Bismilah Jodoh

Bismilah Jodoh
Koma?


__ADS_3

"Pasien... sudah melewati masa kritisnya jadi sekarang tinggal pemulihan dan menunggu pasien sadar, " jelas dokter yang menangani Ajeng.


kedua belah pihak keluarga berucap syukur begitu pula dengan kedua sahabat Ajeng. Anggara tersenyum bahagia dan lebih tenang karena mendapatkan kabar ini.


mereka semua mengucap banyak Terima kasih kepada dokter yang menangani Ajeng, dokter menyarankan untuk menjenguk pasien setelah Ajeng di pindahkan ke ruang rawat inap.


setelah Ajeng di pindahkan ke ruang rawat inap, yang pertama masuk kedalam kedua orang tua Ajeng dan setelah itu keluarga Anggara baru kedua sahabat Ajeng dan juga Anggara.


melihat Anggara masuk mamah menatap sambil tersenyum dan berucap.


"Nak kamu bisa jaga Ajeng sebentar kan? kami mau ke kantin dulu, " tanya mamah.


Anggara tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, setelah mendapat jawaban dari Anggara kedua orang tua Ajeng dan Anggara pamit untuk makan malam.


setelah kepergian kedua suami-istri itu Anggara tidak langsung mendekat kearah Ajeng karena sudah ada kedua sahabat Ajeng yang menghampiri.


Anggara memilih untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang rawat Ajeng sambil terus menatap wajah pucat Ajeng dan kepala yang di perban.


"siapa yang berani-beraninga nyakitin kamu sayang, ini bukan di sengaja kalau di sengaja kenapa dia harus lari? atau jangan-jangan memang dia pelakuny? " batin Anggara berucap.


Reina dan Adeva masih menangia melihat keadaan sahabat-nya yang tidak berdaya, mereka tersenyum dan selalu mengatakan 'maaf' dalam hati mereka.


Reina menjauh dari brankar Ajeng dan mendekat kearah Anggara, ia menatap Anggara yang tengah termenung sambil terus menatap lurus kearah tempat Ajeng berbaring.


Reina duduk di sebelah Anggara namun berjarak cukup jauh, sekitar 1,5 meter. ia menghela nafa dan menatap Ajeng dan Adeva bergantian ia tidak terima jika sahabat-nya harus seperti ini.


"kita harus cari tahu siapa yang nabrak Ajeng, " celetuk Reina tiba-tiba.


Anggara menoleg menatap Reina sebentar dan kembali menatap Ajeng. itu juga tujuan utama menemukan siapa pelaku yang telah menabrak Ajeng.


"ya... gue tau, masalahnya ada seseorang yang gue curigain, tapi gue gk mau asal nuduh dulu dan sekarang mending kita lapor polisi biar ada yang bantu, " ujar Anggara tanpa bahasa formal lagi.


"gue kurang setuju, kalau kita lapor polisi sekarang dia bakal tau dan pastinya orang itu bakal kabur, " jawab Reina.


"terus kita harus gimana? " tanya Adeva ikut menimpali yang dari tadi hanya diam sambil memegang tangan pucat Ajeng.


Anggara ingin mengeluarkan kata-kata namun... ada yang mengetuk pintu ruang rawat Ajeng, Anggara mengurungkan niat untuk mengeluarkan kata-kata itu dan menyuruh orang itu masuk.

__ADS_1


"masuk gk di kunci, " ucap Anggara dingin.


setelah di persilahkan masuk kedua orang laki-laki itu masuk, yang ternyata kedua sahabat Anggara dan juga ada...


Kevin?


Anggara yang melihat Kevin berada di belakang Zaki dan Satria langsung berdiri, terlihat dari wajahnya yang mulai memerah menahan amarah. Satria yang melihat itu menenangkan Anggara agar tidak bersikap bodoh di rumah sakit.


"kenapa dia ada di sini? " tanya Anggara dingin dan menusuk kepada Satria.


"Lo tenang dulu... dia kan sahabat kita memang-nya gk boleh? , " jawab Anggara tak kalah dinginnya.


"tapi gue gk suka ada dia di sini, " ujar Anggara mengeraskan rahangnya.


Kevin yang melihat itu tersenyum maklum, mungkin Ajeng sudah memberitahukan kesalahannya dulu kepada Ajeng.


