
Ajeng merebahkan diri di kasus single size-nya ia tersenyum menatap langit-langit kamar-nya.
hari yang sangat menyenangkan dan juga... menyebalkan, tapi ia bersyukur si peneror sudah tidak meneror-nya lagi.
"Apa gue harus buka hati ya? " tanya Ajeng pada diri-nya sendiri.
Ajeng berfikir apakah ia harus membuka hati untuk Anggara tapi ia masih takut jika kejadian waktu itu terulang lagi.
tok... tok... tok
"Dek.. kamu belum tidur kan? " tanya mamah Ajeng.
Ajeng menoleh kearah pintu yang masih tertutup, ia bangun dan sedikit meregangkan otot baru menjawab pertanyaan sang mamah.
"belum mah kenapa? " tanya Ajeng ambil teriak.
"itu di bawah ada yang nunggu kamu, " ucap mamah.
"siapa mah? "
"udah ke bawah aja sayang, "
"ya udah sebentar aku mau mandi, " ucap Ajeng untuk terakhir kali-nya.
ia langsung bergegas untuk mandi. apa mungkin Anggara kesini? tapi kan ia baru mengantar-nya beberapa jam lalu.
ah sudahlah Ajeng mandi dan turun kebawah untuk melihat siapa yang datang, semoga saja ekspetasi-nya kali ini benar.
15 menit Ajeng menjalankan ritual-nya ia keluar kamar mandi dengan sudah memakai pakaian santai-nya.
ia keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu dengan rasa bahagia yang membuncah bahkan ia tidak melunturkan senyum-nya sejak tadi.
saat sudah sampai di ruang tamu ia melihat seorang laki-laki sedang mengobrol bersama ayah-nya.
"Eh sayang sini kamu, kevin udah nunggu kamu, " ucap ayah mengajak Ajeng untuk duduk.
deg
seketika senyum Ajeng luntur wajah-nya berubah menjadi datar, Ajeng menghampiri ayah-nya dan duduk di samping sang ayah.
"jadi gini sayang, kevin kesini mau minta izin untuk melamar kamu, " ujar ayah to the point.
mata Ajeng membola ia menatap tidak percaya kepada ayah-nya. FYI ayah dan ibu-bya gk ada yang tau soal perselingkuhan kevin.
"enggak apa apan sih yah!!, " sarkas Ajeng dan menatap kevin tajam.
"loh kenapa?, " tanya ayah bingung.
Ajeng tidak menjawab ia langsung berlari ke kanar-nya, ia sangat tidak menyukai ini terlebih bukan orang yang ia cintai yang melamar malah- kalian tahu itu.
__ADS_1
ayah yang melihat mata Ajeng mulai berkaca-kaca pun tidak tega akhir-nya ia menyuruh kevin untuk pulang dan datang lain waktu.
sebelum kevin benar-benar keluar ia beroapasan dengan Naya yang baru pulang Naya menatap tidak suka kepada Kevin.
saat ia sudah sampai di ruang tamu, mamah dan ayah-nya sudah berada di sana. ia akhir-nya bertanya.
"si brengsek ngapain ke sini yah mah?, " tanya Naya to the point.
"brengsek? maksud kamu kevin? jangan bicara sembarangan Naya gk boleh begitu, " ucap mamah Naya.
"Dia kesini mau ngelamar Ajeng ka, " ucap ayah santai.
sedangkan Naya yang sedang minum tersedak dan membulatkan mata mendengar penuturan sang ayah yang teramat santai.
"APA?!! AYAH GK TAU SEBERAPA BRENGSEK LAKI-LAKI ITU, " teriak Naya.
"Naya jangan teriak, " ucap mama mengomeli-nya.
"Maksud kamu apa sih ka, kevin baik, jujur terus genteng lagi masa kamu bilang brengsek, " ujar ayah.
"Ayah gk tau ya, Ajeng putus sama kevin kenapa? " tanya Naya.
keduanya serempak menggeleng, Naya menghela nafas kasar dan menatap kedua orang tua-nya secara bergantian dan mulai bercerita tentang masa lalu Ajeng kenapa bisa sampai putus dengan laki-laki itu.
...****************...
