
Setelah selesai sarapan pagi, Rex mengajak Ibu dan Ayahnya untuk berkumpul di ruang kerja Ayah Ciko.
"Ada apa Rex, sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, sampai meminta Ayah dan Ibu bicara di sini," ucap Ibu Erasa setelah kini semua duduk di ruang tersebut.
Rex membuang nafas panjang. "Aku minta ijin mau pindah rumah Ibu Ayah."
Seketika ucapan Rex itu membuat ibu Erasa dan Ayah Ciko terkejut.
"Rex untuk apa! Ibu tidak setuju!" ucap tegasnya disertai gelengan kepala.
"Iya Rex untuk apa?" nada suara Ayah Ciko sedikit lebih lembut dari suara Ibu Erasa, tapi tetap saja tatapan mata Ayah Ciko mengintimidasi.
Karena Ayah Ciko tahu bila hubungan rumah tangga Rex dengan Bunga tidak berjalan baik, hanya khawatir bila putranya itu akan menyakiti menantunya.
Terdengar Rex menghela nafas panjang sebelum ahirnya bicara, "Ibu ... Ayah, Rex ingin hubungan Rex dengan Bunga bisa lebih hangat, lagian kan kami sudah menikah jadi Rex ingin merasakan tinggal bersama keluarga kecil Rex, yang nantinya bersama calon anak Rex," terang Rex panjang lebar lengkap dengan tatapan memohon supaya kedua orang tuanya mengijinkan.
"Mohon Ayah ... Ibu." Lanjut ucapannya seraya tangannya mengatup di depan dada.
Ibu Erasa menghela nafas panjang, saling pandang dengan Ayah Ciko, seolah bertanya melalui tatapan mata.
Ayah Ciko menggenggam tangan Ibu Erasa saat melihat wajah sang istri terlihat begitu khawatir, Ayah Ciko mengangguk bertanda memberi ijin, Ibu Erasa menghela nafas berat bingung harus memberi ijin atau tidak.
Rex berdiri dari duduknya, mendekati Ayah dan ibunya, Rex berlutut di depan kedua orang tuanya.
"Ayah ... Ibu, Rex mohon ijinkan kami tinggal sendiri, Rex benar-benar ingin merasakan tinggal bersama keluarga kecil Rex, Ayah ... Ibu."
Ibu Erasa tidak bisa menahan tangis lagi, saat melihat putra pertamanya sampai memohon hanya karena ingin tinggal di rumah sendiri bersama keluarga kecilnya.
Meski ada perasaan takut campur khawatir melepas mereka berdua harus pisah rumah dengannya dan akan tinggal berdua saja, tapi dengan berat hati, Ibu Erasa ahirnya memberi ijin.
Ibu Erasa meminta Rex untuk berdiri kemudian memeluk putranya itu, Ibu Erasa menangis, karena akan berjauhan bersama putranya yang sejak kecil tinggal bersamanya.
__ADS_1
Ibu Erasa melerai pelukannya menangkup wajah Rex. "Ingat selama kalian nanti tinggal bersama hanya berdua, jangan suka berantem, jagain Bunga dan calon anak kalian, dan satu hal lagi sering-sering main ke rumah Ibu."
Pesan Ibu Erasa panjang lebar, Rex mengangguk bibirnya tersenyum bahagia, Ibu Erasa mengecup kening Rex.
Obrolan mereka selesai ditutup dengan janji-janji yang Rex ucapkan, bila Ibu Erasa percaya karena belum tahu yang sebenarnya, tidak dengan Ayah Ciko, pria paruh baya itu akan terus mengawasi Rex, melalui orang suruhannya nanti, meski bibirnya tersenyum dan mengangguk setuju.
Setelah itu Rex kemudian menemui Bunga, wanita cantik itu saat ini sedang duduk di dalam kamar, sembari nonton TV.
Krekk!
Bunga menoleh saat pintu kamarnya dibuka, sesaat tatapan mata keduanya bertemu sebelum ahirnya Bunga lebih dulu memutus pandangan itu.
"Kemasi barang-barang kamu yang perlu mau dibawa, besok pagi kita pindah dari rumah ini."
Deg!
Bunga terkejut malah dipenuhi pertanyaan dalam kepalanya, sampai tidak menyadari Rex sudah berlalu pergi.
Bunga bangkit dari duduknya mencoba mengejar langkah kaki Rex. "Tuan ... Tuan."