"sorry gue gk bakal ngapa-ngapain lo tenang aja, gue tau kesalahan gue dulu sulit untuk di maaf kan... tapi apa perlu persahabatan kita hancur juga? enggak kan please kasih gue kesempatan, " ujar Kevin tiba-tiba membuat Anggara menatap tajam kepada laki-laki itu.


"ya memang, tapi gue gk suka aja ngeliat lo ada di sini apa lagi setiap liat lo cewe gue selalu sedih, " ujar Anggara


Anggara yang melihat ketulusan dari mata Kevin menghela nafas gusar ia menatap tajam dan menusuk tepat di manik Kevin dan berucap.


"oke... tapi sampai lo mau ngerebut Ajeng dari gue gk akan gue biarin, " ucap Anggara sambil menunjuk Kevin dan kembali duduk.


Zaki dan yang lainnya menghela nafas lega, setidaknya tidak akan ada perkelahian antar mereka hanya karena satu perempuan dan Zaki juga Satria tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


jadilah mereka hanya diam sambil menahan satu sama lain agar tidak melampiaskan amarah mereka di rumah sakit.


mereka semua duduk di sofa, kecuali Adeva yang duduk di samping Ajeng dan menggenggam erat tangan Ajeng yang dingin.


"udah tau siapa yang nabrak? " tanya Zaki setelah lama diam.


Zaki menatap Anggara dan Reina bergantian, ia kali ini benar-benar serius terlihat dari wajahnya yang tidak memamerkan ekspresi konyolnya melainkan ekspresi serius-nya.


"belum, gue vakum sempet ketempat kejadian, " jawab Anggara.


"gue gk liat plat nomornya tapi gue tau ciri mobilnya... gue yakin kalo yang nabrak bukan dari orang biasa soalnya yang di pake Lamborghini, " jawab Reina menjelaskan.

__ADS_1


mereka semua yang mendengar itu langsung menatap Reina kecuali Kevin yang pikirannya sudah kemana-mana.


"lo yakin? gk salah liat? " tanya Zaki memastikan.


Reina mengangguk dengan mantap menjawab keraguan ketiga pria yang sedang menatapnya, Adeva tidak mengeluarkan sepatah katapun ia membiarkan Reina yang menjelaskan karna di antara mereka bertiga hanya Reina yang pandai memendam emosi.


"Ciri-ciri mobilnya lo tau? " tanya Anggara, mungkin saja ia bisa mencari orang itu.


Reina terlihat sedang berpikir dan mengingat-ngiat mobil Lamborghini jenis apa yang kemarin menabrak Ajeng cukup kencang.


"kalau gk salah Lamborghini Aventador, hitam metalik gitu, " jawab Reina.


deg


Anggara yang mendengar itu langsung menegang, pasalnya ada seseorang yang membeli mobil Lamborghini itu bulan lalu orang terdekat Anggara selain sang kekasih alias tunangannya.


"apa dugaan gue bener ya? tapi gk mungkin kan? akhhh sudahlah yang penting sudah tahu ciri-ciri mobilnya, " ucap Anggara membatin frustasi.


begitu juga dengan Kevin ia memegang saat Reina menjelaskan mobil sang pelaku.


"gila tu orang gk mungkin senekat ini kan? kalau memang benar gue gk bisa maafin tu orang, " batin kevin berbicara.


"di sana ada CCTV-nya? " tanya Anggara kembali setelah sadar dari lamunannya.


Zaki dan Satria masih terus mendengarkan dan mencari tahu siapa saja yang dekat dengan Anggara kemungkinan perempuan soalnya, incarannya Ajeng pacar Anggara.


"ada di cafe yang gue sama Adeva dan Ajeng datengin, " jawab Reina setelah mengingat-nya.


Anggara mengangguk-angguk begitu juga dengan Zaki dan Satria, sedangkan kevin masih saja melamun memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


"kalau begitu besok kita ke cafe itu, " ucap Anggara dan langsung di respon oleh mereka semua terkecuali Kevin.


🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎


hola guyss maaf update-nya telat ya.


btw aku mau tanya, mending di cepetan ending atau mau di ulur aja? sebenernya sih masih ada beberapa misteri dan konflik lagi tapi kalau kalian udah bosen aku bisa percepat. jadi gimana percepat atau perpanjang?

__ADS_1


__ADS_2