
Keesokan harinya, keadaan Rex belum cukup membaik, tapi memaksa untuk bertemu Bunga yang saat ini berada di ruang ICU. Tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Rex.
Dengan menggunakan kursi roda, Rex ditemani Ayah Ciko juga Ibu Erasa.
Saat kursi roda yang berjalan mulai dekat dengan ruang ICU tempat Bunga di rawat, jantung Rex merasa berdebar-debar, karena di dalam ruangan ini istrinya dinyatakan koma setelah paska operasi melahirkan bayinya.
Hati yang tadi sudah dikuatkan untuk tidak rapuh saat melihat Bunga, tapi nyatanya tidak bisa sekuat itu. Rex tangisnya langsung tumpah setelah matanya melihat wanita yang berbaring di sana dengan terpasang banyak alat medis di tubuhnya.
"Bunga," ucap Rex lirih, tapi dari suaranya itu Rex terdengar jelas sedang menangis, Ayah Ciko jadi tidak tega melihatnya.
"Nak? Jaga emosional mu, karena keadaan kamu belum stabil," nasehat Ayah Ciko sebelum ahirnya mendorong kursi roda yang Rex dudukki lebih dekat dengan ranjang pasien.
Hanya Ayah Ciko dan Rex yang masuk ke dalam, karena jumlah orang menjenguk dibatasi demi kesehatan pasien.
Ibu Erasa menunggu di luar, saat ini berdiri di balik jendela kaca, dari arah sini Ibu Erasa juga bisa melihat Bunga di dalam sana, juga bisa melihat Rex sedang menangis saat ini.
Sementara itu Rex tidak bisa berkata apa-apa setelah saat ini berada di dekat Bunga, dari jarak sedekat ini Rex bisa melihat banyak luka di tubuh Bunga.
Pandangan Rex beralih melihat telapak tangan Bunga yang juga terdapat luka yang saat ini di perban, hati Rex terasa ter cubit, nyeri campur sakit melihat kenyataan ini, hanya bisa menangis sebagai jawaban begitu tidak kuasanya Rex melihat keadaan Bunga.
Aku menunggu kamu bangun dari koma, bayi kita butuh kamu, tolong segera lah bangun untuk kami. begitulah seolah Rex bicara dari tatapannya yang sayu terus memandangi wajah Bunga.
Ayah Ciko mengajak Rex pergi dari sana, waktu Rex menjenguk Bunga sudah habis, Rex juga harus istirahat karena keadaan belum stabil.
Saat Ayah Ciko membawa Rex keluar dari sana, ada perasaan berat untuk meninggalkan Bunga, tapi Rex tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah ayahnya.
Kursi roda yang Rex dudukki semakin berjalan menjauh dari ruang ICU, saat ini sudah bersama Ibu Erasa lagi.
Setelah aku sehat aku akan selalu berada di samping kamu, cepatlah bangun sayang, batin Rex sembari meneteskan air mata.
Niat hati memang mau menuju ruang rawat Rex, tapi di tengah jalan Rex menghentikan laju kursi roda.
__ADS_1
"Ada apa, Nak?" tanya lembut Ibu Erasa.
"Aku mau melihat bayiku, Bu?"
Mendengar permintaan Rex itu, Ibu Erasa dan Ayah Ciko langsung saling pandang, seolah saling bicara melalui pandangan mata apa harus menuruti Rex? Begitulah pertanyaannya.
Ayah Ciko mengangguk kecil, Ibu Erasa menghela nafas panjang. "Baik sayang, tapi kita sebentar saja ya?"
Rex mengangguk kecil.
Setelah berjalan bersama saat kini mereka sudah berada di ruang NICU, tempat bayinya di rawat.
Bayinya Bunga mengalami gangguan kesehatan, hingga diharuskan untuk di rawat di ruang NICU lebih dulu.
Kali ini hanya Rex dan Ibu Erasa yang masuk ke dalam, dari jarak sedekat ini Rex bisa melihat bayinya, namun dadanya terasa sesak saat melihat bayi sekecil itu harus mendapat beberapa alat medis yang terpasang di tubuh kecilnya, hanya untuk demi bertahan hidup.
