
Seperti janji yang sudah Rex katakan sama Bunga tadi pagi, sepulang Rex bekerja langsung mengajak Bunga untuk mendatangi rumah sakit tempat Noumi dirawat.
"Kak Rex, apa tidak sebaiknya istirahat dulu? Kak Rex pasti capek karena baru pulang kerja," ucap Bunga saat keduanya kini sudah berdiri di dekat mobil.
Rex tersenyum seraya mengusap rambut Bunga dengan sayang. Tanpa menjawab Rex langsung menuntun Bunga untuk masuk ke dalam mobil.
Tidak lama kemudian mobil pun melaju, Bunga menoleh ingin melihat wajah Rex, namun yang Bunga dapat senyum di bibir suaminya.
Tidak tahu senang atau sedih, yang pasti saat ini Bunga malah merasakan gugup, khawatir akan semua rencananya gagal.
Bagaimana jika Noumi sandiwara demi Rex tidak meninggalkan wanita itu? Bagaimana jika Noumi histeris dan sakit lagi, apa kah Rex akan berhenti menjaga? Bagaimana dan bagaimana, begitulah pertanyaan dalam hati Bunga saat ini.
Pikirannya malah jadi kalut, Bunga menatap ke arah jalanan, suasana sore hari jalan begitu ramai, tiba-tiba merasakan punggung tangannya di pegang salah satu tangan Rex.
Bunga menoleh pria itu saat ini tersenyum manis ke arahnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, namun arti senyumnya itu seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
Mobil terus berjalan sampai tidak terasa sudah sampai tujuan, sebuah rumah sakit besar Galih Medical.
Rex menggenggam tangan Bunga saat berjalan masuk ke dalam rumah sakit, melewati koridor rumah sakit untuk menuju ruang rawat Noumi, jantung Bunga semakin berdebar-debar tak menentu saat langkah kakinya semakin dekat dengan waktu akan pertemuannya dengan Noumi.
Namun di balik rasa gugupnya itu untung Rex menggenggam erat tangannya, meredakan hati Bunga yang merasa khawatir.
Bunga mengambil nafas begitu dalam saat langkah kakinya berhenti di depan sebuah ruang rawat, yang Bunga yakini pasti ruang rawat Noumi.
Rex menatap wajah Bunga, mencium dalam kening Bunga dan memeluk Bunga, Rex mengerti apa yang Bunga rasakan saat ini, berharap dengan memberikan pelukan sayang, Bunga akan lebih tenang.
Rex tersenyum menatap Bunga setelah melerai pelukannya.
Klek!
"Noumi?"
Mendengar suara pintu terbuka serta namanya di panggil oleh suara yang tidak asing, tentu suara seseorang yang tengah dirindukannya seharian ini, begitu melihat siapa yang datang Noumi langsung tersenyum bahagia.
__ADS_1
Noumi segera duduk yang tadi posisinya masih berbaring. "Rex," balas ucapnya dengan tatapan yang begitu dalam.
Noumi langsung memeluk Rex saat pria itu sudah berdiri di samping ranjang. "Aku merindukanmu seharian ini kamu tidak datang."
"Aku sibuk di kantor."
Noumi mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Rex. "Kamu pasti lelah, dan pasti sekarang baru pulang kerja, kamu langsung datang kesini, makasih ya sudah pedulikan aku," ucap Noumi penuh bahagia.
Noumi pikir Rex sangat memprioritaskan dirinya sampai-sampai pulang kerja langsung datang menemui tidak istirahat lebih dulu, jelas Noumi tahu karena saat ini masih menunjukan pukul setengah enam sore, jam Rex pulang kerja.
Rex hanya tersenyum membalas ucapan Noumi.
Obrolan keduanya terhenti saat tiba-tiba ada dokter juga perawat masuk.
Rex menyingkir memberikan akses mudah untuk dokter memeriksa keadaan Noumi.
"Nona Noumi besok pagi sudah boleh pulang, selamat atas kesehatan Anda," ucap Dokter tersebut setelah selesai memeriksa keadaan Noumi yang malam ini jauh lebih baik.
"Apa masih perlu kontrol dokter setiap minggunya." Rex bertanya untuk memastikan.
