Bismilah Jodoh

Bismilah Jodoh
Menghadeh


__ADS_3

matahari mulai menghilang dan di gantikan dengan cahaya bulan dan bintang yang menerangi gelap malah, tiga orang gadi di dalan sebuah kamar sedang asik menonton drakor.


Adeva, Ajeng dan Reina mereka sekarang berada di kamar Ajeng niat Reina dan Adeva untuk menjengug Ajeng eh malah kebablasan mengajak Ajeng menonton drakor.


"Udah jam sepuluh, gue dah ngantuk tapi kalau kalian mau lanjut ya udah," ujar Ajeng berjalan dengan sangat pelan ke kasur-nya.


"Oh ya lo berdua nanti tidur di kasur lantai aja ya," ujar Ajeng lagi setelah duduk di pinggir kasur.


Reina dan Adeva mengangguk dan mengangkat jari jempol mereka tetapi mereka masih melanjutkan menonton drakor yang sempat tertunda karena ucapan Ajeng.


Ting


handphone Ajeng berbunyi sekali menandakan pesan masuk, namun karena Ajeng sudah tidur jadi Reina dan Adeva yang sudah penasaran mau tidak mau membuka handphone Ajeng dan berbisik.


"Maaf ya Jeng, gue buka abis gue penasaran siapa yang chat lo malem-malem" ujar Adeva pelan.


Adeva membuka aplikasi hijau dan terkejut saat siapa yang memberikan pesan kepada Ajeng dan bukan hanya itu mereka berdua lebih terkejut dengan pesan oleh nomor yang tidak di kenal.


Reina yang penasaran membuka chat mereka dan betapa kaget-nya mereka melihat ancaman dari orang itu, ancaman terakhir berisi foto yang isi-nya kertas nama Ajeng yang berlumuri oleh darah.


hampir saja Adeva berteriak namun dengan cepat Reina menutup mulut Adeva memberi tahu jika Ajeng sedang tidur.


"Ini siapa njir?" tanya Adeva ketika bekapan pada mulut-nya terlepas.


"Ya mana gue tau, mending sekarang kita rahasian ini kalau kita tau tentang ancaman ini dan Dev lo kan lumayan jago buat ngestalk orang, coba deh lo cari nomor ini," ujar Reina setenang mungkin.


"Oke-oke tapi... kenapa Ajeng gk ngomong ke kita?" tanya Adeva bingung.


"Mungkin dia belum mau kasih tau," ujar Reina mencoba menghilangkan rasa penasaran-nya.


mereka terdiam cukup lama memikirkan kenapa Ajeng diam tentang ini dan siapa.yang mengirim pesan ancaman itu? entahlah yang jelas dia bukan orang baik baik pikir mereka berdua.


"BTW, Ajeng punya hubungan apa sama pak Anggara?" tanya Adeva kepada Reina.


"Gk mungkin mereka ada hubungan lebih apa lagi Ajeng gang benci banget sama entu dosen, gk.mungkin kalau mereka punya hubungan lebih," ujar Reina santai sambil makan cemilan-nya lagi.


tak


Adeva menjitak kepala Reina membuat si empu mengaduh kesakitan, melihat Reina kesakitan Adeva tertawa tapi langsung di bekap kembali oleh Reina takut membangun kan Ajeng.


"Hehe, lagian ya Re cinta sama benci itu beda tipis gk ada yang bisa bedain yang mana cinta yang mana benci," ujar Adeva bijak.


"Tumben bijak, udahlah mending tidur soal peneror itu besok aja, kita bantu Ajeng ngungkap siapa peneror itu tapi secara diam-diam sampai Ajeng sendiri yang minta bantuan dan cerita," ujar Reina dan beranjak menurunkan kasur lantai yang ada di atas lemari Ajeng.


"Bantuin njir jangan liatin doang," ujar Reina ketus.

__ADS_1


sedangkan Adeva cengengesan tidak jelas dan bangkit untuk membantu Reina, setelah kasur tergelar mereka berdua tidur dengan pulas sampai Adeva memeluk Reina pun ia tidak menyadari-nya.


...****************...


Matahari sudah mulai memperlihatkan diri-nya, ia menyinari dunia dengan sinar yang menghangatkan, hari kembali di mulai di mana orang-orang sibuk dengan aktifitas di kantor dan remaja yang mengapel dengan kekasih-nya meski masih pagi dan juga para mahasiswa yang kembali menuntut ilmu.


keadaan kamar Ajeng sekarang sudah seperti kapal pecah, Ajeng yang melihat itu hanya mengurut pangkal hidung-nya ia pusing melihat kelakuan sahabat-nya.


"Gue gk mau tau ya, lo berdua harus beresin emang-nya lo berdua gk ke kampus apa?" tanya Ajeng murka.


sedangkan kedua sahabat-nya menatap Ajeng dengan perasaan tidak bersalah setelah membuat kamar Ajeng menjadi kapal pecah.


