
Setelah meninggal kan club itu Anggara langsung melajukan mobil-nya meninggalkan wanita itu yang menyandang sebagai kekasih-nya di club itu sendiri. meski masih sore club itu sudah di penuhi orang-orang.
Anggara melajukan mobil-nya dengan kecepatan di atas rata-rata, entahlah kali ini ia hanya ingin sendiri pikiran-nya benar-benar kacau sekarang.
kenapa ia baru mengetahui jika kekasih-nya, Floryn suka bermain dengan laki-laki di batas wajar, ia benar-benar tidak habis pikir. apakah ia salah meninggalkan Ajeng dan memilih Floryn?
pertanyaan dan penyesalan terus berkumpul dalam benak Anggara, ia bingung harus melakukan apa sekarang. apakah ini titik kehancudan-nya? atau baru awal dari segala-nya?
Anggara tidak pulang kerumah melainkan ke apartemen-nya sendiri, ia ingin menenangkan diri dan menyendiri dahulu. saat sudah sampai di kawasan apartemen Anggara memarkirkan mobil-nya di halaman parkir khusus.
lalu keluar dan berjalan menuju unit apartemen-nya. ia berjalan dengan sorot mata yang kosong dan pikiran yang campur aduk.
setelah masuk kedalam unit apartemen-nya Anggara langsung menjatuhkan diri di atas sofa dan memijit pelan pangkal hidung-nya. jika sedang seperti ini Anggara mengingat Ajeng yang tertawa lepas.
tidak sadar ia meneteskan air mata kalau mengingat wajah Ajeng yang dingin ketika melihat bahkan berhadapan dengan-nya.
"apa gue harus balik ke Ajeng? atau pertahanin hubungan gue sama Floryn yang baru menginjak 1 minggu? " tanya Anggara pada diri-nya sendiri.
"tapi gue udah cinta sama Floryn, so ngapain gue nengok kebelakang lagi... lagi pula Floryn sudah bekerja sedangkan Ajeng? dia masih kuliah... gk usah nyesel Gar! " ucap Anggara lagi.
lalu ia bangkit dari duduk-nya dan berjalan menuju kekamar-nya untuk membersihkan diri dan menelepon Floryn untuk ia jemput dan meminta maaf karena ia tinggalkan begitu saja.
setelah membersihkan diri Anggara segera mencari kontak Floryn yang bahkan tidak mencarinya sama sekali dan ia tidak sengaja melihat nama Ajeng tanpa sadar ia membuka rom chat antara ia dan Ajeng.
ia kembali membaca pesan-pesan dari Ajeng yang selalu membuat-nya tersenyum bahkan hingga tertawa. Anggara tersenyum membaca chat mereka hingga pada chat terakhir dari Ajeng.
yang meminta izin kepada-nya untuk pergi bersama kedua sahabat-nya dan itu chat terakhir dari Ajeng sebelum Ajeng memutuskan hubungan mereka.
Anggara tidak mau mengenang masa-masa bersama Ajeng lagi dengan cepat ia beralih ke nomor telpon Floryn dan segera menelepon Floryn menanyakan keberadaan-nya sekarang.
...****************...
Ajeng menatap langit yang mendung seperti mewakili perasaan-nya saat ini. ia terus menatap langit yang gelap seakan-akan langit adalah teman-nya.
__ADS_1
lamunan Ajeng buyar ketika ada yang mengetuk pintu kanar-nya, dengan cepat Ajeng membuka pintu kamar dan melihat siapa yang sudah menggangguk waktu menyendiri-nya.
"di bawah ada yang nyari kamu, " ucap Naya.
Ajeng mengerutkan dahi, ia bingung siapa yang datang perasaan tidak ada dari kedua sahabat-nya yang mengabari akan datang.
"yee... malah bengong udah sana temuin dulu, " ucap Naya lagi karena tidak mendapat respon.
dengan cepat Ajeng mengangguk dan berlari untuk menemui siapa yang datang malam-malam untuk berkunjung tidak lupa sebelum lari ia mengucapkan trima kasih kepada Naya.
saat tiba di ruang tamu betapa terkejutnya Ajeng melihat siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. Ajeng duduk di hadapan orang itu dengan raut bingung dan terkejut.
