
Bingung karena darah segar terus mengalir, sementara Bunga tidak bisa kemana-mana, karena bila Bunga berjalan darah itu akan berceceran di lantai, ahirnya Bunga hanya bisa pasrah, membiarkan darahnya tetap keluar, Bunga mulai mengambil pecahan gelas itu, ia kumpulkan jadi satu.
Tiba-tiba Anis teman Bunga di tempat kerja itu datang. Anis terkejut saat melihat Bunga duduk di lantai mengambil pecahan gelas, namun yang semakin membuat Anis terkejut darah segar yang keluar dari telapak kaki Bunga.
"Bunga kamu kenapa!" Anis panik seraya mendekati Bunga, lalu memegang lengan Bunga.
"Aku tadi jatuhin gelas," ucap Bunga dengan wajah sedih.
"Kaki kamu berdarah Bunga, aku ambilkan obat dulu," ucap Anis yang kemudian langsung berdiri pergi mengambil obat.
Sementara Bunga menyelesaikan mengambil pecahan gelas, yang berada di lantai agak jauh dari jangkauannya, Bunga menyeret tubuhnya untuk mengambil pecahan gelas itu, dan sekarang pecahan gelas sudah terkumpul jadi satu, Bunga melihat-lihat sekeliling lantai, tidak ada lagi pecahan gelas yang tertinggal.
Saat Anis datang kembali Bunga sudah menyelesaikan mengambil pecahan gelas itu. Anis membantu mengobati kaki Bunga, Anis membersihkan darah di telapak kaki Bunga, dan setelah bersih langsung memberi obat merah dan setelah itu Anis memperban telapak kaki Bunga.
"Kamu jangan di air dulu, bila ke kamar mandi, usahakan perbannya jangan sampai basah," saran Anis yang saat ini masih memperban telapak kaki Bunga.
"Terimakasih Anis, kamu sudah mau membantu," ucap Bunga dengan tulus.
"Sudah-sudah, sesama teman kita harus saling membantu," ucap Anis seraya menepuk pelan pundak Bunga, setelah selesai memperban telapak kaki Bunga.
"Aku bantu kamu duduk," ucap Anis lagi, yang kemudian langsung membantu Bunga untuk berdiri berjalan menuju kursi.
Tiba-tiba Senior Ira yang terkenal galak itu datang. "Obat tadi untuk siapa!" bicara tegas, yang seketika membuat Anis dan Bunga mendongakkan kepala yang tadi sempat menunduk karena memastikan Bunga untuk duduk.
"Senior, obat tadi saya yang ambil untuk Bunga, telapak kaki Bunga terkena pecahan gelas." Yang menjawab Anis, karena memang seperti itu kenyataanya.
Bibir Senior Ira langsung miring mendengar penjelasan Anis.
Bunga, umpatnya dalam hati dengan bibir miring.
__ADS_1
"Wanita lemah!" umpat kesal Senior Ira seraya melenggang pergi, meski umpatan itu tidak begitu keras, tapi Bunga masih mampu mendengarnya.
Anis memegang pundak Bunga. "Bunga tidak usah di masukkan hati ucapan Senior Ira, dia memang seperti itu, aku rasa kamu lebih paham."
Bunga memegang tangan Anis yang memegang pundaknya, Bunga mengangguk dan tersenyum.
Saat tiba jam sebelas siang, Bunga tidak bisa mengantar kopi ke lantai tiga belas sampai lantai delapan belas, untungnya Anis mau membuatnya lagi.
Kaki Bunga terasa sakit dan perih untuk berjalan, siang ini Bunga hanya bisa duduk saja di pantry, Senior Ira sempat datang lagi menghampiri Bunga, dia mengoceh-ngoceh sudah seperti burung berkicau, tapi setelah tahu Bunga memang sulit untuk berjalan, ahirnya pergi dengan segala umpatan, para cleaning servis menjulukinya senior gendeng.
Setelah tiba sore hari, gelas kotor habis digunakan untuk nyedu kopi kini sudah menumpuk di dapur tempat pantry, Bunga ikut membantu mencucinya, tidak enak hati karena sejak tadi hanya duduk saja, Anis sudah melarangnya tapi Bunga merasa tidak apa-apa.
