
"jadi lo beneran nolak dia? " tanya Adeva kepo.
Ajeng menggeleng lemah ia menunduk mengambil nafas dan menatap kedua sahabat-nya.
"gue gk sepenug-nya nolak dia, lo berdua kan tahu kalau gue punya trauma soal hubungan... jadi gue kasih dia kesempatan buat bikin gue percaya sama dia, " ucap Ajeng menjelaskan.
Reina dan Adeva mengerti karena mereka berdua tahu jika Ajeng memiliki trauma sama soal hubungan.
"oh gitu... kita cuma bisa dulu lo aja keputusan ada di tangan lo... semoga aja ini yang terbaik buat lo, " ujar Reina bijak dan di angguki Adeva.
Ajeng tersenyum senang memiliki sahabt yang pengertian kepada-nya makan dari itu ia sangat menyayangi kedua sahabat-nya meski terkadang otak-nya tertinggal di rumah.
ia tetap sangat menyanyi mereka berdua sampai kapan pun, saat sedang melamun Adeva menyenggol lengan Ajeng dan mengisyaratkan untuk melihat kearah pintu masuk.
Ajeng yang belum konek bertanya, kepada Adeva lewat alis yang berkerut. sedangkan Adeva jadi kesla sendiri karena Ajeng tidak peka-peka.
"liat ke pintu, calon imam dan jemput noh, " ucap Reina akhir-nya karena jengah melihat kedua-nya beradu mata.
Ajeng melotot mendengar ucapan Reina bisa-bisa-nya ia berteriak seperti itu. Ajeng menoleh melihat kearah pintu dan benar saja Anggara sedang berjalan kearah-nya.
Ajeng jadi salah tingkah di tatap seperti itu oleh calon imam? apa tadi yang di bilang Reina calon imam? omg seperti-nya Ajeng harus melakukan kedua mulut sahabat-nya itu.
Ajeng tersenyum kikuk menatap Anggara terlebih kedua sahabat-nya gencar menggoda-nya dengan menaik turunkan alis mereka.
"sudah selesaikan? " tanya Anggara ketika sudah di hadapan Ajeng.
Ajeng mwngangguk begitu pula dengan kedua sahabat-nya yang di perhatikan oleh Anggara secara bergantian.
"kalau sudah saya pinjem Ajeng-nya yah? " ucap Anggara menatao Reina dan Adeva bergantian.
"iya Pak silahkan bawa aja, " ucap Adeva tersenyym jahil.
Ajeng melotot pipi-nya semakin merah dibuat-nya ia menatap Anggara malu sedangkan Anggara menatao Ajeng dengan senyum yang biasa ia perlihatkan kepada Ajeng.
Anggara meraih tangan Ajeng setelah mendapat balasan ia pamit kepada kedua sahabat Ajeng dan berjalan meninggalkan kelas dengan siulan siulan dari kedua sahabat Ajeng.
__ADS_1
belum sempat Ajeng dan Anggara keluar kelas Reina dan Adeva teriak bersamaan membuat Ajeng semakin malu di buat-nya.
"PAK PULANG-NYA JANGAN MALEM-MALEM DAN JANGAN UNBOXING SEKARANG NANTI AJA KALAU UDAH HALAL, " teriak Adeva dan Reina.
untung saja kampus sudah sepi jadi Ajeng tidak akan menahan malu... malu banget malah sedangkan Anggara terkekeh melihat tingkah Ajeng yang menggemaskan terlebih saat malu dan salting seperti ini.
seperti-nya melihat Ajeng salting dan malu akan menjadi kebiasaan dan hobi baru-nya seperti-nya.
Anggara membawa Ajeng menuju parkiran dimana tempat mobil-nya terparkir.
