
hari ini Ajeng berniat mengajak Anggara untuk olah raga bareng, ya meski ia tahu perbuatan Anggara di belakang-nya namun semalaman Ajeng berfikir jika Anggara terpaksa membohongi-nya. pasti di balik itu ada alasan tersendiri pikir Ajeng mencoba berfikir positif.
dan sekarang mereka berdua sudah berada di taman kota. melakukan olahraga joging mengelilingi taman kota. Ajeng sedikit merasa jika Anggara sedikit berbeda tidak seperti biasa-nya kali ini Anggara lebih sering diam dan menjawab ketika Ajeng bertanya.
dan sekarang mereka berdua sedang duduk di bangku taman sambil menikmati orang-orang yang sedang olahraga atau anak-anak yang sedang bermain di taman.
suasana mereka berdua menjadi canggung karena tidak ada di antara mereka yang ingin membuka suara sedikit pun, Anggara yang fokus dengan handphone-nya sedangkan Ajeng yang fokus kepada pandangan-nya melihat anak-anak bermain.
lalu tiba-tiba Anggara bangkit membuat Ajeng kebingungan lalu Ajeng juga ikut bangkit dan melihat Anggara yang hanya menatap-nya dengan datar.
"kamu mau kemana? " tanya Ajeng.
"aku pulang duluan, bunda nyuruh aku pulang, " jawab Anggara tanpa melihat ke arah Ajeng sedikit pun.
Ajeng mengangguk dan tersenyum kecut dengan sikap Anggara yang semakin berubah entah apa salah-nya sampai-sampai Anggara menjadi berubah seperti ini.
"ya udah kamu pulang aja takut nanti di tungguin bunda, " ucap Ajeng.
Anggara mengangguk dan tersenyum sebentar lalu ia pergi tanpa pamit kepada Ajeng, sedangkan Ajeng masih berdiam diri di sana sambil terus memperhatikan punggung Anggara yang berjalan semakin menjauh.
Ajeng kembali duduk dan menikmati pagi-nya di taman yang ramai ini meski hati-nya sedikit sakit karena mengetahui kemarin Anggara berbohong, entahlah kali ini Anggara berbohong atau tidak ia hanya bisa memperjuangkan.
setelah puas memperhatikan anak-anak yang sedang bermain Ajeng beranjak dari duduk-nya untuk pulang. Ajeng tidak membawa kendaraan sama sekali karena jarak antara rumah-nya dan taman tidak begitu jauh.
makanya ia memilih untuk berjalan kaki, itung-itung pemanasan sebelum joging. Ajeng berjalan dengan santai terkadang terdengar senandung kecil dari bibir mungil-nya.
__ADS_1
tidak lama Ajeng berjalan sekarang ia sudah berada di dalam komplek rumah-nya dan hanya tinggal 2 rumah saja rumah Ajeng pun terlihat, Ajeng mempercepat jalan-nya karena perut-nya yang sudah minta di isi lagi.
padahal ia sarapan tadi pagi, tapi mah bagaimana lagi cacing-cacing yang berada di perut Ajeng minta sedera di isi. Ajeng masuk kedalam rumah keadaan rumah sudah sepi mungkin mamah ada di kamar-nya.
lalu Ajeng bergegas menuju kedalam kamar untuk melakukan ritual mandi karena tadi ia belum sempat mandi saat joging. setelah berada di kamar Ajeng langsung melepas sepatu-nya dan menaruh-nya di rak sepatu.
setelah itu ia menuju lemari untuk mengambil pakaian santai-nya dan langsung berlari ngacir menuju kamar mandi. cukup lama untuk Ajeng melakukan ritual mandi-nya.
bahkan ia pernah menghabiskan waktu 30 menit hanya untuk mandi, huh sangat lama. namun 15 menit kemudian Ajeng keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian-nya.
lalu ia menyamnar handphone-nya dan langsung menuju ke lantai satu untuk mengambil sarapan yang sebenar-nya makan siang kepagian.
Ajeng duduk di kursi meja makan dan mengambil nasi dan lauk pauk-nya. mamah keluar dari kamar melihat Ajeng sedang makan pun menghampiri.