Pagi ini Rex mau mensurvei apartemen yang akan dibelinya, tadi malam sudah menghubungi Sekertarisnya untuk membeli apartemen, dan barusan sudah mendapat kabar, bila apartemennya sudah dapat.
Bunga ternyata menyusul langkah kaki Rex sampai ke lantai satu, di sana tidak bertemu Rex, Bunga lanjut berjalan cepat ke arah halaman rumah.
Dan sepertinya takdir tidak berpihak, tepat Bunga sampai di pintu utama, mobil Rex baru saja keluar dari gerbang.
Bunga hanya bisa menghela nafas panjang, dengan tatapan nanar menatap ke arah gerbang, niatnya ingin bertanya soal pindah rumah tidak jadi, dan bingung mau bertanya sama siapa, Bunga tidak berpikir bila kedua mertuanya tahu soal ini.
Bunga terlonjak kaget, saat merasakan ada yang menepuk pundaknya.
"Ah, I-Ibu," ucap Bunga terbata-bata saat balik badan ternyata Ibu Erasa yang menepuk pundaknya.
__ADS_1
Ibu Erasa mengajak Bunga untuk duduk di sofa. "Dengar sayang bahwa mulai besok kamu dan Rex akan tinggal berdua saja, Rex sudah membeli rumah untuk kalian berdua tempati."
"Ti-tinggal berdua! ru-rumah kami tem-tempati!"
Ibu Erasa mengangguk dan tersenyum, Bunga masih belum bisa mencerna maksud semua ini, yang dipikirkan gadis itu malah kedua mertuanya sengaja menyuruh untuk tinggal berdua dengan Rex.
Tiba-tiba Bunga merasakan takut yang luar biasa sampai tubuhnya terguncang, Ibu Erasa memeluk Bunga mengira Bunga merasakan hal yang sama dengan yang Ibu Erasa rasakan yaitu sekedar tidak ingin berjauhan.
Tapi salah! dibalik tubuhnya yang terguncang hebat yang masih dipeluk Ibu Erasa, Bunga merasakan takut benar-benar takut, tidak tahu akan minta tolong dengan siapa, bila Rex akan menyakitinya secara fisik, membayangkan saja Bunga tidak sanggup.
Bunga menggeleng-gelengkan kepalanya, masih di dalam pelukan Ibu Erasa.
"Jangan menangis, Nak. Kan cuma pindah rumah, kita masih bisa bertemu." Hibur Ibu Erasa seraya mengusap punggung Bunga, supaya gadis itu tenang.
Bukan itu Bu yang aku khawatir kan, tapi semoga saja Tuan Rex tidak melarang aku untuk menemui Ibu, batin Bunga dalam isak tangisnya.
"Sudah sekarang kamu bersiap, kemasi barang-barang kamu yang mau dibawa," ucapnya setelah melerai pelukannya, mengecup kening Bunga sebelum ahirnya Bunga pergi lebih dulu dari tempat tersebut.
Sampainya di dalam kamar, Bunga kembali menangis, seraya memasukkan baju ke dalam koper.
Tidak ada pilihan lagi selain menurut, hanya bisa berdoa dan berharap bila Rex tidak akan menyakiti fisik.
Setelah selesai memasukkan baju, Bunga memasukkan barang miliknya, seperti jam tangan, tas kecil miliknya, ada tiga buah tas kecil, dan dua sepatu kets, meski sudah tidak baru lagi, tapi itu hadiah ulang tahun dari Kevin.
Bunga akan terus menjaganya dan tidak akan membuangnya.
Setelah sebagin selesai dikemas, Bunga membaringkan tubuhnya di atas ranjang, jiwanya di sini tapi pikirannya jauh menerawang.
Tiba-tiba rindu Ayah dan Ibunya, Bunga mengingat sudah lama tidak datang ke makam Ayah dan Ibunya.
"Ibu ... Ayah, Bunga rindu," ucapnya lirih, bibirnya mimbik-mimbik menangis, merasakan rindu yang tidak akan bisa bertemu.
__ADS_1
Sementara itu Rex yang saat ini sudah selesai mensurvey apartemen pilihan Zee, ahirnya memutuskan untuk membelinya.
Zee langsung melakukan transaksi pembayaran, setelah semua selesai mereka berdua pergi dari tempat tersebut.