Bismilah Jodoh

Bismilah Jodoh
mulai menyelidiki


__ADS_3

pagi hari-nya Anggara sudah berada di rumah sakit menemani Ajeng, kebetulan mamah Ajeng izin pulang untuk mandi dan juga sarapan.


Anggara menatap wajah pucat Ajeng, ia tersenyum dan sesekali mengecup tangan Ajeng yang ia genggam sedari tadi.


"sayang cepat bangun, mas rindu, " ucap Anggara kepada Ajeng meski ia tahu jika Ajeng tidak akan bisa mendengar-nya.


"tidurnya jangan lama-lama ya sayang, mas janji bakal berusaha cari siapa dalamg di balik ini semua, " lanjut Anggara dan mengecup kening Ajeng lama.


setelah itu ia kembali ketempat semua dan memandangi wajah cantik Ajeng namun pucat, membuat hati-bya teriris mengapa ada orang yang berniat mencelakai orang yang ia cintai?


Anggara mengelus pipi Ajeng pelan dan menggenggam tangan Ajeng erat, saat sedang nikmat menatap wajah cantik Ajeng handphone Anggara berbunyi.


Anggara mengalihkan tatapannya dari wajah Ajeng kearah handphonenya ia melihat siapa yang menelponnya.


'satria'


tertera di nikname si penelepon tanpa banyak basa-basi lagi Anggara langsung mengangkat telpon dari sahabat-nya itu.


"halo ada apa? "


".... "


"oke tunggu gue disana, "


tit


Anggara mematikan telepon itu sepihak ia menatao wajah damai Ajeng kembali, tidak lama dari itu pintu ruangan Ajeng terbuka. di buka oleh kaka Ajeng, Naya.


Naya yang melihat keberadaan Anggara tersenyum dan meminta untuk Anggara pulang saja karena sudah ada dia yang menjaganya.


"lo pulang aja, biar kaka yang jaga Ajeng, " ucap Naya sambil menatuh sebuket bunga di atas nakas.


"makasih ka, kalau gitu Gara pulang dulu masih ada urusan, " jawab Anggara dan balas tersenyum.


Naya mengangguk dan tersenyum, sebelum meninggalkan Ajeng, Anggara menyempatkan untuk mencium kening Ajeng sekilas dan pamit untuk pulang.


FYI Naya dan Anggara lebih tua Naya satu tahun, usia Naya 27 sedangkan Anggara 26. paham kan?


setelah Anggara keluar dari ruang rawat inap Ajeng, Naya menatap sendu kearah Ajeng yang terbaring lemah di atas brankar.


"cepet sadar yah dek, kita semua kangen sama kemanjaan kamu, " ucap Naya dan mengelus wajah Ajeng pelan.


ia menemani Ajeng sampai mamah-nya datang dan ia baru berangkat kerja.

__ADS_1


...****************...


"gimana? " tanya Anggara setelah sampai di cafe yang Ajeng dateng kemarin.


Reina menggeleng ia menatap monitor yang memperlihatkan rekaman CCTV saat kejadian namun, plat nomor dari mobil itu tidak terlihat karena terlalu cepat melaju.


Anggara mengacak rambutnya frustasi, kenapa harus seperti ini seandainya jika ia bisa bertukar rasa sakit lebih baik ia yang merasakannya dari pada harus orang yang ia cintai.


Anggara melihat ke Seliling ia tidak menemukan kedua sahabat-nya, lalu ia bertanya kepada Reina namun belum sempat bertanya Satria sudah kembali menelponnya.


"apa? " tanya Anggara langsung.


"... "


"oke gue tunggu di cafe, " jawab Anggara.


Reina menatap bingung kearah Anggara, Anggara tidak menggubris tatapan bingung dari Reina melainkan ia langsung melenggang pergi sebelum benar-benar pergi ia berterima kasih kepada pemilik cafe sudah mengizinkan untuk melihat rekaman CCTV.


"gini nih, kalau udah bucin ke orang gila meski gue juga gila nyari orang yang nabrak Ajeng tapi gk segila dia, " gumam Reina.


Reina menyusul Anggara dan saat ia menghampiri Anggara sudah ada kedua sahabat Anggara, Reina ikut duduk dan mendengar kan pembicaraan mereka.


