BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 15. Kincir angin.


__ADS_3

Setelah tidak menemukan gelagat aneh, senior memutus pandangannya, melenggang pergi dari hadapan Bunga.


Bunga langsung bisa bernafas lega. Temannya yang ngerokin Bunga sudah selesai, Bunga kembali memakai bajunya dan meminum teh hangat supaya perutnya jauh lebih baik.


Seharian ini walau ada drama mual-mual dan masuk angin, tapi pekerjaan Bunga terselesaikan dengan lancar sampai tiba waktunya jam kerja usai.


Saat ini Bunga tengah menunggu pesanan ojek online, tidak berselang lama ojek online tiba, yang langsung mengantar Bunga ke tempat tujuan.


Bukan rumah utama yang Bunga tuju, namun sebelumnya Bunga sudah memberi kabar Ibu Erasa bila dirinya akan pulang telat, dan setelah mendapat ijin, Bunga langsung menuju tempat tujuannya sekarang.


Motor yang mengantar Bunga ternyata berhenti di depan sebuah kafe kelap-kelip, tempatnya sederhana tidak begitu besar, tapi terkenal ramai, karena menu makanan dan minuman yang rumayan murah, dan kebanyakan yang datang ke sini hanya kalangan menengah.


Bunga langsung mencari tempat duduk, yang kini sudah berada di dalam.


"Bunga!"


Mendengar ada suara yang memangilnya, Bunga langsung menoleh, seketika matanya melihat seseorang yang saat ini tengah ditunggu.


"Beneran ini Bunga, hei kita sudah lama tidak bertemu," ucap wanita itu setelah berdiri di samping Bunga yang lagi duduk, kemudian keduanya saling cipika-cipiki.


"Iya lah ini aku, memang ada orang lain seperti aku," ucap Bunga seraya terkekeh, setelah selesai cipika-cipiki.


"Aku ambilkan minuman dan puding ya, biar kita ngobrolnya makin seru."


Plak! Bunga memukul pelan lengan temannya itu.


"Ih seriusan ini."


"Iya iya," ucap Bunga seraya mengibaskan tangannya yang kemudian disusul tawa.


Temannya Bunga itu adalah karyawan di kafe kelap-kelip ini, dan sore ini dia baru selesai sif, jadi bisa mengobrol dengan Bunga.


Mereka memang sudah lama tidak bertemu, karena sebelumnya temannya itu tidak kerja di sini, dan Bunga baru tahu bila temannya itu sudah bekerja di sini sejak dua bulan yang lalu.


"Minumannya datang ..." ucapnya seraya meletakkan minuman dan puding di atas meja. Kemudian disusul dirinya duduk.

__ADS_1


"Santi, kenapa baru sekarang kamu mengabari aku bila kerja di sini, tahu gitu kan dari kemarin-kemarin aku datang," ucap Bunga sedikit menyalahkan Santi dengan bibir mayun.


"Hehe, bukan begitulah. Aku juga baru ingat dengan nomor hp kamu saat aku mencari nomor ponsel Hito," terang Santi disertai senyum tawa.


Plak!


"Jadi kamu melupakan aku!" Bunga sok tegas yang kemudian tertawa.


Santi mengusap lengannya sembari menyengir kuda.


"Sebenarnya kamu ada masalah apa sih, tadi kamu bilang ada yang ingin kamu ceritakan, beban hidup seperti apa yang sedang kamu hadapi?" tanya Santi setelah keduanya terdiam beberapa saat menikmati jus alpukat.


"His satu-satu tanyanya."


"Ini juga satu-satu, hanya saja digabung."


Hahah! Susul tawa Santi.


Bunga kemudian menceritakan, bila dirinya sudah menikah, menikah terpaksa karena dirinya sudah hamil duluan dengan kekasihnya yang dulu, menceritakan sudah sama-sama mau menikah, semua persiapan menikah sudah siap, namun kekasihnya meninggal di malam sebelum pernikahan terjadi, karena sebuah kecelakaan.


Santai menggeser kursinya tepat disamping Bunga, memeluk Bunga dari samping, Santi sedih mendengar cerita Bunga.


"Ja-jadi kamu tetap menikah tapi sama bos kamu sendiri!" ucap Santi terkejut setelah mendengar cerita Bunga yang terakhir.


