Bismilah Jodoh

Bismilah Jodoh
berikan aku kesempatan


__ADS_3

Malam ini Anggara belum kembali kerumah, ia masih berada di apartemen ia menghindari pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tua-nya terlebih adik bawel-nya.


Anggara terus memperhatikan langit malam yang cerah, entah kenapa ia bisa sangat ceroboh seperti sekarang. mensia-siakan orang yang bahkan sudah jelas mencintai-nya dengan tylus tapi malah ia khianati.


Anggara kembali mengihrup satu puntung rokok dan menghembuskan asap-nya secara perlahan, ia mengingat kejadian tadi siang. ia melihat dari tatapan Ajeng yang masih mencintai-nya dan juga tatapan kecewa yang kentara.


mengingat itu dada Anggara merasa sesak tanpa ia sadari bulir air mengalir dari mata-nya, ia mendongak kan kepala-nya agar air mata-nya tidak kembali jatuh.


saat tengah menikmati udara malam, handphone anggara yang berada di meja balkon trrus berdering namun ia terus mengabaikan panggilan itu hingga panggilan itu terhenti sendiri.


bukan karena apa Anggara tidak mengangkat-nya. yang menelepon diri-nya adalah Floryn makan dari itu ia sangat rnggan untuk mengangkat panggilan dari gadis yang menggodanya dan berapa bodoh-nya ia malah tergoda.


dering handphone tidak terdengar lagi, mungkin sudah cape karrna tidak kunjung di angkat oleh Anggara. Anggara kembali menikmati rokok-nya yang di temani kopi hitam.


ia terus menerus mengepulkan asap dari bibir-nya, sesekali menyeruput kopi yang masih hangat. Anggara mengambil handphone-nya dan mencari kontak ajeng di sana.


ketika sudah ketemu ia ragu untuk menghubungi Ajeng, terlebih waktu yang sudah mulai larut. belum sempat Anggara menelepon Ajeng layar handphone-nya sudah terlihat ada panggilan lagi.


bukan dari Ajeng melainkan Floryn yang masih terus berusaha menelepon Anggara. Anggara hanya menatap layar handphone-nya yang menyala tanpa niat mengangkat-nya hingga handphone-nya matin sendiri.


ia menguringkan niat-nya untuk menelepon Ajeng, dan ia memilih untuk menikmati rokok serta kopi-nya yang belum kunjung habis.


"gue akan minta kesempatan sama Ajeng, " ucap Anggara setelah meneguk kopi-nya.


"masih ada kesempatan... sebelum Ajeng jatuh kepelukan orang lain, " lanjut Anggara.


Anggara tersenyum mendengar kata-kata nya sendiri, dengan cepat ia kembali merai handphone-nya dan tanpa ragu sekarang ia menelepon Ajeng. harap-harap di angkat oleh Ajeng karena ini sudah malem kemungkinan Ajeng sudah tidur.


panggilan pertama tidak kunjung di angkat, Anggara menghela nafas ia sudah duga mungkin saja Ajeng sudah tidur. namun karena ia benar-benar merindukan suara Ajeng dan ingin meminta kesempatan.


Anggara kembali menelepon Ajeng, panggilan kedua belum juga di angkat hingga panggilan ke lima telepon baru di angkat oleh Ajeng. saat sudah terangkat Anggara mendengar suara Ajeng yang serak mungkin karena terpaksa bangun.


"hay... maaf mengganggu, " ucap Anggara lembut.


tidak ada Jawaban sama sekali, Anggara menghela nafas saat ia ingin mengeluarkan suara Ajeng sudah memotong ucapan-nya terlebih dahulu.


"bapak ngapain nelpon saya? " tanya Ajeng dengan lantang.


"jangan teriak-teriak udah malem! " peringatan Anggara.


"ya habis-nya bapak nelpon malam-malam, " ucap Ajeng kesal.

__ADS_1


"ya udah maaf, "


"bapak ngapain nelpon saya? " tanya Ajeng lagi.


Anggara diam, ia ragu untuk mengungkapkan niat awal-nya yang menelepon Ajeng untuk meminta kesempatan dari Ajeng. Anggara meyakinkan diri-nya dan menghela nafas baru menjawab.


"saya...


"saya kenapa? " tanya Ajeng memotong.


"ya jangan di potong dulu dong! " ucap Anggara.


"hehe ya udah lanjut pak, " ucap Ajeng cengengesan.


