
Keesokan harinya di kediaman Ayah Ciko, Ibu Erasa dibuat panik dengan Ayah Ciko yang tiba-tiba bangun tidur langsung berlari ke kamar mandi yang kemudian memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Ayah ... Ayah kenapa!" Ibu Erasa berteriak panik mendekati suaminya yang kemudian memijit tengkuk suaminya.
Namun saat Ibu Erasa melihat wastafel begitu tercengang saat melihat darah yang ternyata Ayah Ciko muntah darah.
"Ayah kenapa! Ayah sakit?" Ibu Erasa memutar tubuh suaminya untuk dilihatnya, yang seketika melihat wajah Ayah Ciko yang tampak pucat, saat ini Ayah Ciko sedang mengelap bibirnya dengan tisu.
"Tubuh Ayah lemas, Bu."
Hanya itu yang Ayah Ciko bicarakan, kemudian Ibu Erasa membantu suaminya menuju ranjang. Ayah Ciko beristirahat di sana.
"Ibu telepon dokter dulu, ya Ayah."
Ayah Ciko mengangguk kecil.
Ibu Erasa langsung berjalan mencari hp nya yang di letakkan di dalam tas, setelah ketemu hp nya Ibu Erasa langsung melakukan sambungan telepon dengan dokter Galih khusus menangani keluarga Wijaya yang sakit.
Ibu Erasa meminta tolong dokter Galih untuk segera datang ke rumahnya, setelah dokter Galih menyanggupi, Ibu Erasa mematikan sambungan telepon, kemudian berjalan mendekati Ayah Ciko.
"Ayah, Ibu buatkan teh hangat ya," ucapnya setelah berdiri di samping ranjang.
Ayah Ciko mengangguk kecil.
Ibu Erasa segera berjalan keluar kamar menuju dapur. Sampainya di sana Ibu Erasa langsung membuat teh hangat, juga meminta tolong pada pelayannya untuk menyiapkan air hangat guna mengompres Ayah Ciko.
Setelah semuanya siap, Ibu Erasa yang juga dibantu pelayannya kini berjalan menuju kamarnya berada.
Sampainya di sana, Ibu Erasa membantu Ayah Ciko untuk duduk sembari bersandar, kemudian membantu Ayah Ciko untuk minum teh hangatnya, setelah itu Ibu Erasa mengompres perutnya supaya lebih enakan.
Ayah Ciko mengeluhkan kepalanya pusing.Ibu Erasa semakin khawatir melihatnya.
"Ayah apa kita ke rumah sakit saja?" tanya Ibu Erasa sembari mengusap keringat dingin di dahi Ayah Ciko.
"Tidak usah Bu, sebentar lagi Dokter Galih pasti juga tiba." Tolak Ayah Ciko yang merasa sudah cukup ditangani oleh dokter Galih.
__ADS_1
Dan benar saja baru Ayah Ciko membicarakan namanya, kini dokter Galih tiba masuk ke dalam kamar bersama pelayan yang mengantar.
Ibu Erasa langsung berdiri sembari menggeser kursi yang tadi ia dudukki supaya Dokter Galih lebih mudah memeriksa Ayah Ciko.
Dokter Galing mulai memeriksa keadaan Ayah Ciko, semuanya Dokter Galih cek, setelah selesai Dokter Galih bersuara.
"Tuan jangan terlalu capek-capek, kurangi kerja kerasnya, tadi Ibu bercerita bahwa Tuan muntah darah, apa bila keadaannya masih saja setelah saya beri obat, sebaiknya langsung datang ke rumah sakit," jelas Dokter Galih sembari tersenyum.
"Apa semua bahaya dokter?" tanya Ibu Erasa yang masih tampak khawatir. Tak henti-henti meremat jemarinya yang saat ini saja telapak tangannya sudah berkeringat dingin.
"Semua akan baik-baik saja, Bu. Seperti yang saya sampaikan tadi."
Ibu Erasa mengangguk mengerti kemudian mengucapkan terimakasih.
Dokter Galih mengambil beberapa resep obat yang sudah di masukkan dalam kantong plastik obat yang sudah di tulis jadwal makan obatnya.
"Ini obatnya ya, Bu?" Dokter Galih memberikannya pada Ibu Erasa.
Dokter Galih menanyakan yang dirasa Ayah Ciko saat ini, namun jawabannya sudah mendingan setelah tadi dimasukkan obat suntik.