"Hiks hiks. kenapa sih harus di-dia, " ujar Ajeng dengan tersedu-sedu.
ia masih terus menangis, kenapa? kenapa? harus laki-laki itu kenapa tidak Anggara yang langsung datang? apa Anggara benar-benar tidak serius dengan-nya? pikir Ajeng.
mamah masuk dan menatap sedih kearah Ajeng yang masih menangis di atas kasur, posisi Ajeng membelakangi mamah jadi ia tidak mengetahui jika mamah ada di kanar-nya.
mamah mengusap bahu Ajeng pelan, mencoba menenangkan Ajeng namun bukan-nya tenang Ajeng justru semakin keras menangis.
"sayang maafin mamah ya? mamah gk tahu kalau hubungan kalian berakhir seperti itu, " ucap mamah menyesal.
Ajeng tidak menjawab ia masih terus menangis tanpa mau membalik badan-nya kearah sang mamah.
hati mamah sakit melihat ayah-nya seperti ini, sebelum air mata-nya ikut menetes mamah keluar dari kamar Ajeng.
di depan kamar Ajeng sudah ada ayah sedangkan Naya tidak mau mendengar tangisan sang adik jadi ia pergi ke kamar-nya.
"Gimana mah? " tanya ayah ketika mamah sudah keluar.
"hiks Ajeng gk ngomong sama sekali mas, " ucap mamah dan mulai menangis.
ayah yang tidak tega akhir-nya membawa mamah tunrun untuk kekamar mereka dan menenangkan istri-nya.
Ajeng masih menangis, kenapa takdir seolah mempermainkan-nya padahal ia sudah memulai membuka hati untuk seseorang tapi malah masa lalu kelam yang datang.
__ADS_1
tring.. tring.. tring..
handphone Ajeng berbunyi Ajeng mengambil handphone-nya yang berada di atas nakas dan mengangkat-nya tanpa melihat nama.
"Haloh? " ucap Ajeng serak.
"kamu habis nangis sayang?, " tanya seorang laki-laki.
Ajeng menjauhkan handphone-nya dan melihat siapa sang penelepon, Anggara ternyata Anggara yang mebelpon-nya ia jadi lebih lega setelah tahu siapa penelpon-nya.
"hey... are you okey?, " tanya Anggara.
"I'm fine, " jawab Ajeng sekenan-nya.
seketika hening tidak ada yang melanjutkan bicara , entah apa yang sedang Anggara lakukan tapi dari sebrang telpon Ajeng mendengar kebisingan.
tidak lama dari itu Anggara berucap lagi.
"Bukain pintu dong sayang, aku udah di depan, " ucap Anggara.
Ajeng membola dan langsung lari menuju kebawah dan membuka pintu rumah dan benar saja Anggara sudah beda di depan pintu dengan membawa sekantong makanan.
"Mas ngapain? " tanya Ajeng ketika sudah mengatur nafas-nya.
"hibur kamu, " ucap Anggara santai.
"ya udah yuk masuk, " ajak Ajeng sambil menarik tangan Anggara pelan.
setelah sampai di ruang tamu Ajeng menyuruh Anggara untuk duduk sedangkan dia ke dapur untuk membuatkan minum.
Anggara melihat sekeliling ruang tamu, masih sama tidak ada yang berubah kecuali Ajeng yang semakin cantik.
Ajeng datang membawa nampan yang berisi dua gelas jus. dan menaruh-nya di atas meja dan menyajikan-nya untuk Anggara.
"Yuk makan dulu, abis itu baru ngobrol-ngobrol, " ujar Anggara setelah meminum jus-nya.
Ajeng mengangguk dan membantu Anggara menyusun makanan yang Anggara bawa. cukup banyak ternyata entah mereka bisa habiskan atau tidak entahlah.
Ajeng baru teringat jika Anggara laki-laki jadi ya makan-nya cukup banyak jadi agak tidak heran jika Anggara membawa makanan sebanyak ini.
tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka sejak tadi, orang itu tersenyum senang melihat Ajeng sudah tidak menangis dan mungkin karna laki-laki itu juga ia menolak kevin.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
aku kembali lagi guysss
bantu 1k pembaca ya
jangan lupa vote dan komen-nya.
__ADS_1