"niat saya menelepon kamu, ingin... berikan aku kesempatan terakhir! " ucap Anggara mantap namun lirih.


tidak ada jawaban dari Ajeng, Anggara sudah menduga ia tersenyum hambar meski Ajeng tidak akan melihat-nya. tanpa sadar bulir air mata kembali mengalir dari pelupuk mata Anggara.


"pak sejujurnya saya ragu... tapi jika bapak benar-benar mencintai saya, tolong yakinkan saya dengan cara anda, " ucap Ajeng pada akhirnya.


Anggara yang mendengar itu sangat bahagia, ia mengangguk dan tersenyum meski Ajeng tidak akan melihat-nya. dengan suara yang serak karena menangis Anggara mengucapkan terimakasih kasih.


"ya saya akan lakukan apapun, agar kamu yakin lagi bersama saya, " ucap Anggara.


dengan perasaan bahagia, ia mulai membereskan balkon dan masuk untuk tidur. malam ini ia akan bermimpi sangat indah sepertinya.


...****************...


Ajeng tidur dengan nyenyak di balik selimut tebal yang membalut tubuh-nya. dering handphone-nya pun ia abaikan karena saking mengangtuk-nya.


hingga dering kelima akhirnya Ajeng terganggu ia bangun dan dengan mata yang masih terpejam Ajeng mengambil handphone-nya yang berada di atas nakas. tanpa melihat si penelepon Ajeng langsung mengangkat.


"halo? " sapa Ajeng dengan mata terpejam.


"... "


Ajeng sempat terkejut mendengar suara yang tidak asing bagi-nya, dengan cepat ia menjauhkan handphone-nya dan melihat siapa yang menelepon-nya malam-malam seperti ini.


saat melihat siapa yang menelepon, Ajeng sungguh terkejut dengan bodoh-nya Ajeng mengangkat tanpa melihat siapa penelepon itu. Ajeng terus merutuki diri-nya sendiri.


"bapak ngapain nelpon saya? " tanya Ajeng dengan teriak.

__ADS_1


"... "


"ya habis-nya bapak nelpon malam-malam! " ucap Ajeng kesal.


"... "


"bapak ngapain nelpon saya? " tanya Ajeng lagi karena sedari tadi ia tidak kunjung mendapat jawaban.


"... "


"saya kenapa? " sela Ajeng cepat.


"... "


"heheh ya udah lanjut pak, " ucap Ajeng sambil cengengesan dan menggaruk trngkuk-nya yang tidak gatal.


"... "


Ajeng terdiam mendengar penuturan Anggara yang terdengar mantap namun lirih. sungguh ia bingung harus menjawab apa, Ajeng dia ia berfikir dan tiba-tiba kata-kata Naya kaka-nya kembali terlintas di kepala-nya.


Ajeng mengheka nafas ia memantapkan hati-nya, jika Anggara memang benar-benar menyesal dan mencintai-nya laki-laki itu akan berusaha untuk mendapatkan Ajeng lagi... dengan mantap Ajeng berujar dari lamanya terdiam.


"sejujurnya saya ragu... tapi jika anda benar-benar mencintai saya, yakin kan saya dengan cara anda! " ucap Ajeng dengan mantap.


setelah mengucapkan itu. Ajeng merasa lega perasaan-nya kina senang karena Anggara mau berjuang demi diri-nya meski ia tidak tahun ke depan-! ya seperti apa.


"... "


setelah Anggara menjawab, dengan cepat Ajeng mematikan sambungan telepon-nya. ia menatap layar handphone-nya yang kini sudah mati.


rasa bahagia menjalar di hati-nya membuat perasaan hangat itu kembali lagi, Ajeng tersenyum dan berdoa jika Anggara benar-benar serius mencintai-nya.


Ajeng kembali merebahkan diri di kasur. ia menatap langit-langit kamar sambil tersenyum dan memeluk handphone-nya di dada. pipi-nya tiba-tiba berubah memerah.


Ajeng dengan segera langsung mengambil batal untuk menutupi pipi-nya yang memerah, meski tidak akan ada yang melihat-nya ia tetap merasa malu. lalu karena malu membayangkan itu.


karena ia masih mengantuk tanpa di tunggu lampun Ajeng sudah kembali memasuki alam mimpi-nya dengan rasa bahagia dan senyum yang mengembang.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


halo guyss maaf update-nya telat. kemarin cape banget abis ngambil rapot terus tadi pagi udah mulai sekul jadi baru sempet update.

__ADS_1


sampai ketemu di bab selanjutnya


__ADS_2