
Rex dan Bunga sudah sampai di rumah sejak semalam, dan pagi ini sedang bermalas-malasan di ranjang, Rex memeluk Bunga, sudah Bunga bangunkan sejak tadi namun Rex tetap saja masih betah dalam posisinya.
"Nanti kamu telat kerja lho," ucap Bunga seraya menyibak rambut Rex kebelakang.
"Aku bosnya," jawab santai Rex, matanya masih terpejam.
"Hemm baiklah terserah kamu," ucap Bunga menyerah.
Ahirnya mereka berdua kembali tidur, pukul sembilan pagi baru bangun, itu karena ada telepon dari Ibu Erasa yang meminta Bunga untuk datang ke rumahnya.
Setelah setengah jam dari telepon Ibu Erasa, Rex dan Bunga sudah siap semuanya, saat ini mereka berjalan keluar bersama-sama.
Setelah mereka berada di luar gedung apartemen, tiba-tiba ada Bibi Eka yang datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Bunga.
"Bunga, tolong Bibi." Bibi Eka menggenggam tangan Bunga, matanya berlinang air mata.
Bunga yang melihatnya tampak bingung, Rex yang berdiri di samping Bunga juga ikutan Bingung, melihat wanita yang tidak ia kenal.
"Siapa dia?" tanya Rex pada Bunga.
"Dia Bibi aku," jawab Bunga seraya menatap wajah Rex.
Aku harus akting sedih supaya Bunga mau menolong aku, batin jahat Bibi Eka.
"Bunga, Bibi sudah tidak punya rumah, semua sudah Bibi jual karena untuk bayar hutang, dan paman kamu pergi merantau, tolong saya Bunga hanya kamu yang bisa," ucap Bibi Eka dengan sangat memohon.
Bunga dan Rex saling pandang, kemudian milih membicarakan masalah ini di dalam, Bunga mengajak Bibi Eka masuk ke dalam Apartemennya.
Kini mereka kembali naik ke lantai tempat kamarnya berada.
Setelah sampai di sana dan masuk ke dalam ruang apartemen, mata Bibi Eka langsung terkagum melihat kemewahan di dalam ruangan apartemen itu.
Aku memang tidak salah datang ke sini menemui Bunga, batin Bibi Eka seraya tersenyum sinis.
"Bibi Eka, duduklah," titah Bunga setelah mereka sampai di ruang tamu.
Bibi Eka kembali berakting sedih seraya menjelaskan semua kejadian yang terjadi pada keluarganya, yang saat ini tidak miliki tempat tinggal, dan juga harus membiayai kuliah Ayu. Bibi Eka terus menangis untuk mendapat simpati dari Bunga.
Bunga dan Rex saling pandang, ini bukan masalah kecil, Bunga dan Rex harus bicara, apa lagi Rex belum kenal siapa Bibi Eka.
"Bibi Eka tunggu di sini, nanti kami akan kembali lagi."
Setelah bicara, Bunga dan Rex berjalan sama-sama masuk ke dalam kamar, Bibi Eka tersenyum sinis melihat ke arah mereka.
__ADS_1
Aku harus manfaatkan Bunga, untuk apa punya keponakan kaya kalo tidak aku manfaatkan, rumayan kan kalo dikasih duit bisa buat bayar hutang.
Sementara itu Bunga yang sedang duduk di pinggiran ranjang bersama Rex berusaha menjelaskan.
Tentang Bibi Eka sekeluarga nya yang telah membesarkan Bunga, merawat Bunga dari kecil sejak orang tuanya meninggal, keluarga satu-satunya yang Bunga miliki.
Bunga juga menceritakan perlakukan tidak baik dulu mereka terhadapnya, bukan Bunga mau membongkar kejahatan Bibi Eka tapi Bunga membicarakan yang sebenarnya.
Karena Bunga tidak memaksa Rex harus membantu Bibi Eka atau tidak, karena yang miliki uang adalah Rex, Bunga tidak bisa berbuat apa-apa.
Meskipun hanya sekedar memberi tempat tinggal, tanpa seizin Rex Bunga tidak berani melakukannya.
Dan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Bunga mengatakan semua keburukan Bibi Eka dengan jujur.
