
pagi yang cerah, matahari yang menampakan diri dan tidak terlalu panas seperti pagi kemarin. ada tiga sejoli yang sedang duduk dan makan makanan mereka di kantin padahal tadi sebelum berangkat ke kampus mereka sudah sarapan.
"Eh- gue dapet endorse nah endorse-nya vila di puncak gimana kita liburan aja sekalian? maksimal 10 orang selama tiga hari, " ucap Adeva di sela sela makan-nya.
"hayuk gas keun, gue ajak pacar gue ya? " tanya Reina antusias.
Adeva menganggu dan menatap Ajeng sedangkan yang di tatap hanya acuh.
"gue sendiri kok, belum tentu mas Gara bisa ikut apa lagi dia dosen, " ujar Ajeng.
"Dih emang dosen gk libur? kita aja libur, " ucap Adeva berdecak.
"gue juga gk tau sih, heheh, " tawa Ajeng.
"ya udah kalau gk bawa pasangan siapa kek gitu? kak Naya aja gimana? " giliran Reina bertanya.
Ajeng mendelik menatap Reina bahkan ia sampai tersedak minuman-nya.
"uhuk.uhuk.uhuk... ogah dia kan pasti bawa calon-nya, " ujar Ajeng lesu.
"terus gimana dong? kalau bertiga doang kan gk seru, " ujar Adeva.
yang langsung di angguki Reina. mereka diam memikirkan siapa yang harus mereka ajak untuk liburan di puncak.
"entar deh gue tanyain sama mas Gara bisa atau enggak-nya dia, " ujar Ajeng kemudian.
tidak lama dari itu bel berbunyi. tiga sekawan itu langsung menyelesaikan makan mereka dan bergegas untuk masuk kelas.
setelah sampai Kelas mereka duduk di bangku masing-masing, tidak lama dari itu seorang dosen laki-laki masuk yang tidak lain dan bukan adalah Anggara dan langsung memulai kelas.
...****************...
seperti biasa Ajeng pulang bersama Anggara, mereka meninggalkan kampus yang sudah sepi dan... ajeng sudah berpamitan kepada kedua sahabat-nya ia juga akan bilang untuk membujuk Anggara agar bisa ikut liburan.
Anggara membawa Ajeng ke cafe hijau, tempat favorit dan juga suasana-nya yang adem membuat-nya kembali kesini.
setelah duduk di meja dekat jendela mereka memesan makanan dan juga minuman, setelah pelayan pergi Ajeng mulai berbincang ringan dengan Anggara.
"mas kamu libur gk, minggu depan? " tanya Ajeng.
"Kayak-nya sih enggak memang-nya kenapa? " tanya balik Anggara.
__ADS_1
FYI mereka berdua jika sedang di luar rumah tidak menggunakan kata formal seperti biasa itu juga permintaan dari Anggara. awal-nya Ajeng menolak karna risih namun lama-kelamaan ia terbiasa.
"ouh... itu Adeva dapet endorse, bila di puncak dan boleh bawa 10 orang. rencana-nya aku mau ajak kamu soal-nya reina bawa pasangan, " jawab Ajeng.
Anggara menggut-manggut namun ia teringat sesuatu dan menatap Ajeng dengan intens membuat Ajeng menjadi salah tingkah di tatap seperti itu.
"bukan-nya Adeva jomblo ya? kok suruh kamu dan Reina bawa pasangan? " tanya Anggara kemudian.
Ajeng yang beruntung mengingat itupun menjadi tertawa, membuat Anggara juga ikut tertawa karena melihat tawa Ajeng yang terbahak-bahak.
"oh iya-ya... gini aja kamu kalau ada teman suruh ajak aja deh heheh, " ucap Ajeng yang masih berusaha meredakan tawa-nya.
"oh iya kamu bisa? " tanya Ajeng lagi menjadi fokus menatap Anggara.
"aku coba izin deh, oh ya aku ada temen nanti ku ajak deh gk enak juga kalau laki-laki-nya cuma duakan? perempuan-nya berapa orang? " tanya Anggara.
"emmm... lima sih kayak-nya, paling adik-asik-nya Reina sama Adeva ikut, " jawab Ajeng.
"ya udah nanti ku aja du temen ku, ' ucap Anggara sekenanya.
obrolan mereka berhenti mengobrol karena makanan mereka sampai, setelah kepergian pelayan Ajeng dan Anggara asik dengan makanan mereka masing-masing.
