BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 65. Kebahagiaan menyelimuti.


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Baby nya Bunga saat ini sudah sehat, dokter mengatakan bahwa baby bisa dibawa pulang, tentu kabar ini membuat keluarga Wijaya bahagia dan bersyukur.


"Bu, dia sangat cantik," ucap Rex yang saat ini sedang menggendong bayinya. Memperlihatkan wajah bayinya ke ibunya.


"Iya, Rex putrimu sangat cantik benar-benar mirip sama Bunga. Bibir dan hidungnya sama persis," jawab Ibu Erasa seraya tersenyum melihat wajah cantik Cucunya.


Saat ini mereka masih berada di ruang NICU, dan saat ini mengambil bayi itu karena keadaan bayinya sudah sehat.


"Bu, sebelum kita bawa pulang aku ingin membawa bayiku bertemu Bunga."


Ibu Erasa setuju dengan ucapan Rex itu.


"Jika begitu kita keruang Bunga sekarang," ajak Ibu Erasa, kemudian mereka berjalan keluar dari sana dan menuju ruang Bunga.


Sampai di ruang Bunga, Rex duduk di kursi samping ranjang pasien, Rex memandangi wajah Bunga, tangannya masih mengendong bayinya, yang saat ini sudah bangun tidur. Bayi itu melihat Daddy nya dengan mata jernihnya. Diam tanpa menangis.


"Bunga, lihatlah siapa yang aku bawa ke mari. Dia adalah bayi kita, kapan kamu akan bangun? Apa tidak ingin melihat dia? Apa tidak rindu padaku juga orang-orang yang menyayangimu?" Rex bertanya, kata dokter orang koma masih mampu mendengar dan Rex berharap Bunga mendengar yang ia ucapkan.


Rex melihat bayinya saat ini bayi itu tersenyum kecil terlihat menggemaskan. "Dia sangat cantik sama sepertimu, ayo lah bangun mau sampai kapan kamu akan tidur seperti ini?"


Tanpa Rex ketahui sudut mata Bunga meneteskan air mata. Benar kata dokter bahwa Bunga mampu mendengar apa pun yang Rex ucapkan.


Rex mencium pipi bayinya mengusap lembut wajah bayinya, sesaat bayinya tersenyum semakin terlihat cantik namun di detik kemudian bayi itu menangis kencang. Ibu Erasa sampai kaget berpikir ada apa?


Bersamaan itu bunyi monitor menjadi kencang tanda-tanda Bunga akan sadar. Semakin membuat mereka panik.


Ibu Erasa mendekat. "Rex kenapa?"


Rex yang ditanya juga bingung, ahirnya Ibu Erasa mengambil bayi itu dari gendongan Rex untuk ditenangkan, meski sudah pindah digendong Ibu Erasa, bayi itu tetap menangis kencang. Tangis yang terdengar pilu. Orang dewasa yang mendengar jadi merasa sedih.


Dan bunyi monitor semakin kencang, Rex fokusnya saat ini ke Bunga, Rex melihat tangan Bunga bergerak.


"Bu! Ibu Bunga sadar, Bu!" teriak Rex penuh haru, Ibu Erasa langsung melihat Bunga, dan itu benar Bunga saat ini menggerakkan jemarinya.


Rex menekan tombol darurat berulang kali supaya dokter dan tim medis lainnya segera datang.


Rex menangkup wajah Bunga. "Bunga aku bahagia, sabar ya dokter akan segera datang."


Baru saja Rex selesai bicara, Bunga perlahan membuka mata, awalnya pandangannya samar-samar melihat wajah Rex namun semakin lama semakin jernih.


"Kak haus," ucapnya lirih.


Tapi Rex masih mampu mendengar, dan segera memberikan segelas minuman, Rex membantu Bunga untuk minum.


Dokter bersama perawat datang, mereka segera memeriksa keadaan Bunga saat ini, Rex masih menunggu di sana.


Baby itu kini sudah diam tidak menangis lagi bertepatan Bunga membuka mata tadi. Saat ini kembali tidur di gendongan Ibu Erasa.


Setelah mendapat pemeriksaan, kini dokter tersebut tersenyum ke arah Rex. "Tuan, Alhamdulillah saat ini keadaan pasien sangat baik, seperti mendapat keajaiban pasien bangun dengan keadaan sangat sehat."


Rex langsung mengucap syukur mendengar penuturan dokter.


"Terimakasih Dokter, terimakasih. Selama ini sudah berjuang untuk istri saya," ucap Rex yang saat ini benar-benar merasa bahagia.


Dokter tersebut membalas dengan anggukan kepala, kemudian mereka pergi dari sana.

__ADS_1


Rex menggenggam tangan Bunga, Rex kembali duduk di kursi, Bunga dan Rex saling menatap dan melempar senyum.


"Terimakasih sayang sudah mau bangun dari tidur panjangmu. Aku mencintaimu aku menyayangimu dan aku juga mencintai anak kita, kau tahu dia sangat cantik." Setelah bicara Rex tak henti-henti menciumi punggung tangan Bunga.


Bunga masih lemah untuk sekedar bicara, Bunga hanya menanggapi ucapan Rex dengan senyuman kecil.


Terimakasih Tuhan kau masih memberi kami kesempatan untuk bersama. Dan aku bahagia ketika mendengar kata cinta dari bibir langsung pria yang aku cintai , dan aku bersyukur dia mau mencintai anakku yang bahkan dia sendiri tahu dia bukan putrinya. Aku berjanji akan setia dan mencintainya selamanya sampai akhir hayatku. Aku juga mencintai kak Rex, batin Bunga, bulir bening seketika menetes dari pelupuk matanya saat Rex terus menciumi punggung tangannya.


