Bismilah Jodoh

Bismilah Jodoh
Kecelakaan dan kepergian


__ADS_3

setelah mengantar Ajeng seperti biasa Anggara melakukan aktivasi-nya sebagai dosen dan nanti malam ia tidak akan menjemput Ajeng karena ia akan mengambil sesuatu untuk surprise Ajeng.


Anggara sejak tadi memang tidak mengangkat panggilan Ajeng, ia sengaja membuat Ajeng khawatir dahulu baru ia berikan suprise.


setelah mengambil barang-nya Anggara kembali ke mobil dan menancapkan gas menuju rumah Ajeng. tak henti-henti nya Anggara tersenyum selama perjalanan menuju rumah Ajeng.


ia terus memperhatikan barang yang berada di kotak itu dengan rasa yang bahagia dan membayangkan wajah terkejut serta bahagia dari Ajeng.


"aku akan tepati janji aku Ajeng! " ucap Anggara mantap pada diri-nya sendiri.


"tunggu aku di rumah Ajeng! " gumam-nya lagi.


ia terus memperhatikan benda itu, karena sedang di lampu merah ia jadi leluasa melihat kearah benda yang berada di genggaman-nya sejak tadi.


setelah lampu merah berubah menjadi hijau, Anggara kembali melakukan mobil-nya dengan kecepatan sedang. karena ia terus memperhatikan benda yang berada di genggaman-nya.


tanpa ia sadari ada sebuah mobil yang melaju berlawanan arah dengan kecepatan di atas rata-rata. banyak orang yang meneriaki mobil Anggara namun karena tidak mendengar dan akhirnya.


brak


kecelakaan tidak dapat di elakkan, banyak warga yang mengerumuni mobil Anggara dan menghentikan mobil yang sudah menabrak Anggara yang hendak melakukan mobil-nya lagi.


...****************...


"astaghfirullah... perasaan apa ini? kenapa sampai sekarang Anggara belum juga menghubungi? " tanya Ajeng kepada dari-nya sendiri.


ia terus mondar-mandir di dalam kamar-nya sambil memegang handphone-nya berharap Anggara segera menghubungi-nya agar perasaan aneh ini cepat hilang.


"pliss angkat! " ucap Ajeng.


ia masih terus mondar-mandir di dalam kamar dan terus menghubungi nomor handphone Anggara yang tidak aktif. karena lelah mondar-mandir Ajeng duduk di atas kasur dengan perasaan campur aduk.


ia benar-benar khawatir sejak tadi Anggara tidak dapat di hubungi, Ajeng terus berdoa anggar Anggara baik-baik saja. saat ingin menelepon Anggara kembali.


handphone Ajeng sudah berbunyi terlebih dahulu. ia pikir Anggara yang menelepon ternyata dugan-nya salah melainkan sang calon mertua bunda Anggara.


dengan perasaan yang khawatir dan bercampur aduk dengan penasaran Ajeng dengan cepat mengangkat telpon itu tanpa ragu.


"haloh? "

__ADS_1


tidak ada jawaban hanya terdengar suara tangisan ibunda Anggara dari sebrang sana. ketika mendengar itu Ajeng benar-benar tidak berfikir jernih lagi ia kain jika Anggara kenapa-kenapa.


"bunda ada apa? " tanya Ajeng yang mulai ikut terisak.


"Anggara...


"Anggara kenapa bunda?! " tanya Ajeng mendesak.


"Anggara kecelakaan... kamu cepat datang kerumah sakit! " ucap bunda Anggara.


bagai di sambar petir di siang bolong. Ajeng benar-benar terkejut atas perkataan sang mertua handphone yang ia genggam jatuh ke lantai, tatapan-nya berubah menjadi kosong.


lalu dengan cepat Ajeng bangkit dan bersiap tidak lupa memberi tahu kepada kedua orang tua-nya. Ajeng dan keluarga menuju rumah sakit yang sudah di beri tahu dengan rasa khawatir.


terlebih Ajeng yang sejak tadi terus menangis, saat mereka sampai di rumah sakit mereka langsung menuju tempat Anggara di tangani.


ketika sudah sampai di depan keluarga Anggara. Ajeng dengan cepat berlari menuju bunda Anggara dan langsung memeluk-nya, bunda Anggara membalas pelukan Ajeng yang masih terus menangis.


"bun... gimana keadaan Anggara? hiks" tanya Ajeng sambil tersedat-sedat karena menangis.


"bunda juga belum tahu... kita tunggu yah sampai dokter keluar! " ucap bunda Anggara memberi pengertian.


mereka semua menunggu kabar dari dokter yang sejak tadi belum juga keluar... Ajeng masih terus menangis dan juga berdoa untuk keselamatan sang kekasih.


tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan tampaklah seorang dokter. wajah-nya terlihat lesu semoga saja tidak terjadi apa-apa.