FYI kenapa Anggara berani masuk kelas saat ada sahabat Ajeng karena tadi ia sempat menguping saat Ajeng bercerita tentang lamaran-nya yang di tolak.
alhasil ia tidak perlu menutup-nutupi lagi dan apa lagi tadi Reina yang berbicara tentang jika ia calon imam Ajeng membuat-nya semakin percaya diri karena sudah dapet setuju dari sahabat Ajeng.
setelah kedua-nya masuk kedalam mobil, Anggara melakukan mobil-nya dan meninggalkan kampus. sebenarnya dari awal firasat-nya sudah tidak enak karena dari tadi ada yang memperhatikan mereka.
itu yang membuat Anggara sedikit was-was, saat tidak sengaja mendengar perbincangan antar orang yang mengikuti Anggara mengenal suara itu.
tapi ia tetap diam apa yang di rencanakan-nya ia tidak perduli yang terpenting Ajeng bahagia bersama-nya.
"Mas kita mau kemana sih sebener-nya? " tanya Ajeng yang sudah mulai jengah.
"ke KUA, " jawab Anggara asal.
membuat Ajeng salting dan lagi-lagi pipi-nya merona Anggara yang melihat itu terkekeh geli ternyata gampang juga membuat Ajeng salting pikir-nya.
akhir-nya Ajeng memilih diam dari pada ia semakin di goda dan membuat pipi-nya semakin panas saja, ia melihat ke arah jalanan tidak lama dari itu mobil menepi dan memasuki kawasan parkiran.
Ajeng melihat sekitar dari dalam mobil, ternyata ia di ajak ke ragunan oleh Anggara, pantas saja lama di perjalanan toh jauh dari kampus pikir Ajeng.
Anggara turun terlebih dahulu dan seperti biasa ia membuka pintu mobil sebalah kemudi dan mempersilahkan Ajeng keluar.
ia menggenggam tangan Ajeng dan berjalan menuju loket untuk membeli tiket. setelah mendapatkan tiket mereka berdua masuk dan mengelilingi ragunan.
Ajeng menarik tangan Anggara kesana kemari. ia sudah sangat lama tidak kemari maka-nya ia sangat senang ketika di ajak kesini.
__ADS_1
apa lagi sebentar lagi ia akan skripsi pasti akan semakin banyak tugas yang akan di berikan oleh guru, ya Ajeng sekarang sudah di semester terakhir di perkuliahan-nya.
sangat cepet menurut-nya ia pasti akan merindukan kelas yang berisik meski dari itu Ajeng senang bisa kuliah di sana.
setelah mengelilingi ragunan cukup lama akhirnya Ajeng merasa lelah juga dengan sigap Anggara membelikan minuman untuk Ajeng dan diri-nya.
ia menyuruh Ajeng menunggu sebentar Ajeng mengangguk dan kembali melihat ke sekeliling yang masih ramai oleh orang-orang dan juga banyak anak kecil.
Anggara menempelkan minuman dingin kepipi Ajeng membuat Ajeng menggigil sebentar di bagian pipi.
ia menerima uluran minum itu tidak lupa berterima kasih oleh Anggara dan meminum minuman-nya.
setelah menghaniskan separuh minuman-nya ia menatap Anggara yang masih minum dan berucap.
"mas makan yuk aku laper, " ucap Ajeng.
"laper? ya udah yuk, " jawab Anggara.
mereka berdua keluar dari ragunan menuju parkiran untuk mencari tempat makan terdekat karena perut mereka yang sudah berbunyi sejak tadi tidak tepat-nya perut Ajeng.
setelah mendapatkan rumah makan terdekat mereka berdua turun dan mencari meja, setalah itu mereka memesan makanan.
Ajeng memesan makanan cukup banyak membuat Anggara menggeleng-geleng apakah habis makanan segitu banyak-nya? pikir-nya.
"kamu yakin makan segitu banyak? " tanya Anggara pada akhirnya.
"iya mas aku laper bangettt, " ucap Ajeng dan mulai memakan makanan-nya.
mereka makan dalam diam Ajeng yang asik dengan makanan-nya sedangkan Anggara masih terus memperhatikan Ajeng sambil makan. sampai tiba-tiba
"makasih ya mas, " celetuk Ajeng.
"untuk? " tanya Anggara bingung.
"untuk semuanya, " ucap Ajeng sambil tersenyum manis.
__ADS_1
mereka sama sama tersenyum, Anggara mengangguk dan menyuruh Ajeng makan lagi dan hari ini di mana ia membuat Ajeng kembali bahagia lagi.