
Byurr
mendapat siraman itu Ajeng langsung berdiri, bajunya menjadi basah karena terkena siraman dari dosen yang ia ketahui kekasih dari mantan kekasih-nya.
"ibu kenapa sih? saya punya salah apa sih sama anda?! " tanya Ajeng kesal.
sedangkan Floryn menatap jengkel kepada Ajeng, Anggara yang melihat itu pun geram dengan kasar ia menarik pergelangan tangan Floryn dan memarahinya.
"maksud anda apa ya? urusan kita sudah selesai semalam! " tegas Anggara.
"kamu lebih bela dia dari pada aku!? " kesal Floryn.
"oh jelas... kalau kamu tidak datang dan menggoda saya, hubungan saya dengan Ajeng akan baik-baik saja, " ucap Anggara mempertegas.
deg
seketika jantung Ajeng berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan Anggara, sedangkan Floryn sudah naik pitam ia hendak menjambak-nya Ajeng namun tertahan oleh Anggara.
"kamu masih suka sama dia? " tanya Floryn.
"jelas... siapa sih yang gk suka sama dia... dia cantik, attitudenya baik, sopan sedangkan kamu? sebagai dosen bukan-nya kasih contoh yang benar malah kayak gini! " ucap Anggara menusuk.
sedangkan Ajeng hanya bisa diam melihat perkelahian antara dua orang berlainan jenis itu, terlebih Anggara membela-nya. ia menatap Floryn yang juga tengah menatap-nya dengan tatapan nyalang.
"kamu minta maaf sama Ajeng sekarang! " ucap Anggara tak terbantahkan.
namun Floryn tetap diam menatap sinis kepada Ajeng yang tengah menunduk sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena air.
"enggak ngapain minta maaf sama dia! " ucap Floryn tidak mau.
sedangkan Anggara sudah menggeram marah karena Floryn tidak mau meminta maaf yang jelas-jelas Floryn yang salah, Anggara menahan tangan-nya untuk tidak menampar Floryn.
"aku muak sama tingkah kamu Floryn... dan mulai sekarang kita putus dan jangan pernah hubungi aku lagi! " ucap Anggara yang langsung membuat Floryn menatap-nya tidak percaya.
sedangkan Ajeng hanya bisa diam membisu kala mendengarkan perdebatan mereka berdua, dengan tidak Terima dan kesal Floryn menampar Anggara kencang.
membuat Anggara hampir terhuyung. Ajeng hanya menutup mulut-nya menggunakan tangan tidak percaya apa yang perempuan itu lakukan kepada Anggara.
__ADS_1
"pergi anda dari ruangan saya! " ucap Anggara datar.
dan setelah itu Floryn meninggalkan ruangan Anggara dengan perasaan yang campur aduk kesal, marah benci jadi satu. setelah kepergian Floryn Anggara menenangkan diri sebelum berhadapan dengan Ajeng yang hanya diam membisu.
setelah benar-benar tenang, Anggara membalikan badan-nya menatap Ajeng sepenuh-nya yang masih terlihat shok, dengan cepat Anggara langsung memeluk Ajeng dan menggumamkan kata maaf.
sedangkan Ajeng yang mendapatkan pelukan dadakan hanya diam membeku, ia bingung harus apa ketika menghadapi keadaan seperti ini.
"maaf, maafkan aku Ajeng, " ucap Anggara tepat di samping telinga Ajeng.
sedangkan Ajeng diam memejamkan mata agar bulir air tidak jatuh membasahi wajah-nya. Anggara terus mengucap kata maaf dalam pelukan-nya.
Anggara melepas pelukan dan menatap Ajeng yang tengah memejamkan mata, tanpa izin Anggara mengecup lama kening Ajeng membuat Ajeng langsung membuka mata-nya lebar-lebar.
"pak-
" sttt... aku tahu aku salah, aku benar-benar menyesal lebih memilih dia di banding kamu... aku bodoh lebih memilih dia dari pada kamu, aku mohon maafkan aku hiks! " ucap Anggara sambil menangis.
Ajeng hanya melihat Anggara yang menangis sambil memegang bahu-nya, Anggara menunduk dan terus menggumamkan kata maaf.
"saya sudah bilang kan pak? kalau saya sudah maafin bapak... so bapak gk perlu kayak gini! " ucap Ajeng sambil terus menatao Anggara.