Rex menghela nafas panjang setelah mendengar cerita panjang dari Bunga, Rex meraih tangan Bunga dan menggenggamnya. "Aku akan membantu bibi kamu itu, tapi aku tidak terima bahwa istriku ini dulu pernah dianiaya."
"Lalu Kak Rex mau melakukan apa?" tanya lembut Bunga, matanya terlihat polos seperti kucing, menggemaskan di mata Rex.
Rex tidak menjawab malah tersenyum tipis yang kemudian mengajak Bunga keluar kamar menuju ruang tamu lagi.
Bibi Eka tersenyum saat melihat mereka berdua datang.
Rex dan Bunga duduk berdampingan, tangan Rex masih setia menggenggam tangan Bunga.
Bibi Eka langsung tersenyum bahagia.
Sudah aku tebak mereka berdua ini sama-sama bodohnya, lihatlah meskipun dia pria kaya tapi juga bodoh sudah mengijinkan aku tinggal di tempat semewah ini, batin Bibi Eka penuh kemenangan.
"Tapi-." Rex berhenti bicara.
Bibi Eka menunggu kelanjutan ucapan Rex, tanpa ada rasa curiga, hatinya sudah bahagia.
"Anda sebagai pelayan di sini, dan kamar Anda bersama para pelayan yang lain."
Apa! pekik Bibi Eka dalam hati.
Bunga menahan tawa.
Bibi Eka tidak menyangka bahwa dirinya diijinkan tinggal bersama mereka sebatas sebagai pelayan.
Sialan mereka berdua, aku kira mereka bodoh ternyata mereka pintar! hah lalu siapa yang bodoh disini? Ya kamu Eka! batin Bibi Eka yang menyalahkan dirinya sendiri.
Rex kemudian memanggil pelayan Sri, setelah Sri datang, mengajak Bibi Eka untuk menunjukan kamar pelayan.
__ADS_1
Sialan sialan! Bunga sialan! umpat Bibi Eka dalam hati seraya terus berjalan mengikuti Sri.
Sementara itu Bunga langsung memeluk Rex. "Aku pikir kamu akan belikan rumah untuk bibi Eka."
"Tidak lah keenakan dia, justru aku ingin ngerjain dia karena dia dulu pernah kasarin kamu."
Bunga mendongakkan kepalanya. "Terimakasih."
Rex mencium kening Bunga.
Kemudian keduanya pergi dari apartemen seperti rencana awal yang mau datang ke rumah Ibu Erasa.
Bibi Eka yang saat ini sedang sendirian di dalam kamar hanya mengeluh, bilang kamar panas, sempit, dan pengap.
Tidak ingat padahal rumahnya dia dulu hanya kontrakan tiga petak.
"Jika seperti ini apa aku bisa betah!" teriak Bibi Eka yang disusul tangis seperti anak kecil.
"Tapi aku tidak miliki pilihan,"lanjut ucapnya lagi, yang merasa ngenes pada nasibnya.
Sri tiba-tiba masuk ke dalam.
Bibi Eka langsung ingin bertanya. "Sri, yang tinggal di kamar ini berapa orang?"
Bibi Eka penasaran karena di dalam ruangan sempit ini ada tiga tas ransel yang dilihatnya, Sri belum menjawab saja, Bibi Eka sudah geleng-geleng kepala, membayangkan bila kamar sempit ini akan dihuni empat orang.
"Empat orang," jawab Sri jujur.
Apa!
Bibi Eka langsung lemas badannya, tidak bisa kebayangkan tidur bersama empat orang.
Tubuhku bisa gatal-gatal kalo harus tidur bersama tiga pelayan itu, batin hina Bibi Eka.
Namun saat baru ingat bahwa Ayu juga akan tinggal di sini, Bibi Eka langsung tepuk jidat, semakin kebayang akan tidak bisa tidur.
Mereka benar-benar menyiksa aku! batin kesal Bibi Eka.
Sementara itu di dapur sana tiga pelayan pada berbisik-bisik tentang Bibi Eka.
"Dia terlihat aneh," ucap Tun dengan suara pelan setengah berbisik.
"Sepertinya cuma manfaatkan Nyonya dan Tuan." Sri ikut menimpali.
__ADS_1
"Kita harus awasi dia," timpal Nanik yang ikut pembicaraan dua temannya itu.