BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 10. Sosis bakar penuh kenangan.


__ADS_3

Bunga memegangi dadanya yang saat ini berdiri di dalam lift, Bunga masih ingat betul tatapan tidak suka Rex melihat ke arahnya, saat Bunga salah menyebut nama.


Meski Rex diam saja, hanya menunjukan kekesalan melalui wajah dan sorot matanya, tetap saja Bunga merasa bersalah.


Aku cuma salah bicara, lain kali aku harus lebih hati-hati, batin Bunga menyemangati diri sendiri. Bersamaan itu pintu lift terbuka, Bunga melangkah keluar.


Saat ini sudah memasuki jam makan siang, Bunga yang merasa sudah lapar, mau ke kantin perusahaan. Namun langkahnya tiba-tiba dihentikan oleh dua temannya yang tadi pagi melihat Bunga keluar dari dalam mobil mewah.


"Kenapa kalian?" tanya Bunga bingung, menatap kedua temannya bergantian.


"Elo sebenarnya pakai apaan sih! Mengapa semua cowok menempel sama elo!" Wanita pembawa gosip menuding hidung Bunga, semakin membuat Bunga tidak mengerti apa maksudnya.


"Aku lapar, aku mau makan! Jangan halangi aku," ucap Bunga mengalihkan ucapan karena tidak ingin meladeni mereka berdua.


Bunga sudah mau berjalan lagi namun kembali di halangi. "Heh! Elo tuli ya! Kenapa tidak menjawab pertanyaan aku, hah!" bentak pembawa gosip seraya mencekal lengan Bunga dengan kuat. Bunga sampai merasakan sakit dibagian lengannya.


"Lepas! sakit tauk!" Bunga menghempaskan tangan pembawa gosip dengan keras. Sementara teman yang satunya hanya tersenyum sinis.


"Apa sih salah aku dengan kalian! Mengapa kalian selalu cari masalah dengan aku!" ucap Bunga dengan suara meninggi, karena sudah kesal dengan dua temannya itu yang selalu cari gara-gara dengan Bunga.


Wanita pembawa gosip mendorong tubuh Bunga sampai membentur dinding. "Elo masih tanya apa salah elo! apa elo lupa, kalo elo sudah merebut Kevin dari aku! apa elo lupa, hah!"


Deg!


Bunga melebarkan matanya, Bunga baru tahu bila itu sebabnya temannya jadi marah dan kesal pada dirinya.


"Aku tidak merebut Kevin, kalian sudah putus lebih dulu! Bahkan aku jadian sama Kevin saat kalian berdua sudah putus selama lima bulan!" teriak Bunga yang tidak terima di tuduh merebut.


Bunga menangis, hanya sekedar menyebut nama Kevin, hatinya kembali sakit saat mengingat pria yang mencintainya itu telah meninggal.


Bahkan saat Bunga berteriak menyebut nama Kevin barusan karena rindu pada pria itu, rindu yang tidak pernah bisa diobati, rindu yang tidak pernah lagi bertemu lagi.


"Munafik elo!" ucap kasar wanita itu seraya menekan kepala Bunga sampai menoleh, kemudian pergi dari hadapan Bunga.


Sementara Bunga masih menangis terisak, Bunga tubuhnya meluruh ke bawah, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Kevin ... Kadang aku tidak kuat hidup seperti ini, banyak sekali orang yang menekan aku, tidak tahu apa salah aku.


Siang ini Bunga makan dengan perasaan berkecamuk, makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, bila sedang tidak mengingat bahwa lagi hamil, Bunga sudah enggan untuk memakannya.


Selesai makan siang, membereskan pekerjaan di gudang, bersama beberapa teman cleaning servis, Bunga hanya fokus bekerja melakukan tugasnya, tidak mendengarkan sindiran-sindiran yang sebenarnya tertuju pada dirinya.


Pekerjaan itu segera selesai, dan tiba waktunya pulang, Bunga keluar dari perusahaan paling ahir dari pada teman-temannya, Bunga sengaja tidak bersama mereka, ingin menenangkan pikirannya.


Tadi di dalam perusahaan, Bunga lupa belum memesan ojek online, dan sekarang Bunga berdiri di pinggir jalan, untuk menunggu ojek online.