"Ajeng... apa kamu mau memberi saya kesempatan untuk terakhir kalinya? " tanya Anggara tiba-tiba setelah lama diam.
Ajeng yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya bisa diam. ia bingung harus menjawab apa, Ajeng melihat keseriusan dalam mata Anggara.
"saya gk tau pak... saya gk mau buat kedua orang tua saya sedih lagi pak, " ucap Ajeng pada akhirnya.
Anggara tersenyum dan mengangguk, ia paham jika Ajeng tidak mau sakit lagi dan tidak mau membuat kedua orang tua-nya terluka lagi karena-nya.
"ya tidak apa-apa, trima kasih, "
...****************...
Ajeng terus memikirkan ucapan Anggara siang tadi, ia menyaksikan pertengkaran antara kekasih dan penyebabnya adalah dia.
ia bingung hati-nya bimbang, apakah ia harus membuka hati lagi untuk Anggara? meski ia masih sangat mencintai Anggara tapi karena penghianat an itu, ia menjadi sulit untuk percaya kepada laki-laki lagi.
__ADS_1
Ajeng menatap langit malam yang gelap dan di taburi oleh bintang dan juga bulan, angin malam yang menusuk tidak ia hiraukan pikiran-nya terus berkelana.
"apa gue harus kasih kesempatan untuk terakhir kali-nya? " tanya Ajeng pada diri Ajeng sendiri.
Ajeng kembali melamun kala mengingat tentang mereka yang jarang sekali berantem saat masih bersama dan kenangan indah yang terpatri dalam pikiran Ajeng.
tiba-tiba Naya masuk kedalam kamar Ajeng, ia menggunakan piyama tidurnya dan menghampiri Ajeng yang tengah melamun di balkon kamar-nya.
"kamu ngelamunin apa sih dek? " tanya Naya.
pertanyaan Naya membuat Ajeng tersadar dari lamunan-nya, ia melihat Naya yang berada di samping-nya sambil memperhatikan langit malam.
"tadi Anggara minta maaf, " curhat Ajeng.
Naya diam mendengarkan apa kelanjutan ucapan adik-nya, kali ini ia mau menjadi pendengar yang baik untuk adik-nya.
"dia mutusin selingkuhan-nya di depan Ajeng... dia meluk Ajeng dan menggumamkan kata maaf terus menerus,
dia menangis di hadapan Ajeng sambil terus meminta maaf dan mengatakan jika dia menyesal meninggalkan Ajeng, " ucap Ajeng.
"dia minta kesempatan untuk terakhir kali-nya, cuma Ajeng bingung harus jawab apa, Ajeng udah maafin dia tapi Ajeng gk jawab untuk memberikan dia ksempatan untuk terakhir kali-nya, " lanjut Ajeng.
"menurut kaka aku harus gimana? " tanya Ajeng setelah selesai bercerita.
Naya tersenyum ia menatap hangat adik-nya, nya mengelus surai panjang hitam milik adik-nya itu.
"kalau memang dia benar-benar menyesal, dia akan memperjuangkan kamu lagi... tapi jika dia menyerah karena kamu tidak membuka hati lagi untuk dia biarkan saja, "
"kalau kamu memang masih mencintai-nya kamu bisa kasih dia kesempatan untuk terakhir kalinya, jangan kasih kesempatan kedua, " ucap Naya.
"kenapa? " tanya Ajeng tidak mengerti.
"karena jika kamu memberikan kesempatan terakhir dan dia mengulangi kesalahan yang sama, dia sudah tidak memiliki kesempatan lagi... jika kamu memberikan kesempatan untuk kedua kalinya jika dia melakukan kesalahan lagi ia akan meminta kesempatan untuk ketiga kali-nya, " jelas Naya.
"kamu fikirin baik-baik... bagaimana perasaan kamu kepada-nya hanya kamu yang tahu, "
"ya udah tidurnya jangan malem-malem yah, kaka kekamar dulu, " ucap Naya lalu melenggang pergi meninggalkan Ajeng yang masih berada di balkon kamar.
__ADS_1
Ajeng memikirkan ucapan Naya ia tersenyum ia dapat bersyukur memiliki kaka seperti Naya, ia akan memikirkan ini besok tidak baik malem-malem overthinking.
Ajeng beranjak dari balkon dan masuk kedalam kamar tidak lupa ia menutup pintu balkon dan mematikan lampu kamar di gantikan lampu tidur.