
Bunga memakan sosis bakar dengan air mata yang berlinang membasahi pipi, semua kenangan bersama Kevin menari-nari di pelupuk matanya, seolah Bunga melihat dirinya bersama Kevin yang sedang berjalan-jalan di pasar malam di taman ini.
Sosis bakar yang biasanya rasanya enak, Bunga sampai tidak bisa merasakan enaknya sosis bakar yang saat ini dirinya makan, semua itu karena pikiran Bunga melayang jauh.
Cinta kasih keduanya sudah sangat lama terjalin, tidak mudah bagi Bunga bila tiba-tiba lupa dengan Kevin, apa lagi perpisahan keduanya karena Kevin meninggal, bisa jadi dinamakan ini perpisahan yang sangat teramat menyakitkan, karena tidak bisa bertemu lagi.
Bukan tidak ikhlas atas kepergian Kevin, tapi Bunga hanya tidak akan mungkin melupakan sosok yang pernah baik dalam hidupnya.
Sampai sosis bakar yang Bunga makan tinggal satu lahapan, wanita itu tetap menangis tanpa suara, air matanya berlinang cantik, hingga tiba-tiba ada sebuah senter yang menerangi ke arahnya.
Bunga merasa kesilauan, Bunga menggunakan telapak tangannya untuk menutupi matanya, mengintip sedikit melalui sela-sela jemarinya untuk melihat siapa orang itu, yang kini semakin berjalan mendekatinya.
Center itu mati bertepatan orang itu berdiri di depan Bunga.
"Apa aku boleh duduk di sini?" tanyanya dan Bunga mengangguk membolehkan.
Bunga tidak kenal orang itu siapa, bahkan Bunga tidak bisa melihat wajah orang itu, karena wajahnya di tutup masker, tapi Bunga tidak curiga, hanya menganggap mungkin orang itu lagi sakit flu.
Posisi orang itu menatap lurus ke depan, sementara Bunga terus memperhatikan orang itu.
"Maaf Tuan? apa Anda mengenal saya?" tanya Bunga dengan mata yang terus memperhatikan orang itu.
"Tidak, kita tidak saling kenal? aku hanya ingin duduk, begitu lelah sudah berjalan jauh," terang orang itu dengan suara khas orang tua, masih saja menatap lurus ke depan.
"Bila begitu saya akan membelikan Anda minuman." Bunga langsung berdiri dan berjalan menuju penjual minuman.
Tidak lama kemudian Bunga sudah kembali dengan membawa dua botol minum air mineral, yang satu Bunga berikan untuk orang tersebut, yang satunya lagi untuk diri sendiri.
Pria tua itu langsung meminum air mineral pemberian Bunga, namun posisinya miring ke kiri, Bunga tetap tidak bisa melihat wajahnya.
Meski Bunga penasaran, tapi ia tidak berani untuk mencuri pandang wajah pria tua itu. Dan setelah selesai minum, pria tua itu kembali ke posisi semula, menatap lurus ke depan, masker nya sudah kembali dia pakai.
__ADS_1
Pria itu menghela nafas panjang. "Terimakasih, Nak? sudah memberikan minuman untuk saya, semoga kebaikan selalu bersama kamu."
Selesai bicara pria tua itu langsung berdiri dan berjalan pergi, Bunga masih diam mematung seraya terus memperhatikan punggung pria tua itu yang semakin hilang diantara orang banyak di pasar malam ini.
Orang yang berkunjung sudah mulai ramai, Bunga masih betah duduk sendiri tanpa berpikir akan pulang, sementara di rumah utama, saat ini sedang heboh, Ibu Erasa bingung saat Bunga belum pulang juga, padahal waktu sudah menunjuk pukul delapan malam.
"Bunga, Bunga kamu dimana? kenapa tidak aktif nomor ponsel nya!" Ibu Erasa panik seraya terus berbicara sendiri, menghubungi Bunga terus-menerus.
Ini sudah yang sepuluh panggilan Ibu Ersa melakukannya, tapi ponsel Bunga tetap saja tidak aktif.
Ayah Ciko berjalan menapaki anak tangga, Ibu Erasa yang melihat suaminya datang, langsung menghampiri dengan tergesa-gesa.