Bunga mengangguk, wajahnya terlihat ada guratan kesedihan.


"Wah, wah kamu tega banget sampai membohongi orang lain," ucap Santi lagi seraya menggelengkan kepalanya.


Bunga kemudian menjelaskan lagi bila dirinya sangat terpaksa, juga sangat bersalah, tapi tidak ada jalan lain, untuk menyelamatkan aibnya dan demi masa depan anaknya, Bunga mungkin saja sanggup ketika orang lain mengatainya wanita murahan sampai hamil duluan.


Tapi Bunga tidak terima bila anaknya sampai dikatakan anak haram, itulah alasan Bunga selain untuk masa depan anaknya, hingga dirinya rela berkorban sebesar ini.


"Lalu suami kamu sudah tahu bila kamu-."


"Sudah," ucap Bunga seraya mengangguk.

__ADS_1


Bunga menceritakan kejadian setelah suaminya tahu bahwa dirinya hamil bukan bersama suaminya, sampai sekarang sikapnya selalu dingin, rumah tangga tidak hangat, namun mertuanya tidak ada yang tahu. Bahkan pisah ranjang.


Santi kembali memeluk Bunga, tadinya Santi kesal karena Bunga sahabat baiknya jadi wanita jahat, setelah mendengar alasan demi alasan yang Bunga ceritakan, Santi kembali merasa kasihan sama Bunga.


"Terus ke depannya bagaimana?" tanya Santi seraya menghapus air mata Bunga yang keluar.


Bunga hanya menggeleng. "Selama mertua aku tidak tahu masalah bayi ini bukan cucunya, aku rasa masih aman pernikahan ini, tapi seandainya mereka tahu-." Bunga tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.


"Kamu harus kuat Bunga, semua tindakan yang kamu ambil ada resikonya, bahkan jika suatu hari mertua kamu mengetahui yang sebenarnya, kamu harus ikhlas, dan jangan memaksa, ingat kamu berhak bahagia, entah bersama atau tidak bersama mereka," nasehat Santi yang seketika membuat air mata Bunga banjir membasahi pipi.


Bunga dan Santi kembali berpelukan, Santi mengusap punggung Bunga, menenangkan temannya yang lagi bersedih, siapa pun orang pasti akan bingung bila di posisi Bunga.


"Bagaimana jika sekarang kita mencari hiburan," ucap Santi seraya menggerakkan dua alisnya.


"Kemana?"


"Sudah ayo." Santi langsung menarik tangan Bunga tidak memberikan Bunga untuk bertanya. Bunga mengikuti langkah kaki Santi, yang menuju bajai, di area sini banyak sekali tukang bajai.


"Kita mau kemana?" tanya Bunga lagi yang penasaran yang saat ini sudah duduk di dalam bajai bersama Santi, tapi Santi hanya diam dan malah senyum-senyum.


Setelah sampai di tempat tujuan, Santi langsung menarik Bunga mengajaknya untuk keluar.


Ternyata mereka mendatangi sebuah taman yang ada pasar malamnya.Santi mengajak Bunga terus berjalan.


"Pak gula ali nya dua." Santi memesan, kini Bunga melihat area seluruh taman yang begitu ramai banyak pedagang dan anak kecil, ada yang bermain ada juga yang berlari-lari.


"Kamu sering datang ke sini Santi?" tanya Bunga, yang kini sudah duduk di rerumputan sembari makan gula ali.


"Gax pernah baru kali ini, gimana seru tidak? nanti nyoba permainan yuk, seperti masa kita waktu masih sekolah dulu."


Bunga mengangguk, kini mereka berdua berjalan menuju permainan kincir angin, dahulu mereka berdua waktu masih sekolah pernah bermain naik di permainan kincir angin.


"Yakin mau mencobanya lagi sekarang?" tanya Santi memastikan lagi.


"Iya!" ucap Bunga semangat, gula ali milik keduanya sudah habis, kini bersiap mau duduk di permainan kincir angin.

__ADS_1


Kincir angin mulai berputar dari perlahan-lahan kemudian menambah ritme sampai berputar di ritme sedang.


Aaaaaaaa! Bunga menjerit kencang melepaskan beban dalam dadanya. Malam ini yang ada hanya perasaan happy, tidak ada kesedihan yang masih Bunga pikirkan.


__ADS_2