Bismilah Jodoh

Bismilah Jodoh
senang-nya dalam hati


__ADS_3

pagi ini Ajeng menuruni anak tangga dengan rasa bahagia yang membuncah. kenapa? karena semalem sudah di datengin Anggara lalu di temani Slepcal - akhhh betapa bahagia-nya dia.


"Pagi yah, mah, " sapa Ajeng setelah sampai di meja makan.


FYI Naya sudah berangkat terlebih dahulu, makanya dia gk ada di meja makan.


Ajeng memakan sarapan-nya dengan hati yang berbunga-bunga, mamah yang melihat itu sudah tahu apa yang ada di fikiran anak-nya.


sedangkan ayah melihat bingung kepada anak-nya yang sejak turun tadi ia tersenyum tanpa henti.


"Kamu kenapa deh jeng? " tanya ayah pada akhir-nya.


Ajeng menoleh ia tersenyum melihat kearah ayah-nya, ayah yang melihat itu menjadi ngeri sendiri. tidak mungkin bukan anak-nya gila?


"Ajeng seneng banget hari ini ayah, " ucap Ajeng antusias.


ayah yang mendengar itu menjadi senang, huh ia sudah berfikir negatif saja tentang anak-nya. ia ingin bertanya lagi namun suara bel rumah mengintrupsi membuat-nya mengurungkan.


dan menyuruh mamah untuk membukakan pintu, lagi pula siapa sih yang bertamu pagi-pagi? mengganggu saja.


"kamu seneng kenapa sayang? " tanya ayah lagi.


"ayah kepo atau kepo banget? " goda Ajeng menaik turunkan alis-nya.


"kepo bangettt, " ucap ayah lebay membuat kedua-nya tertawa lebar.


"ehem, udah bercanda-nya. Ajeng kamu berangkat sana udah di tungguin tuh, " ujar mamah menghentikan Ajeng dan ayah yang sedang asik bercanda.


"Oh ya udah kalau gitu Ajeng berangkat ya, mah yah, " pamit Ajeng dan mengalami kedua orang tua-nya tidak lupa mencium pipi kanan kiri mereka.


Ajeng meninggalkan dapur dan keluar rumah, saat sudah sampai di luar ia melihat Anggara yang menunggu-nya sambil bersender di kap mobil-nya.


"pagi pak, " sapa Ajeng dengan senyum yang maaih belum luntur.


"Pagi sayang, " sapa balik Anggara juga membalas senyum Ajeng.


"yuk berangkat, " ajak Ajeng kemudian.


Anggara mengangguk dan membukakan pintu untuk Ajeng masuk, setelah Ajeng masuk anggara menutari setengah mobil dan masuk ke pintu kemudi.


setelah selesai memakai stel bet Anggara melakukan mobil-nya meninggalkan pekarangan rumah Ajeng menuju ke kampus tempat ia mengajar dan juga Ajeng yang menuntut ilmu.


sedangkan dilain tempat dan waktu yang sama, ayah sedang bergosip ria bersama mamah tentang laki-laki yang menjemput Ajeng.


"serius mah? " tanya ayah tidak percaya.


"ih iya mamah serius, kayak-nya mereka ada hubungan deh? "


"mungkin saja, tapi ayah harus hati-hati supaya Ajeng tidak di lukai oleh laki-laki lagi, "


"bener-bener... eh yah sudah hampir jam tujuh ayah gk berangkat? "


"masa... wah iya ya udah ayah berangkat dulu assalamu'alaikum, " pamit ayah terburu-buru.


keasikan menggosip jadi seperti ini deh lupa waktu, mamah menggeleng-gelengkan kepala menatap kepergian suami-nya setelah itu ia membereskan meja makan.

__ADS_1


...****************...


seperti kemarin Ajeng turun di persimpangan, awal-nya Anggara menolak namun dengan bujukan Ajeng akhir-nya ia mau menurunkan Ajeng disana.


