
Bunga dan Rex saat ini sama-sama sedang menyusun kamar bayi, Rex yang menyusun bagian kamar bayi, Bunga yang menyusun meletakkan mainan bayi di atas lemari.
Sementara pakaian bayi yang tadi Bunga beli diserahkan pada pelayan untuk mencucinya.
Bunga merasa bahagia, Rex mau mempersiapkan kamar bayinya, tadinya Bunga pikir Rex tidak akan bertindak sampai seperti saat ini, tapi ternyata perubahannya benar-benar tulus, Bunga berharap bisa baik selamanya.
Sebuah keutuhan rumah tangga yang Bunga harapkan, jika bisa meminta tidak ingin sampai ada perceraian.
Meski Rex belum membahas soal surat perjanjian itu, tapi Bunga milih berdiam, bila mengingatkan, takut Rex akan marah.
Tidak lama kemudian, keranjang bayi yang Rex susun sudah jadi, Bunga mendekat dan menatap berbinar.
"Wah, bagusnya." Bunga memegang keranjang bayi yang baru jadi itu.
"Untuk saat ini cukup ini aja dulu yang kita kerjakan karena sudah mau malam, dan kamu pasti lelah," ucap Rex sembari memegang lengan Bunga.
Bunga tersenyum.
"Besok kita USG dahulu, setelah itu baru kita akan warnai dinding ini, sesuai kelamin anak kita nanti."
Anak kita, batin Bunga tidak terasa air matanya lolos begitu saja.
"Hei kenapa menangis." Rex mengusap air mata Bunga.
"Kamu menyebut anak kita, Kak?" Bunga memegang tangan Rex yang menghapus air matanya, matanya berkaca-kaca.
Rex tersenyum. "Sudah, tidak usah dipikirkan ucapan aku barusan, sekarang ayo mandi."
Rex mengajak Bunga keluar dari ruangan tersebut, Bunga ahirnya diam tidak melanjutkan pertanyaannya tadi, mengikuti Rex yang membawanya menuju kamar.
Setelah satu jam berlalu, mereka sudah selesai mandi, saat ini sedang makan malam bersama.
Menu makan malam ini dengan sayur kangkung, cumi goreng, juga ada daging sapi yang dimasak rendang.
Mereka berdua makan dengan sesekali saling bicara, terlihat hangat keduanya, pelayan yang sudah menemani mereka dari awal tinggal di apartemen ini, merasa bahagia melihat Nyonya dan Tuannya sudah bisa berkomunikasi dengan baik satu sama lain.
Selesai makan malam, mereka berdua langsung masuk kamar, lelah hampir seharian jalan-jalan, dan sampai di rumah tidak bisa langsung istirahat.
__ADS_1
Bunga duduk di atas ranjang, Rex masih duduk di sofa menghadap laptop yang diletakkan di atas meja.
Ada sedikit pekerjaan yang Rex harus kerjakan.
Setelah beberapa saat mengerjakan, Rex butuh sesuatu dan meminta tolong Bunga.
"Bisa minta tolong ambilkan map hijau di atas meja kerjaku." Rex menoleh ke arah Bunga.
"Bisa Kak," jawab Bunga yang kemudian langsung berjalan menuju ruang kerja Rex yang berada di sebelah.
Tidak lama kemudian Bunga sudah kembali dengan membawa map hijau di tangannya.
"Ini kak."
"Letakkan di atas meja." Selesai bicara Rex berjalan menuju kamar mandi.
Bunga meletakkan map hijau itu di atas meja sesuai yang Rex pinta, Bunga mau melenggang pergi namun tiba-tiba mendengar suara hp Rex bunyi.
Bunga melihat siapa yang tengah menghubungi Rex malam-malam begini, seketika matanya terbelalak saat nama yang tertera di layar ponsel itu adalah Noumi.
Bunga mendiamkan saja panggilan itu sampai akhirnya panggilan tersebut mati, dan bersamaan itu Rex keluar dari dalam kamar mandi.
"Belum tidur, jika sudah ngantuk tidurlah lebih dulu, nanti aku menyusul." Rex bicara sembari mengusap rambut panjang Bunga.
