuanya udah jelas di surat yang Ajeng masih ke lo? apa belum cukup? hah! " lanjut Naya dengan nada marah.
Anggara yang mendengar itu langsung terdiam membisu sedangkan Leon langsung menenangkan sang istri dan menyuruh Naya untuk masuk dan ia yang akan berbicara dengan Anggara.
__ADS_1
setelah memastikan Naya masuk kembali kedalam kamar. Leon menatap tajam kepada Anggara begitu juga Anggara hanya ada raut wajah datar yang ia tampilkan.
"sebaiknya lo pulang... dan jangan pernah temuin adek gue lagi! " tekan Leon.
"kenapa?! " tanya Anggara menahan kecewa.
"gue rasa lo pinter... so lo pasti tau jawaban-nya! " ucap Leon setelah itu ia masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
Anggara yang mendengar itu menjadi lemas, ia tidak menyangka jika ini akhirnya. dengan cepat Anggara kembali kedalam mobil-nya dan meninggalkan rumah Ajeng.
ia membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. ia terus bergumam meminta maaf dan mencoba lagi menghubungi Ajeng. ia yakin jika Ajeng belum tertidur.
"masih ada besok gar, lo bisa jelasin besok!, " ucap Anggara pada diri-nya sendiri.
...****************...
"dia udah pergi ka? " tanya Ajeng ketika melihat Naya kembali kekamar.
"belum lagi di urus sama Leon, " jawab Naya sambil memeluk Ajeng.
tidak lama kemudian Leon datang dan menyuruh mereka berdua istirahat, Ajeng dan Naya mengangguk dan Ajeng kembali menuju ke kamar-nya.
ia merebahkan diri di kasur-nya dan menatao langit-langit kamar. karena mengingat kejadian tadi di restoran membuat Ajeng kembali menangis dalam diam.
"lo harus move on jeng... orang kayak dia gk pantes buat lo, " ucap Ajeng menyemangati diri-nya sendiri.
saat hendak menutup mata handphone Ajeng kembali berbunyi mau tidak mau Ajeng mengambil handphone-nya. ada banyak panggilan dan pesan dari Anggara namun Ajeng hiraukan.
dan ia memilih untuk membalas pesan kedua sahabat-nya meski terkadang terganggu karena Anggara terus menelpon-nya. untuk saat ini Ajeng tidak mau berbicara dahulu kepada Anggara.
ia hanya akan fokus kepada skripsi-nya yang menanti dan fokus kepada masa karir-nya nanti. saking lelah-nya ia karena sedari tadi sore menangis terus Ajeng terlelap dengan mudah-nya dan memasuki alam mimpi yang indah.
sedangkan di lain tempat. Anggara tidak bisa tertidur karena tidak ada pesan ucapan selamat malam atau bahkan telepon sebelum tidur dari Ajeng sang kekasih-ah lebih tepat-nya mantan kekasih.
__ADS_1