"ayok lah pak, saya gk mau ketahuan sama anak-anak, " ucap Ajeng.


"hufttt... ya sudah tapi kamu hati-hati ya, " ujar Anggara sambil mengangguk


Ajeng mengangguk mengerti dan mengalami tangan Anggara, entah sudah keberapa kali ia mengalami tangan Anggara namun-akhhhh sudahlah seperti-nya ini memang harus ia lakukan.


terlebih Anggara calon suami-nya? bentar-bentar kenapa Ajeng jadi berfikir seperti itu? -akhhh sudahlah akhir-nya dari pada pusing Ajeng melangkah-kan kaki memasuki kawasan kampus.


ia langsung menuju kekelas-nya karena sebentar lagi kelas akan di mulai. tepat saat duduk di bangku-nya seorang guru perempuan masuk membuat Reina dan Adeva tidak jadi bertanya.


kelas pun dimulai semua-nya fokus memperhatikan kedepan, entah apa yang membuat Ajeng bersemangat belajar biasanya kan ia paling malas padahal otak-nya pintar.


...****************...


belum pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu namun dari Ajeng, Adeva ataupun Reina tidak ada niatan untuk beranjak dari kursi-nya.


"Ajeng, " panggil Reina setelah memakan habis snack yang ia bawa.


"apa, " jawab Ajeng sambil menoleh kearah samping.


"Lo tadi berangkat sama pak Anggara ya? " tanya Adeva, mata-nya memicing menatap curiga ke Ajeng.


"iya emang kenapa? " ucap Ajeng to the poin.


Adeva dan Reina terkejut apakah mereka berdua udah taken? tapikan mereka berdua tahu kalau Ajeng sangat tidak menyukai Anggara.


Ajeng mengangguk membenar-kan, Reina menggegelng tidak percaya sahabat-nya tidak menceritakan apapun kepada mereka? sungguh sahabat durhaka kau Ajeng-eh.


"kapan lo jadian? " tanya Adeva tidak sabaran.


Ajeng melitot mendengar pertanyaan konyol yang di lontarkan Adeva, sudah pasti ini akan terjadi. huftt Ajeng harus menjelaskan-nya.


seperti-nya ia harus menceritakan kebenaran-nya, ia mengambil nafa dan berucap.


"gue mau ceritain yang sebenernya, " ucap Ajeng.


Reina dan Adeva mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dan menyamankan posisi agar nyaman saat mendengarkan cerita Ajeng.


"tapi dengerin jangan ada yang nyela, " lanjut Ajeng dan kembali dapat anggukan dari kedua sahabat-nya.


"jadi gini-


flashback on


Anggara menghela nafas dan mengeluarkan kotak beludru itu dania buka, membuat Ajeng mengalihkan pandangan-nya dari senja kearah Anggara dengan wajah terkejut dan bingung.


Ajeng ingin mengucapkan sesuatu namun Anggara sudah terlebih dahulu berbicara membuat Ajeng kembali diam mengurungkan niat untuk bertanya.


"Sudah lama saya terus memperhatikan kamu... saat pertama kali saya lihat kamu jantung saya tiba-tiba berdetak lebih cepat dua kali... bukan sakit jantung! saya sudah periksa namun tidak ada tanda-tanda saya sakit jantung... dan saya selalu terus memperhatikan kamu yang berbeda dari yang lain. saat saya melihat kamu bertengkar dengan Kevin membuat saya sakit, dan sekarang saya sadar kalau saya sudah jatuh hati sama kamu, " jeda Anggara.


Ajeng yang mendengarkan ucapan Anggara menganga tidak percaya, ia tidak mau berharap lebih takut-takut ini hanya prank dan ia hanya bahan percobaan.

__ADS_1


Anggara terus memperhatikan Ajeng begitu pula dengan Ajeng ia menatap lekat manik mamata Anggara ia mencari kebohongan disana namun tidak ada hanya ada ketulusan.


setelah lama diam Anggara ingin berucap lagi namun Ajeng sudah terlebih dahulu menyela ucapan Anggara dan menatap Anggara tidak percaya.


