BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 16. Dilarang Bekerja lagi.


__ADS_3

Huamm! Bunga menguap yang saat ini baru bangun dari tidurnya, Bunga masih duduk di atas ranjang, matanya melihat ke arah jam dinding, yang saat ini baru menunjuk pukul enam pagi.


Dengan langkah malas, Bunga harus tetap berjalan menuju kamar mandi. Bunga tidak sempat berendam karena harus mengejar waktu, segera berangkat kerja.


Lima menit Bunga sudah selesai mandi, segera berpakaian seragam kerja, menyisir rambut, tanpa bedak dan lipstik, benar-benar wajah natural.


Saat Bunga tiba di meja makan, di sana sudah ada bubur kacang hijau.


"Makanlah, Ibu sengaja meminta pelayan untuk membuat khusus kamu." Suara Ibu Erasa yang tiba-tiba muncul dari belakang Bunga.


Bunga yang tadi masuk ke ruang makan dengan terburu-buru sampai tidak melihat bila ada Ibu Erasa di sekitar ruangan ini.


"Terimakasih, Bu?" ucap Bunga yang kemudian duduk di sana dan mulai menyantap bubur kacang hijau.


Ibu Erasa tersenyum seraya menarik kursi di samping Bunga dan mulai duduk.


Ibu Erasa terus memperhatikan Bunga, Bunga yang sesekali menguap juga Ibu Erasa tangkap, wanita paruh baya itu merasa kasihan pada menantu satu-satunya itu.


"Bunga, Nak. Berhentilah bekerja, Ibu yang memohon." Ibu Erasa memegang tangan Bunga.


Deg!


Bunga terkejut mendengar ucapan Ibu Erasa barusan, sampai menghentikan gerakan mengunyahnya, apa lagi tatapan memohon wanita itu saat ini, membuat Bunga bingung.


Ibu tidak tahu pernikahan kami seperti apa? bila saya tidak bekerja bagaimana nanti setelah kami bercerai, batin Milea.


"Ta-tapi Bu-."


"Tidak ada tapi tapian, demi cucu Ibu." Ibu Erasa menyentuh perut Bunga. "Tolong, ya."


Bunga yang tidak bisa menolak, apa lagi melihat wajah Ibu Erasa yang memelas, perlahan Bunga menganggukkan kepalanya, Ibu Erasa langsung memeluk Bunga, mengusap lembut rambut panjang Bunga, sungguh Ibu Erasa sangat sayang sama Bunga.


Apa lagi mengingat Ibu Erasa tidak miliki anak perempuan, curahan sayang untuk menantu perempuan pertama tentu sangat besar.


"Ada apa ini, kenapa pagi-pagi sudah bermain peluk-pelukan," celetuk Rosi yang baru datang ke ruang makan.


"Lho mana sarapannya?" tanya Rosi saat melihat meja makan belum ada sarapan yang tersaji.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu sarapan pagi Rosi," ucap Ibu Erasa mendengus kesal, biasanya juga sarapan jam tujuh pagi, ini ikut-ikutan Bunga sok mau sarapan pagi juga pikir Ibu Erasa.


"Sejak sekarang lah, Bu," jawab sembarang Rosi seraya terkekeh, suka jahilin ibunya.


"Belum matang!" ucap Ibu Erasa sedikit meninggi.


Sementara Bunga yang sudah selesai sarapan memilih ijin untuk ke taman belakang mau berjemur di bawah sinar matahari pagi.


Di taman belakang ada beberapa pelayan yang saat ini sedang merapihkan tanaman juga rerumputan.


Bunga yang sudah merasakan hangatnya sinar matahari pagi, sembari tangannya bergerak-gerak, kupu-kupu cantik ikutan menyambut sinar matahari. Mereka berterbangan dengan bebas.


Tidak jauh dari tempat Bunga berjemur, ada pohon buah jeruk, Bunga mendekatinya lalu memetik satu buah jeruk.


Bila dimakan orang biasa akan merasa keasaman, tapi bila yang memakan Bunga karena sedang hamil muda, tentu rasa asam terasa segar.


Pelayan yang melihat ke arah Bunga sampai matanya mengerjap-ngejap seolah ikut merasakan asamnya jeruk yang lagi dimakan Bunga.