"Terimakasih dokter jika begitu." Rex menjabat tangan dokter sembari tersenyum.
"Sama-sama." Dokter tersenyum ke arah Rex, kemudian beralih menatap Noumi. "Nona kami permisi."
Noumi mengangguk, dokter bersama dua perawat tadi langsung pergi menyisakan Noumi bersama Rex saja.
"Rex." Noumi mengulurkan tangannya.
Rex mendekat berdiri di samping Noumi.
"Tadi aku ke sini mengajak seseorang."
"Siapa?" tanya Noumi bibirnya tersenyum.
__ADS_1
Rex berjalan ke arah pintu, tidak berselang lama Rex masuk kembali, Noumi masih tersenyum namun perlahan senyum itu pudar saat matanya melihat seseorang yang Rex ajak masuk, apa lagi Rex sampai menggenggam tangan wanita, perlakuannya terlihat begitu manis.
Deg!
Jantung Noumi semakin berdetak hebat saat matanya semakin jelas melihat wanita itu yang ternyata sedang hamil besar, Noumi menggeleng untuk membuang pikiran negatifnya. Dan berusaha tersenyum kembali saat Rex sudah berdiri di samping ranjangnya.
"Siapa dia?" tanya lembut Noumi, bibirnya dipaksa senyum tapi dalam hatinya marah melihat Rex membawa seorang wanita.
Dia kan pelayan cleaning servis di perusahaan Rex dulu, ada apa dia? Dan mau apa? batin Noumi saat sekilas menatap Bunga.
Bibir yang baru saja berkata lembut serta senyum yang baru saja terukir seketika menghilang saat melihat Rex menarik Bunga lebih dekat dengannya yang kemudian merengkuh pinggangnya.
"Dia istriku." Rex mencium pipi Bunga.
"Istri," ulang Noumi dengan tertawa seolah Rex sedang membuat lelucon.
"Ya, dia istriku ... Maaf ya aku tidak bisa lanjut menemani kamu, kamu harus bisa sendiri karena aku sudah punya keluarga, dan waktuku sepenuhnya untuk keluarga," ucap Rex lagi.
Yang semkin membuat Noumi terkejut, ternyata tadi tidak salah dengar pikirnya, dan semakin hancur rasanya saat melihat Rex mengusap perut Bunga yang buncit setelah selesai bicara tadi.
Air mata Noumi seketika tumpah. "Kenapa? Kenapa Rex!" teriak Noumi suaranya terdengar serak menahan rasa sakit di hatinya.
"Maaf, aku tidak bisa menunggumu kembali saat itu, dari awal sebelum kamu pergi ke Amerika, aku sudah mengatakan ingin menikah, karena ayah dan ibuku menginginkan seorang cucu, tapi kamu menolak dan meneruskan kepergianmu, jadi aku menikah dengannya."
Lagi-lagi di ahir ucapnya Rex mencium pipi Bunga dan mengusap perut wanita itu.
Perlakukan manis Rex saat ini membuat Bunga lebih tenang, tidak merasa takut lagi. Tapi pemandangan itu semkin membuat Noumi hancur, Noumi benci dan dalam sesat tatapan Noumi berubah tajam menatap Bunga.
"Kau wanita mu-ra-han! Kau yang dahulu hanya wanita cleaning servis kan! Ternyata diam-diam kau menyukai kekasihku dan merebutnya saat aku pergi!" hardik Noumi dengan marah. Noumi meraih batal kemudian dilemparkannya ke arah Bunga.
Rex untungnya sigap menangkap bantal itu, Bunga ketakutan dan langsung memeluk Rex menyembunyikan wajahnya di punggung Rex.
Tangan Rex masih menggenggam erat tangan Bunga, Rex menatap tajam ke arah Noumi. "Noumi kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dulu mungkin aku sangat mencintaimu, tapi sekarang sedikit pun rasa itu sudah tidak ada, jadi tolong jaga sikap kamu, jangan membuat aku makin kesal." Rex bicara dingin dan penuh penekanan di setiap kata.
__ADS_1
Rex ahirnya mengajak Bunga pergi dari tempat tersebut meninggalkan Noumi dalam kehancuran.
Tangis Noumi tumpah seketika setelah Rex pergi, dengan dada yang terasa sesak.