Sampai jam pulng kerja tiba, ahirnya Bunga bisa pulang bersama karyawan yang lain. Bunga langsung naik ojek online yang sudah dirinya pesan sejak tadi.
Sampai di rumah utama, ojek online sampai tercengang melihat rumah yang besar itu, tidak menyangka bila penumpangnya tinggal di kawasan rumah elit.
Bahkan sempat melihat satpam di dalam menunduk dan mengucapkan Nona muda, saat menyambut penumpangnya datang.
Bunga berjalan masuk ke dalam rumah utama, dengan langkah tertatih karena telapak kakinya benar-benar terasa sakit, tidak bisa diajak bekerja sama.
"Nona muda mau dibantu?" tawar pelayan pria yang saat ini menghampiri Bunga. Sungguh merasa kasihan melihat Bunga yang berjalan terlihat kesusahan.
"Terimakasih tidak perlu," tolak Bunga dengan tersenyum, menunjukan bahwa dirinya tidak apa-apa.
Pelayan itu hanya bisa diam dan terus memperhatikan Bunga yang terus berjalan menuju pintu utama dengan langkah tertatih.
Sampai tiba di dalam kamarnya, Bunga membaringkan tubuhnya di atas ranjang, istirahat sebentar kemudian Bunga terus mandi.
Saat mandi, Bunga mengangkat kakinya supaya tidak terkena air, dan saat menginjak lantai kamar mandi, Bunga menggunakan alas kaki, lima belas menit Bunga sudah selesai mandi, kini berdiri di ruang ganti untuk memakai baju.
__ADS_1
Kemudian dengan langkah tertatih Bunga berjalan menuju ranjang, saat ini baru pukul enam sore, Bunga melihat jam di dinding, niat hati hanya ingin tiduran saja namun Bunga malah ketiduran sampai tiba malam hari Bunga belum bangun, bahkan melewatkan makan malam bersama.
Tadi Ibu Erasa sempat mendatangi kamar putra pertamanya itu, ingin memanggil Bunga, namun saat melihat kamar Rex tidak dikunci, Ibu Erasa membuka sedikit dan seketika melihat Bunga yang ternyata lagi tidur, Ibu Erasa tidak jadi manggil Bunga untuk makan malam bersama.
Ibu Erasa milih kembali ke lantai satu tanpa membangunkan Bunga. Sedangkan Rex pulang juga sudah melewatkan jam makan malam, pria itu langsung berjalan menuju kamar, membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
Rex berjalan mendekati ranjang dengan tatapan benci melihat wanita yang saat ini tengah tidur di atas ranjangnya.
"Bangun!"
Bunga seketika tergagap saat dibangunkan Rex. "Tu-Tuan su-sudah pulang?" Bunga mengusap wajahnya, sebenarnya saat ini masih mengantuk.
Rex meraih tangan Bunga lalu membawa tangan Bunga untuk memegang lukisan yang barusan ia bawa. "Cepat kamu pasang lukisan ini ke dinding sana!" ucap tegas Rex seraya menyibak selimut Bunga, dan seketika telapak kaki Bunga yang diperban menjadi perhatiannya.
Tapi Rex tidak merasa iba, dan tetap menyuruh Bunga untuk memasang lukisan. "Ayo cepat!"
Bunga patuh tanpa berkomentar, baca doa dalam hati berharap bisa kuat berdiri lama saat memasang lukisan.
"Di sana!" Rex menunjuk dinding di atas sofa, Bunga tidak perlu menarik kursi lagi, karena bisa berdiri di atas sofa.
Bunga baca doa lagi seraya matanya terpejam benar-benar merasa sakit di telapak kakinya, dengan tangan gemetar Bunga memasang lukisan itu. Kini lukisan sudah terpasang sempurna, Tiba-tiba telapak kaki Bunga terasa sakit campur ngilu.
Ah! Aku tidak kuat!
Brukk!
Aww!!
Bunga terjatuh, dan untungnya jatuh di sofa, jadi kehamilannya masih aman.
__ADS_1
Sementara Rex yang melihat Bunga jatuh malah tersenyum miring, tanpa ada niat mau membantu, yang kemudian melenggang pergi keluar kamar.