Bunga sampai memakan jeruk itu habis tiga biji, tiba-tiba ada pelayan wanita menghampiri, memberitahu bila dipanggil Ibu Erasa, Bunga kemudian masuk ke dalam rumah kembali.


"Sayang ke marilah." Ibu Erasa melambaikan tangannya ke arah Bunga yang baru masuk ke ruang keluarga.


"Aku ingin mengajak kakak ipar ke lokasi syuting, supaya kakak ipar tidak bosan di rumah saya." Yang menjawab Rosi, pria itu kini sudah rapi menggunakan kaos lengan pendek dan celana jins.


"Bagaimana kamu mau tidak?" Ibu Erasa menggenggam tangan Bunga.


Setelah dipikir-pikir Bunga merasa bosan bila di rumah, ikut Rosi bukan masalah pikirnya.


"Baik, Bu. Saya mau," ucap Bunga pada ahirnya.


Ibu Erasa mengantar sampai di depan rumah, di halaman mobil sudah siap, Alex sudah membuka pintu mobil untuk Rosi dan juga Bunga.


Mobil mereka melesat pergi, Ibu Erasa tetap tersenyum sampai mobil menghilang di balik gerbang.


"Kakak Ipar sudah pernah melihat orang syuting?" Rosi menatap Bunga yang duduk di sampingnya.


"Belum pernah, mau baru sekali ini." Bunga menjawab apa adanya.

__ADS_1


Keduanya terus menerus saling mengobrol selama dalam perjalanan, sampai kini mobil sampai di tempat tujuan.


Rosi mengandeng tangan Bunga untuk diajak masuk ke dalam, di dalam gedung ini, Rosi akan di makeup lebih dulu.


Bunga duduk tidak jauh dari Rosi, kini Bunga bisa melihat Rosi sedang bersiap untuk syuting nanti.


Rosi sudah menggunakan kostum singlet, tubuh berotot dan kekar terpampang, Bunga mengikuti langkah Rosi dan para kru di lokasi syuting ini.


Tepatnya di sebuah lapangan, dan Rosi mengambil posisi berada di atas gedung lengkap dengan senjata api.


Tubuh Rosi saat ini sudah dilumuri warna merah, yang diartikan sebagai darah, Rosi sudah diceritakan adu pukul bersama lawan sebelumnya, dan saat ini sedang menyelamatkan diri di atas gedung.


Bunga yang melihat Rosi sedang syuting, jantungnya berdetak kencang, takut sendiri padahal ini hanya syuting tidak beneran.


Di atas gedung sana Rosi kembali berantem dengan musuhnya, adu pukul sampai adu tembak.


Suara tembak seperti beneran, padahal tembak yang mereka pegang adalah sebuah mainan.


Rosi menembak musuhnya dan bersamaan itu musuh yang baru datang menembak Rosi, seketika Rosi jatuh dari gedung tinggi dua puluh lantai.


"Rosi ...."


Teriak Bunga reflek, Bunga lupa bila ini sedang syuting, untung saja teriakan Bunga itu tidak mempengaruhi syuting hingga tidak perlu di ulang.


Tarikan ikatan cukup cepat menarik tubuh Rosi ke bawah, perlahan Rosi berakting tergeletak, pura-pura mati padahal sebenarnya belum mati, hanya untuk melabuhi para musuh.


Akting masih terus berlanjut, saat para musuh sudah percaya bahwa Rosi mati, dengan sigap Rosi bangkit menembak punggung mereka sampai mereka semua mati, bahkan mereka yang sudah mati saja tetap terus Rosi tembak karena marah dan dendam.


Syuting selesai sampai di sini.


Bunga langsung berdiri siap menunggu Rosi datang, di sana para kru di lokasi syuting membantu melepas ikatan di tubuh Rosi, dan setelah selesai Rosi berjalan menuju ke arah Bunga.


"Ih gila ini serem banget, kenapa kamu ambil film yang seperti ini!" Bunga terkejut malah bicaranya marah-marah.


"Aku menyukai film action, makanya aku mengambilnya, nanti bila sudah tayang, pasti kamu suka."


Plak!

__ADS_1


"Suka gimana yang ada aku takut." Bunga mengerucut tajam.


Hahah! Rosi tertawa seraya mengusap lengannya yang baru saja di pukul Bunga.


__ADS_2