"Ayah, tolong Ayah! Bunga belum pulang, Ibu khawatir dengan keadaannya, apa lagi dia sedang hamil, takut kenapa-napa!" Ibu Erasa benar-benar gugup sampai bicara dengan suara tinggi.
Ayah Ciko menghampiri Ibu Erasa, melingkarkan tangannya di pundak Ibu Erasa. "Apa Ibu sudah pastikan, mungkin saja Bunga sedang tidur."
"Ah, Ayah! Ibu tidak mungkin sekhawatir ini bila Ibu belum mengecek kamar Bunga!" Ibu Erasa menurunkan tangan Ayah Ciko, wajahnya ditekuk kesal karena suaminya tidak sat-set pikirnya.
"Bagaimana Ayah?"
Ayah Ciko menggeleng, melihat itu Ibu Erasa semakin panik, mau mencari tapi bingung mau mencari kemana.
Ahirnya Ayah Ciko memberi saran untuk menunggu Bunga pulang tiga puluh menit lagi, bila belum pulang juga Ayah Ciko akan turun tangan sendiri.
Ibu Erasa menurut, setelah berpikir apa yang disampaikan suaminya itu ada benarnya juga, siapa tahu Bunga mampir ke rumah temannya dulu, Ibu Erasa membuang kekhawatiran buruk nya.
Mereka berdua menunggu di ruang tamu, namun setelah tiga puluh menit berlalu, ternyata belum ada tanda-tanda Bunga pulang.
Ibu Erasa kembali panik, dan bersamaan itu Rex pulang, pria itu tadi ada pertemuan dengan klien, hingga membuatnya baru pulang.
Melihat Rex pulang, Ibu Ersa langsung menghampirinya. "Rex, Rex Bunga belum pulang ke rumah, Rex!" Ibu Erasa memegang lengan Rex. Pria itu menatap ke arah ibunya dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan aku." Rex bicara dingin tak peduli, Ibu Erasa langsung menepuk jidatnya, merasa putranya itu keterlaluan sama istri sendiri tidak perhatian, atau setidaknya panik mendengar berita yang baru ibunya sampaikan.
"Rex! kamu harus mencari Bunga!" Ibu Erasa bicara tegas dengan tangan terkepal menahan geram.
"Tidak mau! aku lelah capek!" suara Rex tidak kalah tegas dan langsung mau melenggang pergi.
"Rex ...."
Suara teriakan Ibu Erasa sampai memekik telinga, Rex yang sudah berjalan beberapa langkah sampai menghentikan langkahnya, dan balik menatap ibunya.
Ayah Ciko sampai menutup telinganya, suara teriakan istrinya membuat telinganya sakit.
Rosi yang baru menghentikan mobilnya di halaman rumah, langsung keluar mobil dan berjalan menuju rumah, saat mendengar teriakan ibunya, Rosi khawatir.
"Ibu ada apa?" tanya Rosi yang baru tiba di ruang tamu, dan langsung menghampiri ibunya memeluk Ibu Erasa.
Dalam pelukan Rosi Ibu Erasa menangis, lalu mendongakkan kepalanya menatap putra keduanya. "Rosi ... tolong cari Bunga, dia belum pulang dan Ibu khawatir."
Rosi langsung mengangguk, menjalankan perintah ibunya, meski Rosi juga baru pulang kerja dan tentu merasa lelah, tapi saat mendengar Bunga belum pulang, rasa khawatirnya mengalahkan rasa lelahnya, dengan cepat Rosi kembali melajukan mobilnya, membawa keluar dari halaman rumahnya.
Sementara Rex pria itu tetap tidak peduli, apa lagi sudah ada Rosi yang akan mencari Bunga, yang lagi tidak akan membutuhkan bantuannya.
Sangat menyusahkan wanita itu! bisa tidak sekali aja tidak membuat keributan di rumah ini, gerutu Rex sembari menapaki anak tangga menuju kamarnya berada.
Ayah Ciko hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Rex yang suaminya sendiri malah tidak peduli pada istrinya sendiri.
"Itu Rex apa tidak takut bila Bunga di tikung oleh Rosi."
"Ih! Ayah bicara apa sih!"
Hahahaha!
__ADS_1