
sore ini ketika Ajeng pulang kerumah, rumah sudah sangat ramai karena banyak sanak saudara yang datang untuk membantu juga menghadiri acara lamaran Naya.
Ajeng langsung mengganti pakaian-nya dan membantu menyiapkan acara lamaran sang kaka. setelah membantu di bagian bawah Ajeng menuju lantai dua letaknya kekamar Naya.
ia membantu Naya untuk memilih pakaian yang akan Naya kenakan, ia memilih dress nude lengan panjang dan panjang rok-nya sampai semata kaki dan di bagian pinggul hingga pundak berhasil brokat. sangat cocok di kulit putih Naya.
"perfect, " ucap Ajeng setelah melihat Naya dari atas sampai bawah.
"makasih ya dek, " ucap Naya sambil memeluk Ajeng.
"sama-sama, " jawab Ajeng sambil terkekeh.
dan mereka tertawa bersama hingga ketukan di pintu kamar Naya terdengar memberhentikan tawa mereka.
pintu terbuka ternyata nampak lah Anggara yang sudah rapih dengan kemeja putih dan celana bahan hitam serta sepatu fantofel yang mengkilat.
Ajeng tersenyum melihat kedatangan Anggara, ia izin kepada kaka-nya untuk turun duluan dan langsung di iyakan oleh Naya.
"ka aku duluan ya, " ucap Ajeng.
mereka benar-benar serasi, Ajeng yang menggunakan dress blue soft dan Anggara dengan stelan formal-nya.
mereka berdua menuruni anak tangga sambil bergandengan, hal itu tidak luput dari tatapan orang-orang yang berada di rumah Ajeng.
mereka berdua menuju taman belakang dimana disana tidak ada orang yang berlalu lalang seperti di ruang tamu, meski ada beberapa saudara Ajeng di sana.
"udah lama kamu dateng-nya? " tanya Ajeng setelah mereka duduk di bangku taman.
"enggak sih baru, " jawab Anggara sambil menyelipkan anak rambut Ajeng kebelakang telinga.
"kamu cantik banget, " puji Anggara.
Ajeng yang di puji seperti itu pun, tersipu malu ia memanglingkan wajah-nya kearah samping hal itu membuat Anggara terkekeh karena gemas.
Tiba-tiba semua saudara yang ada di taman belakang masuk dalam rumah, Ajeng yang bingung pun bertanya.
__ADS_1
"acaranya udah di mulai? " tanya Ajeng.
Anggara menggeleng tanda tidak tahu, setelah itu ia mengajak Ajeng untuk masuk melihat acara sudah di mulai atau belum.
"ya udah mending liat yuk kedalem, " ajak Anggara.
Ajeng mengangguk dan meraih lengan Anggara yang di sodorkan, mereka masuk dan ternyata benar calon suami kaka-nya sudah datang.
Ajeng dan Anggara berdiri tidak jauh dari kedua orang tua-nya yang sedang berbicara serius dengan calon besanan-nya.
"saya datang kesini, untuk membicarakan tentang lamaran resmi anak saya, saya mau Naya anak sulung anda menjadi menantu kami, " izin ayah Leon.
"saya sangat berterima kasih karna kalian datang, saya setuju dengan lamaran namun kembali kepada putri saya mau atau tidak-nya dia yang memutuskan, " jawab ayah Ajeng.
mereka semua menatap Naya yang di apit oleh kedua orang tua-nya, Leon calon suami Naya pun memperhatikan Naya sambil tersenyum.
"bagaimana, apakah kamu mau menerima lamaran ku? " tanya Leon.
Naya tersenyum lalu mengangguk dengan mantap, hal itu membuat kedua keluarga itu berbahagia. setelah itu mulailah sesi tukar cincin.
Leon memasangkan cincin kejari manis Naya dan Naya juga melakukan hal itu lalu mencium punggung tangan Leon.
hal itu tidak luput dari pandangan Ajeng, sungguh ia sangat bahagia melihat kaka-nya menemukan orang yang tepat.