Ibu Erasa mendekat dan menunjukan wajah bayi itu ke Bunga, lagi-lagi Bunga tidak bisa membendung air matanya, melihat putrinya yang saat ini lagi tidur pulas, hatinya sungguh merasa bahagia. Semua orang di dalam ruangan ini merasa bahagia.


Dan kabar bahwa Bunga sudah sadar dari koma terdengar seluruh keluarga Wijaya.


Ayah Ciko juga Rosi segera datang ke rumah sakit, yang tadi mereka lagi sedang bekerja. Gea juga ikutan datang ke rumah sakit meski dengan perasaan benci harus mendengar kabar Bunga sehat kembali.


Bibi Eka juga Ayu tidak ketinggalan, mendapat kabar Bunga bangun dari koma mereka berdua langsung datang ke rumah sakit.


Dan disinilah mereka semua berada sekarang, berada di dalam ruangan rawat Bunga. Sekarang Bunga sudah di pindah ke ruang rawat.


Semua wajah mereka tampak bahagia, tadi saat baru datang semua memeluk Bunga dan mencium wanita itu. Ayah Ciko bahkan sampai menangis melihat menantu kesayangannya sadar juga setelah satu bulan koma.


Di antara banyaknya orang di ruangan tersebut pada tertawa karena bahagia, namun bayi kecil itu tetap tidur pulas tidak peduli dengan suara berisik.


Pandangan Ayah Ciko teralihkan dengan cucu cantiknya. "Rex, siapa nama putrimu ini?"


Rex duduk di pinggiran ranjang, matanya menatap teduh ke arah bayinya. "Affera Rex Wijaya."


Semua orang mendengar ucapan Rex menyebut nama putrinya.


"Apa artinya?" Rosi bertanya, saat ini berdiri di dekat Rex sembari melihat wajah cantik keponakannya itu.


"Wah ... Bagus sekali kak," ucap Rosi setelah mendengar penjelasan arti nama dari Rex.


Suasana haru itu kini berganti sepi, karena saat ini sudah tiba malam hari. Semua orang sudah pada pulang, kecuali Rex dan Rosi yang masih menjaga Bunga.


Namun saat ini Rex dan Rosi sedang makan di kantin rumah sakit, Bunga hanya sendirian. Baru saja mau terlelap tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka, Bunga terjaga lagi dan menolah ingin melihat siapa yang datang, ternyata Gea yang datang.


Tapi kali ini tatapan wanita itu berbeda, apa lagi di tangan Gea saat ini memegang pisau, Bunga bingung harus bergerak gimana, lari pun tidak bisa karena tubuhnya masih lemas.


Bunga semakin ketakutan saat Gea semakin berjalan mendekat.


"Kau harus mati sekarang!" Gea bicara penuh penekanan di setiap kata.


Bunga hanya bisa menggelengkan kepala.


Kak Rex tolong aku Kak, aku tidak bisa menghindar andai Kak Rex tidak datang, batin Bunga meminta tulus dalam doa.


Gea mengangkat pisau itu dan mau ia arahkan ke perut Bunga. "Rasakan ini ...."


Aaaa!


Gea!


Srettt.


Tranggg.


Pisau itu berhasil Rex tangkis hingga terlempar jatuh ke lantai.

__ADS_1


Gea langsung ketakutan saat melihat Rex berada di ruangan ini. Gea mau kabur tapi Rosi segera memegang tangan Gea.


"Gea kali ini aku tidak bisa maafkan kamu!"


"Kak Rosi lepaskan aku!" teriak Gea terus memberontak ingin dilepaskan.


Rosi langsung membawa Gea pergi dan kali ini tujuannya membawa wanita itu ke kantor polisi.


Bunga saat ini di periksa dokter lagi, ketakutan yang baru saja Bunga alami membuat wanita itu keadaannya lemah lagi.


Setelah dokter pergi, Rex menemani Bunga tidur.


.


.


.


.


.


Satu Minggu kemudian.


Ibu Erasa dan Ayah Ciko hampir tidak percaya dengan apa yang Gea perbuat di malam setelah Bunga bangun dari koma.


Ibu Erasa juga Ayah Ciko tidak bisa membantu Gea, karena Rex sangat marah dan ingin wanita itu dipenjara.


Gea hanya bisa menangis menyesali perbuatannya, semua sudah terjadi tidak bisa kembali ke semula.


Keluarga yang mencintainya sejak kecil saat ini membencinya dan semua itu karena ulahnya.


Arghhhh! Teriak Gea dalam jeruji besi.


.


.


.


Di rumah Rex yang baru.


Sekarang Bunga sudah diijinkan pulang ke rumah, dan saat tiba di tempat yang asing menurut Bunga, karena bukan pulang di Apartemen. Ternyata Rex sudah membeli rumah yang besar kado untuk Bunga lahiran.


Di rumah ini semua keluarga berkumpul, semua merasa bahagia, semua duduk di ruang tengah.


Rex duduk di samping Bunga yang saat ini sedang memangku baby Affera. Kebahagiaan menyelimuti keduanya.


Di ruang ini juga ada sekertaris Zee. Bibi Eka dan Ayu sekarang bukan lagi seorang pelayan, Rex sudah memaafkan mereka berdua, dan mereka berdua sangat bahagia dan tidak akan jahat lagi sama Bunga.


Tiba-tiba baby Affera tertawa, terdengar celoteh kecil dari bibir mungilnya, karena saat ini semua orang sedang diam jadi bisa mendengar. Semua orang jadi tertawa. Bayi kecil itu begitu lucu.


Rex dan Bunga saling menatap, dan di detik kemudian Rex mencium bibir Bunga di depan banyak orang, sontak saja membuat semua orang jadi menertawai Rex.


Setelah melewati banyak badai ahirnya kebahagiaan itu tiba.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2