
bagian Anggara lagi guyss
happy reading
ππππππππππ
pagi ini Anggara berniat menjemput Ajeng mumpung ia ada kelas pagi di kelas-nya Ajeng makan dari itu ini juga kesempatan untuk pendekatan-nya dengan Ajeng.
meski kemarin ia di tolak namun ia masih di kasih kesempatan oleh Ajeng untuk membuat Ajeng percaya kepada-nya.
Anggara sudah berada di depan pagar rumah Ajeng ia menunggu Ajeng di luar karna permintaan Ajeng sendiri. tidak lama dari itu seorang gadis membuka pintu gerbang dan berjalan menuju mobil Anggara.
Ajeng masuk kedalam mobil Anggara sebelah kemudi. ia tersenyum dan menyapa Anggara yang juga membalas senyum-nya.
"Pagi pak, " sapa Ajeng setelah duduk nyaman di kursi samping kemudi.
"Pagi sayang, " balas Anggara.
Ajeng melotot mendengar panggilan dari Anggara, Ajeng mencubit lengan Anggara pelan seraya berucap.
"Pak astaghfirullah sadar pak, " ucap Ajeng kepada Anggara yang masih menatap-nya lekat jangan lupakan senyum yang selalu terhias di wajah tampan Anggara.
"jangan panggil saya pak, saya bukan bapak kamu, " ucap Anggara dan mulai melajukan mobil-nya.
Ajeng mendelik mendengar ucapan Anggara ia menyamankan duduk-nya dan mengambil nafas dalam-dalan seakan-akan udara akan habis.
perilaku Ajeng tidak luput dari penglihatan Anggara meski ia fokus menyetir ia menyempatkan diri untuk mencuri pandang kepada Ajeng.
Ajeng membuang nafas-nya dan menatap Anggara tajam lalu ia berucap.
"yang bilang bapak, bapak saya siapa hah?!! " ngegas Ajeng.
"gk ada tapi saya akan jadi bapak dari anak anak kita, " ucap Anggara sambil menaik turunkan alis-nya.
bluss
pipi Ajeng merona setelah mendengar ucapan Anggara ia membuang muka kesamping agar Anggara tidak melihat rona merah yang berada di pipi-nya.
Anggara terkekeh melihat tingkah Ajeng, menurut-nya Ajeng semakin menggemaskan ketika sedang malu terlebih pipi-nya yang merona membuat-nya ingin memakan Ajeng bulat-bukat.
"hehe, gk usah malu gitu sama calon suami, " ujar Anggara semakin menjadi-jadi.
Ajeng melotot dan langsung menampar lengan Anggara sedikit kencang. bukan-nya kesakitan Anggara justru semakin terbahak melihat Ajeng yang wajah-nya sekarang semakin memerah.
"Eh pak, saya turun di sini aja, " ucap Ajeng.
ia meminta Anggara untuk menurunkan-nya di persimpangan menuju kampus, kenapa ia minta di turunkan di sini? sudah jelas Ajeng tidak mau jadi bahan pembicaraan anak-anak kampus.
alis Anggara naik sebalah setelah menepikan mobil-nya, ia bingung kenapa Ajeng minta berhenti disini padahal sedikit lagi sampai kampus.
"kenapa hm? " tanya Anggara.
Ajeng yang tengah membuka stel bet berhenti setelah terbuka dan menatap Anggara ia menghela nafas dan berucap.
__ADS_1
"Pak saya gk mau sampai kampus bareng bapak, kenapa? karena saya gk mau jadi omongan anak kampus, " jelas Ajeng.
Anggara mengangguk dan tersenyum maklum, tanpa sadar Ajeng malah salim kepada Anggara membuat Anggara tersenyum melihat kepergian Ajeng.
setelah itu ia baru melajukan mobil-nya lagi menuju kampus dan melewati Ajeng yang berjalan menuju gerbang kampus.
...****************...
"woy gimana kemarin? " belum sempat Ajeng duduk Adeva sudah melontarkan pertanyaan.
Ajeng menghela nafas ia tidak akan menceritakan tentang kemarin dengan detail kepada dua sahabat-nya itu, ia akan cerita lain kali saja tentang lamaran Anggara yang ia tolak.
Ajeng baru saja ingin berucap namun guru mampel bisnis sudah masuk yang tidak lain dan tidak bukan Anggara.