"sutt jangan nangis... nanti kita juga nyusul kok, " ucap Anggara.
ajang yang mendengar itu memukul pelan dada Anggara yang langsung di balas eh kekehan dari Anggara.
"gk nyangka aja kaka aku sebentar lagi akan menikah, " ucap Ajeng setelah melepaskan pelukan mereka.
"semoga ka Naya dan bang Leon bahagia selalu aamiin, " doa Ajeng.
"aamiin! "
dan sesi makan-makan pun di mulai, mereka semua makan dengan perasaan yang sangat bahagia anak, cucu keponakan mereka Naya sebentar lagi akan di pinang.
Ajeng mengambilkan makanan untuk Anggara dan juga dirinya, mereka berdua tidak bergabung makan bersama melainkan makan di gazebo yang berada dekat kolam renang.
"makan dulu mas, " ujar Ajeng sambil menyodorkan sepiring nasi.
Anggara mengambil piring yang disodorkan Ajeng, mereka berdoa sebelum makan lalu memakan makanan mereka.
__ADS_1
Anggara menyuapi Ajeng dan langsung di Terima dengan baik dan sekarang mereka main suap-suapan seperti serial india saja hehe.
setelah selesai makan Ajeng menaruh piring kotor di dapur, sepertinya pekerjaanya besok akan bertambah.
setelah itu ia kembali ke gazebo dimana Anggara berada, setelah duduk tepat di samping Anggara. Ajeng menyenderkan kepala-nya di dada bidang Anggara sambil menatap langit malam yang terang di sinari oleh rembulan dan juga bintang yang bertaburan.
drtt.. drtt.. drtt
handphone Ajeng bergetar tanda panggilan masuk, ia menjauhkan kepala-nya dari dada Anggara dan mengangkat vidio call dari sahabat-nya.
setelah itu Ajeng kembali menyenderkan kepala-nya di pundak Anggara, Anggara mengelus pucuk kepala Ajeng sambil mendengarkan obrolan mereka.
"Ajeng sori gue gk bisa dateng ke acara lamaran kaka lo, " maaf Adeva dan Reina.
Ajeng mengangguk...
"iya nanti gue sampein ke ka Naya, " jawab Ajeng.
"eh btw kalian kapan? " tanya Reina sambil menaik turunkan alis-nya.
"secepatnya tunggu saja, " bukan, bukan Ajeng yang menjawab melainkan Anggara yang masih memainkan rambut Ajeng.
"oke kita tunggu undangan-nya, kalau gitu bay gue mau makan, " ucap Adeva dan mematikan telepon-nya.
dan hanya tersisa Ajeng dan Reina sebelum menutup telepon Reina menitipkan pesan kepada Ajeng.
"jeng titipin selamat yah buat ka Naya dan maaf gk bisa dateng, " pesan Naya.
"iya sayangku nanti gue sampaikan, " jawab Ajeng.
setelah itu telpon pun mati, Ajeng masih menatap indahnya malam hari ini yang sangat cerah, ia membayangkan jika nanti Ajeng dan Anggara akan menuju jenjang yang serius.
"aku janji setelah kamu lulus kuliah aku akan langsung mempersunting mu, " ucap Anggara tiba-tiba.
Ajeng mengangguk sambil tersenyum menatap wajah Anggara yang bagi-nya sudah candu untuk-nya.
"iya kutunggu, " jawab Ajeng.
mereka menghabiskan malam di bawah sinar rembulan yang terang, Ajeng berjanji kepada diri sendiri jika ia hanya akan bersama Anggara dan tidak ada yang lain.
begitupun dengan Anggara ia tidak mau membuat gadis-nya kecewa dan ia akan menepati janjinya jika Ajeng sudah lulus ia akan langsung melamar Ajeng.
__ADS_1
tanpa mereka sadari entah apa yang akan terjadi di ke depan-nya, entah mereka masih bersama atau tidak tapi harapan mereka ingin selalu bersama sampai akhir.
tapi siapa yang tahu tentang takdir? selain Tuhan yang Maha Esa. mereka tahu hanya tuhan yang akan menakdirkan mereka bersama atau berpisah.