Bertepatan Dokter Galih pergi, hp Ibu Erasa bunyi, Ibu Erasa melihat hp nya yang ternyata telepon dari Bunga.
"Halo Ibu," suara Bunga di sambungan telepon seberang sana.
"Iya sayang."
Di seberang sana Bunga mendengar suara Ibu Erasa yang beda tidak ceria seperti biasanya. "Ibu baik-baik saja?"
"Ibu baik, Nak? Tapi Ayah yang tidak baik." Ibu Erasa menangis.
"Bu, Bunga akan ke sana sekarang." Setelah berkata seperti itu Bunga mematikan sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Rex saat melihat wajah Bunga yang terlihat panik.
"Kak Rex ayah sakit kata ibu barusan," jelas Bunga yang saat ini sudah menangis.
__ADS_1
"Hei jangan menangis, sekarang kita kesana." Rex menghapus air mata Bunga.
Setelah itu mereka berdua langsung bersiap, Rex keluar kamar lebih dulu, tidak lama kemudian disusul Bunga, mereka berdua berjalan bersama keluar dari Apartemen.
Sampainya di base camp tempat parkiran mobilnya, Bunga dan Rex segera masuk ke dalam, tidak lama kemudian mobil pun dijalankan.
Tiga puluh menit, mobil pun sampai di kediaman Ayah Ciko. Bunga dan Rex keluar bersama dan segera masuk ke dalam rumah.
Saat langkah kakinya baru masuk ke dalam, Ibu Erasa sudah menunggu mereka berdua, Bunga langsung memeluk Ibu Erasa, yang kemudian berganti Rex juga yang memeluk ibunya.
Tibanya di kamar Ibu Erasa, Bunga melihat keadaan Ayah Ciko, wajahnya terlihat pucat.
"Apa Ayah sudah makan, Bu?" Bunga menoleh ke arah Ibu Erasa.
"Sudah baru saja, ini juga Ayah baru istirahat," jawab Ibu Erasa dengan suaranya yang terdengar sedih.
Rex mendekati Ayah Ciko, Rex mencium kening ayahnya. Rex juga ikut sedih karena jarang sekali ayahnya sakit, apa lagi diusianya yang sudah tua ayahnya masih saja bekerja.
"Bu, Ayah kelelahan bekerja," ucap Rex yang langsung di sahut cepat oleh ibunya, "Itu benar, tadi dokter Galih juga menyampaikan hal seperti itu."
"Nanti aku coba bicara sama Rosi, siapa tahu dia mau mengurus perusahaan dan meninggalkan dunia entertainment." Rex menghela nafas panjang, semua serba berat karena Rosi sangat menyukai dunia entertainment, sejak kecil Rosi sudah menjadi artis. Menjadi bintang iklan susu SGM.
Ibu Erasa hanya diam karena tidak tahu harus memberi usul seperti apa. Tiba-tiba hp Rex bunyi, Rex mengangkatnya menjauh dari kamar ibunya. Dan setelah kembali Rex pamit pergi, tidak menjelaskan mau kemana.
Kak Rex, batin Bunga dengan tatapan sendu saat melihat punggung Rex yang berjalan menjauh, meski tadi sebelum Rex pergi mencium kening dan pipinya, tetap saja Bunga sedih ditinggal pergi Rex.
Tiba malam hari.
Bunga malam ini menginap di rumah mertua, baru saja Rex mengabari bahwa tidak bisa jemput karena harus menginap menjaga temannya yang sakit, dan meminta Bunga untuk tidur di rumah ibunya.
Bunga saat ini duduk di sofa sembari menyandarkan punggungnya dengan kepala mendongak ke atas melihat atap rumah.
Apa bila seperti ini terus bagaimana aku tidak curiga Kak, aku jadi penasaran dengan orang yang Kak Rex jaga, wanita kah atau laki-laki? batin Bunga yang penuh pertanyaan.
Rosi yang baru saja masuk ke dalam rumah sehabis pulang dari syuting, tiba-tiba melihat Bunga duduk di ruang tengah dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Ada apa dengan Kakak Ipar? Dia seperti sedang ada pikiran dan banyak masalah, apa Kak Rex bikin ulah lagi, batin Rosi yang terus menatap Bunga dengan perasaan kasihan juga geram pada Rex.