BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 9. Salah bicara.


__ADS_3

Rosi yang melihat Bunga buru-buru keluar rumah setelah memakan dua sandwich, mengikuti langkah wanita itu.


"Tunggu," sarkas Rosi seraya memegang pergelangan tangan Bunga, membuat langkah wanita itu terhenti, Bunga melihat pergelangan tangannya di pegang Rosi.


"Oh, maaf." Rosi langsung melepas pegangan tangannya.


Bunga menatap Rosi penuh kebingungan, Rosi yang melihat itu langsung menjelaskan.


"Kamu aku antar ke tempat kerja ya, tidak usah naik ojek." Rosi mau berjalan ke kamar ambil kunci mobil.


"Tidak usah, aku naik ojek aja." Bunga menolak, karena tidak enak hati, Rosi yang tadi sudah berjalan beberapa langkah kembali balik badan melihat Bunga.


"Jangan menolak kebaikan," ucapnya yang tidak ingin Bunga menolak, Rosi langsung kembali berjalan mengambil kunci mobil.


Bunga hanya bisa menghela nafas, ahirnya Bunga berjalan keluar rumah lebih dulu, di luar gerbang sudah ada ojek online yang menunggu, karena tadi Bunga sudah memesannya, terpaksa harus Bunga batalkan.


"Pak, maaf ya saya tidak jadi, ini uang buat bapak karena sudah capek-capek datang ke sini," ucap Bunga seraya menyerahkan beberapa lembar uang untuk bapak ojek.


"Tidak usah Neng, bila tidak jadi naik ojek maka tidak usah." Bapak ojek menolak dan mau menghidupkan mesin motor lagi mau pergi.


"Pak! Jangan menolak kebaikan."


Eh! kenapa aku bicara seperti Rosi, batin Bunga setelah menyadari ucapannya tadi, seraya memberikan uang itu kembali ke tangan bapak ojek.


Kali ini bapak ojek menerima, tidak bisa menolak setelah mendengar kalimat yang Bunga ucapkan, apa lagi ini adalah orderan pertama, karena memang masih pagi.


Saat Rosi datang menghampiri Bunga dan mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya, bapak ojek sudah pergi.


"Yang kencang masang sabuknya, aku suka ngebut lho nanti terlepas," canda Rosi seraya mengencangkan sabuk pengaman mobil.


Dari jarak sedekat ini Bunga bisa mencium aroma wangi tubuh Rosi, Bunga duduk mematung.


"Terimakasih," ucap Bunga setelah Rosi selesai memasang sabuk pengaman, Rosi hanya menjawab dengan tersenyum kecil, yang kemudian menjalankan mobilnya menuju perusahaan.


"Kamu sudah lama kerja di perusahaan Ayah?" Rosi bertanya untuk mencairkan suasana di dalam mobil, ia tahu betul bila kakak iparnya itu masih malu-malu belum akrab dengan dirinya.

__ADS_1


"Sudah, sudah empat tahun," balas Bunga, menoleh ke arah Rosi sekilas lalu kembali lagi menatap lurus ke depan.


"Wah, lama juga? Kamu berarti betah ya kerja di sana?" Rosi menyalip mobil di depan.


"Iya, aku betah bila tidak, mana mungkin aku bisa selama itu." Bunga tersenyum.


"Benar juga sih, dan kamu sudah lama juga berarti kenal sama Kakak Rex?" Rosi menoleh ke arah Bunga sebentar, lalu fokus lagi ke depan, di depan ada orang mau nyebrang jalan, Rosi memelankan laju mobilnya.


"Iya, aku sudah lama kenal sama dia." Bunga tidak menjelaskan soal hal yang lain.


"Kakak ku emang seperti itu sikapnya, dia akan hangat hanya pada orang tertentu, bila sama orang yang belum dia sukai pasti dia akan angkuh."


"Iya, tidak apa-apa? Aku mengerti keadaannya."


Mobil berhenti di lampu merah, tiba-tiba Bunga batuk-batuk, Rosi yang masih miliki air mineral di mobil langsung mengambilnya untuk Bunga, membuka tutup botolnya lebih dulu lalu menyodorkan untuk Bunga.


"Minumlah," pinta Rosi, Bunga yang melihat itu langsung menerima, karena memang saat ini tenggorokannya teras gatal.