Ajeng mengurungkan niat-nya untuk bercerita ia kembali menghadap ke depan dan membisikan sesuatu kepada Adeva dan Reina.
"Nanti gue ceritain," bisik Ajeng.
yang di angguki oleh kedua-nya, pelajaran di mulai Anggara mulai menjelaskan dan anak kelas diam mendengarkan tetapi tidak sepenuh-nya mendengarkan.
tring... tring... tring...
"Baik cukup sekian pembelajaran hari ini, saya pamit undur diri, " ujar Anggara dan pergi melenggang meninggalkan kelas.
kelas yang tadi-nya sepi sekarang jadi ramai, Anak-anak berbondong-bondong keluar kelas ada yang pulang dan ada juga yang masih menetap di kelas.
"woy ceritain cepetan!, " desak Reina tidak sabaran.
"Ya udah tungguin kalii!!!, " triak kedua-nya dan menyusul Ajeng yang sudah jalan duluan di depan.
...****************...
"Terus seru gk disana?" tanya Reina sambil memakan nasi goreng.
"Seru lo kan tau gue suka pantai jadi ya pasti seru, " ujar Ajeng.
ia sudah menceritakan tentang jalan-jalan kemarin tapi tidak dengan bagian ia di lamar tiba-tiba yang berujung penolakan.
Reina dan Adeva mengangguk dan kembali memakan makan siang mereka begitu pula dengan Ajeng yang masih asik makan bakso-nya.
ting
handphone Ajeng berbunyi membuat Ajeng memberhentikan aktifitas makan-nya ia membaca pesan dari seseorang.
ah ya, sudah beberapa hari ini Ajeng tidak mendapatkan pesan ancaman lagi, sudah Ajeng duga pasti orang itu hanya main-main tapi Ajeng masih was-was dengan orang misterius itu.
Pak gara dosen nyebelinπ½.
kamu dimana?
^^^ Adinda Ajeng Kusumaningrum^^^
^^^di kantin. ^^^
__ADS_1
Pak gara dosen nyebelinπ½.
pulang saya tunggu di parkiran.
^^^Adinda Ajeng Kusumaningrum^^^
^^^iya pak^^^
^^^(read) ^^^
setelah membalas pesan Ajeng kemabli memakan bakso-nya dan setelah bakso-nya habis ia lanjut memakan batagor-nya.
"eh cowo gue udah jemput gue duluan ya, " ujar Reina dan mengambil tas-nya.
"Hati-hati, " ucap Ajeng dan Adeva serentak.
Reina mengangguk dan berjalan meninggalkan Ajeng dan Adeva setelah itu Adeva melihat kearah jam tangan-nya ia melotot dan menatap Ajeng.
Ajeng yang di tatap seperti itu bingung ia menaikan sebelah alis-nya bertanya 'kenapa? ' Adeva yang tahu itu menjawab.
"gue balik juga ya hehe lupa ada janji samaa nyokap, " ujar Adeva tidak enak.
"oh gk papa gih sana, " ucap Ajeng mengerti.
" oke gue duluan ya sayang, hati-hati di kantin sendiri, "
" lo juga hati-hati, " ujar Ajeng dan di balas dengan acungan jempol dari Adeva.
Ajeng menyelesaikan makan-nya dan berjalan meninggalkan mengikuti kedua sahabat-nya yang sudah pulang duluan.
ia berjalan menuju parkiran kampus dan menuju parkiran khusus dosen, untung kampus sudah sepi jadi ia tidak perlu menjelaskan lagi nanti-nya.
ia menuju mobil Anggara setelah sudah berada di hadapan mobil Anggara, Ajeng masuk dan tersenyum serta meminta maaf kepada Anggara karena lama.
"maaf ya pak lama, " ujar Ajeng tidak enak hati,.
"gk papa, " ucap Anggara maklum dan tersenyum.
Anggara melakukan mobil-nya keluar kempus, suasana hening tidak ada yang membuka percakapan sama sekali hanya terdengar alunan lagu dari radio mobil.
"jangan panggil saya pak kalau lagi di luar sekolah ya, " ucap Anggara memecah keheningan.
"terus saya harus panggil apa? " tanya Ajeng.
"emmm-
ππππππππππ
cie kena gantung.
yok vote dan komen-nya jangan lupa yah
biar aku semakin semangat up-nya
__ADS_1