Tidak ada orang tua yang tidak menangis apa bila melihat keadaan bayinya seperti ini.
"Berjuanglah untuk sehat, Nak. Daddy mencintaimu. Segera sehat, Nak? Bantu sembuh Mommy."
Rex menangis tanpa suara, sangking pilunya sesak dadanya.
Ayah Ciko yang mengamati mereka dari luar melalui balik jendela kaca, saat ini juga sedang menangis, tidak ada yang bisa menahan tangis, sedih sekali melihat bayi sekecil itu harus mendapat perawat seperti itu.
Membayangkan orang dewasa saja di suntik merasa sakit, dan itu bayi baru lahir juga harus merasakan tajamnya jarum suntik.
"Ayo Nak, segera sehat. Kelak sudah sehat mau minta apa aja akan Opa belikan." Ayah Ciko bicara disertai tangis, tubuhnya ikut bergetar menangis tergugu.
Saat ini hanya bisa berusaha dengan doa untuk kesehatan semuanya.
__ADS_1
Dan melihat orang yang disayangi dalam keadaan seperti ini, Rex marah sama Noumi. tapi wanita itu sudah meninggal, marah pun tidak ada guna. tidak akan mengembalikan semua seperti semula.
"Bu, aku harus segera sembuh supaya aku bisa merawat mereka."
Mendengar ucapan Rex barusan, Ibu Erasa mengangguk.
"Benar sayang, kamu harus nurut apa kata dokter, kamu harus segera sehat." Ibu Erasa membenarkan ucapan Rex seraya mengusap sayang kepala Rex.
Setelah dirasa waktu Rex melihat bayinya cukup, Ibu Erasa membawa Rex pergi dari sana.
Setelah keluar, Ayah Ciko menutup pintu ruang NICU, kemudian mengikuti langkah ibu Erasa menuju ruang rawat Rex.
Sampai di sana, Ayah Ciko membantu Rex berbaring di atas ranjang pasien. Ayah Ciko menasehati Rex untuk istirahat tidak boleh banyak pikiran supaya cepat pulih kesehatannya.
Ayah Ciko dan Ibu Erasa keluar dari sana, cukup menunggu di luar, membiarkan Rex istirahat.
Di depan ruang ICU, tepatnya di balik jendela kaca. Gea sedang melihat ke arah Bunga yang sedang berbaring koma di dalam sana. Gea menarik sudut bibirnya, hatinya puas melihat kondisi Bunga saat ini.
"Tidak usah pake koma segala, sekalian saja mati biar cepat selesai hidupmu," bicara kemudian tertawa. Setelah sadar takut di dengar orang ucapannya itu, Gea menutup mulutnya dan berganti menatap tajam.
Bunga, dari sini saja kamu harusnya tahu, bahwa kamu itu kalah dari aku. Lihatlah kondisi kamu hanya tinggal menunggu waktu ajal menjemput mu. Coba lah dari awal kamu serahkan Kak Rex padaku, kau tidak akan sampai seperti ini, batin Gea tersenyum miring.
Sementara itu di depan ruang NICU, Bibi Eka bersama Ayu berdiri di balik kaca jendela, mereka berdua melihat ke dalam sana, dimana ada bayi nya Bunga yang di rawat.
"Bu, kasihan banget ya? Bayinya," ucap Ayu, suaranya terdengar begitu khawatir.
"Iya, Yu. Kita doakan saja supaya bayinya cepat sehat. Ibu kasihan melihatnya, sudah Rex seperti itu. Bunga juga dalam keadaan koma, sekarang bayinya juga tidak sehat." Bibi Eka sampai netesin air mata saat bicara.
"Bu, kalau tidak ada yang selamat bagaimana?"
Bibi Eka langsung memukul keras lengan Ayu.
__ADS_1
Plak!
"Ayu! Jaga bicaramu!