Tiba-tiba ada ojek yang berhenti di depannya tapi membonceng penumpang, dan dari postur tubuh orang itu, sepertinya Bunga mengenali, meski orang itu menggunakan helm.


Dan benar saja, Bunga mengenali orang itu, saat helm nya hendak di buka, kini memperlihatkan wajah masam orang itu.


"Minta duit!" ucap kasar orang itu pada Bunga setelah ojek yang mengantarnya tadi pergi.


"Aku belum gajian! Belum punya duit!" balas Bunga tidak kalah ketus.


"Ow? Jadi elo berani melawan gue sekarang, iya!" bentak orang itu seraya mendorong-dorong bahu Bunga.


"Jangan membuat kesabaran aku habis, Bunga!" bentak orang itu dengan geram.


"Mau kamu memeras aku pun, tidak akan uang itu keluar, karena aku belum gajian, Ayu!" Bunga menatap tajam Ayu seraya mendorong tubuh Ayu untuk minggir karena ojek online pesanan Bunga sudah tiba.


"Bunga!" Ayu menghalangi Bunga.


"Lepas Ayu!"


Ahh!


Brukk!!


Bersamaan Bunga mendorong Ayu sampai jatuh, Bunga langsung menuju tukang ojek online yang sudah menunggunya, tanpa ada niat membantu Ayu untuk bangun.


Bunga sudah pergi bersama ojek online yang membawanya, sementara Ayu, wanita itu kesal dan terus mengoceh dengan segala umpatan.

__ADS_1


Bagaiman tidak kesal, karena tubuhnya Ayu hampir terjerembab masuk ke dalam got.


"Sial benar-benar sial! Awas kamu Bunga akan aku laporkan pada ibuku!"


Setelah bicara marah karena ulahnya sendiri, Ayu pergi dari tempat tersebut, tujuannya minta uang Bunga gagal, dan sekarang dirinya tidak punya uang untuk bermain bersama teman-temannya, sementara ibunya tidak memberi uang karena alasan belum gajian juga.


"Mengapa semua orang pada miskin duit!"


Arrgghh!


Ayu frustasi campur kesal.


Sementara Bunga yang saat ini sudah sampai di tempat tujuan, langsung duduk, kini Bunga tidak langsung pulang ke rumah, Bunga mendatangi taman, taman yang penuh kenangan saat bersama Kevin.


Mantan kekasihnya yang sudah meninggal itu, dulu sering mengajak Bunga datang ke taman ini, apa bila malam hari, di taman ini ada yang namanya pasar malam.


Banyak permainan, dan juga makanan yang Bunga sukai.


Saat ini sudah memasuki magrib, para pedagang sudah pada siap-siap untuk berjualan, di ujung sana ada yang jualan sosis bakar.


Bunga biasa beli bersama Kevin dulu, dan sekarang Bunga juga mau membelinya lagi.


"Bang, sosis bakar ya lima tusuk," ucap Bunga pada Abang penjual sosis.


"Baik, Neng." Abang penjual langsung membuatkan pesanan Bunga.


Saat ini terbilang masih sore, pengunjung belum banyak yang berdatangan, biasanya di tempat Abang penjual sosis sangat ramai banyak anak kecil yang beli, tapi saat ini baru Bunga saja.


"Mas nya yang ganteng dimana Neng? Kok tumben sendirian?" tanya Abang itu, karena dirinya cukup kenal dengan Bunga dan Kevin termasuk pelanggannya.


Bunga hanya menanggapi dengan tersenyum, bibirnya tidak bisa menjawab, mendadak kelu, bahkan saat ini matanya sudah menggenang, nama Kevin masih menguasai hatinya, hanya sekedar menyebut namanya saja mampu membuat Bunga bersedih lagi, teringat hari perpisahan selamanya.


"Ini Neng sosisnya sudah jadi." Abang penjual menyerahkan sosis bakar ke tangan Bunga, bersamaan itu Bunga menyerahkan uang ke Abang penjual.


Bunga langsung pergi dari tempat tersebut, namun sebelumnya mengucapkan terimakasih, kini Bunga duduk sendirian di bangku, di bawah pohon dekat pinggir jalan raya. Karena taman ini memang di pinggir jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2