"sayang... Anggara kok gk dateng?" tanya mamah dan duduk di samping Ajeng.
"kenapa sayang? " tanya mamah Ajeng lagi.
Ajeng sedikit ragu untuk menjawab namun orang tua-nya harus tahu, setidak-nya ia ada teman curhat mamah-nya juga selalu bilang anggap mamah seperti sahabat kamu sendiri dan akhir-nya Ajeng menghela nafas dan menjawab.
"hubungan aku lagi gk baik-baik aja mah sama Anggara, " jawab Ajeng dengan lesu.
mamah yang melihat itupun merasakan sesak di dada-nya, mamah mengelus pundak Ajeng dan membawa Ajeng ke dalam pelukan-nya lalu mamah kembali bertanya.
"ada apa sampai kalian seperti ini? coba cerita, " tanya mamah dengan lembut.
__ADS_1
Ajeng mengangguk lalu ia melepaskan pelukan mereka. Ajeng menghapus air mata-nya yang keluar tanpa di minta lalu ia mengambil nafas dengan pelan dan mulai bercerita kepada mamah-nya.
"kemarin ada dosen baru... cantik banget, Anggara beda banget sama dosen itu biasa-nya dia selalu dingin sama semua orang kecuali aku dan keluarga dan sampai Anggara membohongi ku,
aku nunggu Anggara di kanti sama yang lain-nya dan ternyata dia udah pulang duluan pas aku telpon... abis itu aku pulang nebeng sama Adeva... pas sampe rumah aku harus sempet ngecek handphone lagi, " ucap Ajeng menjeda.
Ajeng kembali mengambil nafas ia menatap mamah-nya ragu, namun mamah meyakinkan untuk ia melanjutkan cerita-nya. Ajeng mengangguk dan tersenyum lalu ia kembali melanjutkan cerita-nya.
"ka Kevin ngechat aku dan ngirim sebuah foto, aku yang kepo jadi buka foto itu dan aku benar-benar gk nyangka pas liat foto itu... Anggara lagi makan siang bareng sama dosen baru itu yang ku lihat mereka ketawa bahagia banget dan saling pegang tangan mah,
sebelum itu juga pas hari resepsi ka Naya, Anggara lebih mentingin telponan yang aku gk tau siapa yang telponan sama dia dari pada menemaniku menikmati acara, " jelas Ajeng panjang lebar.
lalu ia menangis di dalam pelukan mamah. mamah yang mendengar itu merasakan sakit juga ia benar-benar tidak menyangka jika Anggara yang ia Anggara sebagai pengganti dan pengobat untuk Ajeng malah menumbuhkan luka yang lebih dalam lagi.
"kamu udah coba bicara tentang ini? " tanya mamah.
Ajeng menggeleng ia terus menangis di dalam dekapan mamah-nya tidak lama kemudian Naya kaka Ajeng datang dan melihat kearah adik-nya yang tengah menangis tersedu-sedu.
Naya bertanya kepada mamah-nya, mamah menatap Naya dengan raut wajah sedih lalu dengan Ajeng yang masih berada di pelukan-nya mamah menceritakan seperti apa yang Ajeng ceritakan kepada-nya.
Naya menggeram marah ia tidak bisa Terima jika Ajeng seperti ini setelah mendengar penjelasan dari sang mamah, namun apa boleh buat ia hanya bisa memberikan dukungan kepada Ajeng karena Ajeng yang menjalani bukan Naya.
"dek... sebaik-nya kamu putuskan saja dia, sekali dia berbohong ia akan tetap berbohong ke depan-nya kamu pikirin ini baik-baik ya dek. kaka cuma mau yang terbaik buat kamu, " ucap Naya menasehati.
Ajeng mengangguk dan kembali memeluk mamah-nya. mamah yang melihat itu benar-benar tidak tega namun apa boleh buat? bukan ia yang menjalaninya.
__ADS_1
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
hola guyss,. maaf telat yah update-nya kamerin mau nulis bab tapi gk bisa othor perutnya sakit banget jadi baru bisa nulis deh maaf yah