"gimana dok? Anggara baik-baik aja kan? dok jawab?! " ucap Ajeng sambil terus menangis.


"tenang dulu ya nak... kita dengar penjelasan dokter dulu! " kali ini ayah Ajeng ikut angkat bicara.


dokter itu terlihat menghela nafas panjang, lalu menggeleng dan kedua keluarga itu menjerit dan menangis tidak percaya apa lagi Ajeng yang benar-benar sudah tidak berdaya.


"maaf... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun... Tuhan lebih sayang kepada almarhum Anggara, " ucap dokter itu.


"GK... ENGGAK MUNGKIN KAN? ANGGARA UDAH JANJI GK BAKAL NINGGALIN AKU LAGI, HIKS EN-ENGAK HIKS! " teriak Ajeng tidak percaya.


semuanya hanya diam, menangis mendengar kepergian Anggara yang benar-benar tidak terduga, Ajeng sebagai kekasih-nya benar-benar merasa kehilangan apalagi kedua orang tua Anggara.


kedua orang tua Ajeng hanya bisa menenangkan sang putri dan memberikan pengertian kepada Ajeng agar mengikhlaskan Anggara, karena ia sudah tenang di sana.

__ADS_1


setelah itu jenazah Anggara di bawa keluar dari ruang rawat, Ajang yang melihat jenazah Anggara di bawa keluar kembali menangis histeris.


setelah itu jenazah Anggara di bawa pulang ke kediaman Anggara. sebelum itu seorang suster membawakan barang-barang Anggara. Ajeng yang melihat sebuah kota yang berisi cincin hanya bisa menangis.


ia memeluk erat kotak itu dan mengikuti langkah kedua orang tua-nya yang membawa-nya kedalam mobil untuk menuju ke kediaman Anggara.


setelah sampai jenazah Anggara segera di mandikan dan di ngaji kan sambil menunggu liang lahat selesai di gali. kedua sahabat Anggara datang mereka sangat terkejut kalau mengetahui sahabat-nya telah berpulang.


ajeng duduk di samping jenazah Anggara yang sudah di kadang ia masih menangis meski sudah tidak terlalu histeris seperti saat mendengar kepergian Anggara.


"kamu bohong... kamu bilang gk akan ninggalin aku lagi? tapi apa kamu ninggalin aku untuk selamanya! " ucap ajeng di hadapan jenazah Anggara.


"yang sabar ya jeng... gue juga kehilangan kaka satu-satunya gue! " ucap Kayla.


"lo harus ikhlas biar almarhum bahagia di sana, " lanjut Kayla sambil memeluk Ajeng.


ajneg tidak menjawab ia hanya terus memperhatikan wajah Anggara yang sudah memucat, sungguh ia tidak akan menyangka jika Anggara akan pergi secepat ini.


"ayok angkat jenazah-nya... sebelum hujan harus sudah di kubur! " ucap ayah Anggara lirih.


dan setelah itu jenazah di angkat oleh ayah Anggara dan juga Ajeng, serta kedua sahabat Anggara. mereka membawa jenazah ke ambulans.


di dalam ambulans ada Ajeng, Kayla dan kedua sahabat Anggara yang menemani sedangkan yang lain memikirkan mobil pribadi. Kayla terus menenangkan Ajeng yang masih menangis.


setelah sampai di pemakaman jenazah di keluarkan dari ambulans dan di bawa ketempat liang lahat yang sudah di gali. Ajeng mengikuti kranda dari belakang smabil memegang foto Anggara.


setelah sampai di tempat liang lahat, Anggara segera di kebumikan, setelah benar-benar teruruk, mereka mengajukan di samping kanan-kiri makam.


lagi dan lagi Ajeng kembali menangis melihat Anggara yang sudah terkubur di bawah tanah, setelah di ngaji kan satu persatu orang meninggalkan pemakaman.


"kamu bahagia yah di sana... maaf aku gk bisa menemani kamu terus, aku mencintaimu Anggara! " ucap Ajeng sambil mencium baru nisan Anggara.


setelah itu kedua orang tua Ajeng mengajak Ajeng untuk pulang karena hari akan hujan Ajeng pergi dengan berlinang air mata bukan ia tidak ikhlas hanya saja kenapa harus secepat ini?


dan mereka pulang meninggalkan kedua sahabat Anggara yang masih berada di pemakaman dan terus memperhatikan malam Anggara yang masih basah.


"semoga lo bahagia bro! " ucap Zaki sambil menghapus air mata-nya.


"kita bakal ketemu lagi di sana Gar... tunggu kita, " ucap Satria menimpali.

__ADS_1


lalu setelah itu mereka meninggalkan pemakaman tepat setelah kedua sahabat Anggara pergi, hujan turun dengan deras mewakili setiap hari yang sedih karena di tinggal oleh orang yang teramat mereka sayangi.


__ADS_2