Bunga tersenyum mengangguk, kemudian melenggang pergi menuju ke ranjang.
Rex melanjutkan lagi pekerjaannya, Bunga sudah menarik selimut sampai batas leher, Bunga mencoba tidak memikirkan nama Noumi yang tadi ia baca, berpikir positif demi kesehatan kehamilannya.
Setelah pukul sebelas malam, Rex baru menyelesaikan pekerjaannya, menutup laptopnya kemudian ikut bergabung masuk ke dalam selimut.
Bunga membuka mata saat Rex memeluk pinggangnya, Bunga tersenyum, Rex mencium kening Bunga, Rex mengeratkan pelukannya, Bunga menenggelamkan wajahnya di dada Rex.
Malam panjang pun terlewati dengan mereka yang tidur dengan saling menghangatkan.
"Aku pamit ya, jaga diri di rumah, bila ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Rex di depan pintu apartemen seraya mengacak rambut Bunga dengan gemas, yang sudah siap mau berangkat kerja, saat ini menunjukan pukul tujuh pagi.
Rex dan Bunga sama melambaikan tangan saat Rex mulai berjalan menjauh dengan berjalan mundur.
__ADS_1
Bunga terus melihat ke arah Rex sampai pria itu sembunyi di balik pintu lift. Bunga tersenyum seraya menghela nafas, kemudian masuk ke dalam lagi.
"Ma, pa. Sekarang Bunga sudah merasa bahagia, sekarang kak Rex sudah mau menerima Bunga dan anak Bunga," ucap Bunga yang saat ini duduk di kursi sofa ruang tengah sembari mengusap perutnya yang membesar.
"Seandainya papa dan mama masih hidup mungkin kebahagian Bunga lebih lengkap."
Hiks hiks hiks.
Bunga menangis mengingat almarhum kedua orangtuanya, orang tua yang sudah pergi sejak Bunga masih kecil, belum mengerti apa pun saat itu, sampai sekarang sudah dewasa sudah menikah dan bentar lagi miliki anak menjadi seorang ibu.
Sementara itu Rex yang sat ini sudah sampai di kantor, tiba-tiba mendapat telepon dari Sekertaris Presdir bila CEO harus mendatangi ruangannya.
Tidak lama kemudian Rex masuk ke ruang Ayahnya, di sana Ayah Ciko selaku Presdir juga di perusahaan ini, sudah menunggu Rex datang.
"Ada hal penting apa sampai Ayah memanggil saya?" tanya Rex setelah duduk di kursi sofa depan Ayahnya.
Ayah Ciko menarik kecil sudut bibirnya. "Gea ingin bekerja menjadi sekertaris kamu."
Ucap Ayah Ciko langsung pada intinya, Rex seketika terkejut, kemudian menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
"Tidak, Ayah. Rex sudah miliki Zee Sekertaris kepercayaan Rex."
Ayah Ciko kembali tersenyum kecil. "Yakin tidak mau memakai Gea, bila mau Zee akan Ayah pindah jabatannya."
Rex menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Ayah Ciko manggut-manggut. "Jika begitu nanti Ayah akan bicara dengan Gea."
"Rex tidak mau bila posisi Gea yang sering dekat aku akan membuat Bunga salah paham, Ayah."
Ingin rasanya Ayah Ciko bicara bagus Nak sangat bagus keputusan mu, namun hanya ditahan dalam hati, tidak ingin Rex bangga saat mendengar pujiannya.
"Ayah mengerti, nanti akan Ayah bicarakan dengan Gea, sekarang kamu boleh pergi."
Setelah mendapat persetujuan Ayahnya yang memahami alasannya, Rex keluar dari ruangan tersebut.
Ayah Ciko tertawa bahagia melihat Rex yang sudah banyak perubahan, dari orang suruhannya yang diminta untuk mengawasi Rex dan Bunga, mereka saat ini sedang memperbaiki hubungan baik.
__ADS_1
Dan Ayah Ciko juga tahu bila Gea adalah gadis yang agresif, masih sepupu sih, tapi sepupu jauh, tidak ingin berterusan mendekatkan mereka, khawatir salah satunya salah paham mengira sebuah perhatiannya lebih dari sekedar perasaan saudara.