Setelah minum kini tenggorokannya mulai mereda, warna lampu sudah hijau, Rosi kembali melajukan mobilnya.


"Tidak, aku rasa selama hamil saja." Bunga masih memegang botol minum itu, matanya lurus ke depan.


Rosi manggut-manggut paham, setelah itu keduanya masih lanjut saling bicara bahkan juga ada canda tawanya, Bunga juga sempat tertawa terpingkal-pingkal entah Rosi cerita apa? Perjalanan pagi ini begitu menyenangkan bagi Bunga, ada sedikit warna dan hiburan setelah selama ini selalu merasa sedih.


Kini mobil Rosi sudah sampai di depan perusahaan Wijaya Company.


"Terimakasih, ya. Sudah mengantar kerja," ucap Bunga yang sudah berada di luar mobil yang kini melihat Rosi di dalam sana, Bunga melambaikan tangan sebelum kaca mobil Rosi tutup.


Bersamaan mobil Rosi pergi dari perusahaan tersebut, Bunga masuk ke dalam, Bunga segera mengambil peralatan kerjanya, dan setelah itu langsung naik ke lantai tiga belas.


Tadi saat Bunga keluar dari dalam mobil Rosi, ada yang melihatnya, dia adalah teman satu tim cleaning servis, orang itu bisik-bisik dengan temannya.


"Kevin meninggal, Bunga punya gebetan baru orang kaya," bisik sang pembawa gosip pada temannya.


"Eh, yang benar lo!" Temannya belum percaya.

__ADS_1


"Beneran serius, aku melihatnya sendiri Bunga keluar dari dalam mobil mewah! Bunga melambaikan tangan sambil bibirnya membuat gerakan cium-cium gitu," jelas sang pembawa gosip dengan kalimat tambahannya, supaya temannya percaya dan ceritanya makin hot.


"Wah ... Benar-benar si Bunga." Temannya mulai terkena hasutan sang pembawa gosip.


"Nanti kita tanya saja dia, perasaan cantiknya biasa aja tapi selalu mendapat pacar yang tampan dan kaya," ucap pembawa gosip tidak terima.


Temannya manggut-manggut setuju, mereka bukannya berkerja malah ghibah. Senior datang langsung teriak-teriak pada mereka.


"Woi! Kerja Woi kerja!!" bentak Senior dengan tangan bertolak pinggang, mata menusuk tajam.


Orang berdua tadi langsung gelagapan dan mengerjakan pekerjaan dengan segera. Malah gantian saling menyalahkan.


"Elo sih!"


"Kok gue!"


"Woi!" teriak senior lagi saat suara ribut mereka masih terdengar di telinganya.


Mereka langsung lari cepat masuk ke ruangan yang mau di bersihkan.


Tepat pukul delapan pagi, semua pekerjaan Bunga sudah selesai, Bunga saat ini duduk sendiri di belakang pantry, tidak ingin mengobrol sama-sama temannya, sampai tiba pukul sebelas siang, Bunga baru keluar dari tempat duduknya, menuju ke dapur pantry, di sana sudah ada beberapa yang membuat kopi untuk di atar ke lantai tempat yang mereka kerjakan, Bunga menunggu bergantian.


Setelah tiga orang sudah pergi mulai mengantar, Bunga kemudian langsung membuat kopi, sebenarnya untuk minum kopi dan teh itu hanya beberapa saja, tidak semua karyawan minta.


Bila di lantai yang Bunga kerjakan itu hanya sepuluh gelas kopi untuk para karyawan, padahal di lantai itu ada dua puluh lima orang yang bekerja.


Bunga saat ini sudah keluar dari dalam lift menuju ruang-ruang kerja para karyawan dan meletakkan gelas kopi di sana, kini tinggal satu gelas untuk suaminya sendiri.


Bunga mengetuk pintu ruang CEO, Bunga baru masuk ke dalam setelah mendapat ijin.


Pintu terbuka, seketika Bunga melihat Rex suaminya yang masih duduk di kursi kerjanya.


Bunga masuk ke dalam dan meletakkan kopi di meja depan kursi sofa, karena biasanya Rex akan minum di situ.


"Tuan Rosi silahkan di minum kopinya." Bunga langsung menutup mulutnya yang salah bicara, sementara Rex pria itu yang mendengar ucapan Bunga langsung menatap tajam.

__ADS_1


__ADS_2