"Hehe... iya ini di beresin, kelas siang sekarang jeng," ujar Adeva sambil cengengesan.


"Ho'oh, dapet kelas siang sekarang," timpal Reina yang masih saja memakan cemilan.


"Oh," ujar Ajeng malas.


ini sudah pukul 08.30 tapi sahabat-nya enggan ada yang mau mandi, Ajeng menghela nafas melihat kelakuan sahabat-nya itu.


Ting


bunyi handphone Ajeng yang menandakan ada pesan masuk, Ajeng mengambil handphone-nya yang berada di atas nakas, saat membuka pesan itu ia terkejut kenapa orang itu semakin menjadi mengirimkan pesan yang sudah tidak masuk akal namun Ajeng tetap diam dan beralih dari pesan itu ke pesan lain.


satu pesan yang membuat-nya penasaran 3 pesan dari dosen-nya, ia tidak pikir panjang dan membuka papan pesan mereka dan membalas kalau ia sudah baik-baik saja dan bertrima kasih karena sudah membantu membawa-nya ke rumah sakit.


...****************...


Tok...tok...tok.


"Masuk pintu-nya gk di kunci," ujar Ajeng menyuruh orang yang sudah mengetuk pintu untuk masuk.


seseorang membuka pintu dan ternyata itu lucy mamah Ajeng, ia menghampiri Ajeng dan mengelus pucuk kepala Ajeng dengan sayang.


"Ada apa mah?" tanya Ajeng sambil menatap Lucy.


"Di bawah udah ada yang nungguin kamu sayang, samperin gih," ujar Lucy lembut sambil tersenyum hangat.


Ajeng membalas senyum mamah-nya dan mengangguk, ia turun ke lantai satu di bantu oleh Lucy, karena kaki yang keseleo belum sembuh alhasil ia harus di papah.


dan betapa terkejut-nya ia saat melihat siapa yang menunggu-nya, laki-laki iyu sedang duduk di sofa sambil memperhatikan Ajeng yang terkejut.


"Kalau gitu mamah tinggal ya sayang," ujar Lucy ketika Ajeng sudah ada di hadapan Anggara.


Ajeng duduk di sebrang Anggara duduk ia masih terkejut serta heran mengapa dosen-nya ada di sini dan kenapa ia tidak mengajar? entah lebih baik ia bertanya pikir Ajeng.

__ADS_1


"Bapak ngapain di sini?" tanya Ajeng to the point.


"Mau lihat keadaan kamu," ujar Anggara santai.


"Emang bapak gk ada jadwal ngajar?" tanya Ajeng lagi.


"Saya izin hari ini," ujar Anggara sambil meminum teh yang di buatkan oleh lucy.


Ajeng memicingkan mata-nya menatap curiga kepada dosen-nya, sebelum Ajeng mengeluarkan kata-kata sudah di sela terlebih dahulu oleh Anggara.


"Saya tidak ada maksud apa-apa, saya cuma mau lihat keadaan kamu," ujar Anggara menjelaskan.


"Ohh... saya udah baik-baik aja kok, cuma tinggal nunggu kaki gk terlalu nyeri lagi saya masuk kuliah kok," ujar Ajeng.


terjadi keheningan di antara mereka, sekarang suasana menjadi canggung, Ajeng memperhatikan sekitar ruang tamu untung menghilangkan rasa canggung-nya, lama terdiam Anggara mengucapkan sesuatu.


"Minggu kamu ada jadwal?" tanya Anggara agak sedikit gugup.


"Gk ada sih pak, emang kenapa?" tanya Ajeng.


"Kalau gk ada, boleh saya ajak kamu pergi?" Anggara balik bertanya.


"Boleh aja sih pak, tapi saya izin dulu sama orang tua saya," ujar Ajeng tersenyum kikuk.


"Saya sudah bilang dan di bolehkan," ujar Anggara tersenyum manis.


*deg


"Astagfirullah manis bat dah senyum-nya," batin Ajeng*


"Oh ya udah kalau gitu boleh," ujar Ajeng kikuk.


"ya sudah hari minggu saya jemput. kamu cepat sembuh saya pamit pulang... oh ya salamin buat mamah kamu kalau saya pulang," ujar Anggara sambil bangkit dari duduk-nya.


"Hadeh iya pak saya salamin, maaf saya gk bisa antar bapak kedepan," ujar Ajeng tidak enak.


Anggara tersenyum dan mengangguk setelah itu ia meninggalkan ruang tamu dan terdengar suara druman mobil, sedangkan Ajeng memegang dada-nya jantung-nya berdetak lebih cepat, ia tersenyum membayangkan senyum Anggara yang cukup manis.


Ajeng menggelengkan kepala-nya dan berjalan untuk kembali ke kamar-nya dengan sangat pelan dan hati hati.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Holaa aku up lagi.


jangan lupa vote-nya.

__ADS_1


sama komen-nya ya.


typo bertebaran.


__ADS_2