"emm btw Adeva mana? " tanya Zaki tiba-tiba.


Anggara menggeleng sedangkan Zaki mengangguk mengerti.


"jadi? " ucap Anggara.


"gue nemun CCTV di ujung jalan sebelum kejadian itu, " ucap Satria mulai menjelaskan.


"ada mobil yang ciri-ciri nya sama Persis seperti yang di bilang Reina dan gue di rekaman itu kerekam jelas plat nomornya, "


"dan gue yakin kalau ini di rencanain, soalnya dia nunggu di situ sekitar 1 jam an, dan saat Ajeng mulai nyebrang dia ngelakuin mobilnya sangat kencang, " jelas Satria.


mendengar penjelasan itu emosi Anggara memuncak, tangan nya mengepal bahkan sampai buku-buku jari-nya memutih, rahangnya mengeras.


"nih, " tunjuk Satria saat tadi ia memotret plat nomor sang pelaku.


*deg


"ini*... "


"gue tau siapa pelakunya, tapi gue gk yakin kalau ini memang dia, " ucap Anggara menggeram menahan emosi.

__ADS_1


"maksud lo? lo tau siapa orang-nya? " tanya Zaki tidak mengerti.


Anggara mengangguk meyakinkan, Satria yang melihat itu tersenyum seperti-nya ia juga tahu siapa pemilik mobil itu.


"terus kita harus gimana? " tanya Reina yang sedari tadi diam saja.


Anggara menatap lurus kedepan, ia membayangkan rencana yang akan mereka lakukan nantinya untuk menangkap pelaku.


"jangan terburu-buru, kita nikmatin aja dulu dan ikutin alurnya seperti apa, kalau ada yang semakin gencar mendekati Anggara antara lain itu orangnya, " ucap Satria kemudian.


Reina dan Zaki menatap Satria aneh, bukan hanya saja mereka tidak mengerti apa yang di maksud oleh Satria.


"bisa lo jelasin? " tanya Reina.


"singkat-nya, beberapa bulan lalu sebelum Anggara sama Ajeng jadian atau dekat ada dua orang yang bilang suka sama Anggara dan mungkin salah satu dari mereka terobsesi sama Anggara sampai melakukan hal gila ini, " jelas Satria.


"mungkin aja, " ucap Anggara membenarkan ucapan Satria.


"jadi... karna gk Terima Ajeng yang kena? gitu, " ujar Reina memastikan.


Anggara dan Satria mengangguk membenarkan. ya sekarang Reina mengerti mengapa sahabat-nya semenjak dekat dengan dosen idola itu sering di teror ternyata ini alasannya.


begitu juga dengan Zaki yang mengangguk-angguk Anggara kepala tanda mengerti, namun sesaat kemudian ia bertanya kembali.


"emang kapan ada yang nyatain cinta ke Anggara? kok gue gk tau kok cuma lo yang tau? " tanya Zaki kesal.


Anggara dan Satria tidak menjawab pertanyaan dari Zaki, mereka hanya menggedikan bahu. setelah itu Anggara pamit untuk kembali kerumah sakit.


Reina juga kembali untuk pulang baru sore ia akan datang kerumah sakit untuk menjenguk Ajeng dan melihat keadaannya.


Zaki yang hanya di diami pun kesal ia menggerutu terus bahkan Satria hampir saja ingin melempar minum-nya karena Zaki cukup berisik.


"mending lo makan, lo kalau laper kayak cewe berisik, " ujar Satria dan kembali meminum minuman-nya.


"hehe tau aja lo, " ucap Zaki sambil cengengesan.


setelah itu ia memanggil seorang pelatan dan membeli makanan berat yang ada di cafe tersebut.


setelah pelayan mencatat pesanan Zaki yang tidak kira-kira, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Zaki. Zaki menatap sebal kepada Satria yang hanya terfokus kepada handphone-nya saja.


ia seperti sedang bersama patung yang berjalan, karena kesal di diami terus ia tiba-tiba melamunkan hal yang cukup aneh.


"kapan ya gue punya pacar, " celetuk Zaki yang di tatap horor oleh Satria.

__ADS_1


__ADS_2