...****************...
"ogah geli gue sama tikus, " ujar perempuan itu bergidik ngeri melihat ke arah tikus yang sedang di pegang sama laki-laki itu.
"ck nyusahin aja dah, mending jangan pake cara ini ngotor-ngotorin tangan gue tau gk?! " kesal laki-laki itu.
"udah deh cepetan... dengan cara ini bisa buat dia takut gue jamin pasti berhasil kali ini, " ujar perempuan itu yakin.
laki-laki itu yang melihat keyakinan perempuan itu akhirnya pasrah dan mulai mengambil pisau dan memotong kepala tikus itu sampai memuncratkan darah-nya.
...****************...
"makasih ya mas udah antar pulang, " ucap Ajeng tersenyum manis di hadapan Anggara.
Anggara mengangguk dan membalas senyum manis Ajeng dengan senguman-nya yang tak kalah manis, ia mengusak rambut Ajeng membuat agak sedikit berantakan.
"jangan di acak-acak is, " ujar Ajeng kesal.
"hehe... maaf sayang ya udah kalau gitu aku pulang yah, " ucap Anggara sambil merapihkan rambut Ajeng lagi.
__ADS_1
hal itu membuat Ajeng salting dan lihat pipi-nya sudah memerah seperti tomat karena malu. Anggara yang melihat itu terkekeh pelan.
Ajeng mengangguk dan mengalami tangan Anggara. " hati-hati ya, "
Anggara mengangguk dan masuk kedalam mobil, sebelum pergi ia mengucapkan alam dan menyalakan Klakson tanda perpisahan.
setelah mobil Anggara sudah tidak terlihat lagi ajneg masuk kedalam rumah dan di smabut oleh pandangan menggoda dari keluarga-nya yang tadi sempat kengintip dari jendela.
"hayoh siap tuh? " tanya ayah menggoda Ajeng dengan menaik turunkan alis-nya.
btw Ajeng belum cerita tentang kedekatan dan bahkan lamaran Anggara yang ia tolak waktu itu.
Ajeng bersemu malu mendapat tapan seperti itu dari sang ayah dan apa lagi dengan tatapan Naya yang -uhh menyebalkan.
"ayok sayang duduk dulu, " ucap mamah mengajak ajneg untuk duduk bersama mereka.
setelah duduk Ajeng menunduk malu tidak berani menatap kedua orang tua-nya karena menahan malu yang teramat.
"hayoh siapa tadi? ceritain dong," ucap mamah kemudian.
Ajeng menoleh dan menggaruk tengkuk-nya yang tidak gatal menatap kedua orang tua-nya bergantian.
"Ajeng bakal ceritain tapi janji jangan di ketawain ya? " tanya Ajeng.
"iya iya enggak, " ucap kedua orang tua-nya bersamaan.
sedangkan Naya duduk dengan tenang dan menunggu agar adik-nya bercerita. bisa-bisa-nya Ajeng tidak bercerita sedang dengan laki-laki.
"jadi gini-
ajneg menceritakan semua-nya kepada keluarga-nya dan mendapat-kan tatapan yang-akhhh sungguh menyebalkan di mata Ajeng. karena sempat menolak lamaran Anggara Ajeng di beri nasihat oleh mamah dan ayah.
" oh gitu, ya mamah cuma bisa dukung kamu dan... karna dia sudah pernah melamar kamu jangan sampai kamu menutup hati kamu lagi dia sudah sangat serius kepadamu, "nasihat mamah.
" benar tapi... kalau dia menyakiti kamu, kamu bisa pilih untuk tetap bersama memberi-nya kesempatan atau kamu memilih untuk pergi, " nasihat ayah kemudian.
Ajeng mengangguk dan tersenyum hari, sedangkan Naya ia terharu akhirnya Ajeng bisa membuka hati-nya kembali kepada laki-laki.
Ajeng memeluk kedua orang tua-nya begitu pula dengan Naya yang menyusul memeluk mereka bertiga dan jadilah mereka berpelukan seperti teltubis.
hari ini hari di mana Ajeng merasa sangat bahagia karena kedua orang tua-nya yang mengerti diri-nya dan kedua sahabat-nya yang selalu ada.
__ADS_1
Naya yang selalu mendukung apapun yang ia lakukan dan juga Anggara yang selalu berada di sisi-nya.