"Saya tau bapak bohong! so tidak usah di lanjutkan pak, " ujar Ajeng


"oh dan ya, kalau mau gladiresik jangan ke saya ya pak? jangan buat saya berharap!, " lanjut Ajeng.


Ajeng membuang muka dan kembali menatap kelaut mata-nya mulai berkaca-kaca ia takut untuk menaruh hati lagi apalagi orang yang akan ia taruh hati-nya sahabat dari mantan kekasih-nya.


Anggara menggenggam tangan Ajeng membuat pertahanan Ajeng runtuh seketika, ia menangis sejadi jadi-nya.


Anggara membiarkan Ajeng menangis sampai gadis itu puas dan baru ia menjelaskan semua tujuan awal-nya meskipun mungkin akan sulit di percaya oleh Ajeng.


setelah Ajeng sudah lebih tenang Anggara kembali angkat bicara dan masih terus menenangkan Ajeng yang masih sesegukan.


"saya tau mungkin kamu tidak akan bisa percaya dengan saya, terlebih saya sahabat dari mantan kekasih kamu... namun dari lubuk hati saya yang paling terdalam saya benar-benar mencintaimu saya tulus denganmu, saya tidak perduli dengan masa lalu kamu yang jelas masa depan kamu sekarang adalah saya, " jeda Anggara untuk mengambil nafas dan kembali berujar.


"saya janji saya tidak akan menghianati kamu, saya akan buktikan kalau saya berbeda dari 'dia' saya pastikan itu Ajeng, " ujar Anggara panjang lebar.


Ajeng menatap Anggara dengan mata yang berkaca-kaca ia menarik nafas dan berujar kepada Anggara.


"saya takut pak... saya takut untuk jatuh cinta dan saya takut kehilangan lagi, " lirih Ajeng.


Anggara menggeleng keras ia sudah berjanji kepada diri-nya sendiri bahwa ia akan membahagiakan Ajeng meskipun mungkin sekarang hati Ajeng bukan untuk-nya.


"Ajeng dengarkan saya! saya berbeda dengan 'dia' jadi saya pastikan itu semua tidak akan terjadi jangan takut kita jalani ini bersama sama ya? " ujar Anggara.


"So Will you marry me? " lamar Anggara sambil menyodorkan cincin yang ada di kotak beludru itu.


Ajeng diam ia terus menatap cincin itu dan Anggara bergantian ia ragu terlebih mereka tidak dekat sama sekali.


Ajeng menggeleng pelan dan menatap manik hitam Anggara yang terlihat kecewa namun ia tetap tersenyum dan balas menatap Ajeng.


"maaf pak... sebaik-nya kita pendekatan dulu... jujur saya masih trauma tentang menjalin hubungan so-


" ya saya paham, so jangan menjauh ya setelah ini saya akan buktikan kalau saya bisa buat kamu bahagia, "ujar Anggara sedikit kecewa namun tetap tersenyum manis menatap Ajeng dan di balas senyum juga oleh Ajeng.


akhir-nya mereka memilih menikmati momen matahari tenggelam dan melupakan lamaran Anggara yang di tolak kenyatannya pemandangan ini sangat langka bisa di bilang langka karena bersama orang yang sepesial


flashback off


"Jadi gitu cerita-nya, " ucap Ajeng mengakhiri cerita-nya.


Adeva dan Reina menatap Ajeng tidak percaya ada rasa kesal dan juga bahagia yang membuat mereka kesal karena Ajeng tidak memberi tahu yang sebenarnya.


"jadi lo-


💕💕💕💕💕💕💕💕


hola guyss kembali lagi sama aku, maaf yah upnya rada lama hehe.


jangan lupa tabok tombol vote like dan comen-nya ya


see you next time

__ADS_1


__ADS_2