"ka Satria ngapain ke sini? " tanya Ajeng to the point.
Satria tersenyum mendengar pertanyaan dari Ajeng dan wajah kebingungan Ajeng membuat-nya semakin gemas kepada gadis yang ada di hadapan-nya.
"kok kaka malah bengong sih, kaka belum jawab pertanyaan Ajeng loh! " ucap Ajeng membuyarkan lamunan Satria.
"mau ngajak kamu keluar mau gk? " tanya Satria.
"ya jalan-jalan lah, masa ia saya mau bawa kamu ke dukun gimana sih, " ucap Satria yang di akhiri kekehan.
kekehan Satria yang jarang sekali ia perlihatkan membuat Ajeng terpana sekaligus kagum dengan ketampanan Satria terlebih jika Satria sedang tersenyum dan tertawa rasanya Ajeng pengen lompat aja kejurang.
"serius? kita mau kemana? " tanya Ajeng setelah sadar dari keterkaguman-nya.
"udah siap-siap aja dulu, soal jalan-jalan gampang, " ucap Satria.
"ya udah gih ganti baju saya tunggu 10 menit, " lanjut Satria.
"dih 10 menit, cepet banget sih! " kesal Ajeng.
"itu lama udah sana cepat, " ucap Satria.
__ADS_1
lalu dengan malas Ajeng bergegas untuk bersiap, ia berlari menuju kekamar-nya dan mencari baju yang cocok di cuaca seperti ini.
Satria yang melihat itu hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah Ajeng yang sangat menggemaskan di mata-nya.
"maklumin aja yak nak... sifat Ajeng emang kayak gitu, " ucap mamah Ajeng ketika sudah berada di ruang tamu sambil membawa teh.
"tidak apa-apa tante... saya juga udah sering liat manja-nya Ajeng, " ucap Satria lalu menyeruput teh yang di buatkan oleh mamah Ajeng.
"kamu sahabat-nya Anggara kan? " tanya mamah tiba-tiba.
Satria mengngguk membenarkan, lalu ia kembali meminum teh hangat itu. ia melihat mamah Ajeng yang menghela nafas kasar dan mendenhar lanjutan dari ucapan mamah Ajeng.
"saya mohon sama kamu... jangan sakitin Ajeng karena ini bukan untuk pertama kali-nya dia seperti ini! " ucap mamah memohon.
"bukan sekali? " tanya Satria bingung.
"iya... dulu saat masih bersama Kevin Ajeng juga jadi korban selingkuh dan sekarang saya takut kalau Ajeng trauma dengan hubungan dan tidak mau berhubungan sama siapa pun lagi, _ ucap mamah sendu.
dan sekarang Satria paham mengapa Ajeng sangat tidak menyukai Kevin dan sekarang mungkin Ajeng juga membenci Anggara.
"ya saya usahakan tante untuk tidak menyakiti Ajeng, " ucap Satria.
lalu pembicaraan antara Satria dan juga mamah Ajeng terhenti ketika Ajeng datang, setelah itu Satria meminta izin untuk membawa Ajeng sebentar dan berjanji tidak akan membawa Ajeng sampai larut malam.
setelah mendapatkan izin dan nasihat dari mamah mereka berdua bergegas untuk pergi takut keburu malem, setelah berada di dalam mobil Satria hanya ada keheningan.
"ka kita mau kemana nih? " tanya Ajeng memecah keheningan.
"kamu maunya kemana? " tanya Satria balik sambil melirik Ajeng.
Ajeng menaruh jati telunjuknya di atas dagu dan mengetuk-ngetuk nya seraya berfikir mereka akan kemana dan dari pergerakan Ajeng sejak tadi Satria terus memperhatikan dalam diam dan tersenyum.
"kita ke pasar malam aja ka! kemarin aku lihat ada pasar malam di taman kota! " ucap Ajeng antusias.
__ADS_1
"oke kita kesana... meluncur hahah, " ucap Satria dan di akhiri tawa yang di ikuti oleh Ajeng.